My Ex-Boyfriend

My Ex-Boyfriend
08. Gombalan maut.



Kini hari terakhir hukuman yang dijalani oleh trio ini. Mereka bertiga membersihkan lapangan sambil nyanyi.


Banyak yang singgah sekedar melihat kelakuan aneh dari mereka bertiga.


"MERIBUTKAN HAL YANG ITU ITU SAJA"


"MENGAPA KITA SALING MEMBENCI" Nyanyi Gabriel memulai.


"AWALNYA KITA SLALU MEMBERI" Sahut Naufal.


"APAKAH MUNGKIN HATI YANG MURNI" Tidak lupa Lucas menimpali.


"SUDAH CUKUP BERARTI" Mereka bersamaan bernyanyi.


Banyak yang terhibur. Tidak lupa tiga gadis yang tengah menatap mereka dengan pandangan yang berbeda.


Dinda dengan pandangan berbinar lalu Laura dengan pandangan malu setengah mati padahal bukan dia yang nyanyi tapi melihat ini dirinya seketika ingin menghilang saja.


Dan tidak lupa tokoh utama dalam hidup Gabriel si Cantik Aulia yang menatap datar mereka bertiga.


Atas paksaan dan jurus memohon seorang Gabriel dan ada sedikit rasa iba. Selama tiga hari ini Aulia bersedia memberikan air mineral untuk tiga makhluk ini.


Gabriel menghentikan nyanyinya lalu berlari kearah mereka bertiga diikuti sama Naufal juga Lucas.


"Makasih banyak cantik"


"Hm" balas Aulia cuek.


"Owh ya. Aku punya pertanyaan neh buat kamu"


Aulia menaikkan alisnya sebelah karena bingung. Gabriel berdehem cukup kencang sebelum kembali bicara.


"Kalau disuruh milih dari angka satu sampai sepuluh. Kamu mau tahu aku pilih no berapa?"


"Gue gak peduli" balas Aulia.


Empat orang yang ada disana menahan tawa mereka yang akan keluar. Gabriel cemberut.


"Memangnya pilih no berapa hah"


"Pilih no dua. Tahu kenapa?"


"Banyak nanya ya lo. Tapi kenapa?"


"Awas lo kalau ngelantur" ketus Laura.


Gabriel terseyum dia raja gombal diantara Lucas dan juga Naufal. Bisalah dia berbangga untuk itu.


"Karena aku ingin kamu jadi nomor urut kedua dalam kartu keluarga kita nanti" jawab Gabriel malu malu kucing.


"Cepak cepak jeder" timpal Lucas dan Naufal.


Sedangkan sang oknom hanya diam tidak menanggapi. Walau ada lah secercah perasaan senang. Hanya secercah tidak lebih digaris bawahi untuk hal itu.


"Lagi donk" Dinda suka sekali.


Gabriel pura pura mikir lalu dia bersorak senang seakan menemukan bahan gombalan selanjutnya.


"Kenapa bumi itu bulat"


"Memang gitu takdirnya" balas Aulia.


"Salah. Jawabnya aku gak tahu"


Baru saja Aulia mau protes ucapan Gabriel membuatnya mengurungkan niat.


"Karena yang aku tahu Aku cinta kamu"


"CIYE" Sorak empat orang ini yang dari tadi menyimak.


Aulia membuang wajahnya ke samping. Dia takut sekarang mukanya ini memerah dan membuat Gabriel kesenangan nanti.


"Ada lagi"


"Ada mulu ya. Heran Gue" sahut Laura.


"Otak Gabriel masalah begituan lancar banget" celutuk Naufal sambil merangkul Lucas yang ada disampingnya.


"Aku mau protes neh sama orangtua kamu "


"Kenapa bawa orangtua Gue hah?"


Gabriel terkekeh pelan. Membuat kadar ketampanannya meningkat walau Aulia tidak terpengaruh sama sekali.


Laki laki itu menatap manik hitam milik Aulia.


"Karena orang tua kamu manusia kok bisa sih lahirin bidadari gini. Jantung Aku selalu berdetak kencang saat melihat wajah cantik kamu"


Seketika wajah Aulia memerah tanpa harus dipinta. Dia menunduk lalu beranjak pergi setelah pamitan dengan Laura juga Dinda.


Gabriel berteriak ingin mengantar namun gadis itu menolak dengan mentah mentah. Perlahan dia terseyum tipis.


Gadis itu terlihat berbeda dimatanya. Seorang gadis yang sangat cantik dan super dingin dengannya.


Berbeda dengan Aulia. Saat sang sopir datang dia bergegas masuk dengan jantung berdetak kencang dan wajah memerah.


"Neng kenapa?" tanya sang sopir.


"Cu- cuma kepanasan tadi" balas Aulia dengan gagap.


Untung sang sopir tidak kepo banget. Alhasil mereka kini telah meninggalkan sekolah itu dan menuju rumah.


Dalam perjalanan. Aulia minta berhenti ke supermarket sebentar. Dia tiba tiba merasa haus juga ingin beli beberapa cemilan untuknya.


Aulia turun sendirian. Membeli apa yang sudah dia pikirkan tadi dan bergegas akan memakannya sambil nonton.


Saat ingin mengambil snack. Tiba tiba bayangan Gabriel menggombal tadi muncul.


Rasanya kepala ini ingin pecah karena kata kata itu terus berputar putar.


"Gue kenapa sih hah?" Aulia sudah capek sendiri.


Dia jalan membayar. Berulang kali Aulia menggelengkan kepalanya. Ini gara gara laki laki itu. Astaga rasanya menyenangkan walau dirinya berusaha untuk tidak menyakinkan itu.


"Kenapa Gue senang ya. Apa perlu Gue periksa ke dokter neh" Gumam Aulia sendirian.


"Mba" panggil mba kasir.


Seseorang dari belakangnya menepuk pundak Aulia. Gadis itu kaget dan langsung minta maaf kepada Mba kasir karena melamun.


Aulia membayar dan berbalik ke arah sosok yang sudah membuyarkan lamunannya.


"Terima kasih Mas" ucap Aulia.


Laki laki itu terseyum dan mengangguk.


Aulia keluar dan kaget melihat sopir yang panik. Dia mendekati dan segara bertanya. ternyata mobil bocor.


"Padahal tadi sebelum saya ke toilet umum. mobilnya gak gini. Tapi, pas saya balik sudah bocor gini" jelaskan sang Sopir.


"Mungkin ada yang nakal"


Sang sopir mengangguk.


"Maaf ya neng. Jadi, mau pesanin taksi atau- "


Ucapan sang sopir terpotong dengan sosok laki laki tadi. Dia mendekati mereka berdua dan melirik mobil yang bocor ini.


"Bocor ya" tanyanya.


"Iya" balas Aulia dengan sopan.


"Biar sopir lo yang urus neh mobil. dan lo ikut Gue aja. Tuh motor Gue" tunjuknya kepada motor yang berada tidak jauh dari mobil Aulia.


"Tapi" Aulia ragu.


Alasan Aulia ragu. Mereka baru kenal karena itu dia tidak mengiyakan takut orang ini jahat. tidak maksud untuk berpikir negatif tapi kita tidak ada yang tahu.


"Gue bukan orang jahat dan Gue bakal jamin keselamatan lo atau mau temanin nunggu taksi di halte sana"


Ya! Pilihan kedua terdengar lebih baik daripada pulang dengan orang yang bahkan nama saja tidak tahu.


"Gue nunggu taksi aja"


"Ya sudah. Biar belanjaan nya Gue yang bawa" Laki laki itu merebut kantong plastik itu dari tangan Aulia.


Setalah pamintan dengan sang sopir. Kini Aulia dan laki laki itu duduk dihalte.


Sosok itu melepas topinya dan memasangkannya ke Aulia.


"Maaf ya. Sok kenal sama lo. Tapi sekarang lumayan panas takutnya lo gak kuat" ucapnya dengan nada lembut.


"Iya. Terima kasih untuk yang kedua setelah tadi" Balas Aulia.


"lo ngelamunin apaan sih. Sampai dipanggil aja gak dengar. Ada masalah sama pacar"


Aulia menggeleng dengan kuat. Gara gara Gabriel itu dia jadi melamun dan ingat dia sama anak itu tidak memiliki hubungan apapun.


"Gue gak punya pacar" sahut Aulia lumayan ketus.


"Owh santai aja. Sorry" kekeh Laki laki itu.


Keheningan melanda beberapa saat. Hingga taksi datang. Laki laki itu membantu memasukkan plastik cemilan Aulia kedalam.


"Makasih"


"Tunggu!" Dia menahan tangan Aulia.


Laki laki itu mengulurkan tangannya untuk kenalan sebelum berpisah.


"Gue Aulia"


"Dan Gue Wiliam. Harus diingat ya"


Aulia mengangguk. Dia masuk kedalam taksi dan perlahan meninggalkan Wiliam yang terseyum miring melihat kepergiannya itu.