My Ex-Boyfriend

My Ex-Boyfriend
09. Wiliam



Seorang laki laki memakai jaket hitamnya sampai disebuah tempat. Dia disambut para pria bertubuh kekar.


Pria itu membungkuk hormat padanya. Laki laki yang merupakan ketua dari para pria ini masuk tanpa mempedulikan mereka semua.


Dia duduk dibangku kebesarannya disebuah ruangan yang sangat gelap. Laki laki itu mengetuk ngetuk jarinya dimeja dan sesekali dia terseyum miring.


Pria berkacamata masuk ke dalam ruangan itu dan membungkuk hormat.


"Apa semua sudah lo atur Johan?" Tanyanya dengan nada sangat dingin.


Johan yang merupakan asistennya ini. Terkenal sebagai mata mata yang sangat handal dan sangat setia dengan tuannya.


Dia mengangguk.


"Semua sudah siap Tuan Wiliam" Sahutnya membuat Wiliam merasa kemenangannya sebantar lagi akan memihak padanya.


"Permainan dimulai saudaraku"


Flashback.


Sebuah mobil sampai di mension mewah. Dua anak laki laki keluar. Mereka masing masing memakai seragam SD dan SMP.


Wanita cantik dan anggun menyambut kedatangan mereka. Dia terseyum dan langsung mendapatkan pelukan dari kedua putranya.


"Bagaimana sekolah hari ini Wili dan Riel" Tanya wanita itu yang tidak lain adalah ibu mereka berdua.


Wiliam sang kakak yang hanya beda satu tahun dengan sang adek dengan semangat menceritakan semuanya.


Mamanya terseyum hangat. Gabriel juga sama melihatnya. Sekekali dia terkekeh dan membenarkan cerita sang Kakak. Dia sangat menyanyangi Wiliam setelah Mamanya.


"Jadi, Pas itu Riel mau jatuh Ma didorong sama temannya. Untung Wili ada."


"Kamu gak papa sayang" tanya Mama ke Gabriel.


Orang yang ditanya itu memutarkan dirinya memberitahu sang mama kalau dia baik baik saja.


Mamanya menghembus napas lega. Dia mengelus pelan kepala Wiliam.


"Kalau ada yang berniat menyakiti adekmu maka jaga selalu dia. Jangan tinggalkan dia"


"Tentu Mama. Kecuali dia nakal sama Mama. Wili tidak akan membantunya" Jawab Wiliam.


"Gabriel janji tidak akan nakal kok" sahut Gabriel.


Mamanya tertawa kecil. Dia mengangguk.


"Anak mama pintar banget sih"


"Sudah dramanya" tanya tuan pemilik rumah ini yang tengah menggunakan jas hitamnya. keluar dari mobil mewahnya mendekati istri dan kedua putranya.


"Papa" Ucap Gabriel.


Papanya itu terseyum kearah anak keduanya yang jauh lebih berguna daripada sang kakak yang bodoh ini.


"Bagaimana sekolahmu sayang" Tanyanya.


"Tadi, ada yang menganggu Gabriel namun untung ada kakak yang datang membantu"


Wiliam mengangguk. Dia tidak sabar mendengar pujian dari orang yang sangat dia hormati dalam hidupnya walau terlihat sang papa selalu mengacuhkannya.


"Harusnya kamu bisa membalas dan menjaga dirimu sendiri Gabriel. Sebagai penerus Papa kamu itu harus sempurna. Apa kamu paham tentang semua itu?"


"Tapi pa. Gabriel tidak mau seperti Papa. Gabriel hanya ingin hidup bebas dan mencari apa yang Gabriel suka. Semua hal yang Papa inginkan itu ada dengan kakak. Dia pantas mendapatkan itu". Jawabnya.


Sang Papa menatap tajam Wiliam.


"Papa. Wiliam siap menggantikan adek" balas Wiliam.


Sang Papa tidak terlihat senang. Dia menarik putra tertua nya itu masuk kedalam. Sang Istri berteriak namun tidak didengar olehnya.


Dia mendorongnya hingga Wiliam terbentur lantai yang dingin dan keras ini. Gabriel menegang dia takut.


"Gabriel masuk kamar sama bibi" Perintah Mamanya.


"Mas. Hentikan ini semua. Wiliam masih kecil. Kenapa kamu tega melakukan ini padanya"


Wiliam memeluk Mamanya.


"Anak ini telah meracuni pikiran anakku"


"Wiliam juga anakmu Mas" balas sang Istri.


"Dengarkan aku Tasya. Anak bodoh ini tidak akan pernah ku akui sebagai anakku. Putraku hanya satu yaitu Gabriel. Dia ini hanya akan menghancurkanku"


"Mas sadar. Waktu itu Wiliam tidak sengaja membuat proyekmu hancur. Dia masih anal kecil saat itu"


"Diam kamu Tasya" Pria itu telah siap untuk menamparnya namun terhenti.


Wiliam berlutut di kaki sang Papa.


"Jangan sakiti Mama. Wiliam mohon Papa. Wiliam akan melakukan apapun"


"Jauhi Gabriel. Kamu hanya akan membawa pengaruh buruk untuknya."


Hingga tahun telah berlalu.


Wiliam dan Gabriel sama sama tumbuh menjadi remaja yang berusia 15 dan 14 tahun.


Namun hubungan mereka berdua renggang setelah hari itu. Wiliam menepati janjinya kepada Papanya menjauhi sang adek.


Padahal jauh dilubuk hatinya dia tidak bisa menerima itu. Dia ingin kembali dekat dengan sang adek. Hanya dari kejauhan dia membantu sang adek. Untungnya Gabriel sekarang sudah tidak selemah dulu.


Gabriel didik dengan sempurna. Dia hidup dibawah kendali sang Papa. Berbeda dengan Wiliam yang hidup seadanya dengan sang Mama.


Dia merasa iri namun apa daya nya. Dia hanya bisa mengikuti apa yang di ajarkan oleh guru khusus itu dari kejauhan.


Gabriel pernah bilang dia benci menyangkut tentang sebuah bisnis dia hanya ingin hidup bebas saja. Berbanding terbalik dengan Wiliam yang sangat suka dengan bidang itu.


Tapi, Papanya tidak pernah mengizinkannya untuk membuktikan itu.


"Kakak" Panggil Gabriel.


"Jauhi aku" balas Wiliam.


Gabriel menghembuskan napasnya dengan berat. Selalu seperti ini.


Hingga suatu hari.


Mata Wiliam tidak percaya dengan yang dia lihat sekarang. Wanita itu terseyum ke arahnya. Adeknya duduk dilantai dengan darah yang ada dibaju nya. Dan Papanya hanya menatap dingin kearahnya.


Dia terlihat biasa saja melihat istrinya berlumuran darah dilantai.


Gabriel melihat ke arah sang kakak.


"MAMA" Teriak Wiliam.


Katakan bahwa ini mimpi buruknya. Seseorang tolong bangunkan Wiliam. Itulah yang ada dipikirannya.


"Ja-Jaga dir-i mu sa--yang. Jaga Gab-"


Tasya kehilangan nyawanya malam itu karena luka tembak yang ada diperutnya. Gabriel berteriak ingin memeluk sang Mama.


Namun Wiliam mendorongnya dengan sangat kuat.


"Jangan mendekat. Dasar kalian berdua pembunuh. Aku tidak akan membiarkan kalian berdua bahagia sampai kapanpun terutama kamu Gabriel, PEMBUNUH"


Gabriel menggeleng kuat " Kak. Aku tidak melakukannya. Mama"


"Bawa mayatnya itu" Perintah tuan rumah ini tanpa dosa.


Setelah hari itu hubunga Gabriel dan Wiliam semakin buruk. Sang Kakak memutuskan untuk kabur dari rumah itu. Rumah yang tidak pernah menerima kehadirannya itu.


Flashback selesai.


Aulia dan kedua temannya itu mendengarkan celotehan dari semua anak anak kelas ini terutama para cewek.


Kelas mereka akan kedatangan seorang siswa baru itulah alasan dari keributan ini.


Gabriel datang dan duduk dibangkunya.


"Selamat pagi Cantik" sapanya.


"Pagi" Balas Aulia.


"Ada apa sih?" Tanyanya ke Aulia.


"Ada murid baru lagi dikelas ini" Bukan Aulia yang menjawab tapi si Dinda.


"Gue gak nanya lo" Balas Gabriel.


"Semua jawaban bakal sama siapapun yang ngejawab" Sahut Aulia.


"Iya cantik. Maaf" Gabriel menunduk.


Guru datang bersama dengan seorang cowok yang sangat tampan.


Aulia membulatkan matanya tidak percaya begitu juga dengan Gabriel.


"Nama saya Wiliam. Salam kenal semuanya"


Naufal dan Lucas melihat ke arah Gabriel.


"Silahkan duduk dibagian sana"


Wiliam duduk sesuai arahan guru dan kebetulan berada tidak jauh dari bangku Aulia. Ini memang sudah rencananya. Dia duduk agak sedikit lebih belakang dari Aulia dan Gabriel.


"Hai masih ingat sama Gue kan" tanya Wiliam ke Aulia.


"Iya. Lo Wiliam yang kemarin kan" Jawab Aulia terseyum.


Jangan lihat seseorang dari sudut pandang satu aja dulu ya. Kita tidak ada yang tahu apa yang terjadi.


Semua memiliki cerita yang dilihat sesuai dengan pemikiran sendiri. Jadi, jangan menghakimi dulu. Oke...