
Siang itu Galang meninggalkan segala hiruk pikuk yang terjadi di resort. Kali ini dia memilih untuk pergi sendiri, tidak bersama Sam seperti biasanya. Galang menyuruh Sam untuk mengurus tuntutannya kepada Amelia tentang pencemaran nama baik Kasih dan penyalahgunaan media sosial (ITE). 2 tuntutan itu juga akan ditujukan ke Tania sebagai kaki tangan Amelia. Lebih baik menyerahkan ke pihak hukum. Tidak mau membuat kegaduhan lagi karena banyaknya isu sebelumnya belum reda.
Di dalam jet pribadi dengan fasilitas mewah, tidak membuat Galang merasa nyaman. Pikirannya terus tertuju ke Kasih dan Kasih. Bagaimana mungkin kamu menyuruhku untuk bahagia dengan Amelia…? Berjauhan dengan mu seperti ini saja sudah menyiksaku. Sedang apa kamu di Jogja Kasih? Aku lihat banyak tepuk tangan saat kamu selesai bernyanyi. Apa orang-orang di kota mu akan menerimaku? Kenapa kamu susah sekali dihubungi? Kenapa harus kamu lepas cincin ini Kasih? Aku gak bisa melihat kamu dengan pria lain… Galang meremas-remas gelas whiskynya.
Sepanjang perjalanan di dalam pesawat itu, Galang memutar 2 lagu yang istrinya nyanyikan. Galang menumpahkan seluruh airmata yang lama tidak pernah mengalir sejak bercerai. Mengingat betapa kejam dirinya memperlakukan Kasih, istrinya itu dengan kasar. Sering menuduh Kasih menyukai pria lain. Padahal itu hanyalah rasa trauma dari dalam dirinya atas perbuatan Amelia. Tapi dia justru menyakiti Kasih berkali-kali. Malam pertama yang seharusnya dia berikan dengan penuh kasih sayang justru berakhir tangisan dan jeritan istrinya. Tapi Kasih tetap menuruti keinginannya. Berusaha melayaninya sebagai istri… Memberi perhatian untuk Raka yang bukan anak kandungnya. Tapi tuduhan negative justru dia kobarkan di depan banyak orang.
Gelas whisky yang dia genggam itu sampai pecah dalam genggamannya. Menyesali setiap perbuatannya yang membuat Kasih menangis. Meremas remas rambutnya dengan tangan yang berlumuran sedikit darah.
Galang mulai mempersiapkan dirinya untuk turun dari pesawat. Kacamata dan topi dia kenakan untuk menutupi wajahnya bila ada orang yang mengenalnya. Memesan taxi dan segera menuju rumah Kasih.
Rangkaian kata untuk menjemput Kasih agar mau kembali ke sisinya dipersiapkan Galang. Galang juga membeli satu buket bunga mawar putih yang sempat Kasih ucapkan di pernikahan, kalau Kasih menyukai bunga itu.
“Pak, sudah sampai… Sarah Spa & Beauty… Sampingnya Aan Coffee Shop,” kata sopir taxi.
Ini adalah pertama kalinya Galang akan menginjakan kaki ke rumah mertuanya.
Rumahnya tidak besar, tapi cukup teduh dengan banyaknya tanaman di halaman depan. Galang mulai turun dari taxi.
Ada rasa canggung karena harus menemui mertunya pada kondisi yang tidak baik ini. Sudah bisa diprediksi, kalau tidak didiamkan pasti makian yang akan diterima Galang. Tapi bagaimanapun Galang bersungguh-sungguh ingin menemui Kasih. Ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Baru akan menginjakan ke halaman rumah, Aan muncul dari belakang.
“Kamu ngapain kesini?” bahasa kalimat Aan tidak bersahabat. Ketus dengan tatapan tidak suka bisa dilihat Galang dari sorot mata Aan.
“Aan, apa kabar?” mencoba basa-basi.
“Kalau mau ngasih surat cerai ke saya aja. Biar saya urus.”
Bagai disambar petir di siang hari mendengar kalimat Aan. Kata cerai itu sangat ditakuti Galang. Berjauhanan dengan Kasih saja sudah membuat hatinya porak poranda.
“Aan, saya tidak akan menceraikan Kasih. Kedatangan saya kemari ingin menjemput Kasih,” Galang berusaha meredam emosinya.
“Buat apa dijemput segala? Mau pamer hubungan mu sama mantan istri?” Lagi-lagi kalimat Aan ini membuat Galang tidak suka.
“Saya bisa jelaskan kalau isu yang beredar itu tidak benar…”
Galang mulai menjelaskan awal kejadian video berdurasi 2 menit itu. Termasuk unggahan tripadvisor yang dulu sempat memanas. Menjelaskan sedetail-detailnya. Galang juga menjelaskan kondisi Raka yang saat itu mendadak sakit. Sehingga waktu beredarnya isu CLBK, Galang tidak bisa langsung menemui Kasih karena harus menunggu Raka di rumah sakit Singapore. Selain itu Kasih juga tidak bisa dihubungi. Semuanya seakan buntu waktu itu.
“Kamu harus tuntut seberat-beratnya dengan banyak pasal. Saya gak terima adik saya diolok-olok banyak orang!”
“Pasti, An. Jangan kuatir, semuanya sedang diproses.”
Ternyata ucapan Aan dan Galang itu didengar oleh bu Sarah. Ibu Sarah tidak tahu harus mempercayai menantunya itu atau tidak. Mengingat hati anaknya terluka membuat ibu Sarah geram. Ibu Sarah mendekati Galang dan Aan.
“Bu, apa kabar?” tanya Galang setelah melihat ibu Sarah berjalan mendekatinya.
“Baik..” jawab ibu Sarah singkat. “Kamu ngapain kesini bawa koper?” tanya ibu Sarah melirik koper Galang.
“Saya tahu pasti Kasih akan sulit dijemput. Jadi saya pikir… lebih baik menunggu Kasih sampai Kasih mau balik ke Bintan,” jawab Galang membujuk ibu Sarah agar tahu keinginannya akan membawa Kasih kembali padanya. “Bu… saya minta maaf…” Ini adalah kata-kata yang jarang Galang ucapkan. Galang terus berusaha mengambil hati mertuanya itu.
Ibu Sarah terdiam beberapa saat. “Kasihnya gak ada disini. Diajak pergi sama temennya,” jawab bu Sarah.
“Tadi pagi mama gak sengaja ketemu Sekar sama adekmu di pasar. Kasih pamit buat berlayar,” jawab bu Sarah.
“Maksudnya ma? Berlayar gimana?” tanya Galang.
“Ya Sekar ngajak Kasih kerja part time di kapal phinisi. Itung-itung cari biaya pengacara buat cerai, gitu kata Kasih,” ucapan bu Sarah itu membuat Galang bergetar. “Kamu sebenarnya sayang gak sama anak saya...? Cinta gak kamu sama Kasih?!” Ucapan ibu Sarah yang terus menghujam itu membuat Galang semakin merindukan istrinya. Dia mengangguk angguk mengiyakan ucapan ibu Sarah. Matanya sudah merah menahan air mata. Ibu Sarah melihat kesungguhan itu dari Galang. “Kasih diajak Sekar lewat pelabuhan Semarang. Tripnya katanya 15 hari… Kalau dapet tamu lagi dari Labuan Bajo bakal tambah 15 hari lagi.”
Glek! Nafas dan aliran darahnya terasa berhenti beberapa saat.
Bagaimana bisa aku nunggu 30 hari… Satu jam saja sudah membuatku gila. Galang mulai meremas remas tangannya.
“Nama kapalnya apa, ma? Saya akan susul Kasih.”
“Namanya… apa ya tadi dia bilang… Em… Raja Phinisi,” jawab ibu Sarah. “Tapi itu lautan loh. Kamu tunggu aja… Kasih juga masih marah sama kamu. Daripada makin berantem ntar.”
“Saya akan susul Kasih, ma. Saya takut terjadi apa-apa sama Kasih,” Galang semakin panik.
“Ya wes… kamu hati-hati. Mama doakan yang terbaik,” kata ibu Sarah mulai tersenyum kepada Galang.
Galang segera mencari taxi. Ada sedikit kelegaan setelah berbicara kepada ibu mertunya. Setidaknya Galang mendapat restu untuk memboyong istrinya kembali bersamanya.
“Pak, mau kemana?” tanya sopir taxi kepada Galang setelah masuk kedalam taxi.
“Pelabuhan Semarang,” jawaban Galang itu membuat sopir taxi melirik ke kaca sepion.
Iki Jogja hlo… du du Semarang. Apes… etuk penumpang ra waras, batin sopir taxi.
(Ini Jogja hlo… bukan Semarang. Apes… dapat penumpang gak normal)
“Cari taxi yang lain aja pak. Jauh banget. Nanti belum baliknya lagi… Habis bensin banyak,” menolak Galang agar keluar dari taxinya.
“Saya bayar berapapun itu. Jalan aja,” masih tidak mau berunding. Yang ada di dalam otak Galang adalah Kasih Kasih dan Kasih. Terpaksa sopir taxi itu menuruti kemauan penumpang gilanya.
*****
Wah mbak Sekar… hebat betul bawa kaburnya ke laut…
Selamat berpusing ria pak Galang…
Lautan lepas menunggu kehadiran anda…
Bersambung…
*****