
Orang yang ingin sekali Gabriel menderita kini ada didepannya tengah memperkenalkan dirinya. Dia tidak tahu apa yang ada di otak orang ini dengan berpura pura menjadi anak SMA.
Dia terkekeh pelan. Saudaranya ini telah lama menghilang dan hanya selalu mengirim anak buahnya untuk menyerangnya. Gabriel tahu tentang semuanya. Tentang Wiliam yang merupakan ketua dari para preman itu.
Bagi yang penasaran dari mana dia mengetahuinya. Naufal dan Lucas adalah sahabatnya yang sangat dapat di andalkan.
Kepintaran kami tertutupi oleh kekonyolan dan kebodohan kami.
Namun kini Wiliam kembali menapakkan dirinya. Orang ini tidak berubah. Gabriel tidak membenci kakaknya ini namun dia hanya kecewa.
Kenapa? Kakaknya tidak mendengarkan penjelasannya dulu. Dia langsung menyimpulkan itu semua saat melihatnya di dekat sang Mama dengan tangan bernoda darah.
Wiliam sekarang adalah orang yang sangat ingin menghancurkannya. Dan sekarang dia hanya perlu hati hati dengannya.
Wiliam orangnya nekat melakukan apapun ditambah dia juga harus selalu waspada dengan mata mata yang di kirimkan oleh sang papa.
"Silahkan duduk di sebelah sana" Arah guru.
Wiliam duduk dibagian yang ada dibelakang Gabriel dan Aulia.
"Hai masih ingat sama Gue kan" tanya Wiliam ke Aulia.
"Iya. Lo Wiliam yang kemarin kan" Jawab Aulia terseyum.
Badan Gabriel menegang. Apa dia salah melihat? Aulia mengenal Wiliam bahkan sekarang dia terseyum kepada laki laki itu.
"Gue boleh minta tolong kan?" Tanya Wiliam.
Aulia nampak ragu namun dia langsung mengangguk. Mengingat laki laki ini kemarin telah membantunya mungkin dia bisa membalas budi kepadanya.
"Gue cuma mau keliling bentar. Soalnya Gue masih gak tahu banyak tentang sekolah ini. Takutnya Gue tersesat kan" Ucap Wiliam sambil menatap Aulia ramah.
"Tentu saja Wiliam. Pas istirahat" Balas Aulia.
Gadis itu kembali fokos kedepan takut ketahuan Guru tidak memperhatikan dan itu akan memberikannya masalah nanti.
Wiliam terseyum miring sambil melihat punggung sang adek yang menegang karena kaget melihat interaksi dirinya dan gadis pujaan hatinya ini.
Tangan Gabriel mengepal kuat. Dia tidak akan membiarkan ini. Wiliam ingin melakukan sesuatu dengan Aulia dan tentu saja Gabriel tidak akan membiarkan itu.
Istirahat telah tiba.
Aulia dan Wiliam akan mengelilingi sekolah sebentar lalu akan kekantin bersama.
Gabriel menatap Aulia yang sibuk memasukkan buku bukunya ke dalam tas.
"Aku mau ngomong sebentar Au" Ucap Gabriel menarik tangan Aulia ke luar.
Aulia tentu saja kaget. Dia berusaha melepas tangan Gabriel yang kini membawanya ke rootof.
"Lo apa sih?" Aulia bingung.
"Aku mohon jauhi Wiliam. Dia berbahaya bagi kamu"
"Lo aneh banget sih. Kenal juga baru kali ini bisa bisanya lo mikir gitu" Aulia tidak habis pikir dengan Gabriel.
"Aku serius Lia! jauhi dia"
"Kenapa? Gue akan jauhi jika lo punya alasan yang kuat"
Gabriel menunduk lalu kembali mendongak dengan wajah yang imut. Sambil memainkan tangannya.
"Aku cemburu" Ucap Gabriel malu.
Wajah Aulia langsung memerah seperti kepiting rebus. Jantungnya memompa dengan cepat.
Serangan imut dari Gabriel telah membuatnya tidak bisa berkomentar lagi. Dia langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Gila lo. Serah Gue lah. Wiliam sudah nungguin Gue" Aulia ingin segera pergi dari sini. Dirinya sudah sangat sangat malu.
"Kalau begitu Aku ikut ya. Aku mau mastiin orang itu tidak berbahaya untuk kamu"
Gabriel kembali melangkah sambil menarik lembut Aulia yang kini menegang sendiri.
"Gue gak akan biarin lo nyakitin Aulia. Gue gak akan tinggal diam jika itu terjadi. Meskipun lo kakak Gue." Batin Gabriel.
Mereka berdua sampai di depan Wiliam yang melihat ke arag Gabriel dengan sangat datar.
"Maaf ya Wiliam. Orang ini maksa banget buat ikut" Ucap Aulia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak papa" Jawab Wiliam terseyum ramah ke arah Gabriel.
Mereka bertiga berjalan beriringan. Aulia jujur belum terlalu hapal juga dengan sekolah ini.
Diirinya juga baru masuk dan Wiliam malah mengajaknya keliling. Dia melirik Gabriel ada juga untungnya orang ini ikut pikir Aulia.
Kini mereka telah selesai keliling dengan aman dan damai. Dan sekarang tiga orang itu tengah duduk di bangku kantin dan tentunya semeja dengan empat teman yang lain.
Dinda sedari tadi terus saja melihat ke arah Wiliam dan Gabriel secara bersamaan. Dia merasakan sesuatu.
"Kalian saudaraan ya. Kok muka kalian mirip gitu" Tanya Dinda.
Aulia memerhatikan wajah Gabriel dan Wiliam. Kenapa dia baru sadar jika wajah dua orang ini mirip sekali.
"Iya mirip banget" Laura ikut juga.
"Kami gak punya hubungan apapun. Mungkin cuma kebetulan saja" Jawab Wiliam terseyum ramah.
"Mata kalian aja pada rabun. Gak mirip kok menurut Gue" Balas Naufal.
Gabriel hanya diam. Jauh di dalam lubuk hatinya merasa sesak mendengar penuturan sang Kakak.
Aulia hanya diam fokos dengan makanannya. Tanpa terasa bel pulang berbunyi. Semua mulai membubarkan diri dari kelas menuju parkiran.
Gabriel menahan tangan Wiliam. Dia menatap sang kakak dengan tatapan yang sangat tajam.
Wiliam hanya menatapnya remeh.
"Urusan lo sama Gue. Jangan libatkan Aulia dalam rencana busuk lo. Gue gak akan tinggal diam jika lo ngelakuin hal yang berbahaya buat tuh cewek"
"Terserah Gue donk" Balas Wiliam.
"Gue kasih peringatan buat lo Wiliam. Apa yang lo lihat itu belum tentu benar. Lo itu pintar tapi masih saja tidak mau cari bukti lebih dalam"
"Gue percaya dengan apa yang Gue lihat? Itu adalah bukti yang nyata."
"Terserah apa mau lo. Gue gak tahu apa yang ada di otak busuk lo. Tapi, jika lo libatkan Aulia. Gak peduli lo itu saudara Gue atau gak. Lo bakal habis ditangan Gue. Selama ini Gue selalu sabar dengan yang lo lakuin ke Gue. Namun untuk satu hal ini. Jangan harap Wiliam. Lo salah besar"
Gabriel beranjak pergi dengan tangan di masukkannya ke dalam saku celana. Naufal dan Lucas yang berada didepan pintu mengikutinya dari belakang.
"Gue sudah bangun kan singa yang tidur ya. Semakin menarik" Kekeh Wiliam dengan sorot mata yang melihat kepergian Gabriel.
Sedangkan Aulia tengah duduk di depan halte menunggu sopirnya. Seperti biasa Gabriel akan menemani gadisnya itu dulu. Saat dia dijemput baru Gabriel pulang.
"Hai Cantik" Gabriel duduk disamping Aulia.
Gadis itu hanya berdeham sebagai jawaban dari sapaan laki laki ini.
"Sekali lagi Aku bilang jauhi Wiliam" Ucap Gabriel dengan menunduk.
"Karena cemburu. Gue gak peduli. Wiliam orang yang baik kok. Dia bantu Gue pas di supermarket" Aulia melihat ke orang yang ada didekatnya ini.
Gabriel menghembuskan napasnya. Mata mereka bertemu.
"Jauhi Wiliam Lia!" Peringat Gabriel dengan tatapan serius. Tatapan yang belum pernah dilihat oleh Aulia selama ini.