
Jovan terus saja melihat kearah Audy yang membiarkan rambutnya menutupi wajahnya itu.
Teringat apa yang dikatakan oleh Rama tentang putrinya yang hilang itu.
Tapi belum tentu Audy anak mereka yang hilang itu kan?
"Apa kamu pernah bertemu dengan mereka satu kali aja gitu?" tanya Jovan kembali.
Audy menggeleng dengan pelan. dia bahkan tidak punya foto atau barang apapun yang ditinggalkan oleh orangtuanya.
Dia juga tidak tahu seperti apa orangtuanya. benar benar kehilangan kontak.
"Hmm... Apa aku boleh bertanya bagaimana lo bisa ada dipanti itu?" tanya Jovan.
"Pernah nanya sama ibu. tapi dia bilang menemukan aku didepan pintunya"
Jovan merasakan sakit didalam benaknya. benar kata Audy harusnya dia bersyukur punya orangtua lengkap walaupun mereka itu sangat lebay tapi itulah cara mereka memberikan kasih sayang.
"Apa kamu benci dengan orangtumu?" tanya Jovan tidak melihat kearah Audy.
Audy diam beberapa saat.
"Aku pernah benci sama mereka tapi ibu bilang kalau mereka pasti punya alasan kenapa membuangku. sudah berusaha mencari alasan yang tepat untuk membuatku bisa berpikir baik tentang orangtuaku. tapi aku hanya menemukan jawaban kalau mereka membenciku" Audy menahan air matanya.
Jovan mengelus pelan punggung gadis itu.
"Jika mau nangis. silakan saja! terkadang nangis bisa membuatmu lebih nyaman" jawab Jovan.
Gadis itu terisak dalam pelukan Jovan.
Memang Audy terlihat sangat dewasa tapi dia tetaplah gadis berusia 17 tahun yang kehilangan orangtunya saat kecil.
Malam telah tiba menenggalamkan senja yang telah hilang beberapa saat.
Jovan dan Audy siap siap untuk pulang.
"Kamu biar aku antar ya tapi tunggu sopir aku dulu" ucap Jovan.
"Aku bawa sepeda tadi kesini." sahut Audy.
"Kalau begitu aku akan antar kamu pakai sepeda. biar aku bonceng kamu"
Jovan telah menduduki sepeda itu dan hanya menunggu Audy.
Gadis itu duduk dibelakang
"Siap" tanya Jovan
"SIAP" teriak Audy semangat.
Jovan mengayuh sepeda dengan perlahan saja. Audy merasa bebannya berkurang setelah bercerita dan menangia dalam pelukan Jovan
Rasa lega terasa dalam benaknya. tiba tiba kucing melompat tiba tiba kearah mereka dan membuat sepeda yang dikendarai dua orang ini oleng.
Jovan berusaha dengan sekuat tenaga mempertahankan keseimbangan namun mereka tetap jatuh bersama.
Untung mereka jatuh kearah rumput sehingga tidak terlalu sakit.
"Kamu gak papa" Jovan mendekati Audy.
Gadis itu menunduk. Jovan seketika pucat takut terjadi sesuatu kepadanya.
"Audy" Jovan mengguncang badan Audy.
Gadis itu tiba tiba tertawa dengan kencang. dia tidak merasa sakit tapi ini cukup lucu untuk ditertawakan.
Wajah Jovan memerah seketika karna malu.
"Maaf van. gak tahan untuk gak ketawa" Audy terus saja tertawa.
"Aku kira kamu menangis" Jovan anak yang jujur.
"Aku pernah lebih parah dari ini untuk apa menangis?"
Audy berdiri begitu juga Jovan yang kembali mengambil sepeda yang tergelatak ditanah itu.
Tiba tiba hujan turun.
"Sialan" ucap Jovan.
"Ayo pulang kerumahku" ucap Audy
Jovan mengayuh sepeda dengan lumayan cepat. Audy menengadahkan wajahnya kelangit. dia merasakan tetesan air hujan itu menimpa wajahnya.
Dia suka sekali dengan hujan.
"JOVAN TERIMA KASIH" Teriak Audy.
"UNTUK APA?" Jovan juga berteriak sambil fokos mengayuh sepeda.
"BERKAT KAMU HARI INI RASANYA BEBAN AKU BERKURANG"
"TAPI MENURUTKU HARI INI SANGAT KACAU. KAMU JATUH BERSAMAKU LALU SEKARANG KEHUJANAN"
"JOVAN. SEMUA ORANG MEMILIKI KEBAHAGIAN YANG BERBEDA BEDA DAN SEKARANG AKU SANGAT BAHAGIA DAN ITU BERKAT KAMU"
Jovan terseyum bahagia. entah kenapa melihat Audy terseyum itu membuatnya juga merasa bahagia.
Gadis ini memang unik pikir Jovan.
➖➖➖➖➖
Pagi telah tiba.
Audy keluar dari rumah kecilnya dan menguncinya. dia ingin pergi bekerja. sembari menunggu bus. Audy sempat melihat ponselnya.
Tanpa sengaja dia melihat kearah kontak Aziel. teringat yang terjadi dengan mereka.
"Cemburu ya" Ucap Audy terseyum kecil.
"Apa aku perlu menyapanya."
"Dasar buaya" ucap Audy lalu menyimpan ponselnya.
Audy melayani satu persatu pelanggan yang datang.
"Buang sampah sana" teriak temannya.
Audy membuang sampah yang sudah menumpuk itu. matanya menatap kearah anak kecil yang tengah bercanda dengan kedua orangtuanya.
Iri? tentu saja.
Dari dia kecil sampai sekarang dia selalu iri dengan hal yang menurut orang sepele itu.
Kadang pura pura jadi dewasa itu tidak enak. Dari kejauhan dia melihat seorang pria yang tidak asing dimatanya.
Audy mendekatinya. terlihat ban mobilnya bocor.
"Permisi" ucap Audy.
Rama berbalik mencari arah suara itu. dia kaget melihat gadis yang waktu itu kini ada disampingnya.
"Pak Rama" ucap Audy.
"Kamu nak" Rama terseyum.
"Mobilnya bocor ya pak"
"Iya nak. tapi bapak sudah telpon montir. sebentar lagi datang"
Audy terseyum.
"Bagaimana jika bapak menunggu disupermarket tempat saya bekerja"
Rama mengikuti gadis berusia 17 tahun ini.
Dia duduk dibangku depan supermarket.
Audy datang membawa air mineral.
"Ini untuk bapak"
"Kamu kerja disini nak" tanya Rama menatap sekeliling.
"Iya." jawabnya singkat.
Rama menyuruh Audy duduk.
"Rumah kamu dimana nak?" tanyanya.
"Rumah saya dekat dari sini. kapan kapan kalau bapak mau mampir. silahkan saja"
Rama merasa nyaman dengan gadis ini. seakan sudah lama mengenalnya dengan baik.
Beberapa saat tidak ada pembicaraan diantara mereka hingga Rama kembali mengajak bicara.
"Kamu anak yang baik. orangtuamu pasti sangat bangga punya anak sepertimu"
Audy mengangguk dengan seyuman yang tidak pernah luntur dari wajah cantiknya.
"Terima kasih untuk airnya. berapa harganya biar bapak bayar"
"Tidak perlu pak. itu gratis"
"Bagaimana jika kamu datang besok malam kerumah bapak untuk makan malam"
"Tapi. saya sudah ada janji pak"
Rama pura pura pasang wajah sedih.
"Tapi saya bisa datang besok malam lusa"
"Baiklah bapak tunggu. kamu janjian sama pacar ya" tanya suka menjahili anak ini.
Audy menggeleng dengan kuat.
"Gak pak. saya gak punya pacar"
"Masa sih! gadis cantik kaya kamu gak punya pacar. kok bapak ragu ya" Rama terkekeh pelan.
Audy menunduk karna malu. Rama merasa senang apalagi mengingat putrinya yang mungkin sudah besar sepertinya Audy.
Wajar saja jika diumur sekarang gadis ini jatuh cinta atau suka sama seseorang. andai putrinya masih ada mungkin dia akan dengan senang hati mendengarkan apapun yang diceritakan oleh putrinya. tapi itu hanya angan angan semata.
Audy melambaikan tangan kearah Rama yang sedari tadi bengong saja.
"Bapak kenapa?" tanya Audy.
Rama tersadar dari lamunannya. dia terseyum hangat.
"Bapak tidak papa"
Audy mengangguk.
"Jika kamu butuh teman curhat bisa langsung hubungi bapak ya. telinga bapak siap mendengarkan"
"Iya pak. terima kasih"
Montir datang. Rama berdiri.
"Nak besok malam bapak tunggu ya. nanti bapak serlok rumah bapak. sebelumnya bisa minta no kamu"
Audy memberikan no nya. Rama mengelus pelan rambut gadis itu sebelum pergi.
"Sampai jumpa" ucap Rama pergi.
Audy memegang kembali kepala yang dipegang oleh Rama beberapa saat tadi.
"Hangat" batin Audy