
Hari kedua bekerja di Luxus, Kasih sudah bangun dari jam 4 subuh. Berendam 30 menit di bath up dengan air hangat sambil membaca kembali map preference.
“Rasanya Ingin berendam seharian...” Kasih mulai mengecek whatsapp mama dan mas Aan. Semalam Kasih sempat mengirim foto-foto di kamar barunya.
“Saatnya mulai bekerja...” bisik Kasih mulai menutup kamar dan beranjak menuju staff kantin.
_____
Di Staff Kantin
“Wah… Super yummy menu breakfast buat staff… Hum…. Harumnya nasi goreng disini,” mulai mengambil piring.
Seseorang menepuk bahu Kasih dari belakang.
“Good morning Kasih,” sapa Jun sambil ikut mengambil nasi goreng.
“Loh? Kak Jun bukannya masuk siang? Stay disini juga ya kak... gak di dormitory (asrama)?”
Kasih menoleh ke arah pak Joe yang ada di belakang kak Jun. Mengkedip-kedipkan mata sambil tersenyum heran ke arah Jun dan pak Joe. Bau-baunya mereka adalah…
“Dia istri saya. Sah sebulan yang lalu,” jawab Joe singkat membalas dengan senyuman.
“Wah… selamat ya… Senangnya jadi istri Direktur bisa tinggal di hotel mewah…”
“Apa sih dek… Kan kamu juga tinggal di hotel,” kata kak Jun sambil mengelus punggung Kasih.
Mereka segera mengambil makanan dan mulai duduk satu meja. Kasih banyak ngobrol tentang pekerjaan dengan kak Jun. Sedangkan pak Joe bersikap seperti staff laki-laki yang lain. Asyik sendiri memandang handphone dengan senyam-senyum seperti Teo dan sekertaris itu.
“Kakak stay di kamar berapa?” Kasih memandang kedua pengantin baru itu.
“Villa 89.”
“Wizz daebak… stay di villaaa. Enaknyaa punya suami direktur. Hihiii...”
“Hehee. Iya-iya… buruan dah nikah. Tuh si Teo ngangur,” kata Jun sambil memotong telur di piringnya.
“Apalah kakak ni. Orang ga jelas gitu… Sukanya senyum sendirian lihat handphone,” mendengar ucapan Kasih, pak Joe jadi menoleh kearahnya.
“Namanya juga orang sibuk. Harus update whatsapp group,” kak Jun menoleh ke arah suaminya.
“Teo itu orang penting tahuu… Dia itu cuma head butler gadungan disini. GM hotel sebelah resort ini kan bapaknya. Si bapak itu berteman dengan madam Lily. Minta madam buat kasih kerjaan setelah Teo lulus dari Harvard. Terus pak Galang ngasih posisi Director Sales and Marketing karena anaknya pinter juga. Tapi si madam malah kasih double job buat merangkap jadi head butler. Biasalah madam… kalau udah cocok… sayang… malah dikasih kerjaan tambahan. Hihihi...”
“Ow… pantas gayanya modis banget. Kalau head butler biasa… keringatnya gak akan sewangi dia. Hihii...”
“Hmmm hayooo dah mulai suka ya?”
“Apalah kakak ni…”
“Gak pa pa lagi. Masih 28 tahun dia... Masih muda kaya Kasih.”
“Aku baru mau 23 kakak… Lebih mudaan aku.”
“Bagus dong Teo bisa ngemong kamu…”
Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang bertubuh tegap, tinggi, dan bertato di tangan kirinya ikut gabung di meja mereka. Aura kharismanya tidak kalah menarik seperti pak Joe.
“Kasih, ini pak Kris... Resort Manager kita yang merangkap sementara sebagai Director food & beverage (makan & minum),” pak Joe kembali duduk di kursinya. “Ada kekosongan untuk posisi itu.”
“Kasih, nice to meet you pak Kris,” Kasih menjabat tangan Kris.
“Kris, nice to meet you,” Kris duduk dengan piring sarapannya.
Duh… kok senyumnya manis banget ya ada lesung pipinya kaya aku, batin Kasih sembari tersenyum.
“Yes, please… Silakan duduk pak,” kata Kasih.
Kok mereka mau sih orang-orang penting ini duduk dengan aku di staf kantin… Ramah dan terkesan hangat suasananya. Hmmm breakfast yang menyenangkan dikelilingi orang penting… Hopefully better than yesterday, batin Kasih.
(Semoga lebih baik dari yang kemarin)
“Jadi udah siap hari ini kerja?”
Meskipun aku tahu pertanyaan nya terkesan basa-basi… tapi kalau melihat lesung pipi itu… bikin meleleh kaya ice cream, batin kasih sambil menghembuskan nafas panjangnya. Jadi nervouse.
“Ya pak.” Kenapa sih kok aku jadi pingin melihatnya sambil tersenyum terus… batin Kasih.
“Sebenarnya kegiatan Raka, madam Lily dan Caca itu sudah terstruktur. Mereka memiliki jadwal harian yang diatur oleh pak Galang. Raka akan mengikuti home schooling di ruang sekolah pribadinya. Setelah selesai sekolah akan bermain bersama staff recreation dan sorenya lanjut nonton movie. Madam Lily dan Caca akan selalu sibuk bolak-balik Singapore Batam dan disini untuk urusan bakti sosial dan bisnis. Kamu hanya perlu memastikan itu berjalan lancar. Selebihnya kamu bisa membantu bagian resepsionis di front desk.”
Duh… apa yang dia bilang tadi? Fokusku hilang melihat lesung pipi di senyumnya. Hmmm. Tuhan kuatkan aku… Karya ciptaanMu sungguh bikin panas dingin... Eitz… Dia single atau… married? Duh… mikirin apa sih pagi-pagi gini kok bikin cenat-cenut, batin Kasih lagi.
“Baik pak. Nanti saya akan sering membantu bagian resepsionis,” kata Kasih. 3 pasang mata di meja itu mulai melirik ke Kasih. “Saya salah ngomong ya...?” mendadak canggung.
“Baik pak, siap.”
“Semalam pak Galang banyak minum di bar… padahal VIP trip berjalan lancar… Kenapa ya? Atau karena memakai bus ya, Joe?” tanya Kris membuat suasana hening sejenak.
“Kata Sam... mood nya berubah saat naik buggy di sore hari,” jawab Joe. Kedua pria itu saling memandang dan melirik ke Kasih.
“Aku belum cek ke Teo soal mencuci buggy. Si Teo juga ga ada kabar dari semalam,” Kris mencoba berfikir memecahkan masalah tentang mood Galang yang berubah.
“Memang berapa gelas pak Galang minum di bar?” Kasih mulai penasaran memandang Kris.
“5 botol wine (anggur)…” jawab Kris biasa saja.
“Apah…?! Banyak banget,” Kasih segera meminum air mineral dan menggaruk kepalanya yang gak gatal.
“Permisi kalau gitu, pak... kak Jun... Saya mau ke villa pak Galang dulu. Ngecek… kasihan Raka kalau papa nya lagi mabuk,” Kasih mulai berdiri membawa piring ke tempat pencucian dan berjalan secepat kilat meninggalkan kantin.
“Anak itu… padahal jam kerjanya masih sejam lagi,” kata Jun kepada Joe dan Kris.
_____
Kasih pergi menuju villa 0199 dengan buggy. Untung saja waktu di Thailand dia belajar membawa buggy. Kamar yang pertama dibuka adalah kamar Raka.
“Kok gak ada? Kemana dia? Ah… menurut kitab tebal itu kalau gak ada di kamar, Raka lebih suka tidur dengan madam Lily. Jadi tinggal cek bapaknya aja,” Kasih berjalan menuju kamar Galang.
Nafasnya ngos-ngosan karena panik dan berlarian. “Huft…” menghembuskan nafas sebelum mengetuk pintu.
Tok… Tok… Tok…
“Kok ga dibuka-buka? Apa dia masih tidur? Hari ini seharusnya gak libur menurut kitab itu… Buka gak ya… Nanti kalau dia mati overdosis minum gimana…”
Kreeekkkk… (Suara pintu kamar villa)
Kasih berjalan mendekat bed yang berukuran king size itu. Kamarnya lebih mewah dari kamar madam Lily.
“Luxury banget…” bisik Kasih mulai berjalan menuju bed.
Glek!👀
Ini apa yang ku lihat…? Lobster terkapar… Kenapa dia cuma pakai boxer… Barang ituhh… Huft… Roti sobek kacang almond… Kenapa badanku jadi gemetarann… Oh Tuhan… Ini kayaknya aku salah masuk kamar deh... batin Kasih.
Kasih keluar dari kamar Galang dan berdiri mengingat apa yang baru saja dia lihat.
"Tunggu… Aku ini VIP Butler. Aku harus bekerja profesional. Meskipun rasanya udah cenat-cenut. Menurut kitab gila itu aku harus memberi morning call untuk membangunkannya," Kasih melirik kamar Galang lagi.
“Okeh… pertama... menelpon villa blue ocen nomor 0199.”
Tut… Tut… Tut…
Sekali lagi
Tut… Tut… Tut…
“Kebodohan apa dihari ini… Menelpon pemilik villa di dalam villa… hmmm!”
Dan akhirnya Kasih memutuskan untuk masuk ke kamar Galang lagi. Dia mulai menyelimuti tubuh Galang, kemudian berusaha membangunkan dengan menggoyangkan lengan.
“Pak… pak Galang…” Dia ni kaya mas Aan pas lagi patah hati… banyak minumnya, batin Kasih.
Setelah 5 menit memanggil berulang kali, akhirnya Galang mulai membuka mata.
“Hmm… Hmm… Kamu?” Galang mulai tersadar mengusap mukanya dengan kasar.
“Selamat pagi pak... Maaf saya masuk ke sini. Morning call dari tadi gak diangkat… Saya permisi menyiapkan breakfast dulu.”
Kasih segera menghilang dari kamar itu. Dia menuju dapur villa untuk menata makanan di balkon villa. Tempat ritual breakfast keluarga.
*****
Bersambung…
Jangan lupa buat support Roti sobek kacang almond nya ya…
😉
Like, Comment dan Vote
*****