My Butler

My Butler
Wedding Day



Pagi yang cerah dengan langit biru akan menjadi salah satu saksi acara pernikahan Galang dan Kasih. Galang memilih konsep outdoor garden party di dekat pantai. Hamparan rumput hijau yang lebat akan menjadi jejak pertama untuk Galang dan Kasih menapaki perjalan awal pernikahan mereka.


Dekorasi pelaminan dengan konsep classic berwarnah putih, sangat cantik dipenuhi mawar putih. Hari ini Kasih sangat cantik dengan gaun yang dia harapkan. Gaun dengan lace berbahan brokat yang mengikat hingga leher sangat cantik dan elegant dipakai Kasih. Galang juga sangat tampan mengenakan jas tuxedo putih.


Team wedding organizer hotel merasa lega setelah memberikan hasil kerja terbaik mereka. Hanya dalam 2 hari harus mempersiapkan rentetan acara pernikahan dengan jumlah tamu undangan 2000 orang. Ini tidaklah mudah, mereka harus bertarung dengan cuaca alam yang sering berubah. Tapi untungnya hari itu cuaca cukup mendukung.


Kini Galang dan Kasih sudah sah mencari suami istri. Mereka sangat tampan dan cantik berdiri di pelaminan. Menerima ucapan selamat dari semua tamu undangan. Termasuk karyawan Luxus Bintan.


Departemen tempat Kasih bekerja sangat bangga dengan Kasih. Setelah meneriman banyak ejekan dan hujatan tentang kinerja yang tidak baik, akhirnya hal itu bisa dibungkam dengan pernikahan Kasih dan Galang. Para karyawan departemen butler sangat bangga dengan Kasih. Kasih yang sebelumnya di cap penggoda bos, kini sudah sah menjadi istri bos. Para karyawan perempuan dari departemen lain berlomba untuk menjadi butler. Mereka sedang antre di depan HRD mengajukan perpindahan departemen.


Kegaduhan dan keramaian tidak terjadi di depan HRD saja. Banyak reporter majalah bisnis yang meliput acara pernikahan Galang dan Kasih. Galang cukup terkenal dengan nama besarnya sebagai Owner salah satu Brand Hotel & Resort dengan banyak cabang di dalam maupun luar negeri, menjadi sorotan majalah bisnis.


Pesta pernikahan masih berlanjut sampai siang. Raka sangat manja dengan Kasih siang itu. Mereka menikmati hidangan yang di sediakan. Raka sangat suka dengan donat dan marshmellow yang diolesi coklat fountain. Kasih harus membantu Raka untuk mengambil coklat fountain yang ada di meja.


“Ma… coklatnya kurang banyak ma…! Ambil lagi buat Raka!” Raka masih seperti biasa suka meminta dengan paksa.


“Ntar kalau kebanyakan makan coklat ga baik buat gigi dek…”


“No mama. Hari ini aja boleh…?” masih dengan gayanya menawar seperti papanya.


“Ya udah bentar ya dek…”


Kasih mulai mengambil mangkuk kecil dan mengambil coklat kental yang lumer dari mesin fountain. Raka sangat bersemangat mengambil mangkuk isi coklatnya dari Kasih. Saat akan memberikan ke Raka, mangkuk itu jatuh tumpah ke gaun Kasih bagian bawah.


“Ma… maaf…  HUAAAA baju mama kotor… Jangan marah ma…” Raka berteriak menangis histeris.


“Eh, kok nangis sih” Kasih mulai meletakan mangkuk tadi ke meja. Mulai menggendong Raka yang tangisannya sudah histeris.


“Cup cup cup… Mama ga marah kok sayang. Mana mungkin mama marah” Kasih menghapus air mata di pipi Raka. “Jangan nangis lagi ya…” Kasih mengelus elus punggung Raka. Tangisan anak itu masih sesenggukan.


Ibu Sarah dan Jun yang ada di dekat Kasih berjalan cepat menghampir Raka dan Kasih.


“Kenapa Rakanya kok nangis? Kamu apakan dek?” tanya ibu Sarah.


“Ini ma… takut aku marahi, jatohin coklat…” jawab Kasih yang kemudian mencium Raka. “Mama Kasih kan ga suka marah sama Raka… Mana mungkin mama marah” Kasih mulai mentoel pipi Raka. “Raka, mama ganti baju dulu boleh? Biar tante Jun yang gendong Raka. Tapi jangan nangis lagi ya…” Kasih membujuk Raka agar mau digendong Jun.


“Iya… sini sayang. Sama tante” Jun mulai menggambil Raka dari Kasih. “Aduh aduh… dah gede ni mah. Beratnya…” Jun menggoda Raka. Yang di goda mulai tersenyum. Karena Raka suka dibilang sudah gede.


“Iya tante… Raka emang dah gede. Mau 6 tahun kata papa” sahut Raka. Sudah mulai tenang tidak menangis.


“Mama pergi dulu ya sayang” Kasih mulai beranjak pergi.


Kasih berpamitan ke Galang kalau akan mengganti gaunnya. Coklat yang tumpah cukup banyak, Galang harus mengizinkan Kasih mengganti gaun biasa.


Galang berjalan mendekati Raka saat digendong Jun. Galang yang hampir dekat dengan keberadaan Jun dan mertua barunya, sangat kaget dengan ucapan Jun.


“Ihh… ibuk… betulan itu ceritanya. Kasih yang cerita ke saya langsung. Dia bilang pak Kris itu baik… gak galak kaya pak Galang. Ya saya mikirnya Kasih naksir pak Kris… eh tahunya nikah sama pak Galang hehee” kata Jun.


“Ow gitu ya… Orangnya yang mana Kris itu? Saya jadi penasaran. Pantas waktu itu Kasih melamun. Atau Kasih masih mikir Kris ya?” Bu Sarah mulai penasaran dengan wajah Kris.


“Nah itu dia buk! Yang punya tato di tangan kiri itu…!” Jun menunjuk Kris dari kejauhan.


Banyaknya tamu yang berlalu-lalang membuat Jun dan Ibu Sarah tidak mengetahui kalau Galang sudah ada di samping mereka. Galang sudah meradang. Sangat geram dan tidak terima jika Kasih pernah menaruh perasaan ke Kris. Muka merah mendidih dengan tangan mengepal mulai melirik Kris yang berdiri disamping Caca.


Galang ingin meluapkan kemarahannya tapi banyaknya tamu membuat Galang tidak bisa melakukannya sekarang. Tatapan tidak sukanya, Galang tunjukan ke Kris mulai dari siang itu.


_____


 


Kasih saat ini tengah sibuk memilih baju di kamarnya. Kasih tidak memiliki banyak gaun di lemarinya. Gaun warna putih yang pernah dibelikan Galang adalah gaun terbaik yang dia miliki. Meskipun sedikit sexy, Kasih berfikir itu tidak akan jadi masalah. Toh itu adalah pemberian suaminya. Pasti tidak akan menjadi masalah kalau dia memakainya.


Kasih sudah selesai mengganti bajunya. Bersiap untuk balik ke tempat pesata pernikahannya. Ternyata di depan kamar kasih ada Amelia yang berdiri menunggunya.


“Kasih, boleh saya bicara sebentar?” tanya Amelia dengan nada lembut.


Dilihatnya Amelia bersikap sopan dan baik. Kasih mempersilahkan Amelia untuk masuk ke kamar. Mereka mulai duduk di sofa kamar. Kasih selalu merasa tidak nyaman bila berada di dekat Amelia. Seperti memilki saingan terberatnya. Secara Amelia dan Raka adalah ibu dan Anak kandung. Dan Kasih hanya ibu sambung. Ditambah Amelia selalu mengejar-ngejar Galang. Membuat Kasih harus selalu waspada.


“Congratulation for your wedding” ucap Amelia penuh senyuman. (Selamat untuk pernikahanmu)


“Thank you” jawab Kasih tidak mau basa-basi.


“Kasih, saya mau titip Raka ke kamu” ucap Amelia, kasih hanya melirik sebentar kearah Amelia.. “Kamu tahu… pernikahanmu ini sangat diharapkan oleh semua karyawan Luxus…”


“Maksud anda mau bicara apa?” kasih tidak paham jalan bicara Amelia. Tidak suka berbelit-belit.


“Saya tahu pernikahan mu ini terkesan buru-buru. Ya… you know… mas Galang punya banyak bisnis dimana-mana. Mas Galang sangat menjaga nama baik perusahaan. Ada banyak karyawan yang harus digaji. Jadi mas Galang terpaksa menikahi mu untuk menjaga stabilitas perusahaan karena unggahan foto dan komentar di tripadvisor” Amelia mengarang panjang kali lebar meyakinkan Kasih.


“Oh… Terserah saya ga percaya itu semua”


Sial! Perempuan ni ga mudah di provokasi! Hm… aku harus cari cara lain! Batin Amelia.


Kasih tidak suka dengan cerita Amelia. Berharap itu hanya karangan semata. Kasih memilih meninggalkan Amelia di kamarnya. Kalau dituruti pembicaraan Amelia akan semakin melebar kemana-mana.


Daripada aku mikir negatif tentang mas Galang, mending aku tinggal dia aja, Kasih berlalu menuju tempat garden party pernikahannya.


 


*****


Kasih… Hati-hati…


Mas Galang lagi meradang


Bersambung…


*****