
Aulia masih ingat wajah Gabriel tadi. Laki laki itu terlihat sangat serius. Dia juga merasa heran dengannya. Biasanya Gabriel tidak seserius itu jika Aulia dekat cowok.
Adalah beberapa di ancam sama Gabriel. Aulia menghembus napasnya. Dia berbaring dikasur empuknya. Menatap langit langit kamarnya.
Padahal Gabriel dan dirinya tidak mempunyai hubungan namun kenapa laki laki itu sangat posesif padanya.
Apa dia juga akan percaya dengan cinta padangan pertama? Aulia sangat tidak tahu dan tidak mengerti.
Otakknya mana pernah berpikir ke arah situ sebelumnya.
"Aku cemburu" Ucap Gabriel malu.
Aulia kembali merasakan detakan jantungnya yang terasa tidak normal. Kedua pipinya juga terasa memanas.
Ada rasa senang memuncak saat mendengar dua kata itu keluar dari mulut laki laki itu tadi. Astaga! Aulia juga bingung dengan dirinya sendiri.
"Astaga Gue kenapa?" Gumam Aulia.
Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Gue harus tidur. Besok juga bakal normal kembali kok" Aulia langsung menarik selimutnya dan tertidur.
Ditempat lain.
Gabriel tengah menatap tajam dua orang berpakain rapi ini. Mereka adalah suruhan sang papa yang memintanya untuk pulang.
"Kalian tuli. Gue gak mau ke tempat itu lagi. Tinggal satu rumah dengan orang egois dan orang itu malah papa Gue sendiri." Gabriel terseyum remeh.
"Tapi ini perintah Tuan muda. Anda sudah lama dibiarkan bebas."
Gabriel menarik kerah baju pria itu.
"Bilang sama Papa. Gue gak akan lakuin apapun yang dia mau. Sudah dari kecil Gue di kekang untuk sesempurna mungkin dan sekarang waktunya Gue bebas. dan satu lagi harusnya dia memberikan tugas itu ke Wiliam. Dia jauh lebih baik dari Gue."
Gabriel melepaskan cengkramannya. Dia melangkah akan masuk ke kost sederhananya namun sebelum itu. Dia kembali melihat dua orang itu.
"Andai Tuan besar kalian itu tidak sebodoh itu mungkin sekarang keluarga ini masih lengkap dan bahagia. Namun ke egoisannya semua hancur. Dan Gue gak akan kembali"
Gabriel menutup pintu dengan kuat. Tanpa mereka ketahui Wiliam diam diam mendengarkan dari balik tembok yang ada disana.
Dia membenarkan apa yang dikatakan Gabriel tentang ke egoisan pria yang mereka sebut papa itu.
Andai ini tidak terjadi. Mungkin Mamanya masih bersama dengannya. Namun, Wiliam tetap merasa ini semua salah Gabriel.
"Paling tidak Gue bahagia lihat lo menderita seperti ini adek" Gumam Wiliam.
Laki laki itu langsung pergi.
Pagi tiba.
Seperti biasa dihari senin. Aulia sudah sampai di sekolah. Dia keluar dari mobilnya dan pamitan sebentar dengan sang sopir.
Saat mobil yang mengantarnya itu pergi baru dia melangkah kembali. Namun kembali terhenti saat mendengar bunyi motor yang dia kenal.
Dia berbalik dan nampaklah Gabriel yang memboceng Naufal. Laki laki itu membuka helmnya. Seakan ada efek slowmo Laki laki itu sangat luar biasa bardamage.
Gabriel merapikan rambutnya dikaca spion. Aulia sedari tadi tidak berkedip melihat pemandangan indah untuk mata ini.
Dia juga tidak tahu dengan dirinya sekarang. Biasanya dia bodo amat saja tentang hal beginian apalagi berkaitan tentang Gabriel.
Tapi, kenapa dia baru sadar kalau Gabriel seganteng ini. Kemana dia selama ini dan baru sekarang melihat hal yang begitu menyenangkan untuk mood nya.
Merasa ada yang memerhatikan. Gabriel mencari hingga menemukan sosok yang sudah berhasil membuat jantungnya disko saat bersama dengannya.
Gabriel melambaikan tangan ke arah Aulia dan memberikan senyuman semanis gula itu. Lesung pipinya nampak sangat jelas.
Aulia melotot. Jantungnya kembali berdebar dengan tindakan yang di berikan Gabriel untuknya.
"Gue kenapa?" Batin Aulia.
Gadis itu langsung berbalik dan berlari.
"CANTIK" Teriak Gabriel memanggil Aulia.
Aulia tanpa sengaja menabrak seseorang dan tubuhnya akan oleng kedepan. Namun untungnya ada yang menahan dengan memeluk erat pinggangnya.
Gadis itu melihat ke arah orang yang sudah menolongnya. Wiliam menatap Aulia dengan mata khawatir dan juga terkejut.
"Lo gak papa" tanya Wiliam.
Aulia berdiri membenarkan seragamnya. Dia terseyum lalu mengangguk.
"Makasih Wiliam"
Mata Aulia makin melotot sempurna saat melihat Gabriel melihat ke arahnya dengan tatapan seakan paling tersakiti.
Wiliam melihat ke arah Aulia yang terlihat gelisah saat Gabriel melewatinya.
"Aduh. Gimana neh?" Aulia juga tidak tahu kenapa sekarang dia merasa gelisah saat Gabriel tidak menghiraukannya.
Biasanya dia gak akan pernah peduli. Terserah laki laki itu marah atau apapun. Dia tidak pernah peduli.
Semua berbaris dan diam mengikuti upacara bendera yang berjalan lancar.
Tiba tiba pandangan Aulia kabur. Dia baru ingat jika dia tadi tidak sarapan.
"Kenapa juga tadi Gue lewatin sarapan sih. Mana gak sempat lagi tadi kekantin bentar" Batin Aulia.
Gabriel memperhatikan Aulia yang berada ada didepan. Lumayan jauh dari dirinya.
Dia ceritanya ngambek sama Aulia karena saat gadis itu dipanggil tidak menyahut sama sekali. Namun saat dia mengejar Aulia untuk bertanya apa salahnya dan akan segara minta maaf.
Dia malah melihat pemandangan yang tidak harus dia lihat. Gabriel melirik Wiliam yang terlihat fokos dengan guru yang tengah memberikan pencerahan didepan itu.
Bruk
Semua kaget saat mendengar bunyi itu. Laura dan Dinda langsung berteriak melihat Aulia pingsan.
Gabriel langsung mengangkat gadis itu dan berlari membawa ke UKS.
"Dia sepertinya melewatkan sarapan paginya." ucap Dokter.
Laura dan Dina membelikan makanan dikantin. Gabriel menunggu gadis ini sadar.
"Cantik bangun donk" gumam Gabriel khawatir.
Tidak bertahan lama. Mata indah itu terbuka dia melihat ke arah sampingnya. Ada Gabriel yang tengah tertunduk lemas.
"Gabriel" panggil Aulia.
Gabriel langsung mendongak. Dia memberikan air minum untuk Aulia dan diterima baik oleh gadis itu.
Aulia menatap mata Gabriel yang sangat khawatir. Tidak ada tatapan datar yang dia lihat tadi pagi.
Gabriel sudah kembali dan dia merasa senang dan sangat lega.
"Kok bisa gak sarapan"
"Gue-"
Masa bilang karena mikirin kata kata Gabriel kemarin. Aulia sampai lupa sarapan. Tentu saja itu tidak akan keluar dari mulutnya.
Laura dan Dinda datang. Aulia bernapas lega karena dia tidak perlu menjawab pertanyaan dari Gabriel ini.
"Gak papa kan" tanya Dinda.
"Iya. Gue gak papa. Tadi sedikit pusing tapi sekarang sudah gak kok" balas Aulia.
"Syukur deh. Makan dulu"
"Biar Gue suapin Aulia. Kalian kekelas saja sana ganggu aja" ucap Gabriel.
"Gila neh cowok" Jawab Laura.
Dinda yang sangat peka ini menarik Laura untuk keluar. Tinggal mereka bedua lagi.
Berasa deja vu aja. Kemarin Aulia yang merawat Gabriel di UKS dan sekarang mereka tukaran.
Gabriel menyuapi Aulia dengan pelan pelan.
"Berasa dejavu ya Cantik. Kemarin aku sekarang kamu. Sudah kek suami istri aja saling melengkapi"
Aulia terdiam melihat tawa kecil dari Gabriel. Jantungnya kembali seperti ada dangdutan dijantungnya.
"OMG GUE KENAPA?" Batin Aulia menjerit.
Cast yang ada disini itu cuma untuk kalian bisa membayangkan tokohnya aja. Gak memiliki maksud untuk apa apa ya!
1.Aulia
"Gabrielll. Gue kenapa coba?" Aulia.
2. Gabriel.
"Didunia ini cuma Aulia yang paling Cantik" Gabriel.