My Butler

My Butler
Mari Kita Berteman



Joe dan Jun terlihat asyik berdansa. Menikmati lagu yang dinyanyikan. Begitupun mama Laura, dia terlihat ramah dengan orang yang baru saja dia kenal.


Galang mulai meraih tangan kanan Kasih agar melingkar di tengkuknya. Meraih pinggang Kasih dan menatap mata Kasih. Belum sempat menggerakan badan, Kasih menurunkan tangannya.


“Pak…”


“Kenapa?” Galang bingung saat Kasih melangkah agak mundur. Mencoba meraih tangan Kasih lagi. Tapi perempuan itu menolak.


“Bisa gak kita dansanya seperti bapak dansa sama nyonya Amelia semalam? Jadi ada jarak antara kita. Gak nempel semua kaya waktu itu”


Kenapa sih perempuan ini… Padahal ingin sekali aku memeluknya… Galang berfikir agar muncul ide untuk membujuk Kasih.


“Kasih, jenis lagunya berbeda. Saat kita berdansa harus menghayati lagu” Galang memalingkan pandangannya kepada tamu yang sedang berdansa juga. Kasih menengok pasangan-pasangan yang juga berdansa.


“Pokonya saya gak mau!” Entah keberanian darimana Kasih tidak setuju dengan ajakan Galang. Galang bisa melihat kalau Kasih benar-benar menolak ajakannya. Hal yang  lebih Galang takutkan adalah kalau Kasih sampai menolak perasaannya.


Berdiam sejenak dan berfikir cara yang tepat untuk menaklukan hati Kasih. Dia sadar kalau sudah banyak melukai perasaan perempuan didepannya itu. Tidak lucu kan kalau tiba-tiba mengajak menikah… Yang ada nanti orangnya kaget dilamar duda galak. Secara kejadian semalam masih membuat Kasih emosi. Hal itu bisa dirasakan Galang melalui penolakan posisi dansa.


“Em… Kasih… mau tidak berteman dengan saya?” Pertanyaan Galang sedikit aneh di telinga Kasih.


Semoga ini adalah awal yang tepat. Setidaknya bisa berteman dulu. Bisa mengenal kepribadiannya lebih dalam, Galang mulai meraih kedua tangan Kasih. Kasih masih tidak mau disentuh oleh Galang.


Rasanya kenapa seperti teriris-iris mendengar ajakan pak Galang? Seharusnya memang aku sadar diri sejak awal… Kenapa sih rasanya makin sakit aja… Apalagi ucapan mantan istrinya itu terngiang-ngiang setiap menit di kepalaku… hmmm, batin Kasih.


“Gak! Saya takut bapak lempar-lempar cangkir, atau apa tuh namanya… jarr jarr canter lagi!” Kasih seperti dikasih angin segar bisa meluapkan emosi. Ditambah suara bising dari musik kru akustik. Membuat volume suara berlomba saling mengeras.


“Iya… Gak akan ada lagi seperti itu…”


“Janji ya…” Kasih mengulurkan jari kelingking agar Galang menyepakati perjanjian. Galang menggapai jari kelingking itu. Berharap Kasih tidak ngambekan lagi.


“Iya…” Semua yang diinginkan Kasih dia sanggupi. “Jadi bisa kita mulai dansanya?” Galang mencoba meraih pinggang Kasih. Dan lagi lagi…


“Gak…!” Kasih masih menolak tidak mau di pegang pinggangnya.


Duh… kenapa terus menerus marahnya… Galang sudah mulai frustasi untuk membujuk Kasih.


“Dansanya harus pakai jarak kaya di google!” Galang mengelus lengan Kasih. Perempuan ini ternyata kalau sadar susah dikibuli, begitu pikir Galang. “15 sampai 30 centi jarak dansa. Saya kan teman bapak… jadi kita pakai 30 centi”


Hmm… rumus dansa apalagi ini… Udahan dong ngambeknya… udah lagu ke-4 ini… kenapa emosinya gak selesai selesai… hiihhh, batin Galang.


“15 centi ya…”Galang mulai meraih tangan Kasih kedalam tengkuknya.


“25 centi!” Masih mode cemberut.


“Ok… 20 centi ya untuk jarak teman…” pelan-pelan meraba pinggang Kasih.


“25 centi!” mau tidak mau harus Galang turuti kemauan Kasih. Yang terpenting sekarang Kasih tidak lagi ngambek dengannya.


Mereka pun mulai menikmati dansa dengan musik akustik. Joe dan Jun terus-terusan berbisik sambil melirik Galang dan Kasih.


“Kasih…”


“Hm…” jawab Kasih menatap mata Galang.


“Jadi VIP Butler lagi mau…?” Galang membujuk agar kedepannya bisa lebih dekat kalau Kasih berada disampingnya.


“Mana bisa semudah itu pak… Pak Joe sudah atur jadwal kerja saya untuk seminggu kedepan. Nanti pak Joe kasian harus merubah jadwal lagi… Kalau satu nama hilang nanti akan mempengaruhi kerjaan butler yang lain… Ini kan bulan December, banyak tamu datang. Occupancy full terus…” Kasih memberi penjelasan agar Galang mengerti jadwal kerjanya.


Aku kan bosnya… gimana sih anak ini… Kalau aku mau, aku bisa minta Joe merubah jadwal kamu.Tapi nanti takutnya kamu marah dan ngambek lagi… huft… batin Galang memikirkan emosi Kasih yang dirasa sudah cukup reda. Dia tidak mau kalau Kasih berlari menjauh.


“Besok saya masih dengan tamu yang sama. Pak Ben dan anaknya mau main paralayang besok siang. Saya diminta untuk mengantar mereka” Kasih mengingat wajah 2 orang tamu yang bermain golf siang tadi. Dia adalah bapak dan anak yang berasal dari Italy.


Sudah 3 lagu mereka berdansa. Kasih mulai tidak nyaman karena Jun, Joe dan mama Laura sudah kembali ke tempat duduk.


“Pak…”


“Hm…”


“Udah yuk… Kak Jun sama pak Joe udah selesai dansanya. Mungkin mereka mau ajak saya pulang juga…” Kasih merasa tidak nyaman karena dia hanya menumpang di mobil Joe.


“Kamu ikut mobil saya”


Ish… baru aja aku baikin. Udah merintah lagi dia hmmm Mau gimana lagi… Masa mau main meong-meongan terus satu tempat kerja. Dia kan bosnya juga. Kasih masih merasa kesal dengan sikap Galang yang semaunya.


Akhirnya mereka kembali ke resort. Joe, Jun dan mama Laura ada dalam satu mobil. Sedangkan Kasih bersama Galang.


Hanya sunyi senyap saling curi-curi pandang antara Kasih dan Galang. Galang menyalakan musik di mobilnya agar suasana tidak begitu hening. Karena di Bintan, masih banyak pepohonan lebat di sepanjang jalan.


Padahal ini sudah mau sampai… Tumben dia ngak ngantuk…? Udah jam 11 lagi. Kenapa sih gak tidur aja… Ac juga udah kupasang kuat-kuat biar dia nyaman kalau mau tidur… batin Galang sambil mengecek jam tangannya.


Akhirnya mereka sampai di resort kembali. Galang memarkirkan mobilnya di area garasi terpisah dengan karyawan lain. Joe dan Jun sudah kembali ke villa terlebih dahulu. Begitupun mama Laura.


“Kasih…” Galang menghentikan gerak Kasih saat akan turun dari mobil.


“Kenapa pak?” Kasih menoleh ke Galang.


“Kita kan udah berteman…” Galang berfikir sejenak, memastikan idenya tidak ditolak Kasih. “Kalau bukan jam kerja… kamu bisa panggil saya… mas…” mendengar ucapan Galang itu rasanya ada yang menggelitik perut. Kasih ingin tertawa tapi takut nanti bosnya itu marah…


Haduh… lama-lama kalau diturutin kemauannya, semakin aku salah paham… Suruh aku kuras swimming pool aja deh! Jangan neko-neko terus lah… Kasih mulai mengerucutkan bibirnya.


“Iya nanti kalau ingat…” Menjawab cepat. Pipi Kasih mulai memanas. Berusaha menutupi dengan membelakangi Galang.


“Kasih…”


“Apalagi pak…?”


“Good night…”


“Night” Kasih segera keluar dari mobil. Berjalan secepat kilat meninggalkan Galang yang masih ada di dalam mobil.


Hm… ya sudah deh. Hari ini baikan aja dulu. Friendship kiss bisa ku minta besok… Galang merasa senang bisa menjalin pertemanan dengan Kasih.


 


 


*****


Baikan dulu ya…


Jangan kaya Donal Bebek main nyosor…


Bersambung...


*****