
Sepanjang perjalanan menuju Kelong Restaurant, Galang merasa semakin excited. Perasaan menggebu-gebu untuk melamar Kasih ingin segera dia utarakan. Mengingat usia Kasih yang masih muda dan ini akan menjadi pernikahan Kasih yang pertama, Galang ingin memberikan kesan yang romantis.
Kasih yang duduk di kursi depan bersebelahan dengan Galang, sesekali melirik menggerakan bola matanya kearah Galang.
Pak Galang cakep banget hari ini… brewoknya agak dicukur sedikit hihiii… makin keren lebih muda sedikit… Huft… Stop Kasih…. Jangan bermain api dengan pak bos. Kena hujat terus ntar... Ingat harus panggil dia mas… mas Galang. Jangan sampai dia marah. Hihiii. Kasih menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyuman. Membayangkan harus memanggil ‘mas’ lagi.
Sesampainya di lokasi, Mereka mulai turun dari mobil. Kasih tampak bingung, karena lokasi Kelong Restaurant bukan tempat seperti sebelumnya.
“Ini Kelong Restaurant mas Galang?” tanya Kasih setelah turun dari mobil.
“Iya. Ini private kelong, jadi ada gazebo banyak. Supaya kita lebih intim,” Galang mulai meraih tangan Kasih.
Kasih yang mendengar kata intim mulai berdesir lagi, bulu kuduk ikut berdiri. Huft… Kenapa sih dari tadi pakai kata yang menjurus jurus… minta dipanggil mas… sekarang lebih intim… pakai kata akrab kek atau apalah! Pasti nanti malam dapat mimpi erotis lagi nih. Hm… Ngeselin! batin Kasih sambil berjalan mengikuti Galang.
Tempatnya sangat cantik, dipenuhi pencahayaan lampu lampu kecil. Ada suara instrument musik di area gazebo. Lagu yang diputar pun sangat romantis.
Wah… Ini cantik banget... Warung apung di jogja ada gak ya yang kaya gini… Romantis tempatnya… Hihiii. Eh, tunggu… Kenapa pak Galang ajak aku ke tempat beginian? Dia kan cuma bilang kita berteman… Teman macam apa sih kita ini… Makan berduan ditempat kaya gini. Kasih mulai sadar ada yang salah dengan sikap bosnya. Terasa ada yang ganjil.
“Kasih, silahkan duduk,” Galang menarik kursi, mempersilahkan Kasih duduk. Kasih merasa semakin canggung dengan sikap Galang yang romantis.
Ish… menyebalkan, jantungku udah lompat lompat lagi. Aduh… jangan meleleh jangan meleleh… Kasih mulai duduk di kursinya.
Memperhatikan tingkah laku Galang yang aneh.
Galang mulai membuka jasnya, menggantungkan di senderan kursi. Dan duduk berhadapan dengan Kasih.
Huft… kenapa makin terasa panas… Dia terlihat makin cantik dengan pencahayaan di tempat ini. Bahunya itu… Bening sekali… Apa dia sudah pakai lotion anti nyamuk? Galang semakin salah tingkah melihat bahu Kasih, dia mengusap keringat yang keluar di dahinya.
“Kasih, sudah pakai lotion anti nyamuk?” tanya Galang.
“Sudah mas…” jawab Kasih.
Mereka mulai menikmati hidangan seafood. Kasih memilih untuk tidak banyak berbicara. Ingin segera menghabiskan makanannya dan segera kembali ke resort. Merasa tidak nyaman makan berduaan dengan bos. Ditambah dirinya sedang menjadi trending topik dengan bosnya.
“Mas Galang, pulang yuk…” ajak Kasih sambil membersihkan mulutnya dengan tissue.
Galang segera berdiri dari kursinya. Menghentikan gerak Kasih yang akan beranjak berdiri. Galang mulai berjongkok dan meraih tangan Kasih.
Duh, kenapa lagi dia ni? Kasih sedikit kaget melihat Galang yang meraih tangannya.
“Kasih, will you marry me?” Kasih mengkedip kedipkan matanya memandang Galang. “Maukah kamu menjadi istriku dan mama untuk Raka?”
Deg! Kaget... masih mode bingung raut wajah Kasih. Masih belum percaya dengan ucapan yang baru saja dia dengar.
Galang mulai mengambil kotak cincin yang ada di sakunya. Mengambil cincin itu dan memakaikannya di jari Kasih. Meraih tengkuk Kasih agar mudah mencium bibir Kasih.
Tapi… telapak tangan Kasih mendorong muka Galang, menjauhkan bibir Galang dari bibirnya.
Galang mulai kaget mendapat penolakan itu.
“Mas… saya kan belum bilang iya. Kok main cium sih,” Kasih berusaha menahan senyuman yang hampir merekah di bibirnya.
“Tapi kamu tidak menolak cincinnya…” Galang berfikir secara logika jika cincin diterima maka lamaran diterima. Galang mulai beranjak berdiri disamping Kasih.
“Kan gak bisa main nyosor juga mas…” Kasih tidak bisa menahan senyumnya lagi. Bahagia, kaget dan malu menjadi satu.
“Jadi gimana? Diterima ya…? Raka sudah mau punya mama baru,” kata Galang mulai meraih tangan Kasih lagi.
Kasih mulai berdiri dari kursinya. Menatap wajah Galang. Muncul ide gila untuk mengerjai perbuatan Galang sebelumnya.
“Saya tanya keluarga saya dulu ya… Takutnya mereka gak setuju. Mas Galang kan suka galak sama saya. Minta saya kuras swimming pool… seenaknya minta kopi pas hari libur… telpon saya tengah malam terus marah-marah… terus…” belum sempat Kasih selesai berceloteh…. Tiba-tiba CUP! Mendarat di bibir dengan cepat. Kasih mengkedip-kedipkan matanya. “A ah gak romantis deh! Kita kan belom nikah!” Mundur satu langkah menjauh dari Galang. Kaget mendapat ciuman tiba-tiba.
Haduh… nafsu banget bapak ini! Belum ku jawab iya atau tidak. Udah main caplokk, nyosorr sesukanya… batin Kasih melirik tangan Galang yang meraih lengannya.
“Mas Galang jangan gitu lagi! Kita kan belum nikah. Pacaran juga engak. Udah main kecup-kecup,” Kasih memalingkan pandangannya dari Galang yang sudah ada di depannya lagi.
“Iya… kalau dansa mau? Mau jarak berapa centi? Gak pakai jarak ya… kan udah dilamar,” mendengar pertanyaan Galang, Kasih mulai mencebikan bibirnya. “Ayolah… saya gak akan cium kamu. Jangan takut,” perkataan terakhir Galang justru membuat Kasih tertantang.
“Siapa yang takut?!”
“Tuh… jangan cemberut gitu,” Galang mulai meraih pinggang Kasih.
Akhirnya Galang harus bersabar lagi menghadapi calon istrinya. Mengelus punggung Kasih dalam pelukannya agar lebih tenang.
Betulan gak sih dia melamar ku hihii… hm… masih gak percaya. Ini mimpi gak sih… Terima gak ya… aku kan belum jawab iya atau enggak. Gimana kalau mama gak suka. Apalagi mas Aan waktu itu ngatain dia om om. Jawab sekarang atau tanya keluarga dulu ya… hmm… pelukan dia bikin badanku tersetrum-setrum. Mimpi apa aku semalam bisa dilamar pak Galang… eh, mas Galang sekarang, batin Kasih sambil menyembunyikan mukanya yang sudah lebar dengan senyuman di dada bidang Galang.
Masih malu kalau sampai ketahuan Galang.
Galang sudah mulai lega bisa mengutarakan keinginannya untuk menikahi Kasih. Meskipun Kasih masih belum menjawab iya karena mau berdiskusi dengan keluarganya. Tapi Galang yakin bisa mendapat jawaban iya dari keluarganya Kasih.
“Kasih…”
“Ya mas...” masih menunduk menyembunyikan wajahnya di dada Galang. Galang berusaha melihat wajah Kasih.
“Kenapa pipimu merah gitu?” tanya Galang pura-pura tidak tahu. Galang sudah paham betul ekspresi perempuan di dekapannya itu malu.
“Iiihh jangan lihat lihat dulu mas… Ini merah karena banyak makan gonggong seafood,” jawab Kasih asal. Tidak mau ketahuan kalau dirinya sedang bahagia mendapat lamaran Galang.
“Iya itu kesukaan saya. Kamu juga harus menyukainya… bagus untuk meningkatkan gairahh,” mendengar jawaban Galang, muka Kasih semakin merah panas.
“Iya iya… saya udah tahu dari temen kerja. Jangan sebut-sebut lagi,” Masih tidak mau memperlihatkan mukanya. Semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Galang.
Hihiii. Baguslah kalau dia sendiri yang memeluku… Tidak susah lagi kalau sekedar pelukan. Batin Galang sambil meremas halus bagian benda padat dibawah sana.
“Jangan aneh-aneh tangannya. Saya tahu,” Kasih mulai mendongakan kepalanya menatap mata Galang.
“Kasih… Satu kecup aja boleh? Kamu kan calon istri ku” tanya Galang dengan meraba bibir Kasih.
“Kan tadi udah,” jawab Kasih cepat.
Tiba-tiba CUP! Dan lampu penerangan di gazebo Kasih dan Galang mati.
****
Jadi jawabannya iya atau tidak ini…?
Tolong jelaskan tante mama… etz mama baru...
Buat pak Galang… Lampunya tolong dinyalakan!
Ayo jangan lupa like, hadiah dan votenya
Biar lampunya dinyalakan pak Galang
Bersambung…
*****