
Cuaca hari ini sangat bagus. Dekorasi untuk perayaan pesta akhir tahun sedang ditambahkan lagi. Beberapa karyawan sibuk mempersiapkan panggung untuk pertunjukan pesta malam tahun baru. Banyak dekorasi kecil-kecil yang ditambahkan untuk menghiasi panggung.
“Tante Aca…!” teriak Raka dari kejauhan melihat tantenya sedangan duduk di lobby resort.
“Nghikkk… Nghikkk… Uhuk”
“Adek, jangan teriak-teriak gitu... Nah kan batuk,” Kasih mulai berjongkok dan mengelus punggung Raka. Segera meraih Raka dalam gendongannya. “Jangan teriak teriak lagi ya sayang… Ntar sakit tenggorakannya,” kata Kasih sambil berjalan menuju Caca.
Ada seseorang yang duduk dengan Caca. Dia beranjak berdiri dari kursinya. Memberi salam dengan sangat ramah.
“Selamat siang bu Kasih,” kata laki-laki yang memakai kacamata tebal sambil mengulurkan tangannya.
“Selamat siang,” balas Kasih menggapai tangan itu.
“Mbak Kasih, ini dokter Ino. Dokter yang pernah aku ceritain ke embak kalau Caca lagi mau meluncurkan product make up,” begitulah kata Caca menjelaskan ke Kasih.
Semenjak Kasih menikah dengan kakaknya, Caca harus memanggil Kasih dengan panggilan ‘mbak’ atau ‘embak’. Itu adalah perintah Galang. Galang ingin semua orang menghormati istrinya. Meskipun Kasih tidak mempermasalahkan bagaimana orang menyematkan kata 'mbak', 'bu', 'nyonya' atau tidak ditambahkan embel embel apapun. Bagi Kasih yang terpenting adalah dipanggil dengan sopan, itu sudah cukup.
“Wah, senangnya bisa bertemu langsung dengan dokter Ino. Silakan duduk, dok. Mari dilanjut obrolannya sama Caca,” kata Kasih.
Mereka segera duduk kembali di sofa lobby. Kasih segera menaruh Raka di sofa. Mengambil botol minum Raka dan menyuruh Raka meminunya. Berharap anaknya lebih baik setelah berteriak samapai batuk.
“Mbak Kasih, jadi gini… Dokter Ino sama aku punya ide. Mbak Kasih kan sempat viral tuh di youtubenya Jack yang bermain paralayang. Terus… foto yang ada di tripadvisor juga…” Caca mulai berbicara serius ke Kasih. “Jangan marah ya… Dengerin Caca dulu…”
“He em. Iya kenapa?” Kasih semakin serius mendengar penjelasan Caca.
“Dokter Ino sama Caca mau mbak Kasih jadi brand ambassador product make up Caca. Itung itung buat menunjukan ke orang-orang siapa istri tercantik mas Galang… Pemilik Luxus Company. Hehee. Biar orang di kalangan bisnis ga banding-bandingin mbak Kasih sama Amelia… Caca ga suka reporter-reporter itu belum bisa move on kalau Mas Galang itu sudah jadi milik mbak Kasih... Bukan Amelia lagi,” Caca menjelaskan panjang kali lebar agar Kasih setuju.
Karena yang menjadi sorotan perbincangan di kalangan bisnis perhotelan saat ini adalah, Pemilik Luxus Company menikahi karyawannya setelah tersandung kasus ‘kepergok bersama butler penggoda’. Caca ingin sekali membersihkan nama Kasih dengan cara menjadikan Kasih sebagai Brand Ambassador product make up nya.
“Ini bagus untuk karir ibu Kasih kedepannya juga… Mohon dipertimbangan, bu.” Timpal dokter Ino.
Kasih mulai berfikir… Bagus juga sih ide Caca. Ini juga akan bagus untuk bisnis mama dan mas Aan di Jogja. Pasti akan semakin rame orang mau berkunjung ke spa dan coffee shop mas Aan. Secara… dampak komentar pedas dari miss Bee masih belum dituntaskan. Aku mau sekali menerimanya. Tapi… mas Galang ntar marah ga ya… Kalau pengambilan video sama foto cuma aku sendiri sih ga masalah kayanya... Kalau sampai ada cowok… Hm… Bakal habis aku melayani mas Galang 24 jam di kasur. Ngelirik pak Kris sebelum nikah aja, diungkit ungkit kena hajar semalaman.
“Em… boleh saya izin suami saya dulu, dok?” Kasih melirik Caca dan dokter Ino.
“Baik bu, bisa dibicarakan dulu sama pak Galang. Izin suami memang penting,” jawab dokter Ino.
“Kalau boleh tahu… Pembuatan iklannya nanti memakai berapa model? Ada laki-lakinya tidak?” tanya Kasih dengan polosnya. Caca langsung tertawa. Mengerti kemana arah pembicaraan kakak iparnya itu.
“Huahahaa! Mbak Kasih takut sama mas Galang ya…” Caca mulai meledek. “Modelnya cuma mbak Kasih aja. Caca ngerti lah kalau sampai ada cowok, mas Galang bisa ngamuk,” kata Caca membuat Kasih malu dan mengangguk-angguk.
“Iya Ca… Hihii. Tapi tetap harus izin dulu ke mas Galang,” Kasih berusaha belajar untuk menghormati suaminya.
“Ya dah deh… ntar aku bantu bilang ke mas Galang. Biar diizinin.”
Begitulah obrolan siang itu. Kasih sangat senang mendapat tawaran menjadi brand ambassador untuk product make up. Berharap Galang akan menyetujuinya. Kasih ingin mencari aktifitas yang lain. Toh pengambilan video dan foto tidak akan memakan waktu yang lama kalau dibanding bekerja di resort. Karena Galang selalu menginginkan Kasih siap sedia bila dia membutuhkan istrinya. Tidak usah ditanyakan lagi kebutuhan apa itu, exercise… exercise… dan exercise.
“Wah… mama mu mau jadi bintang iklan dek… Hihii. Meski sibuk nantinya, mama akan tetap prioritas kamu ya dek,” bisik Kasih saat menidurkan Raka ke tembat tidur. Kasih memperhatikan muka anak sambungnya itu. Mencium bau khas anak-anak.
Hari ini bobok sini ya dek... Oma Sarah dah sampai Jogja sekarang… Ga bisa bobok sama oma lagi… Sama mama Kasih aja sekarang… Kemarin-kemarin pipi kamu agak gembul… Sebenarnya 3 minggu oma Sarah disini kamu disuapi makan malam ga sih… Kok sekarang kurusan? Nah… kenapa tuh? Kasih mulai mengecek suara nafas Raka yang nghik nghik lagi.
“Kenapa sih ini? Dulu dulu ga bunyi kaya gini? Apa kecapekan ya…” Kasih mengelus dada Raka, memberi ketenangan agar nafasnya normal kembali.
Mungkin kecapekan… harus dikurangi nih aktifitasnya. Emang super aktif ananknya, maunya main terus. Kasih mulai memberi kecupan di kening Raka.
Kasih mulai keluar dari kamar Raka setelah Raka bisa bernafas dengan normal. Kasih berjalan ke teras atas. Ada suara Galang dan madam Lily disana. Mereka sedang tea time, menikmati camilan kue dan teh di sore hari.
“Jadi gimana? Dah hamil istri mu?”
Deg!
Pertanyaan madam Lily ke Galang itu menghentikan langkah Kasih yang ingin ikut gabung tea time.
Padahal baru 2 hari yang lalu aku selesai datang bulan, ya pasti belum hamil dong… begitu pikir Kasih.
“Belom, mam,” jawab Galang dengan santai. Fokus memperhatikan tablet di tangannya.
“Kok lama ya?” tanya madam Lily sambil menikmati kue coklat.
“Hm…”
Kasih mulai tidak berselera untuk bergabung dengan mertua dan suaminya.
Ish… ngeselin! ‘Hm’ apa sih tu mas Galang? ‘Kok lama ya’… ‘Hm…’? Kok terkesan mengiyakan kalau aku belom hamil hamil! Padahal dia tahu usahaku tiap malam mengiyakan semua gaya kesukaan dia! Kasih merasa kesal dengan pembicaraan yang dia dengar barusan. Mulai ngambek menuju ke kamar.
Di dalam kamar, Kasih mencari artikel di website tentang cara-cara agar bisa hamil dengan cepat. Semua artikel anjurannya hampir mirip-mirip. Seputar itu, pola makan yang sehat, suplemen dan pola hidup sehat.
Ada artikel yang membuat Kasih takut, membuat jantungnya hampir runtuh. Duh… jangan sampai aku mandul. Amit amit… Aku ga mau mas Galang balikan sama Amelia atau cari perempuan lain, sudah ada air mata yang mulai tergenang disana. Pikiran Kasih mulai bercabang cabang. Kenapa dan mengapa dia tidak hamil-hamil.
****
Mungkin Gempurannya kurang kali ya…?
Atau bagaimana ini
Check up ke dokter dulu mungkin…
Bersambung…
****