
Seseorang mengirim beberapa foto dan sebuah video. Dia membuka setiap yang dikirim padanya. Wajahnya terseyum miring dia tidak akan membiarkan ini.
Tidak papa jika bahagia dulu dan saat waktu yang tepat dia akan menghancurkan kebahagian itu.
Bukannya jika dalam keadaan bahagia dan berpikir semua baik baik saja tapi datang sebuah luka itu lebih menyakitkan daripada terlalu sering terluka.
"Gue gak akan biarin lo bahagia. Tunggu saat Gue datang dan menghancurkan apa yang telah lo bangun. Tidak ada kata bahagia bagi pembunuh seperti lo"
Dia menggenggam erat pegangan kursinya. Menahan segala sesak dan kenangan masa lalu yang masuk berdesakan kedalam kepalanya. Menyakitkan itulah kata yang tepat untuk keadaanya ini.
Senin telah tiba menggantikan minggu yang menurut sebagian orang menyenangkan namun ada juga yang tidak sama sekali menarik.
Aulia bergegas masuk mobil dan berangkat. Dia takut terlambat.
"Ayo berangkat" seru Aulia dengan nada agak panik.
Mobil itu melaju menuju sekolah. Dia sampai dengan selamat. Setelah pamitan dengan sopir Aulia bergegas masuk kedalam kelas.
Anak anak sudah keluar untuk ke lapangan. Laura dan Dinda kaget melihat Aulia yang tergesa gesa masuk dan menaruh tasnya.
"Tumben telat Au" tanya Laura.
Aulia menghembuskan napasnya. Dia menghirup rakus udara. Benar benar melelahkan harus lari dari parkiran ke kelas yang lumayan jauh.
"Gue tadi malam pasang alarm jam 05.00 tapi ternyata salah yang Gue pasang jam 06.30. Hasilnya gini deh. Lelah banget Gue" keluh Aulia.
"Makanya diperiksa dengan teliti lagi. Ayo ke lapangan" ajak Laura.
"Tunggu" Dinda mengeluarkan botol minumnya untuk Aulia.
"Makasih banyak Din" Aulia meminumnya dengan sangat puas.
Mereka bertiga menuju lapangan. Upacara ini berjalan lancar hingga Pak Guru menarik tiga orang kedepan.
Tentu saja pandangan semuanya ke arah mereka bertiga. Nampaklah Gabriel, Naufal juga Lucas.
Anak anak kaget melihat wajah Gabriel yang memar seperti setelah berkelahi. Mereka bertiga hanya bisa pasrah saat ditarik.
Aulia terus saja melihat Gabriel. Bingung dengan mereka bertiga. Dan dia juga penasaran dengan wajah memar itu.
Manik mata mereka bertemu. Lagi dan selalu Gabriel terseyum. Seakan mengatakan kepada Aulia dengan isyarat 'Dia baik baik saja'.
Aulia hanya bisa bisa geleng kepala dan memerhatikan dalam diam. Sedangkan Bapak kepala tengah ceramah panjang lebar.
"Jangan ada yang meniru tiga anak nakal ini. Harusnya kalian sekolah bukan malah tawuran"
"Kami gak tawuran pak. Tiba tiba aja mereka nyerang kami. Ini sudah sering terjadi. Kemarin saat Gabriel ke supermarket lalu sekarang saat kami ingin ke sekolah. Apa itu salah kami" Naufal membela dirinya juga kedua temannya ini.
"Itu karena kalian duluan. Gak akan ada sebab apa apa mereka asal keroyok kalian" jawab Bapak kepala sekolah.
"Orang itu iri sama Gabriel pak. Gabriel terlalu sempurna hingga dengan berbagai cara mau hancurin dia" Lucas sudah terlalu emosi dan tidak sadar mengatakan itu.
Aulia tertekun dengan kata kata itu. Dia ingat saat awal pertemuannya dengan Gabriel dulu. Laki laki itu juga tengah dikejar para preman.
Gabriel menginjak kaki Lucas sebelah kanan dan Naufal sebelah kiri.
"Diam. Jangan banyak bacot" bisik Naufal.
"Gue emosi ngab" bantah Lucas.
Bapak kepala menghela napasnya pasrah.
"Untung tidak ada fasilitas yang rusak. Jadi, kalian tidak perlu ganti rugi. Tapi hukuman tetap menanti. Bersihkan lapangan beserta ruang guru tiga hari berturut turut. Ini termasuk ringan ya"
Mereka bertiga hanya bisa mengangguk pasrah. Upacara selesai. Ketiga gadis mendekati trio ini.
"Hai lia cantik" sapa Gabriel.
"Lo diserang atau menyerang duluan" tanya Aulia.
"Kami diserang Au. Kami ini walau jago bela diri tapi kami tidak akan menyerang orang yang hanya diam dan tidak bersalah" jawab Naufal.
Aulia mengangguk.
"Gue sudah minta izin untuk obati kalian bertiga. Ayo ikut Gue ke Uks"
Gabriel terseyum hangat. Aulia khawatir kepadanya dan dia sangat senang akan hal itu.
Wajah mereka sangat dekat. Gabriel menahan napasnya saat ini. Jantungnya berdetak sangat kencang. Dia tidak peduli lagi jika sampai terdengar oleh Aulia.
Dia sekarang benar benar berdebar. Wajah cantik ini terlihat raut khawatir dan memberikan rasa hangat didalam lubuk hatinya.
Dia terseyum. Aulia mendongak melihat kearah Gabriel yang melihatnya.
"Sudah selesai" ucap Aulia lalu mengalihkan pandangannya.
Aulia merasakan debaran kuat saat matanya menatap manik hitam milik Gabriel.
"Gue kenapa sih" batin Aulia.
"Lia makasih banyak ya. Lo bisa balik kekelas dan kami bolehkan disini dulu" izin Gabriel.
Aulia mengangguk "Kalian istirahat aja dulu. Gue duluan ya"
Aulia berdiri lalu pamit dengan dua makhluk lainnya. Dia bergegas menuju kelas.
Gabriel melihat kearah kedua temannya.
"Mulai sekarang kita harus hati hati. Jika bisa jangan sampai libatkan Aulia" Naufal bicara dengan nada serius.
"Gue janji mereka gak akan ganggu Aulia" bantah Gabriel. Dia tidak akan biarkan itu terjadi.
"Gue gak tahu yang terjadi diantara kalian separah apa. Wiliam sangat iri sama lo"
Gabriel membenarkan. Orang itu tidak membiarkan dia hidup bahagia. Padahal itu bukan salahnya hanya kesalahpahaman.
Namun Wiliam seakan menulikan telinganya. Kejadian dimasa lalu. Membuat ini semua terjadi.
"Gue bakal selalu ada dipihak lo. Jangan sungkan minta tolong sama kita. Prinsip kita kan-" Naufal bicara.
"Selalu bersama apapun yang terjadi" seru Naufal dan Lucas bersamaan.
Gabriel terseyum hangat. Dia bahagia mengenal dua orang ini. Selalu datang dikala dia senang dan juga sedih.
"Makasih bro" Ucap Gabriel tulus.
Dia tidak tahu akan seperti apa kedepannya. Namun sekarang dia hanya perlu lebih waspada. Musuhnya hanya satu dan dia adalah orang yang sama "Wiliam". Anak itu sangat berbahaya.
Bel pulang berbunyi. Tiga sahabat ini tengah membersihkan lapangan setelah selesai membersihkan ruang guru.
"Sapu sapu sendiri. Semuanya sendiri" nyanyi Naufal.
"Bacot" balas Lucas ketus. Telinganya sakit dengar suara sumbang dari seorang Naufal.
"Iri kan lo dengar sura emas Gue" Bantah Naufal dengan muka songongnya.
"Suara sumbang gitu lo bilang emas. Heran pakai banget Gue" ketus Lucas.
"Astaga kalian ini. Gue mau cepat pulang neh. Jangan pada gelud nanti gak habis neh sampah" sahut Gabriel.
Mereka bertiga kembali nyapu.
"Perasaan dari tadi neh sampah gak habis habis dah. Siapa sih yang buang sampah sembarangan banget. Gila gak tanggung jawab" Gerutu Gabriel kesal.
Aulia, Laura dan Dinda menghampiri mereka membawakan botol minuman.
"Neh buat kalian" Aulia memberikan kantong plastik itu kepada Gabriel.
Mereka bertiga meminumnya dengan sangat rakus. Benar benar haus sekali. Hari ini sangat melelahkan.
"Makasih. Kamu yang paling mengerti sama aku"
Aulia memutar matanya malas dan hanya mengangguk sebagai balasan.
"Kami duluan" Ucap Aulia.
"Hati hati cantik" Ucap Gabriel.
"Semangat bestai. Gue bantu doa" Sahut Laura ketawa kecang.
"Awas lo" teriak Lucas.