My Butler

My Butler
Menggila Lagi



Selesai memilih menu makanan yang dipesan, Jun melirik lirik ke suaminya. Menendang kecil kaki suaminya. Seakan memberi kode. Bang, jangan sibuk sama handphone terus! Gak sopan sama mama Laura. Begitu sorot mata Jun berkedip kedip dengan mencebikan bibirnya.


Kasih tengah asik bercerita panjang kali lebar tentang pengalaman traningnya di Thailand kepada mama Laura. Pengalaman saat bersama teman-temannya yang penuh kenangan. Mereka tidak begitu mempedulikan Jun dan Joe yang tengah bisik-bisik. Menganggap pembicaraan itu adalah topik suami istri.


“Siapa yang kamu whatsapp…?” bisik Jun ke telinga suaminya.


“Lagi balas whatsapp pak Galang. Setengah jam yang lalu dia kirim pesan. Baru ku balas,” bisik Joe menunjukan isi pesan whatsapp terbarunya.


Pak Galang


(Dimana kamu? Saya mau ketemu kamu sekarang! Penting!)


Joe


(Kami di Restaurant Kelong Tanjung Uban. Boleh kita diskusikan lewat telpon saja pak?)


Pak Galang


(Share lokasi!! Saya kesana!!)


Begitulah isi pesan yang dibaca Jun dari handphone suaminya.


“Tanda serunya banyak banget…? Ada masalah apa?”Jun berbisik ke suaminya lagi. Tapi suaminya hanya mengangkat bahu, merasa tidak memiliki atau membuat masalah.


Suasana di restaurant itu cukup ramai. Sehingga pesanan yang mereka minta tidak datang dengan cepat. Kasih memiliki ide untuk menyumbangkan lagu dengan bermain piano yang dimiliki grup akustik. Berusaha menghibur mama Laura yang dia rasa sudah kelaparan menunggu makanan.


“Mama Laura suka lagu apa? Boleh saya menyumbang lagu buat mama Laura?” tanya Kasih.


“Ah… kamu bisa singing?” sangat senang mengetahui Kasih bisa bernyanyi.


“Ia… singing,” jawab Kasih membuat orang di meja itu excited mendengar Kasih bernyanyi.


Kasih mulai berjalan menuju panggung grup akustik di tempat itu. Berbisik kepada penyanyi wanita yang berdiri di panggung. Mereka terlihat berunding lagu apa yang akan dinyanyikan. Setelah beberapa saat akhirnya mereka memutuskan untuk bernyanyi lagu ‘I Will Always Love You’ dari Whitney Houston.


Mulai memainkan tuts piano. Memberi aba-aba kepada penyanyi agar memulai bernyayi dahulu. Kemudian barulah Kasih masuk untuk bernyanyi. Lagu yang syarat akan makna tentang seseorang yang sangat mencintai kekasihnya itu berhasil membius para tamu Restaurant Kelong.


Ada beberapa pasangan yang sekedar berdiri untuk berdansa. Disambut oleh pasangan-pasnagan yang lain juga.


Suara tepuk tangan para tamu bergemuruh setelah Kasih selesai, membungkukan badan untuk berterimakasih karena berhasil memberi hiburan sedikit. ‘Beautiful’, ‘Bagus’, ‘Cantik’, ‘Awesome’, ‘Sekali lagi!’ begitulah suara para tamu lokal dan turis asing yang didengar Kasih setelah usai bernyanyi.


“Terimakasih… Selamat menikmati makan malam,” ucap Kasih dengan senyuman kebahagian.


Kasih kembali berjalan ke mejanya. Dilihatnya ada seseorang yang duduk di samping kursinya. Begitu samapi di meja, rasa kesal dan kaget bercampur menjadi satu. Dilihatnya Galang yang sedang berbicara dengan mama Laura.


Huft… drama apa lagi ini? Semoga tidak ada piring terbang malam ini, membatin dengan melirik sinis kepada Galang. Galang hanya tersenyum menatap Kasih. Rasa rindu tidak melihat wajah Kasih dari dekat membuatnya berani berdiri dan menarik kursi untuk Kasih agar segera duduk.


Joe dan Jun saling meremas tangan satu sama lain dibawah meja. Tatapan penuh curiga ada hubungan apa antara Galang dengan Kasih beterbangan di kepala keduanya. Ini adalah kejadian langka yang jarang bisa dinikmati, begitu pikir Jun.


“Thank you so much. So beautiful… It’s been long time, no one singing for me. Since my husband pass away. But tonight you make my day special. Thank you so much Kasih…” ucap mama Laura berlanjut memberi pelukan kepada Kasih yang duduk disampingnya.


(Terimakasih banyak. Itu sangat indah… Sudah lama, tidak ada seorang pun bernyanyi untukku. Sejak suamiku meninggal. Tapi malam ini kamu membuat hariku spesial. Terimakasih banyak Kasih…)


“With my pleasure, mama Laura…” Kasih membalas pelukan mama Laura.


(Dengan senang hati, mama Laura)


“Cantik suara mu. Saya suka. Lagunya juga pas,” semakin memanas suasana di meja itu untuk Jun, Joe dan Kasih yang mendengar ucapan Galang barusan. Kasih hanya bisa tersenyum kecut tanpa memandang Galang.


Perasaannya masih kesal dengan kejadian semalam. Bagaimana mungkin Galang bisa berubah sikapnya secepat ini? Mengingat bola mata Galang yang hampir copot memarahinya saja, rasanya ini menyebalkan. Begitu yang dirasakan oleh Kasih. Belum bisa memaafkan Galang hanya dengan gombalan kalau dia menyukai suaranya.


“Silahkan ikan, sayur, lobster sama kepitingnya…” suara pelayan datang menghidangkan makanan yang dipesan. Banyak sekali makanan yang dihidangkan. Joe meminta extra piring kepada waiter untuk bosnya yang baru ikut gabung di meja.


Mama Laura sangat senang bisa makan malam bersam Galang. Ini adalah hari yang sangat spesial menurutnya. Ditemani makan malam oleh pemilik hotel dan orang-orang baik. Padahal ada perang dingin yang sedang terjadi  didepannya.


Galang berusaha menggeser kursinya lebih dekat ke Kasih.


Ini mengerikan… Kenapa sih harus geser geser kursinya… hmm… jauh jauh aku keluar makann malam. Sampai sini malah satu meja dengannya. Udah sikunya pakai senggol-senggol lagi kalau motong kepiting. Mau dia apa sih…? Kasih membatin sambil meggeser kursinya mendekat mama Laura.


Jun yang melihat itu terus terusan menendang kaki suaminya. Seakan tidak percaya dengan pemandangan yang dia lihat. Joe yang lagi fokus makan merasa terganggu, sampai kepitingnya lompat dari piring saat memotongnya. Mulailah mama Laura tertawa melihat kepiting terbang.


“Hahaa. Kamu harus memakai gunting… itu akan lebih mudah untuk membuka tempurungnya, Joe…” ucap mama Laura memberi saran.


“Hahaa, maaf…” Joe melirik ke istrinya. Matanya seolah berbicara… jangan ganggu, aku lagi makan sayang… sembari tersenyum kepada istrinya.


Sial! Kenapa dia geser geser ke mama Laura? Marahnya udahan lah… Jauh-jauh aku menyusul kalian dari Lagoi sampai sini. Ini yang dicari malah menjauh terus. Hmmm Gimana ya caranya supaya aku bisa mendekatinya… Galang berfikir mencari ide agar bisa membujuk Kasih tidak marah lagi.


“How is your food mam?” tanya Galang yang sudah selesai menghabiskan makanannya.


(Bagaimana makanan mu bu?)


“Delicious… Perfect...” jawab mama Laura yang kemudian meminum air mineral.


“Em… kalian mau request lagu…?” tanya Galang kepada Joe dan Jun.


“Pak Galang saja yang request,” jawab Joe singkat. Sejak kedatangan Galang, Joe melihat banyak sikap Galang yang aneh. Mengatakan kalau tidak jadi membahas masalah kerja... Padahal dari pesan whatsapp, Galang ingin segera membicarakan hal penting tentang pekerjaan.


Ditambah sikap sok romantisnya memotong kepiting untuk Kasih… mengupas kulit lobster untuk Kasih… berbagi sambal yang disukai Kasih… Gerak geriknya seolah sedang melayani kekasihnya.


Joe juga heran kepada istrinya… sebenarnya sedang mengirim pesan kepada siapa istrinya itu. Dia terlihat sangat sibuk seperti memiliki grup whatsapp juga.


Hmm… Semuanya hari ini mencurigakan, batin Joe.


Galang berdiri dari kursinya dan menuju grup akustik. Dia berbisik-bisik cukup lama kepada kru akustik. Kasih memperhatikan Galang dari meja. Dilihatnya Galang memberi uang tip cukup banyak. Bukan warna merah lagi, tapi abu-abu kehijauan ($).


Berapa itu…? Banyak kali… padahal juga belum nyanyi, batin Kasih dengan heran.


Galang kembali duduk di kursi.


“Berapa lagu requestnya pak” tanya Joe penasaran melihat cukup lama Galang berbicara kepada kru akustik.


“Gak banyak… 10 lagu.”


Hahaa ini seperti lelucon untuk orang di meja itu.


Alamakk… mau jam berapa nanti kita pulang? Udah menggila lagi dia... batin Kasih sambil melirik sedikit kearah Galang.


Mereka mulai mendengarkan lagu pertama yang di request oleh Galang.


“Selamat malam untuk pak Galang dan semua tamu yang duduk disana… Lagu pertama kami persembahkan adalah ‘Beautiful In White’ dari Shane Filan. Selamat menikmati untuk kita semua disini,” ucap penyanyi wanita itu.


Tepuk tangan mulai bersahutan mendengar lagu itu mulai dinyanyikan. Kasih pun ikut menikmati lagu yang dibawakan. Suara penyanyi itu memang sangat merdu.


Penyanyi itu menggandeng seorang waiter (pelayan laki-laki) menuju meja Galang. Dia menyuruh waiter tadi untuk mengajak mama Laura berdansa. Mama Laura pun mengikuti dengan senang hati untuk berdansa bersama. Meminta Jun dan Joe juga untuk gabung berdansa.


Mereka berdansa di depan panggung akustik. Tinggal lah Galang dan Kasih di meja itu.


“Kasih…” Kasih hanya melirik sebentar kearah Galang. “Kasih…” Galang berusaha meraih tangan Kasih. Tapi Kasih menepiskan tangan Galang agar menjauh.


Ini orang kalau bukan bos ku udah ku adukan ke mas Aan! Menjengkelkan sekali! Emosinya suka naik turun gak karuan… Belom juga minta maaf, udah beraninya pegang pegang tanganku... Batin Kasih menggeserkan kursinya lebih jauh dari kursi Galang.


Huft… Makin jauh dia. Belum juga menyatakan perasan… Gimana kalau sampai dia menolakku… Mau dipegang tangannya aja susah. Hmmm. Pakai cara apalagi…? Galang berfikir sambil mengetuk ketuk meja dengan jari.


“Saya tahu kamu tidak salah. Saya sudah tahu semua. Kamu tidak perlu minta maaf untuk kejadian semalam. Itu semua ulah Amelia,” ucap Galang sambil menggeser kursinya lagi.


Ish… ini ya cara orang minta maaf? Gak ada kata maaf sedikitpun dari kalimatnya… Hmm… Apa karakter dia seperti itu? Gengsi berkata maaf? Kenapa sih rasanya masih kesal sama dia… Kasih melirik mata Galang.


“Mau berdansa dengan saya?” Galang mengulurkan tangannya. Kasih memalingkan wajahnya. Pura-pura tidak melihat.


Susahnyaa… perempuan ini. Gimana lagi ini? Cara apalagi? Semua tidak mempan? Apa harus dipaksa? Galang kembali berfikir.


“Kasih, boleh saya cek kaki kamu yang luka?” bertanya dengan gerak cepat berjongkok membuka rok panjang milik Kasih.


“Eh, eh…! Jangan pak! Mau ngapain?” Kasih berusah menutup roknya.


DuuhH! Stop kegilaan mu pak GalaNGg…! Membatin tidak percaya Galang akan berbuat seperti itu. Rasanya malu sekali karena banyak tamu disamping meja melihat.


“Tapi saya mau ngecek,” berkata dengan muka bodo sambil berjongkok memandangi wajah Kasih.


“Jangan… Banyak orang tahu…” Kasih makin bertambah kesal. Galang mulai berdiri.


“Ya udah… mau dansa sama saya atau saya cek kakinya?” Galang mengulurkan tangannya. Berharap Kasih meraih tangannya.


Kasih melihat para tamu di dekat mejanya. Beberapa dari mereka memperhatikan kejadian barusan. Galang tidak mepedulikan apa pikiran orang-orang itu.


“Hmm iya…” Kasih meraih ajakan tangan Galang.


Merekapun menuju depan panggung akustik untuk berdansa. Galang sudah bisa sedikit lega. Senyum di bibir Galang mulai merekah. Meskipun Kasih masih pasang muka bad mood.


Gak pa pa meski masih cemberut gini... Malah menggemaskan. Hihii. Yang penting, tangan dia sudah ku genggam... batin Galang.


 


*****


Pak Galang… Modus terus…


Bersambung…


*****