
Pak Joe dan Teo yang melihat berita terupdate dari whatsapp mulai bersahutan mengirim pesan. ‘Kenapa?’, ‘Gila dia?’, ‘Marah lagi?’, dan seperti itulah dengan banyak emotikon bom berhamburan.
Sedangkan Kris yang ada di lokasi segera menuju ruang kerja Galang dalam 5 detik setelah membuka pesan whatsapp.
TOK TOK TOK (Kris mengetuk pintu)
“Masuk!”
Kris mulai masuk ke ruang kerja Galang. Dilihatnya lantai sudah berserakan tak karuan. Kris hanya mengangguk sekali melihat Sam. Sam sudah mengerti kode itu kalau dia boleh meninggalkan ruangan… Galang semakin emosi Ketika melihat Kris. Karena Kris juga ada di lokasi paralayang.
“Pak… I do apologize (saya minta maaf). Saya akan bertanggung jawab untuk kekacauan ini”
Dann… sekali lagi Galang melempar piala penghargaan paralayang yang pernah dia dapat.
PYARRR!
Kris hanya bisa melirik benda itu pecah di depannya. Untung saja saya tidak memakai rok, batin Kris.
“Bertanggung jawab apa? Ha?! Bisa kamu suruh dia take down video itu…? TIDAK KAN…?!” Galang mendengus dengan kesal. Kris tidak menjawab pertanyaan itu. Masih berdiri tegap mendengar omelan Galang.
Galang berusaha berfikir jernih. Beberapa saat dia terdiam sambil menatap mata Kris dengan tajam. Tidak mungkin dia menghajar Jack secara terang-terangan. Kalau sampai itu terjadi… Caca pasti komplain dan masalah semakin besar.
“Saya mau kamu atur, acara vlog dia besok… jangan sampai dia menyentuh Kasih seperti itu lagi. Paham?!”
“Baik pak” jawab Kris sambil membungkukan badannya.
Galang mengambil master key card Luxus (kartu kunci untuk membuka semua pintu di hotel) dan berlalu ingin keluar dari ruang kerjanya. Tapi Kris menghentikan Langkah Galang.
“Pak…” kata Kris membuat Galang menoleh kearah Kris. “Coba ganti tidak memakai kekerasan dengannya” Galang berlalu meninggalkan ruangan setelah mendengar ucapan Kris.
Galang mengusap muka dengan kasar, masih penuh emosi. Dia menuju buggynya, mengendari dengan kencang tanpa menoleh villa Caca yang dilewatinya. Disitu masih ada Caca, Sam dan Jack yang berlanjut dengan acara api unggun.
Sam memperhatikan buggy Galang yang melewati villa dengan kencang. Hmm… mau kemana dia? Macam area sirkuit aja… batin Sam.
Dalam perjalanan menuju kamar Kasih, Galang terus kepikiran dengan ucapan Kris. Ingin sekali rasanya Galang meluapkan emosi kepada orang yang bersangkutan di video. Tapi seakan ada banyak penghalang.
Setelah sampai di depan kamar Kasih dia memijit kepalanya. Emosi semakin meluap-luap. Menghantam tembok yang ada disampingnya, sampai ada luka yang mengalir.
Mau ku apakan anak ini… huft… Galang mendengus dengan kesal.
Kasih yang tengah ada di kamar mandi sedang berbicara dengan mamanya lewat telpon menggunakan loudspeaker. Galang mulai membuka kamar Kasih menggunakan master key nya. Ada gemericik air yang yang Galang dengar dari kamar mandi. Berfikir kalau Kasih sedang berendam.
“Iya ma… terus sekarang mama punya berapa karyawan?” Galang mendengar suara Kasih.
“Mama tambah 2 lagi. Banyak teman ibu Lily ambil paket member buat pijat... Ya mama gak mau kualahan. Itung-itung berbagi rejeki rekrut orang baru... Ibu Lily juga bawa banyak kenalan orang kraton Solo sama Jogja buat mampir di coffee shop mas mu Aan. Makin rame disini” suara ibu Sarah terdengar jelas oleh Galang yang berdiri di depan kamar mandi.
“Iya… jangan capek-capek ya ma…” Kasih yang ada di dalam kamar mandi, sibuk memakai skin care untuk malam hari.
“Kata ibu Lily… kaki mu sakit ya dek?” tanya ibu Sarah. Kasih berfikir sejenak…, sebenarnya siapa sih mata-mata ibu bosnya itu?
“iya… Cuma dikit kok ma”
“Kok bisa?” Ibu Sarah ingin mengetahui penyebabnya.
“Itu ma… ketendang kaki meja. Gak liat aku pas malam malam… hihii” Kasih berusaha menutupi alasan sebenarnya. Berfikir kalau ibunya tidak tahu cerita yang lengkap dari madam Lily. Atau mungkin madam Lily juga tidak tahu penyebanya… Jadilah Kasih harus menutupi penyebab yang sebenarnya. Tidak mau mamanya kuatir.
Pembicaraan yang Galang dengar itu membuat dirinya seperti ditampar tampar. Bagaimana bisa… perempuan yang sering dia bentak dan sudah 2x terkena pecahan kaca atau cangkir dari tangannya, bisa menutupi perbuatan yang sudah dia lakukan. Galang merasa, seperti akan sangat egois kalau dia meluapkan kemarahanya ke Kasih.
“Makanya… hati-hati kalau jalan dek”
“Iya ma. Eh, udah dulu ya… Lanjut besok lagi ma. Salam buat madam Lily disana” kata Kasih sambil menutup botol skin care.
“Iya… selamat bobok ya. Jangan lupa kunci pintunya dek”
“iya ma, selamat malam… besok lagi ya telpon” Kasih dan ibu Sarah menutup telponnya.
Kasih masih mondar-mandir sebentar di dalam kamar mandi merapikan skin care yang dia taruh di depan kaca. Sempat bersiul nada lagu Armada ‘Mau Dibawa Kemana Hubungan Kita’. Kasih berlanjut bersiul dan membuka pintu kamar mandi.
Betapa kagetnya saat yang pertama kali dia lihat adalah sepatu laki laki dengan celana hitam. Dia sampai tidak berani mendongak. Memejamkan matanya dan berdiri gemetaran, takut kalau itu orang jahat atau hal-hal aneh lainnya. Kasih semakin panik saat lengannya dipegang.
“HWUAAAA…! JANGAN GANGGU… JANGAN GANGGU!” berteriak meronta-ronta dengan mata terpejam sambil menendang memakai lutut. “PERGI… PERGI KAMU JAUH JAUH!” terus memukul muka orang didepannya.
“Kasih…” Suara Galang menyadarkan Kasih. Dia mulai menghentikan aksinya mencakar-cakar.
Pelan-pelan Kasih membuka mata dan mengatur pernafasannya karena kaget. Merasa sedikit lega kalau itu adalah manusia.
Melihat ekspresi wajah Kasih yang ketakutan membuat emosi kemarahan Galang sirna. Dia tersenyum kecil mengingat kejadian barusan.
“Kamu gak pa pa?” tanya Galang membuat kesadaran Kasih kembali penuh.
“Bapak ngapain disini? Kok bisa buka kamar saya…?” tanya Kasih dengan nada kesal.
“Saya… saya cuma mau menjenguk kamu” Galang bingung menjawab pertanyaan Kasih.
“Kebetulan tadi ada housekeeping lewat. Saya minta mereka membuka kamar kamu…” Galang mencari alasan yang tepat agar Kasih tidak curiga dan marah karena telah masuk kamar tanpa permisi.
“Tapi kan ga bisa gitu pak… Kalau saya lagi telanjang gimana… hmm…” rasa kaget dan kesal bercampur menjadi satu dan meluap.
Baguslah kalau gitu… tidak susah susah saya membukanya, batin Galang mengikuti Kasih yang berjalan menuju jendela di kamar.
“Kasih… bisa saya lihat kaki kamu?” tanya Galang mendekati Kasih.
Kenapa sih harus masuk ke kamarku… Ini namanya sudah mengganggu privacy, batin Kasih menatap Galang yang ada di depanya.
“Sudah sembuh lukanya, pak. Gak usah di cek” jawab Kasih sambil melangkah ke belakang.
“Tapi saya mau pastikan. Saya mau cek” Galang melangkah mendekati Kasih lagi.
Ya Tuhan… kenapa sih ada orang macam gini. Kalau punya kemauan harus terpenuhi. Percuma saja menghindar. Semalam aku bilang gak usah… sekarang juga gak usah… tapi tetap mau nengok kakiku. Ini udah baikan loh… Apalagi sih yang mau dicek… batin Kasih.
“Ya udah... duduk di sofa sini, pak” Kasih mengajak Galang untuk duduk di sofa kecil di kamarnya.
Kasih meluruskan kakinya agar Galang bisa melihat. Luka di kaki kanan itu tidak langsung dilihatnya. Galang mengecek bagian lain yang mungkin terkena luka.
“Pak…” Kasih melihat Galang membolak balikan kedua kakinya. Heran dengan sikap bosnya itu.
“Hm…” Galang masih sibuk melakukan pengecekan.
“Yang luka yang ini. Bapak cari apa?” Kasih membungkukan badannya menunjuk kaki kanan yang terluka
“Iya… saya mau memastikan bagian yang lain juga” Galang sibuk meneliti dengan detail.
Pengecekan masih belanjut sampai 3menit. Kasih sudah bosan melihat tingkah aneh Galang.
“Huft… Mas… mas Galang…” panggilan itu seperti suara surga untuk Galang. Dia berhenti mengecek kaki dan mendongakkan pandangannya ke Kasih.
Ini adalah pertama kalinya dia mendengar Kasih memanggilnya dengan sebutan ‘mas’. Rasanya sudah ingin terbang melayang.
“Iya…” ucap Galang.
Orang ini sangat aneh… Seperti banyak tekanan… depresi… Apa kaya gini ya kalau ditinggal anak pergi? Seperti ling lung (kebingungan), batin Kasih menatap mata Galang.
“Raka apa kabar?” Galang mulai sedih mengingat Raka tidak ada di villa. Seandainya kalau diambil paksa pasti terjadi perang dengan orang tua Amelia juga.
“Masih sama mamanya. Dia lagi liburan sama oma opa nya di Thailand” jawab Galang sambil kembali ke sofa untuk duduk.
“Pak Galang mau teh?” tanya Kasih ingin memberi sajian agar Galang merasa lebih baik perasaannya.
“Kok pak lagi manggilnya? Ini kan bukan jam kerja…”
Hadeehh… mulai deh… Baru juga dibaikin. Udah back to normal lagi dia, batin Kasih. (Kembali normal)
“Iya…” Kasih tersenyum tipis.
Dia mulai berdiri menuju heater. (pemanas air)
Galang memperhatikan Kasih yang tengah sibuk membuatkan teh. Tersenyum memandangi perempuan yang tadinya ingin dia marahi. Tapi ternyata suasana saat ini malah menghangat. Emosi sudah mulai menurun. Meskipun sempat kesal terkena cakar dan tendangan pada bagian perutnya oleh Kasih. Tapi itu justru lucu menurutnya.
Sampai segitunya kamu mengira saya hantu, Galang tidak bisa menahan senyumnya memandangi Kasih.
*****
Hadeh… jangan modus ya pak Galang
Bersambung…
*****