
Galang mulai duduk di tepi kasur dekat Kasih. Kasih merasa tidak nyaman. Dia ingin segera keluar dari kamar yang paling tidak dia sukai itu. Selalu terbayang kejadian Amelia meminta dibukakan baju untuk menaruh bedak gatal.
“Pak, saya permisi…” kata Kasih sambil menurunkan kakinya dari kasur.
“Kasih…” Galang memegang lutut Kasih agar tidak pergi. “Kamu istirahat disini aja, badan kamu masih belum sehat” Galang mencari akal agar Kasih tetap tinggal di villanya.
“Tapi pak… apa kata karyawan yang lain nanti kalau saya berlama-laman disini. Waktu saya sakit aja gak ada yang menjenguk gara-gara kena fitnah di tripadvisor. Cuma kak Jun” mata Kasih mulai sembab mengingat komentar pedas dari Miss Bee.
“Kan saya sudah membalas komentar itu kalau saya yang minta kamu datang ke villa saya” Galang mulai meraih tangan Kasih. Penglihatannya menangkap ada air mata Kasih yang hampir jatuh.
“Tapi…” Kasih menghirup nafas panjang sambil menahan air matanya. “Tapi sekarang sudah jadi trending topik pak…” Kasih mulai menyeka air matanya. “Mereka menscreenshot terus menyebarluaskan ke media sosial lain. Hastagnya… butler penggoda… butler murahan… Pokoknya yang jelek-jelek semua dengan foto saya meski itu sedikit blur. Pagi ini aja udah ada beberapa direct message ke Instagram mengatakan… hiksss” air mata semakin deras. Galang mengambil tissue yang ada di laci samping tempat tidur untuk mengusap pipi Kasih. “Mereka malah mengatakan saya menggoda bos pemilik hotel… Secara profil bapak ada di google. Mereka bilang saya terlalu bermimpi… menjadi wanitanya pak Galang. hiks… huaaa. Saya kan gak pernah ganjen sama bapak…!” Kasih menutup mukanya dengan tangan, malu sudah banyak berderai air mata.
Galang menjadi sedih melihat Kasih menangis. Merangkul Kasih agar mendekat untuk memeluknya. Kasih yang mendapat pelukan Galang semakin mengeras tangisannya sampai tersenggal-senggal.
“Siapa sih miss Bee itu…?! Menyebalkan… ngeselin…! Saya kena omel sama keluarga saya. Meski mereka percaya penjelasan saya… Tapi mama udah kena sindir, kena cibir sama tetangga! Huaaaaa” semakin sedih membayangkan mamanya kena sindiran tetangga.
Hal ini diluar prediksi Galang, kalau komentar itu bisa menjadi trending topik di media sosial.
“Iya… tenang… Nanti saya urus itu… Kamu jangan sedih lagi” Galang tidak bisa menahan untuk menciumi kepala Kasih yang ada di pelukannya. Rasa rindu dan kasian bercampur menjadi satu.
Kasih mulai menghindar Ketika Galang menciumi kepalanya.
“Pak… jangan gitu…” Kasih mendorong pelan tubuh Galang dan mengusap mukanya. “Saya lagi kesel ini! Jangan cium-cium gitu…” Mengusap kepala bekas ciuman Galang.
“Iya jangan nangis lagi…” Galang mengusap pipi Kasih dengan lembut. “Sebentar ya saya telpon Teo…” Galang berdiri dari Kasur dan mengambil handphone di saku celananya.
Tut… Tut… Tut… (Menanggil Teo)
“Pagi pak Galang” Teo masih dengan kas suara parau orang bangun tidur.
“Pagi. Teo, bisa kamu ke Jogja hari ini ke rumah orang tua Kasih?” tanya Galang.
“Hm… ya pak…” Teo hanya mengiyakan, masih setengah sadar mendengar permintaan Galang.
“Ok, nanti untuk detailnya saya akan kirim pesan ke kamu” kemudian Galang menutup telponnya. Sedangkan Teo berlanjut lagi dengan tidurnya yang dia rasa masih kurang.
Selesai menelpon Teo, Galang kembali duduk disamping Kasih. Meraih tangan Kasih.
“Kasih…” Dengan refleks cepat Kasih menarik tanggannya dari Galang.
“Jangan pegang-pegang pak. Saya lagi gak berusaha ganjen sama bapak” Kasih mulai berdiri dari kasur dan menjauhi Galang.
Duh… ini masih gak baik ni kondisinya. Suasana hati masih kesal. Atau mending nanti malam saja aku melamar dia. Pasti nanti sudah agak mendingan daripada sekarang. Galang membatin dengan memandangi raut wajah Kasih.
“Kasih, saya punya sesuatu untuk kamu” Galang berjalan menuju sofa. Ada tas belanja berisi gaun. Dia memberikan tas itu kepada Kasih. “Kasih… ini ada oleh-oleh dari mami”
Kasih menerima tas itu dan mengecek isinya.
Merentangkan kain itu dan melihat dress panjang berwarna putih.
“Iya… beli di Thailand” jawab Galang asal. Padahal gaun itu dibeli Galang di Batam setelah selesai meeting.
“Kok nama brandnya… Luna Habit By Luna Maya… merek Indonesia?” Kasih memandang Galang dengan heran.
Sial aku lupa ngecek… Habis cantik gaunnya, jadi aku langsung beli aja. Ukurannya terlihat pas di badan Kasih, kan waktu mengoles salep ke paha dia… aku sudah lihat semua. Dansa juga udah 2x ku pegang bagian belakangnya. Ku rasa pas dengan pinggang dia yang berisi itu, batin Galang.
“Em, iya mungkin mami belinya di Jogja tanya ukuran yang pas sama mama kamu” jawab Galang sambil ikut memegang gaun di tangan Kasih.
“Oo… Pasti pas ini kalau mama yang bantu milih” Kasih mulai tersenyum mengingat bagaimana kalau dia belanja baju bersama ibu Sarah. Kasih mulai menempelkan gaun itu ke badannya dan melihat dirinya di cermin kamar itu.
Baguslah kalau dia suka. Akhirnya bisa melihat lesung pipinya lagi. Cantik sekali. Huft… Sabar… sabar… Nanti malam saja sekalian. Galang membatin sambil menengok pintu kamar yang terbuka.
“Kasih… nanti malam boleh saya ajak kamu makan malam ke Kelong Restaurant?” tanya Galang dengan nada suara lembut. Berharap Kasih tidak menolaknya.
“Tapi pak…” Kasih berfikir untuk menolak. Takut banyak orang akan melihat, kalau dirinya pergi makan malam dengan Galang. Sudah bisa dipastikan mata karyawan hotel melihat.
“Saya mohon… ini permintaan Raka” Galang menghentikan ucapan Kasih. Jangan sampai Kasih menolak.
Kasih berfikir sejenak, melihat wajah bos di depannya itu.
Hari ini pak Galang tampak lembut. Perhatian banget sama aku. Dia sangat perhatian mengecek suhu badanku. Dia juga memelukku dan mau mendengar keluh kesahku. Baik banget dia hari ini. Dia juga minta mas Teo untuk ke Jogja langsung mengecek mama di rumah. Hm… Lagian juga permintaan Raka. Kasian kalau menolak permintaan anak kecil. Aku gak boleh egois, batin Kasih.
“Boleh aja pak kalau Raka yang minta. Kasian nanti kalau ditolak. Pasti nangis” ucap Kasih sembari tersenyum mengiyakan ajakan makan malam.
Yes! Untung aja aku bawa nama Raka. Anakku itu… bisa menaklukan perempuan ini, Galang membatin dengan senyum bahagianya.
“Ok kalau gitu” kata Galang sambil mengusap lengan Kasih. Kasih hanya melirik tangan Galang di lengannya.
“Pak, saya mending balik ke kamar saya ya… Em… mau telpon mama juga. Lagian nanti kita pergi ke Kelong Restaurant, make up saya juga ada di kamar…” Kasih berusaha mencari alasan agar diperbolehkan balik ke kamarnya. Merasa tidak nyaman kalau berduan satu villa dengan Galang. Apalagi tidak dalam kondisi bekerja.
“Good idea (ide bagus), saya antar ya…”
“Em… jangan jangan pak! Saya minta kak Jun aja biar jemput saya pakai buggy. Gak enak dilihat sama karyawan” Kasih tidak mau memperkeruh suasana resort.
“Ya udah… saya telpon Jun dulu” Galang harus mengiyakan keinginan Kasih. Yang terpenting ajakan makan malam di Kelong Restaurant tidak ditolak.
*****
Semangat pak Galang!
Segera laksanakan rencanamu…
Bersambung…
*****