
Pagi itu Jun membantu Kasih untuk menikmati sarapan pagi. Mereka banyak membahas tentang topik bagaimana menyembukan sengatan ubur-ubur dengan cepat. Sesekali Jun mengecek komentar-komentar di tripadvisor (website khusus dunia pariwisata) dari para tamu yang memberikan feedback mengenai Luxus Resort Bintan
Jun setiap hari memang selalu mengecek komentar tamu untuk melapor ke suaminya, kalau ada tamu komplain tentang pelayanan di hotel atau tidak. Ada salah satu komentar dari akun yang bernama 'Miss Bee'. Komentar tamu itu cukup menarik. Bukan karena memberi komentar baik, tapi akun itu memberi komentar buruk mengenai kinerja salah satu butler di Luxus.
“Dek…” Jun menepuk tangan Kasih yang tidak di infus.
“Ya kak. Kenapa?” tanya Kasih yang baru saja selesai meminum obat.
“Ada komentar jelek buat departemen kita. Ini kayanya foto kamu deh sama pak Galang” Jun memberikan handphonenya kepada Kasih. Kasih mulai membaca isi komentar itu
“Miss Bee”
Luxus Resort Bintan is the most Beautiful Resort ever I stayed. Saya merasa dimanjakan setiap menginap di Luxus Resort. Tapi saya sangat kecewa dengan salah satu butler perempuan. Kinerjanya tidak baik. Dia suka menggoda tamu laki-laki, termasuk calon suami saya.
Begitulah isi komentar Miss Bee dengan disertai foto Kasih saat tangannya di tarik oleh Galang masuk ke villanya pada suasana malam hari.
Kasih sangat kesal melihat isi komentar itu. Merasa tidak pernah menggoda tamu laki-laki. Mengenai Foto dirinya dengan Galang memang pernah terjadi saat Galang memanggilnya tengah malam, membentak karena foto dirinya dengan Teo.
“Ini siapa sih kak miss Bee ini?!” nada suara Kasih sangat kesal memandangi foto profil miss bee yang hanya gambar lebah. “Aku emang ada ke villa pak Galang tengah malam. Itu pun pak Galang yang minta. Pak Joe pasti ada bagi tahu kan ke kakak kalau pak Galang waktu itu manggil aku...” Kasih semakin Kesal memandangi foto Galang dengan dirinya di posting di tripadvisor.
“Iya… kakak percaya sama kamu” timpal Jun. Jun mulai mengambil handphone dari tangan Kasih karena ada panggilan masuk dari Galang.
“Eh, pak Galang nelpon... Tumben sekali, biasanya telpon ke bang Joe dulu…” kata Jun sambil membenarkan posisi duduknya dan kemudian menggeser layar screen untuk menerima panggilan.
Kasih mulai meraih handphonenya yang berada di samping meja. Melihat ulang isi komentar dari miss bee di tripadvisor.
Siapa sih paparazzi di hotel ini… Gak jelas banget. Maksudnya apa coba ngatain aku suka godain tamu cowok?! Membatin sambil mendengarkan pembicaraan Jun dengan Galang.
“Pak Galang bilang apa kak?” tanya Kasih setelah Jun selesai berbicara dengan Galang.
“Pak Galang cuma bagi info kalau dia gak bisa pulang malam ini. Katanya mau jemput Madam Lily sama Raka sekalian yang balik dari Thailand besok. Pesawat mereka sampai Batam kemungkinan malam ini. Jadi mereka semua baru bisa balik besok… Kasian Raka katanya kalau kena angin malam harus menyebrang Batam ke Bintan pakai kapal” Jun memperhatikan muka Kasih yang masih syok dengan komentar di tripadvisor.
“Kak… kira-kira pak Galang udah lihat komentar itu belum ya?” Kasih berharap Galang bisa menyelesaikan kekacauan komentar di tripadvisor.
“Udah lah pasti itu dek… Apalagi komentar negatif kaya gitu. Tadi di telpon pak Galang bilang minta ke kamu jangan ambil pusing. Dia akan menyelidiki siapa itu miss Bee” Jun menjelaskan dengan detail percakapannya dengan Galang.
Kasih hanya mengangguk-angguk berharap Galang bisa menyelesaikan masalah di tripadvisor. Takut kalau sampai keluarganya tahu akan membuat mereka kesal dan memarahinya.
Saat ini Galang tengah berada di Luxus Resort Batam melakukan coffee break (istirahat setelah meeting/ rehat kopi) di ballroom. Dia duduk di ruangan itu dengan mengingat saat dirinya mendapat telpon dari maminya.
Flash Back On
Galang tengah berada di kamar tamu bersama Kasih. Dia baru saja mematikan lampu kamar Kasih. Tiba-tiba handphonenya bergetar di sakunya. Dilihatnya nama panggilan itu adalah maminya. Galang mulai mengkancingkan baju Kasih yang sudah dia buka. Menyelimuti Kasih dan bergegas keluar mengangkat panggilan dari maminya.
“Hallo mam” sapa Galang.
“Lang, besok mami sama Raka balik. Mami dapat tiket sore sampai bandara Batam. Kamu jemput kita ya” pinta madam Lily.
“Iya… takutnya juga kalau delay. Sekarang musim hujan. Kasihan Rakanya nanti kalau naik kapal malam-malam. Angin malam gak bagus, ombaknya mungkin juga kasar” kata madam Lily sambil menyelimuti Raka yang lagi tidur.
“Lang, gimana kamu sama Kasih?” pertanyaan madam Lily membuat Galang kaget.
“Maksud mami?” tanya Galang balik.
“Apalah kamu ini… mami sudah tahu… kalalu kamu suka sama Kasih. Mami setuju-setuju aja… Mami udah cek sampai ke keluarganya di Jogja. Anaknya baik, gak neko-neko kaya mantan istrimu itu” Ucapan maminya ini membuat Galang menahan senyumnya. “Udah lah cepat lamar aja. Nikahin besok kalau perlu...” kalimat maminya semakin membuat Galang senang. Sambil membuka pintu ruang tamu dan mengintip Kasih yang masih tertidur pulas.
“Iya mam… Maunya juga gitu. Tapi Raka gimana? Apa dia mau punya ibu baru? Lagian belum tentu juga dia mau nikah sama duda anak satu” Galang berfikir bagaimana kalau sampai Kasih menolaknya.
“Raka barusan bilang sama mami… Dia lebih suka main sama tante Kasih. Katanya kalau sama mamanya, perempuan itu suka telpon-telponan sama orang lain dan gak nemeni Raka main secara penuh. Yang penting kamu lamar dia dulu… Amelia ngoceh ke mami, minta buat balikan sama kamu… Mana mami mau! Gak akan pernah mau! Hm… Gak ada malunya” madam Lily kesal mengingat Amelia memohon kepdanya.
“Iya mam… besoknya habis kita pulang dari Batam, aku akan melamar Kasih” berkata dengan penuh senyum kebahagian. Meskipun tidak tahu bagaimana reaksi Kasih bila mendengar ajakannya untuk menikah.
“Oia…” kata madam Lily lagi teringat sesuatu. “Si Tania juga ada disini. Dia kasih foto kamu lagi narik tangan Kasih tengah malam. Bilang kalau Kasih itu perempuan murahan lah… suka godain kamu… Ya mana mungkin mami percaya sama Tania yang sejenis dengan Amelia... Hm… bikin mami meradang. Mami tamparr dia semalam!” madam Lily mengingat kejadian saat Tania menghampirinya, memberi foto Kasih bersama Galang.
“Iya mam… Nanti aku kasih peringatan lagi sama dia. Resort lagi high season (banyak tamu). Gak bisa asal pecat. Cari orang baru juga butuh waktu” timpal Galang.
“Iya… yang penting kamu cepat lamar Kasih. Mami udah cocok banget sama mamanya. Udah mami kode kode juga kalau punya mantu duda itu gak masalah. Asalkan saling mau” madam Lily menggebu-gebu agar Galang segera menikahi Kasih.
“Iya mam… Makasih mam…” semakin tambah bahagia Galang mendengar dukungan dari maminya.
“Tumben bilang makasih…” madam Lily tersenyum, mulai menangkap kalau anaknya saat ini senang bahagia mendapat dukungan darinya.
“Iya mam… ya udah aku tutup dulu telponnya. Besok pagi harus berangkat ke Batam ada meeting pagi disana” Galang berusaha menutupi kalau dirinya sangat bahagia.
“Iya Lang… mami tidur dulu”
“Iya mam, good night” Galang dan madam Lily menutup telponnya.
Flash Back Off
Setelah coffee break selesai, Galang melanjutkan meetingnya. Selama waktu meeting berlangsung, dia terlihat penuh semangat. Ingin segera kembali ke resort menemui Kasih.
*****
Ibu Sarah sudah di kode-kode…
Jawab apa ya nanti…
Bersambung…
*****