
Audy beserta anak kelas ini tengah menunggu orang yang akan mengukur badan mereka untuk pakaian yang akan dipakai saat tampil.
Audy sebagai ketua kelas membantu teman teman untuk teratur tidak berdesakan.
Aziel menarik tangan Audy dan menyuruhnya untuk duduk karena gadis ini terlihat sangat lelah.
"Duduk dulu sebentar" ucap Aziel.
"Sok peduli" jawab Audy duduk disamping Aziel.
Seorang wanita cantik dengan asistennya terlihat menuju kearah mereka.
Ibu guru berjabat tangan dengannya dan memanggil Audy.
Dengan cepat Audy menghampiri. Wanita itu terseyum kearahnya.
"Dia ketua kelas yang akan tampil untuk pertunjukan drama. dan kebetulan dia tokoh utama wanitanya. jadi, Anda bisa mengukurnya duluan" ucap Ibu guru.
"Apa aku bisa bertemu dengan pangerannya?" tanya Wanita itu.
Audy memanggil Aziel untuk menghampirinya.
Aziel langsung memeluk wanita itu. dia adalah istri Rama yang merupakan desainer. alasan dia mau turun langsung karena dia adalah anak pemilik sekolah ini.
Dia disuruh langsung oleh Ayahnya.
"Apa kabar Aziel?" tanya Rika kearah anak Erina ini.
"Tentu saja sangat baik." jawab Aziel dengan terseyum paling manis.
"Jadi, kalian pangeran dan putrinya. baiklah, ayo ikuti tante ya. biar Asisten tante mengurus baju yang lain" ucapnya.
Audy dan Aziel masuk kedalam ruangan. Rika mulai mengukur Aziel dulu.
"Badan kamu ideal sekali" goda Rika.
"Tante bisa saja." Aziel terkekeh pelan.
"Sudah selesai. sekarang kamu"
Audy jalan pelan. Rika mulai mengukur.
"Nama kamu siapa nak"
"A-Audy bu" Sahut Audy gugup.
"Cantik sekali sih kamu! Apa karena ibu kamu atau Ayah kamu" tanya Rika lagi.
Audy hanya terseyum. Rika mendongak karena tidak mendapatkan jawaban dari orang yang ada didepannya ini.
Tanpa sengaja mata mereka berdua saling bertemu. Rika terdiam menatal manik mata indahnya itu. mirip dengan seseorang yang sangat dia rindukan.
"Sepertinya lebih mirip dengan ibu saya. katanya sih seperti itu. dan saya sangat senang bisa dibilang mirip dengan ibu saya" Audy menahan air matanya yang ingin keluar.
"Apa aku salah menduga. mungkin hanya mirip saja" batin Rika.
"Bu. ibu kenapa?" panggil Audy.
Rika tersentak kaget. dia kembali mengukur.
"Mata kamu itu mirip dengan anak saya saja. tiba tiba, saya rindu dia"
Audy mengangguk.
"Kata ibu saya juga mata ini terlihat sangat indah dan saya tidak pernah menyadarinya. tapi anak ibu pasti sangat cantik dan anda pasti sangat menyayanginya"
Rika hanya bisa terdiam saja. dia diam diam menghapus air matanya yang keluar.
"Selesai. baju kalian akan bisa diambil besok lusa. dan menurut mata tante kalian cocok" Rika tertawa pelan.
Aziel seketika malu berbeda dengan Audy.
"Saya tidak cocok dengannya bu. dia itu buaya" Audy cemberut.
"Wahh Aziel ini buaya ternyata"
"Dia aja baperan tan" sahut Aziel.
"Enak aja. DASAR BUAYA"
Rika merangkul Audy yang terus saja mengomel.
"Tante yang salah. jadi, hentikan pertengkaran ini dan kalian boleh keluar. terima kasih sudah bekerja sama" ucap Rika.
"Terima kasih juga" Audy dan Aziel keluar bersama.
Rika kembali tertawa kecil.
"Anakmu Erina. dia terlihat menyukai gadis itu" Rika menggelengkan kepalanya.
Jovan datang.
Audy dan Aziel masih saja perang mulut.
"Sampai kapan sih? kamu itu dan aku memang ditakdirkan bersama" Aziel suka sekali memancing kekesalan.
Seseorang tanpa sengaja menyenggol gadis itu dan membuatnya ingin jatuh terhempas kelantai namun itu hanya pikiran sesaat Audy karena dengan sigap Aziel berhasil menahan tubuh mungil itu.
"Kamu gak papa" tanya Aziel khawatir.
Audy mengangguk. dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Wajah kamu kenapa?" Aziel berusaha untuk melihat wajah Audy yang tertutup.
"Minggir. aku mau menghampiri anak anak" Audy tetap menutup wajahnya.
Aziel bingung sendiri dengan tingkah anehnya.
Audy bersandar ditembok. dia membuka tangannya yang sedari tadi ada diwajahnya.
Dia memegang kedua pipinya.
"Wajahku memerah lagi kan? jangan sampai dia melihat dan pasti dia akan semakin mengejekku"
Audy memegang dadanya yang berdekat sangat kencang.
"Kenapa aku masih merasakan hal ini. jantungku bedetak sangat kecang sekali. apa karena aku masih suka dengannya?" batin Audy.
➖➖➖➖➖
Keesokan harinya.
Semua orang lalu lalang dengan kesibukan masing masing. Acaranya besok dan tentu saja semua sangat sibuk.
Begitu juga dengan kelas Audy yang kena bagian Drama.
Mereka tengah latihan bersama. Jovan hanya memerhatikan Audy yang tengah sibuk dengan dialognya.
"Kerja bagus semua." Ibu guru bertepuk tangan dan diikuti semua anggota kelas ini.
"Ibu yakin besok kalian pasti akan menjadi pusat perhatian. terima kasih untuk kerja samanya selama ini dan semangat untuk besok"
"SEMANGAT" Teriak anak anak.
Audy duduk disamping Jovan.
"Ini minuman untukmu" tawari Jovan.
Dengan sangat rakus dan dalam beberapa kali tegukan air itu habis diminum Audy saking hausnya dia.
"Air untukku mana" Aziel datang tiba tiba.
"Punya kaki kan beli sendiri" Jawab Jovan dengan wajah datarnya.
"Ayolah! aku juga capek" Aziel duduk ditengah tengah mereka.
Baik jovan dan juga Audy tidak ada yang peduli.
"Aku gugup sekali untuk besok"
"Kamu terlihat sudah sangat sempurna tadi" Jovan menyemangati.
"Benar! menurutku, kamu itu punya bakat dalam seni. kalau jadi artis mau gak" tanya Aziel.
"Artis" Audy tidak pernah terpikir kearah situ.
"Tapi, untuk sekarang kamu fokos dengan hari besok dulu. bagaimana jika kamu makan denganku. ayo kekantin" ajak Jovan.
Audy mengiyakan. mereka kekantin bersama meninggalkan Aziel sendirian.
"Sialan si Jovan" Aziel menggerutu sendiri.
Erina sampai ditempat Rika setelah mendengar kalau Rika yang mengurus pakaian putranya tampil besok.
"Bagaimana sangat cocokkan?" tanya Rika minta pendapat.
"Sangat cocok sekali. putraku pasti akan semakin menawan sekali" Erina sudah membayangkan.
"Anak berbakat seperti Aziel itu terbilang langka. dia memiliki jadwal yang padat ditambah ditunjuk dalam acara seperti ini"
Erina duduk.
"Anak itu sama seperti Daniel saat masih seumuran dengannya. mereka sama sama orang yang pantang menyerah. aku senang sekali tapi mereka saja gengsi untuk mengatakan memiliki kemiripan" Erina tidak paham dengan otak Daniel dan Aziel.
"Pertama kali lihat Aziel. pikirku langsung Daniel masih muda neh" Rika menjelaskan dan dapat anggukan pasti dari pemilik nama Erina ini.
Dia melihat gaun putih yang akan dipakai lawan main Aziel.
"Wah indah sekali. sederhana tapi menawan"
"Iya. gadis itu terlihat sangat cantik sekali walau dia sederhana. gadis itu memiliki manik mata yang sangat indah." Rika terseyum.
"Aku penasaran untuk besok" Erina tidak sabar.
"Sepertinya Aziel menyukainya"
"Serius" Erina kaget.