
Gabriel menatap Aulia yang sudah masuk ke dalam rumahnya dengan aman. Dia bernapas lega lalu beranjak pergi.
Tanpa sepengatahuan Aulia dia mengikuti mobil gadis itu. Melihat Aulia pingsan tadi pagi membuatnya sangat khawatir.
Melupakan adegan dia yang akan pura pura marah. Rasanya seperti ada sesuatu yang sangat menyakitkan menusuk jantungnya melihat kejadian itu.
Aulia membuka tirai kamarnya. Dia terseyum sambil memegang dadanya. Jantungnya berdetak sangat kencang.
"Apa Gue benar benar mulai menyukainya." Rasanya munafik jika tidak merasakan kenyamanan dengan orang yang bersikap seperti Gabriel ini.
Walau berulang kali Aulia menampik rasa ini. Namun, sepertinya dia tidak akan bisa.
"Gue baru kali ini di anggap seperti sesuatu yang sangat berharga setelah keluarga Gue." Batin Aulia dengan wajahnya yang terseyum tipis.
Gabriel sibuk menunggu martabak yang ingin dia makan bersama debgan Naufal juga Lucas di Kost mereka.
Dia mengirim pesan foto di tempat ini kepada Aulia. Dan seperti biasa gadis itu hanya menanggapinya dengan mengirim stiker tangan jempol saja.
"Yang penting pesan Gue tetap dibalas. Jauh lebih baik daripada Gue diblock" Gumam Gabriel.
"Ini martabaknya mas"
Gabriel langsung membayar dan bergegas pulang dengan motornya ini. Dipertengah jalan hujan turun dengan sangat deras.
Kebetulan Gabriel tidak membawa jas hujan. Dia pun menepi ke sebuah toko yang sudah tutup. Karna penerangan yang cukup minim dia tidak melihat ada orang yang juga berteduh disampingnya.
Mereka berdua sama sama terdiam melihat hujan yang terus saja turun.
"Astaga. Martabak Gue bisa dingin neh" Ucap Gabriel.
"Ckk. Sepenting itu kah?" Tanya orang yang ada disampingnya.
Gabriel kaget melihat Wiliam yang berdiri disampingnya dengan sebuah rokok ditangan kanan dan tangan kiri berada disakunya.
"Gak perlu sekaget itu ketemu Gue. Kita masih satu negara dan bahkan kota hal seperti ini pasti terjadi" Ucap Wiliam menatap lurus.
"Gue gak menyangka seorang Wiliam yang tangguh ini neduh ditempat seperti ini. Gue kira dia akan tetap menerobos hujan sebelum sampai tujuannya"
Wiliam terkekeh. Dia merasa kata kata itu terdapat sindiran baginya.
"Gue senang lihat lo menderita. Tindakan lo ninggalin Pria itu dan memilih hidup miskin. Gue sangat kaget saat tahu itu. Tapi, lo pantas sih dapet itu. Kehidupan miskin cocok buat anak seperti lo" Ucap Wiliam sambil menyodorkan sebataang rokok untuk Gabriel.
Gabriel terseyum tipis.
" Sorry Gue gak mau rokok. Aulia gak akan suka kalau tahu Gue bisa ngerokok. Kenapa lo membenci Gue. Bukannya lo cukup pintar
untuk mengetahui fakta sebenarnya. Gue pikir lo sudah tahu tentang pembunuhan itu."
"Sudah Gue bilang kan. Gue benci lo bahagia walau pun Gue tahu fakta itu. Namun Gue sudah terlanjur benci sama lo. Untuk apa Gue berhenti lebih baik Gue lanjut saja"
"Lo yakin tindakan itu buat Mama bahagia. Dia akan merasa kecewa saat tahu putranya yang dia beri amanah menjaga putranya yang satu nya lagi tidak dia jalankan dengan baik.Gue gak bisa bayangkan sekecewa apa?"
Wiliam menarik kearah baju Gabriel.
"Gue benarkan Wiliam. Gue gak pernah mau ambil posisi itu. Karna Gue tahu lo lebih baik dari Gue. Lo selalu menolak untuk bertemu Gue tapi, Gue yakin lo sendiri yang akan datang ke Gue. Dan ternyata itu benarkan" Ucap Gabriel.
"Gue benci sama lo Gabriel" Balas Wiliam.
"Lo kira Gue gak benci sama lo. Semua yang lo lakuin itu tindakan paling bodoh Wiliam. Asal lo tahu papa selalu mengintai Gue. Gue mau bebas dari Pria itu dan lo ambil alih perusahaan Papa itu."
Gabriel melepaskan tangan Wiliam yang ada di kerah bajunya. Hujan reda. Gabriel mengambil rokok yang ditawari Wiliam tadi lalu menyalakannya.
"Gue cuma mau hidup bebas" Gabriel melangkah menuju motornya.
"Terima kasih untuk waktu ketidaksengajaan ini dan Gue harap lo gak ngadu ke Aulia kalau Gue ngerokok"
Gabriel menggas full motornya dengan cepat. Wiliam terkekeh pelan dengan sorot mata tidak lepas dari Gabriel yang perlahan menghilang.
"Gue pikir menjatuhkan si Pria yang sialnya Papa Gue itu akan menyenangkan."
Sedari tadi pandangan Aulia terus terarah ke Gabriel yang tertawa senang memasukkan bola berulang kali.
Dia ikut merasa bahagia untuk itu. Entahlah perasaan asing ini membuatnya sangat senang sekali.
"Gabriel keliatan lelah gitu ya." Ucap Dinda.
"Iya. Karena dia yang paling aktif dari tadi. Kalau Gue sih langsung beliin Air buat dia" Sahut Laura sambil melirik Aulia.
"Kalau gitu Aku aja yang beliin" Ucap Dinda ingin berdiri namun ditahan Aulia.
Kedua temannya itu terseyum misterius.
"Biar Gue aja yang beli" Aulia beranjak pergi dengan berlari kecil menuju kantin.
Dinda dan Laura saling tos kemenangan. Mereka berdua tahu kalau sahabatnya itu mulai menyukai Gabriel. Tapi, masih dibantah oleh Aulia sendiri.
Aulia berhasil membelikan air mineral itu. Dia melangkah ingin kembali ke lapangan.
"Astaga. Gue mau buang air kecil lagi"
Pandangannya tertuju ke arah Wiliam yang baru saja keluar dari toilet cowok.
"Wiliam" Aulia mendekati.
"Ada apa?" Jawab Wiliam terseyum ramah.
"Boleh minta tolong kasih air ini ke Gabriel. Kasihan dia pasti kehausan. Gue mau buang air kecil dulu. Titip ya" Aulia berlari masuk ke toilet cewek.
"Tapi Au-" Belum sempat Wiliam mengiyakan. Gadis itu sudah pergi saja.
Dia melihat ke botol yang ada ditangannya.
Gabriel benar benar lelah. Dia berbalik ke belakang untuk mencari keberadaan Aulia. Gadis itu tidak terlihat.
Dia memutuskan untuk duduk sebentar lalu akan mencari Aulia setelahnya.
Seseorang menyodorkan sebuah botol air mineral. Gabriel mendongak untuk mengetahui siapa yang memberikan air ini.
Kaget. Gabriel tidak pernah membayangkan ini terjadi kembali. Kakaknya ini memberikan sebuah botol minum untuknya.
Dia ingat terakhir kali ini terjadi saat mereka masih kecil sebelum kejadian itu dan hal itu adalah kenangan terakhir baginya dan juga Wiliam.
"Lo yakin itu buat Gue" Tanya Gabriel dengan wajah tidak sukanya.
"Lo pasti berpikir ada racunkan?"
"Ya. Lo kan benci Gue. Gak salah Gue berpikir seperti itu" Balas Gabriel.
"Untuk kali ini Gue gak berpikir ke arah sini. Gue disuruh Aulia ngasih ini sama lo. Berarti lo-
Belum sempat Wiliam menghabiskan ucapannya Gabriel langsung merebut botol itu dari tangan Wiliam.
"Jika dari Aulia Gue percaya.".
Gabriel meminumnya dengan rakus. Wiliam memperhatikan itu semua. Sudah lama dia tidak melihat adeknya dengan jarak sedekat ini.
Laki laki kecil yang selalu tidak ingin berpisah dengannya kini sudah menjadi remaja yang tumbuh dengan baik.
Wiliam tidak tahu kenapa dia tidak beranjak dari sana dan malah memilih melihat adeknya ini.
Haruskah dia meminta maaf dan melupakan kejadian itu. Dia juga berpikir untuk umur segitu tidak mungkin Gabriel membunuh Mamanya sendiri.
Dia harus menjatuhkan Papanya. Pria itu dalang dari semuanya dan kehancuran Pria itu kini menjadi tujuannya setelah bertahun tahun melakukan hal bodoh dengan memusuhi orang yang bukanlah musuhnya.
"Maaf" Ucap Wiliam.
Gabriel melihat Wiliam dengan bingung. Apa dia tidak salah dengar? Kata itu terucap dimulut seorang Wiliam.