
Kasih telah kembali ke villa Galang. Dia melihat Galang dan Raka sudah siap dengan gayanya yang sporty. Memakai kaos putih, celana dan sepatu sport. Kasih dibuat sampai melongo dengan kekompakan bapak dan anak itu.
“Tante…!” Raka memanggil Kasih yang baru saja memarkirkan buggy. Anak itu ada dalam gendongan Galang.
“Ya Raka… Kenapa?” Kasih mulai turun dari buggy menghampiri Galang dan Raka.
“Kata om Kris di LFT ada banyak ATV sama UTV. Papa yang beliin Hihii...” Raka mulai menghujani papanya dengan ciuman. Kasih hanya bisa menatap kacamata hitam yang dipakai Galang. Masih bisa tersenyum mengendalikan emosi. Ingin mencari kejelasan tentang kejadian semalam. Tapi rasanya itu tidak etis kalau ada Raka di sekitar mereka.
“Wauw… Papa suka beri surprise ya… Hebat surrrpriseee nya!” Menekankan kata surprise sambil mengusap sekitar dadanya. Diakhiri dengan lirikan mata yang berani diakhir kalimat.
Hahaaa! Sial, apa maksud gerakan tangannya…? Galang membatin dengan memperhatikan gerakan tangan Kasih yang mengusap dadanya sendiri.
“Kita cek kesana yuk tante! Tante Aca sama om Kris udah disana…” Raka mengadahkan tangannya untuk berpindah gendongan.
Merekapun berjalan menuju buggy Galang. Galang menyetir buggynya. Raka dan Kasih asik bercanda dan ngobrol saat menumpangi buggy. Mereka duduk bersebelahan dengan posisi Kasih memangku Raka.
Di saat Galang menyetir, Kasih teringat lagi dengan niatnya untuk memastikan kejadian semalam. Dia benar-benar penasaran ingin memastikan langsung ke Galang.
“Raka… semalam Raka kebangun buat apa sihh… buat ke toilet ya…? Jam berapa Raka bangun…?” Kasih mengeraskan sedikit suaranya agar Galang bisa ikut mendengar.
“Semalam Raka gak ke toilet tante… Raka udah lama jarang ngompol juga…” Raka hanya menanggapi pertanyaan Kasih dengan santai sambil melihat game onlinenya.
“Ooo… Raka udah jarang ngompol juga… Papa Galang baik ya, semalem ngecek Raka ngompol atau enggak,” Kasih memberanikan diri untuk menoleh ke Galang dan memberi akting senyum terbaiknya. Galang hanya menoleh sebentar dan fokus menyetir buggy lagi.
Mau omong apa sebenarnya dia? Sudah tahu kah dia...? Galang membatin penuh pertanyaan di kepalanya.
Huft… sabar Kasih… masih ada anak kecil disini, Kasih membatin sambil menenangkan emosinya.
Akhirnya mereka sampai di LFT, pelabuhan kebanggaan Luxus Resort. Pagi itu pesanan Galang sudah tiba.
Note: Contoh ATV yang dipesan Galang di bawah ini...
Note: Contoh UTV yang dipesan Galang dibawah ini...
Mereka turun dari buggy. Berjalan mendekati Caca dan Kris yang sudah dari tadi disana.
“Good morning Raka… Pak Galang,” Kris menyapa dengan senyumannya.
“Good morning om Kris… Ini keren… Raka suka semuaaa hihii...” Raka terlihat sangat bahagia dibelikan kesukaan barunya.
Banyak karyawan silih berganti mengambil ATV dan UTV dari kapal untuk diturunkan. Ini seperti parade ATV dan UTV. Raka segera turun dari gendongan Kasih dan berpindah menggandeng Caca.
“Tante… nanti tante ikut main ya… sama om Kris. Tante pakai UTV aja biar om Kris yang setir,” Raka meraih tangan Kris dengan tangan satunya. “Raka udah gede… Nanti Raka pakai ATV. Raka mau setir sendiri,” Anak itu menoleh dan menatap papanya.
Galang hanya diam. Sedari tadi masih memikirkan perubahan sikap Kasih. Pertanyaanya menjurus kalau dia sudah tahu, begitu pikir Galang.
Sial! Harusnya aku matikan lampu semalam sebelum masuk kamar. Galang membatin dengan mencuri pandang ke arah Kasih.
Begitupun sebaliknya dengan Kasih. Kasih berusaha menahan emosinya karena situasi tidak memungkinkan. Takutnya malah berdebat dan mengacaukan rencana Raka dengan teman-temannya.
“Kris… Semua barang yang kita order sampai hari ini?” Tanya Galang menyibukan diri untuk mencairkan suasana.
“Belum semua, pak. Ini baru datang 50 ATV dan 50 UTV. Stok barang yang berkualitas dari Singapore dan Jakarta habis. Mungkin baru 2 atau 3 bulan lagi bisa dikirim, karena mereka juga memiliki pesanan dari tempat lain. Saya akan follow up.”
“Good. Do your best,” Galang menepuk bahu Kris
(Bagus. Lakukan yang terbaik)
“No worries, pak”
(jangan kuatir, pak)
“Kris, bisa ajak Caca dan Raka ke main restaurant (restaurant utama)? Kita akan invite mereka untuk breakfast sebelum acara permainan dimulai. Saya harus bicara dengan Kasih.”
“Sure…” Kris hanya mengangguk tanpa banyak pertanyan.
(Tentu)
Akhirnya Kris mengajak Caca dan Raka untuk pergi ke restaurant. Tinggal lah Galang dan Kasih yang masih berdiri di depan LFT. Sekitar 1 menit setelah Kris dan Caca beranjak pergi, mereka masih saling membisu. Menatap ATV dan UTV.
Akhirnya Kasih memberanikan diri untuk bertanya dahulu.
“Pak Galang… maaf. Apa boleh saya tanya?” Kasih menatap mata Galang dari balik kacamata.
“Em…” Kasih tiba-tiba bingung terdiam harus memulai pertanyaan dari mana.
“Apa…?” Tanya Galang balik. Dia semakin gemas memikirkan pertanyan yang akan dilontarkan Kasih. “Kasih…” ucap Galang sambil melepas kacamatanya.
“Iya pak…?” tanya Kasih sambil melihat Galang yang berjalan mendekatinya. Galang meraih tangan Kasih. Jantung Kasih sudah mulai melompat-lompat tidak karuan, memandang tangannya digenggam Galang.
“Saya rasa… Kamu harus tahu…”
Belum sempat Galang berbicara ke point utama... Tiba-tiba saja ada perempuan yang muncul di samping Galang dan Kasih. Ssett… Perempuan itu menarik tangan Galang kedalam pelukannya… dan mencium bibir Galang.
“How are you? Lama tidak jumpa...” Kedatangan Amelia mengejutkan Galang.
Kasih hanya bisa menyaksikan adegan itu dengan mengepalkan tangannya. Rasa emosi memikirkan bercak merah dalam sekejap musnah melihat adegan barusan. Muka sudah memerah menyaksikan hal itu.
“Saya permisi pak,” ucap Kasih segera pergi meninggalkan Galang dengan Amelia.
Kasih tidak hanya berjalan cepat. Dia berlari secepat mungkin meninggalkan dua orang itu. Merasa sangat kesal dan marah mengingat kejadian yang dia lihat. Dia berlari menuju toilet terdekat. Mengunci diri dan membekap mulutnya dengan tissue, agar tidak ketahuan isak tangisnya.
“Hik…zzz Hik…zzz”
Kenapa aku sesedih ini sih… Harusnya aku tahu ini akan terjadi. Apa yang aku harapkan darinya… Bodohnya… kenapa jantungku berdegup kencang saat dia pegang tanganku…? (hik…zzz) Batin Kasih sambil memukul dadanya berulang kali.
Di lokasi lain, Galang dan Amelia sudah berada di area restaurant tempat breakfast untuk menyambut teman-teman Raka. Raka yang melihat kedatangan Amelia sangat senang sampai menarik mengenalkan mamanya ke teman-temannya.
Caca hanya bisa menyaksiakn kejadian itu diujung meja bersama Kris. Raut muka sudah menunjukan bad mood. Sedangkan di luar ruangan Galang mengintrogasi Teo. Karena Teo lah yang datang bersama Amelia.
“Kenapa kamu bawa dia kemari?” Bertanya dengan raut muka tegang. Teo sudah terbiasa menghadapi sikap Galang yang seperti ini.
“Maaf pak. Saya tidak sengaja bertemu Amelia di pelabuhan Singapore. Seharusnya saya kembali dengan Tania. Tapi Amelia memaksa untuk menggantikan tiket Tania. Bapak tahu sendiri mereka berdua ada hubungan keluarga,” Teo berusaha menjelaskan dengan lengkap.
“Ok. Beri Tania warning letter dan skors 1minggu. Saya tidak mau tahu meskipun departemen kamu sibuk. Saya tidak mau melihat muka Tania!"
“Baik pak,” jawab Teo dengan mengangguk.
Galang berlalu meninggalkan Teo memasuki restaurant. Dia melirik setiap meja. Tidak menemukan Kasih di dalam ruangan itu.
Galang mendekati Raka dan Amelia yang duduk bersama. Mau tidak mau harus duduk juga di dekat Raka. Tidak ingin mengecewakan Raka karena ini adalah acaranya bersama teman-teman dan orang tua mereka.
Setelah beberapa saat, Kasih masuk ke restaurant. Dia berdiri agak jauh dari meja Raka dan orang tuanya. Amelia yang sudah hafal muka Kasih melalui kiriman whatsapp Tania, mulai berjalan mendekati Kasih.
“Hai… How are you? Saya mamanya Raka...” berkata dengan penuh kebanggan, terkesan sidikit sombong.
“Saya Kasih. Butler baru disini,” sambung Kasih dengan senyumnya.
“Saya rasa kamu tahu posisi kamu disini. Seperti butler yang lain, jangan berharap lebih…”
Mendengar kalimat itu jelas saja Kasih tidak terima. Ini seperti merendahkan harga diri secara terang-terangan.
“Maksud anda apa ya?” Kasih masih mengontrol emosi.
“If you are educated… you know what I mean” nada suara Amelia sangat syarat akan makna.
(Jika kamu berpendidikan… kamu tahu maksud saya)
Kasih mulai meremas tangannya, berusaha menahan emosi. Tapi entah angin darimana tiba-tiba…
“We will see…” kata Kasih.
(Kita akan lihat…)
Mata keduanya sudah saling terpaut tidak saling suka. Meski demikian Kasih tetap dengan standarnya untuk tersenyum kepada semua tamu.
*****
Hayo… Siapa pendukungnya Kasih…?
Beri Like, hadiah dan votenya banyak banyak ya…
Bersambung…
*****