My Ex-Boyfriend

My Ex-Boyfriend
Prolog (3)



Langkah ini terus saja berlari kearah tempat yang biasa ditujunya. terlihat tergesa gesa namun jantungnya berdetak dengan sangat kencang.


Tidak tahu yang bakal terjadi beberapa menit lagi. Matanya terus menatap kearah jam tangannya.


Hingga sampailah dia. diseberang jalan sahabatnya tengah menunggunya. melambaikan tangan kearahnya.


Dengan hati hati. gadis berambut panjang ini menghampiri sahabatnya yang ada disebarang jalan.


"Maaf Aulia. aku telat" ucapnya dengan napas yang tak beraturan.


Aulia. gadis yang sangat cantik dengan rambut sebahunya itu hanya mengangguk. dia tidak masalah jika sahabatnya ini terlambat asal selamat saat kesini.


"Ayo masuk. sebelum dosennya masuk" ajak Aulia kepada Wulan atau gadis yang berlarian tadi.


Mereka masuk kedalam ruang kelas dan belajar dengan sungguh sungguh. tahun telah berlalu menyisakan banyak kenangan dimasa lalu.


Aulia salah satunya. gadis yang memiliki banyak cerita manis dan pahit dimasa lalu.


Jika dikatakan melupakannya? maka dengan sangat mantap dia menjawab tidak akan melupakannya.


Alasannya karna dimasa lalu dia bertemu dengan sosok yang kini tidak bersama dengannya, tidak bisa berdiri dan menggenggam tangannya.


Maka untuk kata melupakan tidak dapat dia terapkan. rasa bersalah dan menyesal masih bersarang dibenaknya.


Andai waktu bisa diulang. dia ingin melakukannya dan memperbaiki itu semua namun itu hanya angan angan yang tidak akan pernah menjadi nyata.


Kini Aulia dan Wulan tengah sibuk dengan Es krim lebih tepatnya Wulan.


"Au" panggil Wulan.


Aulia menghentikan aktivitasnya dan beralih kesosok yang ada disamping yang tengah menatapnya.


"Kamu gak berniat buka hati. bukannya umur kita sudah matang untuk menjalani sebuah hubungan" tanya Wulan penasaran. pasalnya dia tidak pernah lihat Aulia dekat dengan seseorang.


Tidak mungkinkan sahabatnya ini tidak tertarik dengan cowok. dengan cepat Wulan menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran negatifnya.


Aulia hanya terseyum sambil menggeleng.


"Untuk saat ini tidak dulu" jawab Aulia.


"Kenapa? kamu cantik dan pintar. masa gak kepikiran gitu"


"Kamu aja duluan" jawab Aulia terkekeh.


Wulan memasang wajah masam.


"Aku ingin punya cowok tapi belum ketemu tuh jodoh, entah kemana dia" Wulan memasang wajah sedih.


Aulia kembali menulis sesuatu dibuku untuk sekedar menuliskan aktivitasnya seperti yang pernah disuruh oleh seseorang dimasa lalu.


"Lia, jika kamu gabut bisa kali nulis diary"


"Buat apa?"


"Tulis setiap aktivitasmu. dan anggap saja kamu tengah bercerita kepadaku. aku ingin tahu apa saja yang kamu lakukan saat tidak bersama denganku"


"Lebay"


Aulia terseyum mengingat setiap kenangannya dengan sosok itu.


"Apa kamu sudah punya seseorang ditempatmu dulu sebelum pindah kesini dan gagal move on atau kalian masih berhubungan" Wulan memang tepikal orang yang kepo.


"Bukannya aku pernah bilang ya"


"Yang mana. Owh cowok yang kamu jadiin novel itu"


Aulia menutup mulut Wulan. takut semua orang mendengarnya.


"Kalau itu mah aku gak bisa komentar" jawab Wulan menatap Aulia dengan mata berkaca kaca.


Aulia lagi lagi hanya terseyum. seakan sudah terbiasa dengan luka ini. mereka diam menikmati angin yang menerbangkan rambut mereka.


"Novel yang berjudul "Untuk Gabriel" sudah baca belum. baru kemarin rilis" ucap salah satu cewek yang melewati Wulan dan juga Aulia.


Kedua gadis itu hanya mendengarkan pembicaraan mereka yang kebetulan duduk tidak jauh dari meja mereka.


"Belum, kemarin aku harus berjuang depatin tuh novel. gila parah banyak banget peminatnya . makanya wajib baca setelah pulang dari kampus" jawab teman yang bertanya tadi.


"Aku dengar ceritanya terinspirasi dari cerita seseorang. wah kalau benar sih sedih banget ya"


"Aku gak bakal sanggup sih kalau jadi ceweknya"


Meraka berdua mengangguk mengiyakan perkataan masing masing. Wulan dan Aulia saling melihat satu sama lainnya.


Lalu sama sama terseyum. Wulan memegang kedua tangan Aulia lalu mengusapnya dengan lembut.


"Kamu gadis yang kuat. aku tahu itu Au" ucap Wulan dengan sangat tulus.


"Iya Wulan. terima kasih" dia memeluk erat sahabatnya yang selalu tahu tentang semua kehidupannya termasuk tentang sosok itu walau dia sendiri belum pernah bertemu.


"Boleh donk nanti temuin aku sama dia. penasaran banget"


Aulia sampai dirumahnya yang bisa dibilang mewah walau kesederhanaan rumah itu terlihat jelas.


Sengaja karna para penghuni rumah ini lebih menyukai rumah sederhana daripada sangat mewah.


"Sudah pulang nak" tanya Bunda yang ada didapur tengah masak.


Aulia mendekati Bundanya.


"Iya bun"


"Kalau begitu kamu mandi dan istirahat. nanti Bunda bangunin buat makan malam"


"Malam ini Aulia gak makan. soalnya tadi sudah makan bareng Wulan" jawab Aulia jujur.


Saat sebelum pulang. dia dan Wulan memang makan malam bersama apalagi ini malam minggu.


Wulan bilang ingin rasain malam mingguan diluar daripada dikamar. Aulia sampai dikamarnya.


Didepan pintu terpampang nama dan foto dirinya sebagai penanda bawa kamar ini miliknya bukan milik siapa pun.


Setelah selesai mandi. Aulia berbaring sebentar melihat langit langit kamarnya mengingat senyuman hangat yang dia rindukan.


Perlahan Aulia bangkit dari kasurnya dan duduk ditempat biasa dia belajar. menatap buku buku yang tersusun rapi dimeja belajarnya.


Dia mengambil Novel yang berada dipaling atas tumpukan buku buku. matanya berusaha menahan air matanya.


Menarik napas dalam dalam dan kembali terseyum. dia suka sekali dengan senyuman diwajahnya karna dengan itu gadis ini bisa menutupi semua yang dia rasakan tanpa diketahui oranh sekitarnya.


Cukup dia saja yang tahu tentang apa yang dirasakan selama ini. orang lain tidak perlu tahu apapun.


Tertulis judul Novel itu "Untuk Gabriel".


Air matanya kini tidak bisa lagi terbendung saat dia membaca apa yang tertulis dihalaman pertama.


"Untuk Gabriel.


Sosok yang selalu hangat dan ceria.


Orang yang selalu menutupi segala


masalahnya dengan senyuman diwajahnya.


Orang yang mengajarkanku apa itu tegar?


Menatap kesedihan dengan kebahagian.


Dia selalu berkata aku baik baik saja.


Namun dari kata itu tersimpan beribu kata.


Aku tidak baik baik saja.


Gabriel.


Nama yang selalu akan ku ingat.


Tidak peduli dia ada dan tidak ada disisiku.


Namun aku tahu satu hal.


Dia tidak akan meninggalkanku sendirian.


Dia bersama denganku menatapku dari kejauhan dan memelukku hangat dengan bayangan itu.


Terima kasih atas segala cinta ini Gabriel.


Aku tidak akan pernah bisa melupakan sosokmu.


Aku harap kamu bahagia disana.


Dan maaf tidak bisa membantumu dan memegang tanganmu waktu itu.


Aku menyesal sekali.


Aku harap kamu mau memaafkan aku.


Aku mencintaimu Gabriel.


Aulia luruh kelantai dan beberapa kali memukul dadanya yang terasa sesak sekali.


Novel ini adalah cerita yang dia tulis walau ada beberapa adegan yang tidak dia tulis dengan persis.


Dia hanya ingin berbagi cerita ini betapa dia bisa merasakan bahagia dan juga sedih bersama sosok dimasa lalu itu.


Selamat datang dicerpen ketiga.


Cerita tentang Aulia dan sosok dimasa lalunya.