
Malam telah makin larut.
Audy sibuk dengan pakaian yang dipakai untuk janjian dengan Aziel. Dia juga bingung ada apa dengan dirinya?
Setelah berabad abad dia kembali merasakan hal ini lagi. sebelum putus dengan Aziel dirinya memang sering seperti ini.
Tapi kali ini kenapa dia sangat khawatir?
Akhirnya Audy membaringkan dirinya dan menatap langit langit.
"Aku khawatir banget untuk besok! Masih ada waktu dan sempat untuk memilih baju lagi"
Audy tertidur.
Sekarang Aziel sampai didepan rumah Audy.
Dia tidak lupa mengenakan masker.
Audy keluar dan cukup kaget. Aziel hari ini bawa motor Vespa. cocok sekali jalan jalan disore hari.
Aziel melambaikan tangan kearahnya.
"Apa aku lama?" tanya Audy.
Aziel menggeleng. dia memakaikan helm untuknya dan berhasil membuat jantung Audy berdetak dengan kencang.
"Yuk naik"
Audy duduk dibelakang. Aziel meraih tangan itu dengan lembut dan menyuruhnya untuk memeluknya.
"Takutnya jatuh" ucap Aziel dengan senyuman sangat manis.
"Dasar buaya" cibir Audy padahal jantungnya tengah berteriak histeris.
Mereka mulai pergi tanpa tujuan.
"Mau kemana dulu neh?" tanya Aziel.
"Apa mau bakso?" tanya Audy.
"Baiklah biar kita cari restoran..
"Hey. aku tahu tempat yang bagus untuk makan bakso?"
"Dimana?" tanya Aziel.
Mereka sampai ditaman. Aziel duduk menunggu Audy yang tengah memasankan bakso untuk mereka berdua.
"Bakso datang" ucap Audy membuyarkan lamunan Aziel.
Dengan sigap. laki laki itu mengambil baksonya.
"Silahkan dimakan."
Audy memakannya dengan sangay nikmat. Aziel terkekeh pelan. dia membuka maskernya dan terus saja melihat kearah Audy.
Entah kenapa? menatap gadis ini membuat beban yang ada dibenaknya menghilang seketika.
"Makan"
"Iya" Aziel memakannya sambil senyum senyum sendiri.
Matahari mulai ingin menghilang dan sekarang adalah pemandangan yang indah dengan langit kejingga jinggaan.
Aziel menepuk pundak Audy yang sedari tadi fokos dengan matahari yang akan tenggelem.
"Boleh pinjam tangannya"
"Untuk apa?" Audy menaikkan alisnya sebelah.
Aziel mengambil ponselnya dan meraih tangan Audy sebelah. dia mengangkatnya keatas dan langsung memotonya.
Audy terseyum manis tanpa diketahui oleh Aziel yang sibuk sendiri.
"Maaf" Aziel tiba tiba mengucapkan kata itu.
"Untuk?"
"Telah membiarkanmu pergi dan aku sangat menyesal" dia tidak melepaskan pengangan tangan kami.
Audy hanya diam tidak berkata.
"aku ingin selalu seperti ini. menghabiskan waktu bersama. jalan jalan sore dan makan malam bersama. bergandengan tangan dan telponan sampai pagi bersamamu. apa itu boleh" Aziel tulus mengatakan itu.
"Aku mencintaimu dan saat kamu bilang putus aku sangat kaget. terlepas apapun alasannya aku yakin itu memang salahku. dan asal kamu tahu cintaku untukmu selalu tumbuh." Lanjut Aziel lagi.
"Aku...
"Apa masih ada kesempatan lagi untuk bersama dengan orang yang ada dihadapanku ini? jika iya aku tidak akan menyiakannya. aku suka sama kamu. apa kamu juga seperti itu?"
Audy menunduk. dia menatap kearah tangannya.
"Apa kamu masih menyukaiku. aku hanya ingin mendengarnya sendiri. jika kamu merasa terganggu dengan itu aku akan pergi dan berusaha..
Isak tangis Audy terdengar. dia mendongak melihat manik mata Aziel.
"Pergi lagi.. Apa kamu suka menyiksaku dengan kata pergi"
"Maksudmu..
"Cih. Aku tidak akan membiarkanmu pergi karna itu menyiksaku. yang kamu inginkan adalah hal yang ku inginkan juga. aku masih menyukaimu dan rasa itu terus bertambah tidak berkurang sedikit pun" Audy terseyum.
Aziel memeluk erat gadis ini begitu juga dengan Audy.
"Jadi, kita pacarankan" tanya Aziel girang.
"Iya. sepertinya" jawab Audy.
Aziel mencium kening gadis itu.
"Aku berjanji tidak akan lagi meninggalkanmu"
Gadis itu mengangguk sambil mengelus pelan rambut hitam Aziel.
"Tidak sayang. lupakan masa lalu mari kita buka lembaran baru. hanya ada Aziel dan Audy"
Audy terkekeh pelan. Aziel terseyum dan kembali memeluk Audy.
"Aku mencintaimu" lirihnya.
"Aku juga cintaku untukmu sangat besar"
Aziel menatap Audy.
"Cintaku untukmu sebesar dunia ini" Aziel mengatakannya dengan bangga.
"Cintaku sebesar alam semesta" Audy membalas ucapan Aziel.
"Cintaku besar banget loh yang" Jawab Aziel.
"Aku juga" jawab Audy.
Mereka tertawa bersama. Aziel meletakkan kepalanya kebahu Audy.
"Makasih banyak sudah menerimaku kembali. aku janji tidak akan membuatmu pergi lagi"
Audy mengelus pelan rambut Aziel.
"Aku juga berjanji"
Aziel dan Audy kembali jalan jalan mengelilingi kota. tidak seperti awal tadi ada rasa canggung sekarang cinta terasa diantara mereka berdua.
Hingga akhirnya kami berpisah. dia mengantar gadisnya dengan selamat.
"Sampai jumpa. jangan lupa mimpiin aku ya" Aziel mengelus palan pipi Audy.
"Cih." Audy terkekeh pelan.
"Aku pulang dulu ya. tapi bagaimana jika aku kembali merindukanmu?" tanya Aziel.
"Pulang sana" Audy sudah tertawa.
Aziel melambaikan tangannya begitu juga dengan Audy.
Gadis itu masuk kedalam kamarnya dan berteriak histeris.
"Aku sangat bahagia hari ini. aduh bahagianya" Audy loncat loncat kegirangan.
Dia merebahkan diri dikasurnya.
"Pasti tadi pipiku memerah. itu memalukan tapi tidak papa kan?" ucapnya dengan dirinya sendiri.
Aziel sampai dan disambut oleh Daniel.
"Datang darimana kamu?" tanya Daniel keputranya.
"Biasalah ajak doi jalan" jawabnya santai.
"Apa gadis itu buta. mau menerimamu" Daniel terlihat suka menjahili.
Erina mendekat. Aziel berlari ke Mamanya itu.
"Coba Ma. Papa meraguin banget kalau Aziel punya doi" adu Aziel ke Erina.
"Daniel. sehari saja jangan menjahili anakmu ini. aku pusing dengan tingkah lakumu ini" Erina memegang kepalanya.
Aziel menjulurkan lidahnya kearah Daniel.
dia mencium singkat mamanya.
"Selamat malam mama cantik. Aziel kekamar dulu" Aziel lari menuju kamar.
Daniel duduk disamping istrinya dan memeluknya dengan erat.
"Maaf" lirih Daniel.
Hati Erina menghangat. dia mengelus pelan pipi Daniel dan menciumnya.
"Jangan gitu lagi ya. kamu ini sudah tua"
"Aku gak tua kok" Daniel gak terima.
"Jadi, kamu secara tidak langsung bilang aku yang tua" Erina pura pura kesal.
"Tidak sayang, aku yang tua dan kamu itu selalu awet muda"
Erina terkekeh. dia menggeleng kuat.
"Suamiku juga tidak tua kok. dia awet muda"
Daniel mencium kedua pipi istrinya dengan gemes.
"Ella gak mau punya adek ya" ucap Ella tiba tiba.
Erina kaget. putrinya itu mengambil air dari kulkas lalu berlalu kembali kekamarnya.
"Serius nanya. Sifat anak itu mirip siapa sih" tanya Daniel bingung. kenapa putrinya itu sangat cuek. padahal keluarga ini tidak secuek itu.
"Aku juga bingung."
"Ada ada aja putri kita itu." Daniel menggelengkan kepalanya pelan.
Aziel memunculkan kepalanya dibalik pintu dan membuat Ella kaget saat melewati kamar abangnya itu.
"Ganggu aja orang lagi mesra" Aziel bicara.
"Aku gak mau punya adek lagi lagi pula mama udah tua" jawab Ella ketus.
"Dasar bocah. aku sih berharap biar kamu rasaian punya adek ketus kek kamu ini"
"Abang mau gak lagi rasaian sendalku ini nyatu sama wajahmu itu" Sahut Ella dengan kaki dihentakkannya.
"Ampun" Aziel menutup pintunya dengan rapat.
Maaf telat up beb