
Malam yang panjang dengan segudang aktifitas panas sudah lewat. Pagi ini Kasih masih terlelap dalam tidurnya. Raut wajah terlihat sangat lelah. Matanya susah untuk dibuka meski ada 2 ciuman bertubi-tubi di wajahnya.
“Raka… cium sini…” pinta Galang menunjuk pipi istrinya.
“Mwuah… Papa sini…” Raka menunjuk hidung mama Kasih.
“Mwuah… Raka sini…” Galang menunjuk dahi.
Tapi kasih sudah mulai membuka matanya pelan-pelan. Memberi senyuman kepada keluarga kecilnya itu. Kasih tersenyum melirik kearah Raka dan suaminya dengan mata sipit.
“Good morning…” Kasih memberi morning kiss (di hidung standar Raka) kepada Raka.
“Good morning mama!” jawab Raka yang kemudian menghamburkan pelukan kepada Kasih yang masih berbaring di bed.
Pemandangan yang membuat Galang bahagia di pagi hari. Belum pernah Galang rasakan sebelumnya. Dulu, Galang bercerai setelah 2 bulan Amelia melahirkan. Ayah Galang tidak mengijinkan Amelia memberi asi kepada Raka. Keluarga pemilik Luxus Company itu sangat takut karena banyaknya obat-obatan yang dikonsumsi Amelia. Bayi yang dilahirkan secara selamat itu saja sudah merupakan keberuntungan.
Saat itu Amelia menyetujui keinginan ayah Galang. Entah alasan apa itu hingga kini Galang juga belum tahu. Yang Galang tahu adalah meskipun mereka sudah berpisah, Galang tetap menaruh harapan kalau Amelia mau kembali padanya setelah ayahnya meninggal. Tetapi setelah hubungan Amelia dan Edo terkuak oleh Caca, membuat Galang geram.
Galang berusaha mengubur dalam-dalam perasaannya untuk perempuan yang sangat dia cintai itu. Galang juga tahu kalau dia terus menerus mengejar Amelia akan menyakiti adiknya, Caca.
Kehadiran Kasih memberikan suasana yang berbeda. Galang merasa ingin terus… berdekatan dengan Kasih. Selain mengagumi kecantikan perempuan yang sudah menjadi istrinya itu, Galang merasa nyaman karena Raka, Caca dan maminya juga menyukai Kasih.
“Aku ambil sarapan buat kamu ya…” Galang mengecup kening Kasih. “Aku tahu kamu masih belum bisa jalan… Hihii. Baru 2 ronde di kamar bawah saja kamu ga bisa jalan naik tangga.”
Bisik Galang ke telinga Kasih, mengingat saat menggendong Kasih naik ke lantai 2 kamarnya.
Kasih tidak mau berdebat dengan suaminya yang super jahil itu. Tidak mau mendapat serangan di pagi hari. Selain itu ada Raka juga yang sedang memeluknya. Kasih hanya mengangguk dan mengusap rambut Raka.
Galang segera mengambil sarapan di ruang dapur. Kasih masih berlanjut bersama Raka di kamar.
“Mama… semalem bobok sama papa ya…?” tanya Raka sambil membenarkan badannya untuk duduk. Begitupun dengan Kasih, berusaha menggerakan pinggangnya dan bersender di dinding bed.
“Aw…”
“Kenapa ma?” tanya Raka
“Ga pa pa sayang. Cuma kram aja,” Kasih mengusap pipi Raka. Kasih memperhatikan ada yang berbeda dengan Raka. “Raka… Raka kok nafasnya gitu? Bunyi ngik ngik ngik?” tanya Kasih mencoba mendengar lebih jelas bunyi nafas dari Raka. “Em… kok ilang… tadi ada… Apa mama salah denagar ya… Hehee. Sini mama peluk lagi.” Kasih meraih tubuh Raka. Memeluk erat dan mencium kepala Raka
Mmm? Kok bau asap? Bau banget… Mas Galang yang dewasa aja ga bau asap kaya gini, Kasih mencium rambut Raka lagi memastikan bau apa itu.
“Raka… semalam main api unggun ya?” tanya Kasih.
“Enggak ma…”
Tiba-tiba terdengar suara rombongan yang sangat banyak. Madam Lily, ibu Sarah, mas Aan, Caca menyerbu kamar Galang.
“Selamat pagi…!!!” Mereka berdatangan dengan pakaian renang, lengkap dengan membawa pelampung.
“Gimana malam pertama? Ramuan mama manjurkan?” bisik ibu Sarah ke telinga Kasih. Kasih sangat malu dengan pertanyaan mamanya itu. Mencubit mama Sarah sampai tertawa dan menghindari cubitan Kasih.
“Iya ma…” jawab Kasih.
“Raka… mau ikut om Aan renang lagi? Hari ini kita pakai pelampung flamingo yang GuedeE!” ajak mas Aan. Raka mulai melompat-lompat di atas bed.
“YEEE! Hore…! Iya om!” Mulai minta gendong di balik punggung mas Aan.
“Meluncur kita Raka…!” mas Aan Membawa kabur Raka menuju kolam renang villa Galang.
“Kalau gitu kita turun tunggu kamu di swimming pool ya…” kata madam Lily kepada Kasih.
“Mami ni…! Kasih mana bisa gabung ama kita,” celetuk Caca ke telinga madam Lily. “Jam segini aja dia baru bangun,” Caca megecek jam tangan yang menunjukan pukul 11.00.
“Oiaa…” madam Lily baru paham maksud Caca. “Ya udah… kalian lanjut aja. Kita mau berendam di bawah (kolam renang Galang),” kata Madam Lily yang kemudian menggandeng ibu Sarah keluar dari kamar itu.
Tak lama kemudian Galang datang membawa nampan berisi piring makanan. Piring itu berisi omlet, sosis, pancake, hashbrown potato, cheese dan susu. Bisa dibilang american breakfast standar Galang.
“Makanya kamu nikah…” timpal Kasih.
Tiba-tiba ada suara ketokan pintu.
TOK TOK…
Pintu itu sebenarnya tidak ditutup. Kris sudah berdiri di depan kamar Galang.
“Permisi pak. Saya boleh bicara dengan Caca?” Kris menatap Galang yang tengah sibuk memberikan makanan kepada Kasih.
Tatapan mata tidak suka kepada Kris muncul kembali. “Keluar sana,” Galang melirik kearah Caca.
“Iya mas… Garang kali… Hihii. See you! Have a good day!” kata Caca sebelum berlalu meninggalkan kamar Galang.
Kasih hanya bisa menggelengkan kepala. Masih tidak percaya kalau suaminya masih saja cemburu.
“Mas…”
“Apa?” tanya Galang sambil memberiakan garfu kepada Kasih.
“Cemburunya udah dong... Aku kan ga ada apa-apa sama pak Kris. Ga enak tau sama Caca,” Kasih berusaha meluruskan kesalahpahaman. Galang masih tidak percaya. Tetap dengan pendiriannya. Tidak suka Kasih berdekatan dengan pria manapun. “Mas…”
“Hm?”
“Jangan ngambek gitu ah. Udah makan?” tanya Kasih sambil mengunyah sosinya.
Memperhatikan Kasih mengunyah makanan, bagi Galang itu sangat menggemaskan. Sangat sexy di matanya.
“Mau tahu caranya biar aku ga ngambek?” tanya Galang sudah meluncurkan jurus grepe yang membuat aliran darah Kasih berdesir.
“Mmphh…” Merinding, sudah ada tangan bermain lagi. “Aku lagi makan nih mas…”
“Habis makan selesai lagi ya...” Galang mulai memeluk istrinya.
Begitulah kegiatan Galang 3 hari berturut-turut setelah menikahi Kasih. Seolah tidak memberi kesempatan istrinya keluar kamar. Ingin terus berduan dengan istrinya. Hal aneh lainnya adalah suka cemburu kalau Kasih sedang asyik bermain dengan Raka. Karena kalau bermain dengan Raka akan menghabiskan waktu banyak.
Kasih sangat senang menggunakan kesempatan bermain bersama Raka. Setidaknya bisa menggerakan otot untuk berlari di sekitar villa.
“Kasih…” Galang memperhatikan Kasih yang tengah sibuk memperhatikan Raka bermain robot.
“Ya mas…?”
“Apa kita butuh butler lagi ya? Atau baby sitter buat Raka?” tanya Galang. Berharap Kasih menyetujui.
“Terus ntar kegiatanku apa?” Kasih memberi sinyal tidak setuju.
“Kan kita bisa fokus bikin adek buat Raka.” Galang mulai menggoda istrinya.
“Hm… Udah pun tiap malam.”
Galang selalu menjahili istrinya. Mencari celah agar bisa berduaan terus. Selama ibu Sarah di resort, Galang selalu meminta ibu Sarah untuk menjaga Raka agar Raka mau tidur di villa mertuanya itu.
*****
Masa sama anak sendiri juga cemburu sih…
Bersambung…
*****