
Semua tepuk tangan saat mendengar pembacaan puisi oleh Gabriel dan juga Aulia. Puisi yang berjudul "pertemuan dan perpisahan" itu membuat anak anak terombang ambing perasaan mereka.
Aulia duduk dibangkunya begitu juga dengan Gabriel. gadis itu melirik orang yang ada disampingnya yang selalu saja memperhatikannya. Dia risih dilihatin seperti itu.
"Apaan sih hah" ucap Aulia geram.
Gabriel terkekeh pelan "Muka kamu lucu kalau lagi marah gini. Candu bagi aku"
"Gombal mulu. Heran Gue"
"Biarin aja. Biar kamu penasaran sama sikapku. Lalu kamu jatuh cinta dan kita bersama" jawab Gabriel.
Aulia menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa menghadapi orang ini.
"Jangan halu" sahut Aulia sinis.
"Siapa tahu nanti terkabulkan kalau kebanyakan halu" jawab Gabriel.
"Bodo amat. pusing Gue"
Gabriel menyerahkan salinan puisi mereka. Aulia melihat dengan tatapan bingung. Dia menaikan alisanya sebelah.
"Simpan aja. Kenang kenangan dari Aku"
Aulia memutar matanya dengan malas. Gabriel terseyum lembut.
"Suatu hari nanti kamu bakal anggap kertas berisi puisi ini adalah hal yang paling penting dalam hidup kamu dan mungkin saat itu sesuatu telah terjadi"
"Ambigu banget kalo ngomong" Aulia menyimpan kertas itu didalam tasnya.
"Jujur aku nulis puisi itu sambil mengingat kamu loh"
"Terserah" balas Aulia.
Bel pulang bunyi.
Terlihat ada yang sudah pulang karena dijemput begitu juga dengan Dinda dan Laura yang memang pergi sekolah dengan motor berboncengan.
Mereka berdua melambaikan tangan kearah Aulia yang masih sibuk menunggu sang sopir menjemput.
Handphonenya berdering itu dari sopir. ternyata dijalan mobil mogok dan sekarang sang sopir ada dibengkel.
Sopirnya itu berniat ingin menelpon tuan agar bisa menjemput Aulia namun dengan cepat dicegah karena Aulia tidak ingin mereputkan Ayah.
Dia akan naik Bus dan itu pilihan yang tepat. Hasilnya sekarang Aulia duduk menunggu Bus.
Awan menggelap dan butiran hujan turun membasahi bumi. Aulia menghembus napasnya. sungguh malang nasibnya ini.
Angin bertiup kearahnya. Dingin itulah yang dirasakan Aulia sekarang. Apalagi gadis itu lupa bawa jaket.
Walau hawa dingin namun dia jujur sangat suka dengan hujan. Andai Bundanya tidak melarangnya main hujan dengan alasan takut sakit. Mungkin sekarang dia akan menari nari dibawah Hujan.
Tiba tiba..
Sebuah jaket terpasang dibadannya. Dia mendongak melihat pelaku yang telah bersedia memberikan jaket ini.
Senyuman laki laki itu memabukkan bagi orang yang melihatnya namun tidak untuk Aulia.
Gabriel duduk disamping Aulia. Ya dialah pelakunya. orang yang bersedia memberikan jaketnya untuk seorang Aulia.
"Tumben naik Bus?" tanya Gabriel.
"Mobil tiba tiba mogok" balas Aulia.
Mereka berdua hanyut dengan rintikan hujan yang membasahi jalan.
"Aku suka banget loh sama hujan" ucap Aulia tiba tiba.
Gabriel mengalihkan pandangannya kesamping.
"Kenapa cantik?"
"Hujan itu menenangkan bagiku. Kesedihan seakan tertutupi dengan adanya hujan"
Gabriel mengangguk membenarkan.
"Kamu bener cantik."
Gabriel berdiri mengulurkan tangannya kepada Aulia.
"Mau main hujan sama aku. mumpung Bus belum sampai"
Aulia melirik tangan yang ada didepannya ini. dengan perlahan Aulia menerima. Mereka memasuki Hujan itu.
Membiarkan membasahi diri mereka. Aulia terseyum dan itu berhasil membuat hati Gabriel menghangat.
"Aku tidak akan biarkan senyuman itu luntur dari wajahmu Au" batin Gabriel.
Aulia meraih tangan Gabriel dan loncat loncat begitu juga dengan laki laki ini.
Mereka berdua terbawa suasana. Terlihat Aulia tertawa dengan sangat lepas.
"Terima kasih. Aku suka hujan" ucap Aulia.
"Gombal" sahut Aulia lalu kembali tertawa.
Seseorang bersepeda dengan cepat kearah mereka dan mengenai genangan air. Dengan cepat Gabriel menarik Aulia kepelukannya hingga air genangan itu mengenai belakang Gabriel.
Aulia kaget namun matanya melihat wajah Gabriel yang juga melihat kearahnya. Laki laki itu terus saja menunjukkan senyumannya yang sabgat indah.
"Apa kamu baik baik saja" tanya Gabriel.
"Ya baik kok" balas Aulia sedikit salting.
Bus datang. Gabriel meraih jaketnya yang memang tadi diletakkan dibangku halte.
"Bodoh banget Aku . Harusnya Aku gak ajak kamu main hujan."
"Gak papa kok. Gue suka" balas Aulia.
Gabriel memasangkan jaket itu. Dia menuntun Aulia masuk kedalam Bus. Sopi Bus hanya geleng geleng kepala melihat dua remaja ini basah kuyup.
Untung tidak ada penumpang hanya ada mereka berdua. Jadi, tidak ada yang marah karena bisa saja basah itu mengenai penumpang lain.
Bus sampai dihalte dekat kompleks. Mereka berdua ingin turun.
"Ini payung untuk kalian" ucap Sopir Bus.
Gabriel mengambil dan memayungi Aulia.
"Biar Aku anter sampai rumah ya"
Aulia hanya mengangguk. Mereka jalan berdampingan dengan satu payung. Hingga sampailah didepan gerbang.
Bunda berlari dari dalam rumah menghampiri kami berdua. Dia kaget melihat kami basah kuyup.
"Ya ampun kalian ini. Ayo masuk"
"Gak perlu tante." jawab Gabriel dengan sopan.
"Nanti kamu masuk angin. Ayo cepat. Aulia ajak teman kamu ini" perintah Bunda.
"Ayo Gabriel. Masuk dulu. Gue rasa punya sweter yang muat sama lo."
"Tapi--
"Kalo gak masuk. Gue gak mau berteman sama lo lagi bahkan disekolah Gue akan cuek sama lo." Ancam Aulia.
Gabriel hanya bisa pasrah. Dia tidak ingin gadis ini marah apalagi sampai mencuekinya. Itu terdengar sangat tidak bagus.
Waktu berlalu. Aulia kini telah mengaganti bajunya dan dia duduk disofa ruang tamu dengan susu coklat panas ditangan.
Tubuhnya ditutupi dengan selimut tebal. Dia menunggu Gabriel yang tengah ganti baju dikamarnya.
Sedangkan dikamar Aulia.
Gabriel keluar dari kamar mandi. Untung sweternya pas dibadannya. Gabriel sudah berpikir sweter itu kekecilan dia dia akan menahan malu dihadapan Aulia dan juga Bunda calon mertuanya.
Dinding kamar Aulia sangat indah apalagi banyak sekali foto fotonya dari di bayi sampai dia besar sekarang.
Gabriel berdiri didepan bingkai yang menampilkan gadis yang berkucir kuda terseyum kearah kamera.
Gadis itu terlihat memeluk erat lengan Bundanya. Ada tanggalnya disitu. Foto itu sudah diambil setahun lalu.
Gadisnya itu selalu terlihat cantik bahkan saat masih bayi. Gabriel memotret foto bayi Aulia.
"Kamu selalu terlihat sempurna dimataku Aulia. Aku akan berusaha lebih lagi agar kamu suatu hari nanti menerima kehadiranku" ucap Gabriel terseyum.
Dia keluar dari kamar Aulia dan menghampiri Gadis yang tengah duduk diruang tamu.
"Cantik. Gimana?" tanya Gabriel agar Aulia menilai penampilannya.
"Pas. Sini duduk. Susu coklat buat lo itu"
Gabriel duduk disamping Aulia. Dia meraih gelas itu.
"Makasih banyak Cantik. Kamu perhatian banget sih"
"Heh. Bunda yang buat" sahut Aulia.
Gabriel berteriak kearah Bunda yang ada didapur.
"Ibu mertua maksih banyak susu coklatnya"
Aulia memukul lengan Gabriel.
"Apaan sih lo"
Bunda yang mendengar tertawa kecil.
"Sama sama menantu" balas Bunda.
Aulia makin kesal. kedua orang itu tertawa bersama sama.