My Butler

My Butler
Detective Pak Galang



Pagi harinya suasana breakfast di villa Galang sedikit berbeda. Tidak ada Kasih yang biasanya sibuk menyiapkan breakfast dan menyuapi Raka. Tugas Kasih pagi itu digantikan oleh Teo. Caca juga tidak mau satu meja dengan Amelia, dia lebih memilih untuk breakfast sendiri di villanya.


“Teo, bisa kamu atur keberangkatan Amelia untuk balik ke Singapore siang ini?” Amelia yang mendengar ucapan Galang itu merasa kesal.


“Kenapa mas? Aku masih mau disini.”


“Kamu harus segera full check up disana.”


“Tapi nanti kamu gak kasih aku ijin lagi kesini… Aku masih mau main dengan Raka. Sama kamu juga.”


“Raka mau ikut mama…!” Raka mulai menyambung pembicaraan. Merengek ingin ikut dengan Amelia. Galang tidak bisa menolak keinginan anaknya itu.


“Ya udah… Raka boleh ikut. Nanti ada karyawan dari sini yang akan ikut dengan kamu.” Galang memberi solusi yang menurutnya tepat. Karena tidak mungkin membiarkan Amelia pergi membawa Raka sendiri.


Raka sangat menyukai ide papa nya itu. Dia bisa berlama-lamaan dengan mamanya. Amelia pun tidak punya alasan lagi untuk berlama-laman stay di Bintan. Dia juga butuh full check up kondisi alerginya, meskipun menurutnya sudah lumayan baikan.


Siang harinya di LFT, Amelia dan Raka sudah siap untuk berangkat ke Singapore. Amelia dibuat terkaget-kaget. Ada 5 karyawan dari Luxus yang akan mengawalnya. Ada 2 orang perempuan dan 3 lali-laki. Ini seperti penghinaan untuknya. Itu berarti Galang sangat kuatir kalau sampai Raka tidak dia kembalikan.


Raka dan Amelia melambaikan tangan ke Galang saat kapal ferry mulai berjalan.


“Bye bye pa…!” teriak Raka dari kejauhan sambil melambaikan tangan. Begitu pun dengan Galang ikut membalas lambaian tangan anaknya.


Galang berjalan keluar dari area LFT. Dilihatnya Tyas HRD yang berdiri bersama Sam di dekat buggynya.


“Selamat siang pak Galang. Ada yang mau saya sampaikan,” ucap Tyas.


“Mengenai apa?”


“Semalam saya mendapat telpon dari madam. Madam menyuruh saya menyetujui keinginan Kasih, untuk menjadi butler biasa.” Galang yang masih kesal dengan perbuatan Kasih hanya mengangguk. Dia beranjak pergi bersama Sam meninggalkan Tyas.


Siang itu Galang melanjutkan dengan pergi ke ruang kerjanya. Dia berpapasan dengan Kasih yang sedang sibuk di meja resepsion. Dia hanya berlalu begitu saja. Kasih pun yang sedikit melirik Galang tidak ingin ambil pusing. Ini adalah jam kerja. Tidak mau membuyarkan konsentrasinya.


Menjengkelkan sekali aku harus melihatnya siang ini. Huft… Gimana ya supaya aku tidak melihatnya, tapi tetap kerja disini… Kalau berdiam diri di lobby dan mengurusi kebutuhan tamu di villa – villa pasti masih bisa melihatnya. Ruang kerja dia kan dekat sini… Dia juga suka keliling area resort… Hmmm. Ayo Kasih berfikir… berfikir… pasti ada cara… Kasih membatin sambil mondar-mandir di depan meja resepsion.


Saat sedang berfikir serius, Jun datang mengagetkan Kasih.


“Hayo!... Lagi mikir apa dek…?” Kasih membalikan badannya.


“Eh kakak ni…”


“Udah bosen ya jadi butler biasa? Kok bengong dari tadi kakak lihatin dari jauh sana?”


“Hehee mana ada aku bosen. Aku justru senang karena gak kena omel bapaknya Raka terus…” Jun terkekeh-kekeh mendengar jawaban Kasih.


“Hari ini ada tamu yang mau ajak bang Joe sama aku dinner ke Kelong. Kamu mau ikut ga? Dia bilang ajak siapa aja yang mau.” Kasih sangat senang mendengar ajakan Jun.


“Boleh kak. Jam berapa?” Sangat semangat ingin bisa pergi keluar area resort.


“Ya sekitar jam 6 dari sini. Kelongnya agak jauh. Bukan Kelong milik resort ini. Jadi kemungkinan kita pulang malam. Kamu gak pa pa?” tanya Jun sambil mengecek daftar nama tamu yang akan check in untuk besok.


“Gak pa pa dong kak. Malah seru tahu...” Bisa keluar area resort lebih lama akan sangat baik, begitu pikir Kasih.


“Ya udah… nanti kita ketemu di villa kakak ya… Dan dan yang cantik… siapa tahu ada koko koko pemilik Kelong yang suka sama kamu… Hihii...” Kasih pun ikut tertawa dengan candaan Jun itu.


“Apalah kakak ni… Mana mau mereka. Hehee...”


Dari kejauhan nampak Kris dan Caca yang sedang berjalan menuju meja resepsionis. Mereka terlihat sangat dekat. Sesekali saling cubit-cubitan. Pemandangan yang membuat Kasih senang karena Caca bisa bahagia.


Meskipun dari jarak yang cukup jauh, Kris memperhatikan Kasih yang beberapa kali tertawa bersama Jun. Memastikan Kondisi mental Kasih sudah baikan atau belum.


Kris Point Of View


Kasian sekali Kasih, dia sampai menangis tersenggal senggal memukul dadanya semalam. Padahal kakinya yang berdarah, tapi dadanya yang dipukul. Sebenarnya sejauh mana hubungan pak Galang dangan dia…? Ingin sekali aku memeluknya hanya sekedar menenagkan agar tidak menangis. Tapi bagaimana bisa... CCTV ada dimana mana. Aku takut terjadi kesalah pahaman lagi. Waktu itu hanya menyapa di water sport saja… Dia langsung mindahin aku ke villa yang di ujung, yang jauh sekali lokasinya. Padahal aku baru pindah hari itu. Hmmm.


Sebenarnya… siapa yang pesan red wine itu? Pak Galang… atau Amelia? Kalau menurut versi cerita Jun… Amelia bilang itu red wine kesukaan pak Galang… Apa itu benar? Atau hanya karangan Amelia? Tapi waktu semalam aku memergoki saat pak Galang berteriak kemudian mencicipi setelah melihat gejala alergi Amelia muncul… Itu bukti dia tidak menyentuh red wine dari awal. Lagian tadi pagi waktu aku mengantar Raka dan Amelia ke LFT, bercak merah di tangan juga sudah tidak ada lagi seperti kondisi semalam aku menjenguknya. Hmmm.


Ini terlihat kalau dia sudah tahu jika alerginya bisa cepat sembuh… Jangan jangan memang dia sengaja. Red wine variety cabernet sauvignon dengan nama ‘De Bortoli Yarra Valley Estate Grown Cabernet Sauvignon’ yang dia pesan kan memang sudah mengandung black pepper, terus kenapa dia minum…? kenapa dia minta dicapur lagi dengan black pepper…? Atau mungkin supaya reaksi alerginya cepat keluar ya…? Kenapa harus Kasih yang mengambil minuman itu dari lounge bar? Aneh…


 


“Hai Kasih… Jahatnya kamu gak bilang-bilang sama aku. Kenapa gak mau lagi jadi VIP butler?” Caca sangat geram dengan keputusan Kasih tanpa meminta ijin darinya. Gaya ngambek merangkul lengan Kris sambil meminum jus dengan sedotan membuat Kasih gemas melihat tingkah adik bosnya itu. Dia memang lebih tua dari Kasih. Tapi gayanya masih seperti anak kecil menurut Kasih.


“Maaf ya… Hihii. Terus Raka apa kabar? Lagi apa dia sekarang?” Rasanya sangat kangen mendengar teriakan Raka yang mendadak. Suka ini suka itu mau ini mau itu. Membuat Kasih ingin mendengar permintaan Raka.


“Dia lagi pergi ke Singapore sama Amelia. Kami baru aja balik dari LFT. Kamu mau ikut ke ruang mas Galang gak? Kami mau ngobrol sesuatu sama dia.” Mendengar nama Galang saja masih membuatnya kesal. Mana mungkin mengiyakan ajakan Caca. Bisa bisa kena serangan asma kalau melihat muka dia lagi.


“Em… maaf ya Ca, aku mau antar tamu bentar lagi buat main golf… Lain kali aja ya…” Kris yang mendengar jawaban Kasih sudah cukup mengerti kalau Kasih ingin menghindari Galang. Sejak semalam sudah meminta agar tidah menjadi VIP Butler. Dan hal itu sudah terealisasi dengan cepat berkat madam Lily.


“Maaf ya pak Kris… Saya pergi dulu. Aku pergi dulu ya kak…” ucap Kasih sambil beranjak ingin pergi.


“Bukannya masih 1 jam lagi dek…?”


“Iya kak… Cuma aku mau pergi ke kamar dulu pakai sun block. Cuaca hari ini panas banget. Hihii.” Duh kak Jun… Aku kan Cuma mau menghindari ajakan pak Kris dan Caca aja… membatin sambil cengar-cengir ingin pergi.


“Ok deh… See you Kasih,” ucap Caca sambil melambaikan tangan.


“See you Ca… pak Kris…” Segera mengeluarkan jurus langkah kaki seribu.


Mereka mulai berpencar dengan jalannya masing-masing, tinggal Jun yang berdiri di area itu. Kris dan Caca melanjutkan menuju ruang Galang. Ada Sam yang sibuk di meja depan ruangan Galang.


“Hai Ca...” Sapa Sam.


“Hai… Kita mau ketemu mas Galang.” Caca masih sibuk bergelendotan dengan Kris. Ini hal yang menyenangkan untuk Kris. Ingin sekali Kris menikahi perempuan disebelahnya ini, tapi dia selau bilang ‘nanti habis mas Galang nikah lagi’. Itu lah mengapa Kris sangat senang dengan kedatangan Kasih. Karena menurutnya Galang sedikit berubah semenjak kedatangan Kasih.


Melalui update an whatsapp Luxus Gonggong group, membuktikan kalau Galang menyukai Kasih. Mulai updatean dari Sam tentang foto ekspresi muka galang melihat gunung kembar Kasih di bus. Foto Galang mengecek name tag Kasih saat di depan kandang bayi gajah. Punya preference baru harus minum double espresso dari Kasih dan yang paling menggemparkan menurutnya adalah… Update an Joe tentang Galang memanggil Kasih tengah malam setelah kembali dari Jerman dengan mendadak. Setelah itu, paginya sebelum meeting dimulai, Kris melihat Kasih terlihat pucat. Sudah diapakan saja sebenarnya anak itu? Kalau emang iya… Tapi kenapa Galang sampai tega memarahi Kasih di depan Amelia. Begitu pikir Kris.


 “Ca… sorry ya, pak Galang cuma minta pak Kris aja yang boleh masuk.” Caca menjadi bad mood mendengar ucapan Sam.


Rahasia apalagi yang dia sembunyikan dariku, batin Caca sambil cemberut tertekuk-tekuk mukanya. Mirip sedotan yang dia gigit.


“Ya udah deh… aku tunggu sini aja. Jangan lama lama ya mas Kris…” Terpaksa Caca melepaskan tangannya dari lengan Kris. Sudah hafal kalau kakaknya suka main rahasia dengannya. Kris mengusap tangan Caca dan segera masuk ke ruangan Galang.


“Permisi pak…” Kris menutup pintu setelah beranjak masuk ke ruangan Galang.


“Kamu mau bicara apa?” tanya Galang singkat. Sudah sejak pagi Kris mengatakan ingin berbicara hal yang penting.


“Jadi begini pak…” Kris mulai menjelaskan semua yang dia ketahui. Tentang dari mana asal red wine itu. Tentang bagaimana Amelia memfitnah Kasih yang tidak tahu apa apa.


Galang sangat geram dengan cerita Kris. Dia sangat menyesal telah memarahi Kasih. Lebih geramnya lagi saat ini Raka bersama Amelia.


Saking kalang kabutnya dia menelpon 5 orang yang dia suruh pergi bersama Raka dan Amelia agar menjaga Raka 24 jam non stop tanpa tidur. Kuatir kalau Raka akan dibawa kabur oleh Amelia. Mau tidak mau kalau sudah begini, Galang harus menyuruh Teo juga yang mengecek ke Singapore.


“Pak…” Kris menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu Galang tentang kondisi kaki Kasih yang terluka karena jar decanter yang Galang banting.


“Apa lagi?” tanya Galang setelah selesai menelpon Teo agar berangkat ke Singapore.


“Kaki anak itu terluka semalam... Sampai menangis. Dia juga mengatakan minta maaf untuk Amelia. Dia berfikir itu adalah kesalahan dia.” Bertambah berkali lipat kekesalan Galang terhadap Amelia. Galang mencoba menghubungi Kasih. Tapi Kasih tidak mengangkat panggilan Galang.


 


*****


Kalau ditelpon itu diangkat Kasih…


Kalang kabut nanti pak Galang nyarinya


Buat Teo... ayo kena goyang kapal ferry lagi...😁


Bersambung…


*****