
Audy duduk sendirian ditaman. jika ada yang bertanya dia sedang apa? jawabannya adalah dia dan Aziel janjian.
Saat ketiga temannya itu tertidur. Audy keluar dengan pelan tanpa suara dan kabur dari sana.
Agak lucu sih saat mengingatnya batin Audy.
Rambutnya ditiup pelan oleh angin malam. seketika senyum indahnya terbit diwajah gadis itu saat sebuah mobil tiba didepannya.
Aziel keluar. dia langsung berlari kearah gadisnya itu dan memeluknya dengan erat.
"Pacarku tadi sangat tampan banget" Audy mengelus pelan rambut Aziel.
Kini Aziel dan Audy saling melihat satu sama lainnya. Aziel mengambil rambut gadisnya itu yang sedari tadi menghalangi wajahnya.
"Maaf ya. Aku tiba tiba gini ngajak ketemuan"
"Gak papa sayangku" Audy mencubit gemes pipi laki laki kesayangannya ini.
"Aku merasa sangat bahagia karna kamu bersamaku."
"Iya tahu kok" Audy terkekeh.
Begitu juga dengan Aziel.
"Selamat ya"
"Kamu gak cemburu kan tadi aku bareng jesika. Maaf ya, kami kan lawan main jadi aku disuruh berangkat sama dia" Aziel bertanya dengan hati hati.
Dia takut menyakiti gadis kesayangannya ini. dia tidak ingin itu terjadi. Audy menggeleng dengan kuat.
"Aku gak cemburu kok. aku paham semuanya. tapi, aku hanya minder aja kalian terlihat cocok untuk jadi--
"Aku cuma mau sama kamu dan akan selalu kamu. tidak ada yang lain. Aziel dan Audy selamanya"
Audy tertawa. sungguh kekenakan bocah ini pikirnya. dia hanya mengangguk mengiyakan saja.
"Ayo biar aku anter pulang ke rumah siapa sih itu namanya"
"Sama teman sekelas aja lupa" Audy menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya tahu kamu dan hanya kamu pusat dari segalanya dunia Aziel ini"
"Dasar buaya" jujur Audy senang dengan setiap gombalan yang keluar dari mulut seorang Aziel walau dia kadang mengatainya dengan kata "Buaya".
Aziel melepas jas nya dan memasangkan ke Audy. dia meraih tangan mungil itu dan menariknya dengan lembut untuk masuk kedalam mobilnya.
Mobil Aziel perlahan melaju meninggalkan taman. seseorang keluar dari balik pohon.
Dia menyaksikan semua yang terjadi dadanya terasa sesak namun dia harus tetap terseyum.
Setelah sekian lama. menjauh dari kata Cinta karna tidak ingin terlibat dengan kata itu. tapi, saat pertemuannya dengan Audy berhasil membuat hatinya yang keras ini terbuka. berharap akan bersama.
Tapi, sepertinya itu hanya akan menjadi sebuah mimpi yang indah. mimpi ya tetap mimpi tidak akan pernah nyata. dia akan menghilang jika kita terbangun.
Hanya senyuman sendu diwajahnya. menemukan sebuah Fakta yang tidak bisa dia terima.
Ya! orang itu Jovan.
Laki laki yang memang sedari awal mengikuti Audy. awalnya setelah dia mengantar cemilan dia mampir kesebuah toko yang tidak jauh dari taman tapi dia kaget saat melihat seorang gadis yang tidak asing baginya.
Dia mengikuti dan bersembuyi dibalik pohon. hingga Aziel datang dan dia menyaksikan itu hingga mereka pergi dari taman.
Jovan duduk dibangku yang diduduki oleh Audy sebelumnya. dia mengambil HP nya dan menghidupkannya.
Jam sudah menujukkan jam 10.00 tepat. tangannya memencet album foto.
Dia terseyum melihat sebuah foto Audy yang diam diam dia ambil saat mereka piknik kemarin.
"Saat aku merasa nyaman. dia malah bersama orang lain. Audy kenapa aku jadi bisa segila ini karnamu?" gumam Jovan frustasi.
Dia menutup matanya. merasakan sesak yang sedari tadi selalu terasa.
"Gadis itu terlalu baik untuk Aziel. tapi aku juga tidak boleh egois. melihat kebahagiannya jauh lebih baik walau bukan karna aku kebahagian itu terjadi".
Dia menatap foto itu dengan tatapan tulus.
"Aku sudah berjanji akan selalu menjagamu dan aku tidak akan melanggar janji itu walau kamu tidak bersamaku dan tidak akan pernah bersamaku" lirih Jovan.
"Apa ini yang disebut Cinta? harusnya dari awal aku menolak perasaan ini"
Cinta itu akan indah jika bersama orang yang tepat dan terasa menyakitkan jika kita melabuhkan hati kita dengan suka rela namun ternyata dia dan kita tidak ditakdirkan bersama.
Apa itu pantas dikatakan terluka tapi tidak berdarah.
.
.
.
Rama dan Rika sampai disebuah panti. tempat yang telah menjadi saksi kehidupan seorang gadis bernama Audy.
Rama menggenggam tangan istrinya dengan erat dan beberapa kali mengelusnya. mereka mengetuk pintu.
Nampaklah wanita paruh baya. wanita yang sama datang ke acara kemarin.
Disambut dengan sangat ramah. Rama dan Rika dipersilahkan duduk.
Wanita itu datang dengan dibantu seorang remaja memberikan hidangan.
"Ibu gak perlu repot repot" Rika terseyum.
Ibu panti menggeleng kuat. dia duduk bersebarangan dengan pasangan suami dan istri ini.
"Tidak papa. itu sudah kewajiban saya sebagai tuan rumah" Balas ibu panti lembut.
"Kedatangan kami kesini ingin mengangkat Audy menjadi anak kami. karna anda ibunya kami harus izin dulu"
Walau awalnya Ibu panti kaget. tapi kini senyum indah terbit diwajahnya yang sudah tidak muda ini.
"Saya merasa bahagia karna anak itu sudah lama ingin memiliki keluarga lengkap walau dia menutupi keinginanannya itu. saya tahu jelas dia ingin itu"
"Maaf sekali kami lancang. saya hanya ingin tahu asal usulnya bu." Rama bertanya dengan hati hati takut menyinggung wanita yang ada didepannya ini.
17 tahun yang lalu.
Ibu panti keluar dari kedai tempat dia bekerja. mengingat anak pantinya pasti sudah menunggunya. dia tergesa gesa.
Tanpa sengaja terdengar keributan. banyak orang yang menggerumbungi seseorang.
Ibu panti awalnya tidak peduli. tapi entah kenapa? hatinya tergerak untuk melihat.
Matanya menatap tidak percaya. ada wanita gila yang memeluk bayi yang kira kira berusia 1 tahunan.
"Dia kenapa bu" tanya ibu panti.
"Dia wanita gila. kasian anaknya itu."
"Wanita itu akan dibawa kerumah sakit jiwa" tanya ibu panti lagi.
"Iya bu"
Ibu panti merasa kasihan dengan anak itu. dua orang pria membawa wanita gila itu. dengan seorang laki laki menggendong anak perempuan itu.
Ibu panti mendekati.
"Permisi. kebetulan saya punya panti. anda bisa percaya dengan saya. izinkan saya menjaganya dan merawatnya"
Laki laki itu terlihat ragu hingga akhirnya dia menyerahkan anak itu saat ada seseorang yang membenarkan apa yang dikatakan ibu panti.
Anak gadis itu yang tadinya menangis lalu diam saat ibu panti memelunya.
Sebuah kalung berbentuk huruf "R" dengan berbalut mutiara mengelilingi huruf itu.
"Bagaimana bisa wanita gila itu memberikan kalung mahal ini"
Dari hari itu ibu panti merawat gadis ini dengan sangat tulus dan memberikan nama Audy untuk gadis cantik itu. dia sangat menyayanginya apalagi Audy sangat dekat dengan adek adek dipanti.
Anak itu hanya bertanya sekali tentang orangtuanya. dan ibu panti jawab orangtuanya menitipkannya
Rika dan Rama sama sama kaget. anaknya juga menghilang 17 tahun yang lalu.
Karna saat itu lengah. seseorang mengambil putri mereka dan membawanya kabur.
"Ibu masih menyimpan kalung itu" tanya Rika.
Remaja yang bersama dengan ibu panti tadi mengambilkan. dia membawa kotak kecil tempat kalung itu.
Air mata Rika langsung mengalir deras begitu juga dengan Rama.
"RANIA" Ucap meraka bersamaan.