
Acara itu telah berlalu dua hari yang lalu.
sekarang semua sudah berjalan seperti biasa tapi senyum indah terpampang jelas diwajah kami saat mendengar libur selama tiga hari untuk persiapan ujian juga.
Jovan menghampiri Audy yang terlihat tengah siap siap untuk pulang.
"Ada rencana apa?" tanya Jovan.
Audy pura pura mikir walau dia sendiri tahu tidak akan pergi liburan bukankah lebih baik kerja saja dapat duit kan lumayan.
"Sepertinya tiga hari ini. aku hanya akan kerja lalu tidur dan kerja lagi" jawab Audy dengan senyuman yang selalu dia tunjukkan itu.
"Aku ingin mengadakan piknik kecil. apa mau menemaniku besok" tanya Jovan.
"Ide yang bagus" jawab Audy.
Jovan dan Audy saling melambaikan tangan saat berpisah arah menuju jalan kerumah masing masing.
Malam telah tiba.
Dilain tempat. disebuah gedung.
Aziel dan sutradara tengah membicarakan tentang Film baru yang akan dimainkannya.
"Saya akan berusaha dengan keras untuk yang terbaik" Jawab Aziel.
Mereka saling berjabat tangan. Aziel keluar dari ruangan itu setelah selesai rapat.
Dia teringat kembali tentang Jovan yang tebar pesona keibu Audy.
Aziel sangat kesal.
"Dasar sialan si Jovan. dunia juga tahu ganteng aku daripada dia" Aziel menggerutu.
Mobilnya melaju pulang kerumah. teringat sesuatu.
"Pak kita berhenti disuatu tempat ya" perintah Aziel yang diangguki oleh sopirnya.
Dia sampai ditempat Audy bekerja.
Dengan sebuah senyuman diwajah tampannya. Aziel masuk dan merasa senang saat melihat Audy sibuk melayani pembeli.
"Selamat datang. tunggu sebentar" ucap Audy tidak melihat kearah orang yang dia ajak bicara.
Aziel berdehem dan Audy mendongak ingin melihat siapa sosok yang tengah melihatnya.
"Aziel" Audy tahu karena Aziel membuka maskernya.
"Bisa temani aku makan . makan mie juga gak papa" Ajak Aziel.
Jam kerja Audy juga sebentar lagi akan berakhir. dia setuju.
Beberapa menit Aziel menunggu hingga Gadis itu datang membawa dua gelas mie.
"Ini punyamu dan ini punyaku" Audy meletakkannya dimeja.
"Terima kasih" jawab Aziel.
Mereka makan bersama sama dengan lahap.
"Kamu kok bisa kesini" tanya Audy penasaran.
"Kamu sekarang sudah mulai terbiasa lagi dengan kehadiranku ya walau kita gak punya hubungan istimewa seperti dulu" Aziel menatap Audy.
"Mau bagaimana lagi? setiap hari aku bertemu denganmu" jawabnya fokos dengan Mienya.
"Walau begitu aku tetap bahagia kok"
Audy hanya mengangguk. jantungnya sekarang tidak bisa dikontrolnya. dia benar benar gugup sekali. dengan sekuat tenaga dia menahan dan berusaha bersikap biasa saja.
"Aku bakal punya Film baru loh"
"Benarkah" jawab Audy.
"Iya. kamu senangkan" tanya Aziel.
"Iya."
"Nah, sebelum aku benar benar sibuk dan bahkan tidak bisa masuk sekolah nanti. aku ingin liburan tiga hari ini kita habiskan bersama" Ajak Aziel.
Audy menyilangkan kedua tangannya tanda tidak setuju. Aziel cemberut.
"Dua hari deh" tawar Aziel.
Audy kembali menggeleng.
"Ya udah satu aja saja"
"Oke deh. walau terpaksa" Sahut Audy.
"Bagaimana besok"
"Gak bisa. aku udah ada janji sama Jovan bakal piknik"
Aziel menggenggam tangannya kesal. pasti dia selalu ditikung oleh sosok Jovan ini. Audy merasa ada hawa hawa aneh merasuki dirinya.
Dia melihat kearah Aziel yang mehana marahnya.
"Kamu kenapa?" tanya Audy bingung.
"Kenapa sih kamu selalu bersama dengan Jovan. waktu itu dan juga besok"
"Waktu itu yang mana" Audy benar benar tidak paham.
"Dua hari yang lalu. aku melihat Jovan tebar pesona sama ibu kamu"
"Tebar pesona darimana sih" Audy kembali tertawa.
"Aku tahu kok dia tebar pesona gitu?"
"Kamu cemburu. hah lucu banget sih. punya hubungan juga gak kenapa baperan sih" tanya Audy.
Perkataan yang telah keluar dari Audy membuat Aziel terdiam melihat wajah Audy dengan serius.
Mereka saling melihat satu sama lainnya.
"Aku cemburu! walau kamu bilang aku buaya, aku tidak peduli tapi saat melihatmu bersama laki laki lain aku sangat kesal. aku tahu kamu sudah menganggap kita tidak punya hubungan tapi aku menganggap kita masih bersama dan selalu bersama" ucap Aziel serius.
"Aku masih memiliki rasa sama kamu. bahkan setiap harinya membesar. kata putus tidak akan mengubah perasaanku sama kamu. terserah kamu percaya atau tidak tapi aku tetap menyukai dan selalu begitu..."
Aziel berdiri. dia mengelus pelan rambutku.
"Dengarkan itu sayang. aku akan selalu mencintaimu" ucap Aziel dengan penuh penekanan dalam setiap kata yang dia ucapkan.
Laki laki itu pergi meninggalkan Audy yang mematung tidak bisa bicara.
Bagas yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan itu mendekati Audy yang menangis menunduk.
"Sepertinya masih suka ya" tanya Bagas.
Audy menggeleng dengan kuat. Bagas terseyum ragu.
"Kadang memang ada orang yang akan datang dan pergi tapi tidak ada kemungkinan yang pergi itu akan datang kembali...
Audy mendongak.
"Pikirkan baik baik. apa perasaan ini masih sama seperti dulu?. aku akan selalu mendukung apa pun yang terjadi padamu apalagi tentang cinta" Bagas meninggalkan Audy untuk berpikir sendiri.
➖➖➖➖➖
Sore yang indah untuk piknik.
Jovan telah tiba menyiapkan semuanya sebelum Audy datang.
"Semua telah siap" ucapnya.
Beberapa saat kemudian.
Audy datang. Jovan melambaikan tangan kearahnya begitu juga sebaliknya.
Audy menatap takjub. banyak sekali makanan dan cemilan.
"Wah ini lebih kearah pesta makanan" Audy semangat.
Jovan terkekeh pelan. dia bahagia jika Audy suka.
"Pemandangan disini indah sekali ya? baru tahu jika sore gini enak piknik" Ucap Audy membuka keripik dan memakannya.
"Kamu terlalu sibuk kerja hingga lupa dengan masa mudamu"
Audy menarik napas beratnya.
"Aku dipaksa dewasa oleh keadaan. mau bagaimana lagi? jika aku tidak bekerja aku harus makan apa? hidupku tergantung dengan apa yang sudah aku kerjakan" jawab Audy.
"Aku kira hidupku ini sudah berat..
"Kamu harusnya bersyukur memiliki orangtua lengkap yang sayang kepadamu"
"Tapi mereka lebay" jawab Jovan
"Itu tandanya sayang. coba aku? tidak dapat merasakan kasih sayang seperti itu walau aku ingin. ibuku bukan hanya memiliki aku tapi adekku juga perlu ibuku kan?"
"Ibumu orang yang hebat...
"Ya. dia adalah ibu yang telah mengurusku walau bukan dia yang melahirkanku."
Jovan kaget. dia kira ibu yang dia temui dua hari lalu memang ibu kandungnya.
"Aku kira dia..
"Dia ibu pantiku. walau bukan ibu kandung aku sudah menganggapnya adalah ibuku. wanita yang sangat kuat."
"Kemana orangtuamu yang asli" tanya Jovan.
"Aku juga tidak tahu. sudah dari kecil aku dipanti..." jawab Audy sedih.
"Maafkan aku bertanya seperti itu" jawab Jovan
"Santai saja"
Jovan melihat kearah dua bola mata Audy.
"Aku penasaran sama kamu" batin jovan.
➖➖➖➖➖
Hallo apa kabar?
Apa masih ada yang PAS?
Aku masih PAS hiks hiks.
Bagi yang masih PAS semangatt terus ya.
Aku bakal salurin cinta neh dari sini.
Hehe.
See you minggu depan