My Ex-Boyfriend

My Ex-Boyfriend
05. Gabriel sakit



"Gab" panggil Naufal.


Naufal merasa heran. Tidak biasanya seorang Gabriel telat bangun. Itulah kelebihan Gabriel yang patut di kasih empat jempol.


Laki laki itu tidak pernah telat bangun pagi. Biasanya dia yang selalu membangunkan Naufal dan buat sarapan.


Namun hari ini terlihat beda. Tidak ada tanda tandanya. Naufal menghampiri Gabriel yang ternyata masih tidur.


Dia membuka selimut itu dan nampaklah wajah pucatnya dan badannya menggigil.


"Astaga lo sakit" tanya Naufal.


"Manurut lo" jawab Gabriel bete.


Naufal meletakkan tangannya didahi sahabatnya ini dan mengangguk paham.


"Gue ambilin obat penurun panas dulu ya"


Gabriel hanya mengangguk. Dia makin memeluk guling yang ada disampingnya. Naufal datang dengan membawa bubur juga obat serta segelas air minum.


Dia duduk dipinggir kasur. Gabriel duduk dibantu Naufal. Kepalanya agak pusing.


"Neh makan dulu paling gak dikit buat makan obat setelahnya"


Gabriel hanya nurut saja. Dia capek kalau harus berdebat tentang pahitnya sebuah obat.


Hingga dia selesai.


"Lo yakin Gue tinggal sekolah" tanya Naufal.


Gabriel mengangguk.Dia kembali berbaring.


"Ya sudah. kalau ada apa apa langsung telpon Gue. Oke"


Aulia sampai disekolah. Dia duduk dibangku.


Laura dan Dinda juga baru sampai.


"Selamat pagi" sapa Laura.


"Pagi too" sahut Aulia sambil mengeluarkan buku dari tasnya.


Bel masuk berbunyi. Semua anak anak masuk kedalam kelas. Mata Aulia melihat kearah Naufal dan Lucas. Tidak ada Gabriel yang biasanya berada ditengah mereka berdua.


Naufal terseyum kearahku.


"Kawan sebangku lo lagi sakit"


Sakit? Aulia tidak salah dengarkan.


Pikirannya langsung tertuju kearah main hujan kemarin. Pasti dia sakit karena itu.


Laki laki itu memang aneh. Aulia tidak paham dengan pola pikirnya seperti apa?


"Apa Gue boleh ke kost kalian setelah pulang" tanya Aulia. Dia merasa tidak enak walau Gabriel sendiri yang ngasih jaket dan ngajak dia main hujan.


Naufal mengangguk antusias. Pasti sahabatnya itu senang banget kalau tahu Aulia akan menjenguknya.


Kami bertiga kini ada dikantin. Laura sibuk dengan baksonya begitu juga dengan Aulia. Kalau Dinda dengan sotonya.


"Tumben bener Gabriel sakit. Gue kira tuh anak gak bisa sakit" Canda Laura.


Aku terkekeh pelan. Memang laki laki itu kan selalu aktif dan gak pernah diem. Saat tahu sakit agak aneh aja.


"Namanya juga manusia Lau" sahut Dinda.


"Lo mah semua dianggap serius. Heran Gue" balas Laura.


Aku kembali tertawa kecil melihat kelakuan mereka berdua.


"Tapi lebih aneh lagi lo" ucap Laura.


Aulia menunjuk dirinya sendiri. Aneh kenapa pikirnya?


"Tumben lo perhatian sama tuh anak"


"Itu karena kemarin kami main hujan. Gue cuma merasa bersalah aja. Takutnya karena Gue dia sakit" sahutku.


"Kalian main hujan" tanya Dinda.


Aulia mengangguk.


"Seriusan deh. Lo sebenarnya suka gak sih sama Gabriel"


"Gue risih tahu kalo sama dia." jawab Aulia.


Dinda menatapku dengan lekat.


"Au. Aku lihat Gabriel tuh suka banget sama kamu. Dia rela ngelakuin semua hal buat kamu."


Aulia tertawa "Dia itu playboy"


Kini giliran Laura dan Dinda yang tertawa.


"Lo salah besar Aulia" balas Laura.


"Asal kamu tahu. Gabriel itu pernah ditembak sama kakak kelas tapi dia tolak. Dia itu memang jahil tapi kalau sama cewek dia agak cuek gitu kecuali sama anggota kelas sih"


Laura mengangguk "Gabriel itu hanya akan ramah sama yang dia kenal. Sejauh ini dia sama cewek biasa biasa aja. Tapi sama lo dia kek perhatian gitu"


"Kalian bohongkan."


"Heh. Buat apa Gue bohong sama lo. Gak ada faedahnya" balas Laura.


Disinilah Aulia berada. Didepan kost yang sederhana saja.


Dia turun dari motor Naufal diikuti oleh Laura, Dinda juga Lucas.


Naufal membuka pintu dan nampaklah kost mereka yang rapi.


"Wih rapi" Laura tiba tiba bicara.


"Iya donk. Kalau gak rapi dimarahin ibu kost tahu. pemeriksaan setiap minggu. Mana galak banget" sahut Naufal.


Kami bersama sama menghampiri Gabriel yang ternyata masih rebahan sedari tadi.


"Gabriel" panggil Aulia.


Suara lembut itu langsung membuat Gabriel terbangun. Dia sontak ingin duduk.


"Gak perlu. Lo rebahan aja" ucap Aulia.


Gabriel tetap nekat. Dia duduk dibantu Naufal.


"Ngapain cantik" tanya Gabriel dengan senyuman hangatnya.


"Main Voli. Sudah tahu jenguk lo" balas Aulia ketus.


Gabriel terkekeh pelan.


"Maaf ya. Pasti gara gara Gue lo jadi sakit gini"


"Cantik. Gue sakit karena Tuhan yang buat Gue sakit bukan karna lo" sahut Gabriel.


Aulia terseyum tipis. Dia mengupas apel dan menyerahkannya ke Gabriel. Laki laki itu terdiam dengan sikap perhatian dari Aulia.


"Neh makan. Biar cepat sembuh. Gue gak suka kalau teman Gue sakit" ucap Aulia.


"Teman? Kita temanan cantik" Gabriel sangat senang dengan kata teman. Langkah pertama telah berhasil.


Aulia mengangguk. Semua orang yang ada disana terseyum melihat pemadangan ini terutama untuk Gabriel.


Dia merasa sangat sehat sekarang.


Aulia dan Gabriel duduk dibarisan belakang. Mereka kini tengah nonton film bersama sama. Entah sejak kapan? Laura dan Dinda kini jadi dekat dengan geng Gabriel.


Jadi, sekarang kami berenam bisa dikatakan bestai. Itulah yang dikatakan oleh Dinda kepada kami dan tentu saja kami hanya mengangguk saja.


"Kok mati sih cowoknya" gerutu Dinda.


Dinda menangis bahkan tisu saja habis karna olahnya. Laura menepuk jidatnya. Memang Dinda ini paling polos diantara semua yang ada disini.


"Itu cuma film" Laura meluruskan.


"Aku juga tahu itu. Tapi tetap saja ini gak adil kok cowoknya mati sih. Ninggalin ceweknya sendirian" Dinda kembali menangis.


"Din. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan itu sudah takdir mereka tidak bersama" Lucas ikut menjawab.


"Tapi lucas. Paling gak kasih kebahagian gitu. Gimana donk nasib si cewek setelah ini" Dinda sangat menyayangkan itu.


"Ceweknya harus bisa merelakan itulah tugasnya sekarang. Kita tidak bisa melawan namanya takdir" Naufal menambahkan.


Saat Dinda ingin kembali bicara. Naufal memasukkan cemilan kemulutnya agar tidak kembali bicara.


Laura dan Lucas tertawa begitu juga Gabriel dia merasa lebih baik dan terhibur dengan kedatangan teman temannya ini.


Gabriel melirik Aulia.


Aulia hanya terdiam tidak bersuara melihat film yang memberikan sad end ini. Dia juga ingin nangis tapi ditahan karena malu.


Andai ini dirumahnya. Mungkin sekarang dia guling guling tidak terima karena tokoh utamanya meninggal.


Gabriel menepuk pundak Aulia.


"Fokos banget" kekeh Gabriel.


"Iya. Kasihan sama ceweknya" Mata Aulia sudah berkaca kaca namun segera dia menunduk.


"Gak papa kali nangis"


"Gue gak nangis ya" Aulia memandang sinis Gabriel.


"Iya kamu gadis kuat. Aku percaya itu"


Aulia kembali diam.


"Apa jadinya kalau lo diposisi cewek itu" tanya Gabriel spontan.


Aulia melihat kearahnya yang menatap lurus kedepan.


"Mungkin gak bisa sekuat itu. Gue gak bisa membayangkan" balas Aulia.


"Kalau itu terjadi. Lo harus kuat dan tetap jalani hidup ini. Masih ada kebahagian lain saat satu kebahagian menghilang. Berusalah terus mencarinya jangan cuma berporos disatu titik. Boleh sedih tapi tetap saja kamu harus maju"


Aulia tidak berkedip melihat Gabriel. Segala pemikiran buruk tentang laki laki ini seakan berkurang.


Apa dia salah telah menilainya?