My Butler

My Butler
Dinding Tembok Yang Tinggi



Jalanan kota Jogja pada sore itu sangat macet. Banyak pengendara motor menerobos sisa-sisa jalan dan bertarung dengan mobil-mobil disamping mereka. Termasuk taxi yang dipakai Galang. Membuat Galang tidak tenang karena laju perjalanannya terhambat.


Di dalam taxi, Galang mulai mencari tahu informasi tentang kapal yang bernama Raja Phinisi. Mencari kontak nomor perusahan kapal itu untuk dihubungi.


Tut… Tut… Tut…


“Selamat Sore dengan Raja Phinisi bisa dibantu?” kata operator pada nomor yang ditelpon Galang.


“Sore… Bisa saya menyusul trip Raja Phinisi yang berangkat dari pelabuhan Semarang pagi tadi?”


“Boleh kami tahu nama lengkap bapak? Kami memiliki banyak trip yang berbeda-beda yang kami berangkatkan dari pelabuhan Semarang pagi tadi. Ada 10 kapal kami yang berlayar,” ucap operator itu. Ini membuat Galang harus memutar otak. Dari 10 kapal itu dimana istrinya melakukan kerja part time.


“Saya Robert Galang Wicaksono,” jawab Galang. Operator itu mulai berfikir… nama orang yang berbicara dengannya saat ini seperti tidak asing. “Saya mencari istri saya, Kasih... Margareta Kasih. Apa saya bisa menyusul bersama trip itu?”


“Oh ini dengan pak Galang…” operator itu mulai paham apa yang diinginkan Galang. “Maaf pak, tapi kapal yang ditumpangi ibu Kasih sudah penuh. Kami memiliki batas maximum penumpang dan kru.”


Jawaban operator itu membuat Galang berfikir. Ternyata tidak semudah membalikan telapak tangan untuk mengejar Kasih.


“Huft… Berada di posisi mana kapalnya sekarang?”


“Sebentar ya pak, saya cek dulu… Em… Masih berada di perairan Karimunjawa pak kalau menurut pemantauan sistem kami.”


“Bisa dihentikan sebentar? Saya akan menuju kesana.”


“Em… kami mohon maaf, pak. Tapi tripnya harus terus berlanjut. Karena kami ada jadwal berlabuh dan mengikuti perjalanan trip selanjutnya.”


“Bisa kamu share semua titik poin yang akan dilewati kapal istri saya berada?”


“Kami mohon maaf, pak. Kami tidak bisa memberi tahu dengan detail. Ini adalah kebijakan perusahaan. Yang bisa saya infokan kalau kapalnya akan berlabuh di Labuan Bajo dan Lanjut ke Raja Ampat.”


Semakin geram Galang mendengar setiap jawaban dari operator itu. Seakan ada dinding yang tinggi menghalangi tujuannya. Apalagi mendengar kata berlabuh dan lanjut… Itu berarti Kasih akan berlayar 30 hari. Galang tidak bisa menunggu selama itu.


“Bisa saya bicara dengan direktur perusahaan?”


“Saya direkturnya sendiri, pak. Kami sangat mohon maaf bila tidak bisa membantu anda.”


“Siapa owner (pemilik) perusahaan Raja Phinisi?”


“Owner kami Pak Raymundus Raja.”


Galang segera menutup telponnya. Sangat kesal tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau.  


Raymundus Raja… namanya tidak asing, Galang mulai membuka google untuk mencari kontak nomor Raymundus Raja. Berusaha mencari tahu kontak nomor Raymundus Raja. Dia adalah orang yang kartu debitnya dicuri Amelia untuk membayar penginapan di villaku selama 3 minggu. Kenapa ini seperti kebetulan sekali…? Apa Kasih mengenal orang ini? Sejak kapan kalau mereka saling kenal? Statusnya masih single. SIAL! Bagaimana Kasih mendapatkan pekerjaan darinya? Tapi kalau menurut mama Sarah, Kasih diajak oleh temennya… Sekar untuk ambil part time.


Kepala Galang semakin berdenyut. Memikirkan teka-teki dan berbagai spekulasi yang ada di benaknya. Perasaan kuatir memikirkan keadaan Kasih, dicampur rasa cemburu yang mulai menggelora di dada, akibat dugaan yang mencuat membuatnya makin kesal. Terasa sesak memikirkan kalau Kasih berpaling darinya.


Mata semakin merah, raut muka semakin pucat. Membuat sopir taxi yang sesekali melirik Galang dari kaca sepion menjadi takut. Hanya keheningan dan ketegangan yang terasa di dalam taxi.


“Bisa kamu percepat lajunya?” suara garang mulai terdengar.


“Baik pak.”


Galang mulai mengirim pesan untuk Sam agar mencari tahu kontak nomor Raymundus Raja. Kontak nomor orang itu tidak bisa di lacak dari google.


Menunggu dan menunggu. Membuat Galang semakin gelisah. Apa aku susul pakai helikopter seaplane…? Hm… Huft… Tapi pasti akan menimbulkan kekacauan. Kapalnya pasti akan menjauh… Kasih pasti akan semakin kesal. Aku gak mau Kasih membenciku. Galang terus memutar otaknya untuk menyusul Kasih. Kepalanya semakin berat ditambah dugaan kalau Kasih memiliki hubungan dengan Raymundus Raja, pemilik perusahaan kapal Raja Phinisi. (Seaplane: helikopter yang bisa mendarat dan mengapung di laut)


 


Akhirnya telpon yang ditunggu tunggu Galang muncul juga.


Tilulit… Tilulit… Tilulit…


“Hallo Sam. Gimana?”


“Nomornya sudah dapat, pak. Saya coba telpon, tapi jaringannya sibuk terus. Saya coba kirim pesan juga belum terkirim.”


“Kamu bisa send contactnya ke saya. Juga… Cari tahu kapal Raja Phinisi yang dinaiki Kasih. Hubungi setiap kru kapal itu. Kalau bisa nakhodanya. Saya mau susul kapalnya.” Ucapan Galang itu membuat Sam pusing.


Si Bapak! Bikin susah gue terus... Dia pikir gampang apa nyari tahu itu semua! Maunya serba ekspres ck! Beli ATV sekarang… Ok! Beli kapal Yacht… Ok! Siapkan Private Jet… Ok! Tapi ngejar-ngejar kapal orang… Tidak seekspres yang loe bayangkan!  batin Sam sambil mengecek lewat laptonya.


“Siap, pak”


“Soon! 5 minutes more!” (Secepatnya! 5 menit lagi)


“Apa aku minta nomor Sekar ya ke Aan atau mama Sarah…” bisik Galang menatap layar handphonenya. Galang mulai mengetik pesan ke Aan, menacari tahu nomor Sekar. Tidak lama kemudian… Aan membalas Galang.


Aan


(Sekar lupa bawa hp. Nomor Kasih yang baru saya belom tahu. Mama juga gak tahu)


Lagi-lagi Galang mendengus dengan kesal. Serasa semakin tinggi dinding tembok pemisah dirinya dengan kasih.


Bersabar dan lebih bersabar… itulah yang hanya bisa Galang lakukan. Sudah 5 menit, Sam juga tidak memberi informasi. Semakin frustasi dengan keadaan yang ada. Rambut sudah acak-acakan. Raut muka sudah  kusut. Bisa dilihat jelas oleh sopir taxi dari kaca sepion.


Akhirnya setelah perjalanan kurang lebih 3 jam, Galang sampai di pelabuhan Semarang pada petang hari. Suasana pelabuhan itu masih cukup ramai. Banyak kapal-kapal besar disana.


Sam masih juga belum menghubungi.


Galang mulai berjalan memasuki pelabuhan itu. Banyaknya orang membuatnya bingung. Rasanya sangat lelah… Pagi tadi dari Singapore menyebrang ke Bintan. Berlanjut terbang ke Jogja. Sekarang sudah ada di pelabuhan Semarang, tidak tahu lagi arah yang harus dia ambil. Ke barat…? Ke timur…? Atau ke utara…?


Mulai menghela nafas dan mengusap mukanya. Memandangi lalu-lalang orang di sekitarnya. Ada seorang laki-laki yang mendekati Galang.


“Pak… kok ada disini?” tanya laki-laki itu. Galang memandangi orang yang ada di depannya itu. Wajahnya tidak asing.


“Kamu… driver kapal di mangrove kan?” Galang mulai mengajak orang itu untuk berjabat tangan.


“Iya pak… dulu pak Galang suruh saya buat ngerem mendadak waktu mangrove trip,” kata laki-laki tadi sambil menjabat tangan Galang.


“Siapa namamu, bang?” tanya Galang.


“Roy, panggil saya Roy saja, pak. Pak Galang nyari pacar bapak ya? Tadi pagi saya lihat dia. Saya tutupin muka saya. Pacar bapak kaya ingat muka saya. Rahasia ngerem mendadak dulu tetap aman,” kata Roy dengan senyum berseringai.


“Dia istri saya sekarang. Tapi lagi ngambek. Kabur berlayar. Bingung harus nyari kemana lagi,” kata Galang sambil mimijit pelipisnya.


“Istri…?”


“Iya. Kamu gak tahu ya beritanya sudah lumayan heboh di media.”


“Wah… maaf pak. Saya habis selesai berlayar. Gak sering update berita atau buka media sosial… Pak Galang mau nyususl istrinya?”


“Iya, tapi saya ngak tahu harus pergi kearah mana,” jawab Galang dengan pasrah. Roy, mulai berfikir. Muka orang yang sempat menjadi bosnya itu sangat kusut.


“Pak, mau saya antar…?” pertanyaan Roy itu membuat Galang tergugah.


“Kamu tahu gimana nyusul kapal itu?” Galang seperti mendapat pencerahan setelah banyaknya dinding yang menghalanginya.


“Iya pak, kemarin saya yang bawa kapal itu. Saya kerja dengan Raja Phinisi,” Galang mulai tersenyum mendengar jawaban Roy. Rasa lelahnya sedikit terbayar, meski perjalanan menyusul ke lautan lepas belum dimulai. Setidaknya ada yang bisa menuntunnya menyusuri lautan itu. “Mari pak ikut saya…”


Galang mulai mengikuti Roy. Berjalan di samping orang yang pernah dia bayar untuk mendapatkan ciuman pipi dari bibir Kasih.


“Sejak kapan kamu pindah kerja?” Galang mulai bersemangat menuju kapal untuk menyusul istrinya.


“Sekitar 3 atau 4 minggu yang lalu pak,” jawab Roy.


“Kenapa pindah?”


“Istri saya orang Semarang sini, pak.”


“Kalau kamu mau pindah kerja lagi sama saya, bilang ya… Telpon saya kapan saja kamu mau. Bilang gaji berapa saja kamu mau…”


“Siap pak!” Roy semakin bersemangat untuk mengantar Galang.


Kasih… tunggu aku disana. Jangan kabur lagi. Galang mulai memasuki kapal yacht yang berukuran sedikit besar.


 


*****


Enaknya jadi Roy


Bersambung…


*****