My Ex-Boyfriend

My Ex-Boyfriend
04. Malming



Audy lari kearah Jovan yang baru sampai. dia memberikan jaket itu. dengan senyuman yang paling manis Audy menyerahkan.


Jovan langsung memakainya dan mereka jalan bersama kekelas.


"Jovan. makasih banyak banget untuk yang kemarin. anak anak bahagia banget" ucap Audy.


"Apa aku bisa kesana nanti" tanya Jovan.


"Tentu saja?" jawab Audy.


Jovan terseyum sekilas. Dia membaca buku yang akan segera dipelajari.


Audy dipanggil untuk kekantor. dia izin keluar.


Ibu guru memberikan tanggung jawab kepada anak anak yang ada dikelas ini untuk mengadakan pentas drama.


Audy menyampaikan apa yang telah diberitahu kepada mereka.


Anak anak kelas ada yang setuju dan juga tidak dengan alasan malu.


"Tahun ini kita harus memberikan yang terbaik sebagai bentuk wujud kelas kita adalah yang terbaik. acara tahunan ini pasti akan menyenangkan" ucap Audy.


Anak anak setuju.


"Mau drama apa neh?" tanyaku.


"Bagaimana jika kita membuat ceritanya sendiri. Pangeran yang mencari putri yang sempat menari bersamanya tapi pangeran tidak bisa melihat dengan jelas wajah putri itu hingga dia harus mencarinya dan akan segera menikahinya jika bertemu" Yeri memberi pendapat.


Audy dan seisi kelas mengangguk. mereka semua setuju.


"Para tokohnya. ada yang bersedia?" tanya Audy.


"Putri itu ketua kelas saja. dan pengerannya adalah Aktor kita, Aziel" saran Yeri.


"Setuju" seisi kelas bersorak.


"Gak. aku gak mau" sahut Audy.


"Apa kamu mau membuat malu kelas ini. paling tidak kamu dimarahi ibu guru" sahut Aziel.


Audy sangat ragu. jika dia tolak dan drama ini tidak berjalan dia pasti dimarahi tapi jika dia terima ini tidak baik.


"Oke. kita akan mulai latihan nanti sore" Aziel memberi pendapat.


"B-baiklah. demi kelas ini aku akan menerimanya"


➖➖➖➖➖


Sore telah tiba.


Audy sampai disekolah karena mereka janjian disini. Yeri memberikan dialog untuk dibaca.


"Jadi bakal gak akan cuma mereka berdua ya. aku sudah kasih peran kalian masing masing" ucap Yeri.


Yeri menepuk pundakku.


"Ketua cuma perlu menghapalnya. mungkin kalian cuma mau berdua dulu. silahkan saja ditempat lain mau latihannya"


Aziel berdiri dan menarik Audy untuk berdiri.


Dia menariknya menuju tempat yang gak terlalu jauh dari anak anak lainnya.


Mereka sama sama duduk dan Audy terlihat serius menghapali dialog itu.


"Kenapa ya? kamu itu terlihat selalu cantik dari segi mana pun" gombalan maut Aziel keluar didikan keras Daniel.


Audy menepuk lengan Aziel dengan keras.


"Aku cuma ingin menjalani peran dengan baik karena itu aku mau berlatih bersama dengan kamu bukan untuk dengar semua omongan buaya sepertimu" Audy menatap kesal.


Aziel menghembus napasnya.


"Apa kamu ingin berdansa denganku nona" Aziel memulai dialognya.


Audy seketika gugup.


"Dengarkan aku. jika kamu berakting tatap mata lawan bicaramu bukan malah nunduk" Aziel menceramahi Audy.


"Baiklah, ulang" jawab Audy.


Aziel berdiri dan meraih tangan mungil Audy.


"Apa kamu ingin berdansa denganku" tanya Aziel.


Audy membungkuk "Sebuah kehormatan bisa berdansa dengan Anda tuan"


Mereka berdansa tanpa alunan musik. Aziel terseyum melihat Audy. tiba tiba tanpa sengaja kakinya diinjak perempuan itu.


Audy ingin tertawa dan merasa bersalah.


"Maafkan aku. tapi ini lucu" Audy tertawa melihat mimik wajah Aziel kesakitan.


"Benar benar sakit" ucap Aziel bohong.


"Apa? Maafkan aku. sebentar biar aku periksa kakimu" jawab Audy panik.


Aziel meraih tangan Audy.


"Aku akan melupakan ini tapi kamu harus makan malam denganku. pas banget malam minggu" Ucap Aziel.


"Kamu memanfaatkan aku ya. aku tahu kamu pasti bohong".


Aziel pura pura menjatuhkan dirinya dan merintih kesakitan.


"Kamu benar benar memilik kaki yang keras. kakiku benar benar sakit" Rintih Aziel.


"Astaga. Ba-baiklah aku akan pergi denganmu tapi apa kakimu akan baik baik saja jika jalan denganku" tanya Audy.


"Aku hanya ingin makan malam bersama saja. karena aku tidak bisa pulang dengan kaki seperti ini. tapi aku sangat lapar. kamu tenang saja saat sopirku datang aku pasti akan pulang. hanya malam ini saja" bisik Aziel.


Audy dan Aziel tiba direstoran yang sangat mahal. Aziel membuka maskernya.


"Silahkan pilih" tawari Aziel.


"Aku tidak bisa dengan makanan orang kaya tapi sepertinya pasta enak" jawab Audy.


"Baiklah aku juga lagi ingin itu".


Makanan telah tiba. mereka berdua makan bersama.


"Aku lihat akhir akhir ini kamu dan Jovan sangat dekat" Aziel memulai pembicaraan.


"Tentu saja. orang yang sangat baik sepertinya memang pantas jika banyak yang akrab tidak seperti kamu ini BUAYA" Audy memberikan penekanan pada kata Buaya.


"Cih. baikkan aku" Aziel tidak terima.


"Aku tidak terima dengan hal itu. jauh lebih baik Jovan daripada laki laki bernama Aziel itu. garis bawahi kata kataku tadi" Audy sangat membela Jovan.


"Males jadinya" seketika mood Aziel memburuk.


Dia teringat sesuatu.


"Ada pasar malam dekat sini. mau pergi bersama kesana" ajak Aziel.


"Wah sudah lama sih gak kesana. tapi denganmu pikir dua kali dulu deh. lagipula sopirmu sebentar lagi sampai kan?" jawab Audy lanjut makan.


"Aku sakit karena kamu loh. sekarang aku ingin kesana. sopirku masih lama kok" rengek Aziel.


Dan akhirnya mereka berdua kepasae malam bersama.


Mata Aziel dan Audy sama sama berbinar karena lampu lampu yang indah diatas kepala mereka dan banyak sekali orang orang yang tengah menikmati malam minggu bersama pasangan.


"Bagaimana jika kita main itu. pecahin balon dan hadiahnya boneka" ajak Audy.


Dengan dipampah Audy mereka berdua kesana


"AYO MENANGKAN INI DAN DAPATKAN BONEKA BERUANG COKLAT INI" Teriak paman itu kearah orang orang.


"Kami ingin mencoba pak"


"Baik anak muda"


Percobaan pertama mereka berdua sama sama gagal. ternyata ini susah juga pikir Aziel dan Audy.


"Pak berikan lagi" Aziel tidak ingin menyerah.


Dia terus saja melempar kearah balon balon itu dan Audy sudah menyerah.


"Kamu tidak akan mam...


Aziel berhasil dan dia girang sekali


"Ma..mpu" lanjut Audy tidak percaya.


Paman itu memberikan boneka kearah Audy. gadis itu girang sekali.


"Bahagia benget"


"Tentu saja. aku gak punya boneka dan ingin merasakan punya itu seperti apa? dan aku sangat menyukainya" Boneka itu dipeluk berulang kali karena sangat lembut.


Para pasangan bersiap siap untuk menerbangkan lampion.


"Ayo" tarik Aziel.


Audy langsung terkesima dengan lampion yang berterbangan diangkasa.


Aziel membeli satu lampion dan membawanya kearah Audy.


"Kaki kamu baik baik saja" Audy baru sadar.


"Maaf ya aku berbohong tapi jika tidak berbohong aku yakin kamu tidak akan mau melakukan ini semua." jawab Aziel.


"Tapi tetap saja aku tidak suka" balas Audy.


Aziel meraih satu tangan Audy untuk memegang lampion itu bersama dengannya.


"Untuk kali ini saja. aku tahu kamu senangkan"


Audy hanya diam.


"Mari kita bersama sama melepas lampion ini" ajak Aziel.


Audy mengangguk.


"Sebelum itu kita foto bersama dulu."


"Gak mau" jawab Audy tegas.


Aziel menarik Audy dan mereka berdua mengambil foto bersama.


Lampion itu perlahan terbang kelangit malam yang penuh dengan bintang bintang.


Diam diam Aziel mengambil foto Audy yang terseyum melihat lampion.


"Malam ini terasa sangat berarti bagiku" batin Aziel.


➖➖➖➖➖



Aziel dan Audy dari belakang



Foto Audy yang diambil Aziel diam diam