My Butler

My Butler
Kucing Kucingan



Galang mencoba menghubungi Kasih berkali kali tapi  tidak diangkat. Mencoba kirim pesan, di whatsapp hanya centang (v) satu.


“Kris, dimana dia sekarang?”


“Saya rasa sedang bersama tamu pak. Di area golf.”


Tanpa berkata apapun setelah mendengar jawaban Kris, Galang beranjak keluar dari kantornya. Caca dan Sam yang lagi ngobrol sampai kaget oleh suara pintu yang terpental menutup kembali.


“Kenapa dia Sam?” Caca keheranan dengan sikap kakaknya yang berjalan keluar dengan cepat.


“Kenapa dia pak kris?” tanya Sam kepada kris yang baru saja keluar ruangan.


“Hanya masalah kerja.” Kris tidak bisa menceritakan masalah yang sedang terjadi.


Lagi pula kalau bercerita dengan Sam hanya akan menjadi gossip yang bisa dikonsumsi karyawan lain. Mengingat karakter Sam yang sedikit bar bar kalau aktif di whatsapp group. Tapi Kris masih bisa memaklumi, karena setiap postingan di whatsapp itu seperti puzzle untuk memecahkan masalah.


Galang berlari menuju tempat buggy nya diparkirkan. Dia segera menyalakan mesin buggy dan melaju ke area golf. Mencoba untuk menelpon Kasih selagi mengelilingi area Golf.


Galang juga mengecek berkali kali pesan di whatsappnya. Pesan pertama yang dia kirim ke Kasih masih centang satu. Merasa ada yang aneh. Apa mungkin dia memblokirku? Pertanyan itu melintas di kepala.


Dari kejauhan, Kasih melihat buggy Galang. Karena warna buggy Galang paling berbeda dari buggy lain. Itu sangat mudah baginya mengenali siapa penumpangnya. Kasih segera menawarkan kepada tamu untuk mencoba bermain golf di hole yang lain. Berusaha untuk jaga jarak dengan Galang.Tamu bapak dan anak itu juga tidak menolak.


Ngapain dia kesini? Kalau mau main golf kenapa pakai baju kantoran? Siapa sih yang dia cari…? Jangan sampai aku bertemu dengannya. Kasih bersembunyi sampai jongkok di samping buggy. Dia tidak ingin Galang melihatnya atau dia melihat Galang.


Sudah 2 jam bermain petak umpet dengan Galang sampai pindah tempat berkali-kali membuat Kasih kelelahan juga. Terik matahari sangat menyengat. Terasa sangat panas, tidak bersahabat. Tamu yang ditemani Kasih pun mulai lelah. Akhirnya mereka selesai bermain golf dan Kasih bersiap untuk pergi ke villa mengantar tamu.


Menemani tamu bermain di golf sangat melelahkan. Meskin hari itu Kasih hanya sibuk membawa buggy kesana kemari, tapi dia juga harus menjaga jarak dari Galang yang memutari area Golf. Baju kerja sudah basah karena terkena keringat.


“Huft… akhirnya selesai juga.” Kasih mengusap lehernya yang bercucuran keringat.


Dia mulai memarkirkan buggy nya di lantai satu. Ingin segera naik ke lantai dua menuju kamarnya. Tapi langkahnya terhenti saat dia melihat Galang sedang berada di depan kamarnya.


Udah gila kah dia? Ngapain ada di depan kamarku…? Duh… malas kali aku bertemu dengannya… Padahal aku udah gak bikin onar. Emang aku ada salah apa coba… Hmm… Kasih beranjak pergi secepat mungkin agar tidak bertemu dengan Galang. Takut tragedi melempar barang pecah belah terulang kembali.


Akhirnya dia menuju staff laundy untuk mengambil seragam. Menuju loker tempat karyawan mengganti pakaian. Beristirahat disana sebentar kemudian melanjutkan untuk menuju lobby.


Ada group tamu check in sore itu. Dia harus menjemput tamu ke LFT dan membawa mereka ke lobby untuk melakukan check in.


Dilihatnya Galang mondar-mandir di depan resepsionis. Sikap Galang itu membuat resepsionis lain yang berjaga tidak nyaman. Bekerja kalau ditungguin bos itu kurang leluasa. Jadi takut salah, alhasil jadi serba salah. Namun kehadiran Jun yang merupakan karyawan senior cukup membantu proses check in sore itu sampai selesai.


Tinggal lah Galang yang masih berdiri di depan resepsionis. Dengan akting yang maksimal Kasih berusaha untuk segera kabur dari Galang lagi.


“Kak Jun… aku kebelet… mau ke toilet dulu ya…” berjalan secepat-cepatnya agar bisa menjauhi Galang. Galang hanya bisa menghela nafas dalam-dalam.


Sampai segitunya dia mau menghindar. Tadi waktu aku menunggunya di depan kamar… sudah jelas terlihat dari lantai 2 dia memarkirkan buggynya. Tapi dia malah kabur. Bajunya juga terlihat sudah ganti tidak memakai tshirt golf. Batin Galang sambil memperhatikan punggung Kasih berjalan menjauh.


“Setahu saya tidak pak,” Jun menjawab singkat. Tidak mau mencari perkara, begitu sifat Jun.


Hari ini kok malah main kucing-kucingan. Mau nya dia apa sih? Aku kan capek lari sana lari sini. Pegel ni kaki belom sembuh. Ish…! Kasih mengintip Galang yang sedang berbicara dengan Jun.


Galang segera menuju ruang kerjanya, masih banyak pekerjann yang sempat tertunda karena mencari-cari Kasih siang itu. Tapi yang dicari selalu ada alasan untuk sibuk.


Akhirnya jam kerja Kasih selesai juga. Dia bergegas menuju kamar untuk segera membersihkan diri. Untungnya Galang tidak ada di depan kamarnya. Merasa bebas dari bos galaknya itu.


“Ah… senangnya bisa banyak beraktifitas normal… Ketemu banyak tamu… bisa ngobrol dengan tamu… Bahas topik obrolan yang berbeda-beda… Ini baru namanya butler… Enggak main dansa-dansaan yang gak jelas itu… Hmm harum…” ucap Kasih sambil bermain busa beraroma lavender di bathup. Menyenderkan bahu dan menikmati lagu-lagu kesukaannya.


Setelah puas berendam, Kasih memilih baju yang mau dia pakai untuk pergi ke acara makan di luar. Jun bilang kalau tamu itu seorang oma-oma yang sudah lanjut usia. Jadi Kasih memilih setelan baju yang dirasa sopan. Dress panjang berwarna putih dengan kerah berbentuk V adalah pilihan Kasih.


Hari sudah mulai gelap. Banyaknya hiasan lampu diseluruh area resort itu membuat sangat cantik. Kasih yang baru saja sampai di villa Jun itu dibuat sampai melongo dengan dandanan Jun yang sangat anggun. Tidak seperti biasanya waktu kerja yang terkesan apa adanya. Ada sedikit glitter yang menghiasi kelopak cantiknya.


“Wuaa… cantik banget kakak nyaa...” memuji Jun sampai salah tingkah.


“Biasalah lah dek… nanti kalau gak cantik pak Joe nya lirik sana lirik sini… Hihii...” sambil mentoel-toel perut suaminya. Kalau sudah gini Joe hanya bisa senyam-senyum.


“Yok naik buggy. Tamunya udah nunggu di lobby,” ajak Joe sambil menuju ke buggy untuk menuju  lobby.


Tamu yang mengajak untuk makan itu memilki wajah kebule-bulean. Tapi bisa berbahas Indonesia dengan logat bulenya. Kasih tidak butuh waktu lama untuk bisa dekat dengan tamu yang dipanggil dengan nama mama Laura. Membahas tentang betapa ramah-ramahnya karyawan di Luxus.  Dia sangat senang karena kedatangannya selalu disambut dengan baik. Hal itu membuat mama Laura menjadi tamu bulanan tetap yang selalu datang di awal bulan.


“Sekarang sudah December… kita akan celebrate new year lagi,” ucap mama Laura sambil menggenggam tangan Kasih.


Setelah kurang lebih 30 menit menempuh perjalan, mereka sudah sampai di Kelong. Tempatnya tidak semewah Luxus Kelong Restaurant. Tapi di tempat itu ada grup musik akustik yang menghibur tamu.


Mereka mulai memesan makanan. Sibuk pilih menu makanan yang enak. Berunding berapa gram lobster yang ingin dipesan, berapa ekor kepiting yang akan dimakan. Memilih sayuran dan aneka sambal nusantara juga ada pilihannya di menu.


Diskusi masalah makanan hanya untuk para perempuan. Joe mulai sibuk dengan handphonenya. Berselancar membalas pesan whatsapp Galang yang berjilid jilid seperti laporan.


 


*****


Pak Joe… laporan lewat handphone ditutup dulu ya...


Kasian kepitingnya nunggu buat diterkam


Bersambung…


*****