My Butler

My Butler
Parade Seret Seretan



Kasih berjalan mencari Galang. Ingin memastikan ke Galang tentang ucapan Amelia. Berharap perkatan yang dia dengar kalau pernikahannya hanyalah politik bisnis itu tidak benar.


Standing party itu semakin ramai dengan adanya pertunjukan musik. Banyaknya tamu undangan membuat Kasih kesulitan mencari Galang. Tapi pada akhirnya Kasih menemukan laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu sedang minum whisky bersama Sam.


“Mas Galang…” Sapa Kasih dengan senyuman ramahnya untuk Sam yang berada di samping Galang.


“Selamat nyonya Kasih… Happy wedding,” Sam mengulurkan tangannya ke Kasih untuk berjabat tangan. Kasih pun menyambut tangan Sam.


“Thank you mas Sam… Jangan panggil nyonya… Kasih aja. Jadi malu hihiii”


Galang tidak suka melihat adegan jabat tangan itu. Galang meletakan gelas yang berisi whisky ke meja dengan kasar. KRAKG! Mata Sam langsung melirik gelas itu. Sam segera menarik tangannya dari Kasih.


“Sam, saya punya policy baru. Ck!” Galang mendengus dengan Kesal. Kasih masih belum sadar kalau suasana hati Galang sedang memburuk. (Aturan)


“Aturan apa pak?” tanya Sam penuh serius menatap Galang.


“Jangan pernah ada kontak fisik dengan istri saya” Kata Galang yang kemudian meneguk dan menghabiskan whiskynya sekali tegukan.


Sam mulai menelan ludahnya melihat Galang menghabiskan whisky dengan cepat. Buset… Ga kebakar tu kerongkongan? Huh… Kenapa lagi ni pak bos? Dah nikah pun pake jealous jealous segala, batin Sam.


“Apa sih mas… Cuma jabat tangan doang pun…” kata Kasih sambil mengelus lengan Galang. Kasih masih belum sadar kalau emosi Galang sudah di puncak.


“Baik pak” Sam tetap menaruh hormat kepada Galang.


Galang mulai menarik tangan istrinya itu. Pergi meninggalkan Sam. Kasih hanya mengikuti kemauan Galang. Sesekali Kasih melambaikan tangan kepada rekan kerjanya yang memberi ucapan selamat menikah. Ingin sekali Kasih menghampiri setiap teman dan kerabatnya untuk mengucapkan terimakasih atas kehadiran mereka. Tapi tangan Galang terus menariknya dan berjalan cepat.


“Mas… pelan-pelan dong” Kasih tidak nyaman karena harus mengikuti langkah lebar suaminya.


Galang tidak mempedulikan ucapan Kasih. Dia terus menerjang kerumunan tamu. Tidak mempedulikan para tamu yang memanggil namanya. Karena disini, posisi Galang lah yang paling tertinggi. Dia bebas mau bersikap seperti apapun dia suka.


Akhirnya Galang menemukan keberadaan ibu Sarah, Raka dan Jun yang dia cari.


“Ma…” ucap Galang.


Ibu Sarah yang sedang menikmati live musik, segera menoleh kearah Galang.


“Ya nak Galang?” ibu Sarah menoleh kearah Kasih juga.


“Saya titip Raka. Hari ini biar Raka tidur sama mama” kata Galang.


Ibu Sarah mulai menutup mulutnya dan mengrenyitkan mata. Menoleh kearah Kasih dan Jun. Dia ingin tertawa mendengar permintaan Galang. Jun pun ikut menahan senyumannya.


“Iya… sana… biar Raka sama mama” ucap ibu Sarah melirik ke Kasih.


Mantu ku ini emang grecep, gerak cepat. Padahal masih sore… batin ibu Sarah.


Galang mulai meninggalkan ibu Sarah dan Jun yang masih menggendong Raka. Menarik tangan Kasih agar mengikutinya. Dia melangkah lebih cepat. Kasih semakin tidak nyaman dengan sikap Galang.


Di kerumunan pesta berdiri itu, Galang melintas melewati Caca dan Kris yang sedang asyik ngobrol. Caca segera menghentikan langkah kakaknya itu.


“Mas Galang! Mas…” Caca berjalan mendekati Galang. Kris ikut menemani Caca.


“Apa?” tanya Galang sambil melirik Kris dengan tatapan tidak suka.


“Selamat ya buat Kalian…” Caca mulai memeluk kakaknya dan Kasih.


“Iya… makasih Ca” kata Kasih dengan memeluk balik adik iparnya itu.


“Selamat pak… Kasih…” Kris membungkuk memberi ucapan. Merasakan ada yang ganjal dengan sikap Galang.


“Terimakasih pak Kris” kata Kasih sembari tersenyum.


Galang semakin tidak suka saat melihat Kris menatap Kasih. Meskipun itu hanya tatapan untuk memberikan ucapan selamat atas pernikahan mereka.


Galang segera menarik tangan Kasih kembali meninggalkan Caca dan Kris. “Eh eh… Aku pergi dulu Ca…” kata Kasih pasrah tangannya ditarik oleh suaminya.


Kasih merasa sangat tidak nyaman dengan perubahan sikap Galang. Merasa seperti diseret mengikuti Galang. Setelah mereka di tempat yang cukup sepi, Kasih berusaha melepaskan tangannya dari Galang.


“Mas! Mas Galang kenapa sih?” tanya Kasih menghentikan langkahnya. Galang mulai mendengus kesal.


“Ck! Kamu yang kenapa! Kenapa pake baju ini? Ha?! Mau diliatin ke siapa?! Ke KRIS?! Sam? Atau Teo?!” Galang membentak Kasih dengan kencang.


Mendengar bentakan Galang membuat nyali Kasih ciut. Bola mata Kasih melirik ke kanan dan kekiri memperhatikan sekelilingnya. Kasih mulai menundukan kepala. Sangat malu bila ada tamu undangan atau tamu hotel yang mendengar ucapan Galang. Seperti dituduh berselingkuh. Padahal hanya memakai baju pembelian suaminya sendiri.


“Mas…”


“Jangan pakai baju ini di tempat umum!” Bentak Galang membuat Kasih semakin takut dan malu. Ada beberapa mata memperhatikan mereka. Kasih hanya bisa menunduk menyembunyikan wajah dengan rambut panjangnya.


Galang mulai menarik tangan Kasih menuju buggy. Menyeret perempuan yang sudah menjadi istrinya itu. Kasih berusaha menutupi wajah, menyeka air mata yang hampir berlinang. Mulai mengepalkan tangan, kesal dengan semua perbuatan suaminya. Ini merupakan penghinaan bagi Kasih.


Kenapa sih dia ini? Aku kan malu ada banyak orang. Emang tamunya bule bule ga tahu bahasa dia, tapi matanya yang hampir lepas itu… hiks..., batin Kasih tetap menundukan kepalanya selama menaiki buggy.


Setelah sampai villa, Kasih tetap duduk di buggy. Merasa malas untuk memasuki villa Galang. Takut dengan suasana hati Galang yang tidak baik. Kasih takut kalau Galang akan melempar barang pecah belah.


 


“MASUKK!” Galang berteriak dengan kencang. Semakin geram karena istrinya tidak mengikutinya. Kasih mulai menangis mendengar teriakan Galang yang tidak terkendali.


Ini sebenarnya aku udah sah belum sih jadi istri dia? Atau aku masih jadi butler dia? Kenapa sih harus teriak-teriak gitu? Kasih mengusap air mata yang sudah banjir di pipinya.


Galang tidak mempedulikan air mata yang sudah banjir di pipi istrinya. Yang ada di hatinya adalah rasa cemburu. Tidak terima kalau istrinya pernah menyukai Kris.


Galang mulai mendekati dan mencekal lengan istrinya. Menarik lengan istrinya secara paksa agar mengikutinya.


“Auu maS…! Sakittt!” teriak Kasih sambil memukul tangan Galang.


Pukulan yang tak seberapa dari tangan Kasih, tidak dihiraukan oleh Galang. Galang terus berteriak…


“MASUKK…!” Mencengkram lengan Kasih dengan kencang.


Galang menutup pintu villa dengan Kasar. BRAKK!


Kasih melonjak kaget mendengar suara pintu yang dibanting. Galang mulai mencengkram kedua lengan Kasih lebih keras. Menatap penuh amarah kepada Kasih.


Kasih sangat takut melihat mimik muka Galang yang sudah merah. Air mata semakin banjir.


“Mas… hiks… udah… lepasin tangan mu. Sakit lenganku…” Kasih menunduk melihat kedua lengannya.


Rasa kasian dan kesal Galang bercampur menjadi satu. Ingin sekali menumpahkan emosinya memberi hukuman. Menarik nafas panjang dan menghembuskan ke muka istrinya. Bau alkohol sangat menyengat dicium Kasih.


“Sejak kapan kamu menyukai Kris?” Bertanya kesal harus menyebut nama Kris.


Kasih gelagapan mendengar pertanyaan Galang.


“Mas, em…?” Bingung harus memulai menjawab darimana. “Ga ada mas… Ga pernah aku suka sama pak Kris. Cuma kagum aja… Dia selalu baik sama aku” menjawab apa adanya. Tapi bagi Galang itu adalah rasa yang tabu, tidak pantas. Galang hanya mau Kasih mengaguminya... menyukainya saja.


 


****


Pak Galang, mainnya jangan kasar kasar ya…


Lengan Kasih sudah sakit…


Bersambung…


*****