
Galang mulai melanjutkan aksinya setelah lampu padam. Mendekap erat dan menciumi bibir Kasih sampai yang empunya terengah-engah kesulitan bernafas.
“Mmmm…… mas Galang! Mmmm…… mas Galang!” Begitulah em ah em ah yang terdengar di gazebo yang sudah padam lampunya itu. Aksi tangan bergerilya masuk menyelusuri dua gunung kembar dan menjelajahi bemper belakang terjadi berulang kali. Meski terjadi perlawanan, Galang berhasil mendorong pemilik bemper agar maju mendekati adik si Raka untuk menggeseknya beberapa kali.
Sementara bibir terus memagut magut dan menyelusuri setiap sudut mulut.
Sampai akhirnya Kasih menginjak keras kaki Galang dengan heelsnya.
“Auuu!” Galang merintih kesakitan. Melepaskan dekapannya. Tapi tetap menggenggam erat salah satu tangan Kasih.
“Pak Galang anggap aku ini apa? Cewek murahan?! Huh!” Kasih mulai mengatur pernafasannya. Kesal dengan aksi Galang yang dianggapnya kasar dan penuh nafsu.
Galang sedikit kaget, tidak menyangka reaksi Kasih akan seperti ini. Dia mulai membandingkan Kasih dan Amelia. Biasanya kalau dengan Amelia, Galang lah yang kualahan. Padahal menurut Galang ini belum seberapa.
Padahal baru warming up (pemanasan)… udah marah lagi. Sial! salah strategi, Galang mencoba meraih tangan Kasih yang satunya.
Kasih sudah takut dengan kondisi gazebo yang gelap. Ditambah gazebo gazebo yang lain juga ikut gelap. Kondisi tempat itu benar-benar gelap.
Dan sekarang tinggal dirinya dan Galang di tempat itu. Badan Kasih mulai menggigil ketakutan sampai tangannya berkeringat dingin.
“Hiksss… Pak… saya mau pulang. Saya takut” Kasih menarik tangannya dari Galang. Tapi Galang mencoba meraihnya. “Saya ini punya phobia dengan kegelapan bapak!” kasih berteriak saat Galang mulai memeluknya kembali. Menolak dengan mendorong Galang agar menjauhinya.
Sial aku benar-benar membuatnya takut sampai tangannya dingin. Huft… batin Galang sambil merogoh handphone di sakunya. Memberi miscall salah satu nomor. Tak lama kemudian lampu mulai nyala kembali.
Dilihatnya Kasih sudah berderai air mata dengan mata rapat tertutup. Galang bisa melihat betapa ketakutannya Kasih saat ini, sampai dahinya penuh dengan keringat. Galang mulai meraih kedua lengan Kasih.
“Kasih… buka matamu” Kasih mulai membuka matanya pelan-pelan. Galang meraih saputangan di kantongnya. “Saya minta maaf. Saya gak tahu kamu punya phobia gelap” Galang mengusap pipi Kasih dengan saputangannya. Kasih memalingkan pandanganya. Masih kesal dengan sikap Galang yang kasar memaksa untuk bercumbuu.
“Saya tidak bermaksud menakuti kamu”
“Hiks…”
“Maafkan saya ya…” Galang mengusap usap lengan Kasih. “Saya tidak akan mengulanginya lagi” berusaha membujuk Kasih.
“Bukan cuma phobia aja pak… Pak Galang sadar gak sih itu tadi namanya apa… pelecehann!” Berteriak tanpa melihat muka Galang.
“Iya saya minta maaf… Jangan marah lagi ya… Besok mama sama kakak kamu datang kemari” kata Galang membuat Kasih menatapnya kembali.
“Kok pak Galang tahu?”
“Saya minta Teo untuk menjemput keluargamu kemari. Saya mau serius melamarmu. Karena kamu masih sakit, jadi saya minta mereka kemari” Kasih kesal dengan keputusan Galang yang tidak berdiskusi dengannya. “Kasih… mungkin kamu merasa ini terburu-buru. Tapi saya serius mengajak mu menikah” Galang berusaha meyakinkan Kasih kembali.
Kasih mulai menatap Galang. Perasaannya masih kesal mendapat serangan dadakan bertubi-tubi dari Galang. Masih terngiang kejadian ganas yang baru saja dia alami.
Kasih mulai mengambil nafas dalam dalam dan menghembuksannya… “Huft…” Menenagkan dirinya agar bisa berfikir jernih.
“Pak, saya akan memastikan ke mama sama kakak saya dulu ya… Selagi belum ada jawaban, pak Galang jangan menyerang saya seperti tadi”
Sial! Apa ini sebuah penolakan? Seharusnya aku lebih mengontrol emosiku, Galang mencoba memutar otak untuk mengambil hati Kasih.
“Kasih…” Galang mencoba memegang bahu Kasih. “Saya sangat menyukaimu. Saya tahu sudah membuat kamu syok. Saya minta maaf” Galang menatap mata Kasih. Memastikan ucapannya itu tidak main-main.
Kenapa sih harus ada serangan tormedo dadakan… Padahal tadi dia udah sweet banget. Kalau gini aku jadi takut… Apa mungkin karena dia sudah lama menduda…? Bisa juga sih… Secara dia pria normal. Apa aku yang berlebihan…? Duh… nanti dia pikir aku katrok lagi. Tapi aku gak suka dengan kekerasan! Kasar banget tadi sampai perih bibirku. Batin Kasih sambil memegangi bibirnya.
“Pak, nyiumnya jangan keras-keras lagi. Sakit bibir saya”
“Sakit…? Sakit sebelah mana?” Galang mulai kuatir memeriksa bibir Kasih yang luka. “Yang sebelah mana?” mengecek dengan penuh teliti.
Duhh si bapak… kalau kaya gini kan aku gak takut. Jangan buas-buas lagi ya… Kasih pasrah bibirnya dimoncongkan ke kanan dan ke kiri oleh Galang.
“Pak, udah ngeceknya. Saya mau air mineral”
Galang segera menuangkan air mineral yang ada di meja ke gelas. Mendekatkan ke bibir Kasih. Berhati-hati jangan sampai melukai bibir Kasih.
“Kamu mau pergi ke dokter?” Kasih kaget dengan ajakan Galang itu. Malu kalau dokter sampai tahu sakit karena gigitan cowok.
“Enggak ah pak. Ini udah cukup pakai air mineral aja. Jangan kuatir pak” Kasih mengusap lengan Galang.
Galang mulai lega mendapat usapan tangan dari Kasih. Berusaha terus mengontrol emosinya jangan sampai membuat Kasih syok lagi. Meskipun setiap kali Kasih memegangnya, membuatnya frustasi.
“Kasih, sebetulnya saya mau kasi surprise fireworks (kembang api) waktu lampunya mati” ucap Galang.
“Fireworks? Dimana?” Kasih mulai tertarik dengan ucapan Galang. Matanya berbinar, semangat untuk melihat kembang api.
Galang meraih tangan Kasih. Mengajak Kasih berjalan ke tepi tiang gazebo. Merogoh kantong dan menelpon agar kembang api segera diluncurkan.
Tak lama kemudian ada banyak kembang api yang bermunculan menghiasi area Kelong. Kasih cukup terhibur melihat banyaknya kembang api yang tidak ada hentinya itu. Berteriak “Wouw! Wouw!” berkali kali. Galang semakin senang melihat senyum yang merekah kembali di wajah Kasih. Galang mengirim pesan agar pertunjukan kembang api terus dilanjutkan.
Galang
(Sam, mainkan fireworks nya terus. Jangan sampai habis!)
Begitulah isi pesan Galang membuat sekertaris Sam kelabakan menyuruh orang agar membeli pasokan kembang api lebih banyak. “Demi bonus 10x lipat. Semangat!” Sam menyemangati dirinya.
Sedangkan di gazebo, Galang mulai mendekati Kasih lagi. Menggenggam tangan Kasih yang ada di atas pagar kayu. Pelan-pelan menggeser tubuhnya berada di belakang Kasih. Galang mulai memberanikan diri memeluk Kasih lagi dari belakang. Melingkarkan tangannya di perut Kasih.
Huft… akhirnya emosinya reda, batin Galang memandangi lesung pipi Kasih saat tersenyum.
“Kasih…”
“Ya…” Kasih masih sibuk mendongakan kepalanya melihat kembang api.
“Panggil saya mas lagi ya… Jangan marah-marah lagi”
“Iya mas…”
Galang semakin lega mendengar Kasih memanggilnya ‘mas’ lagi. Mulai mencium kepala Kasih dengan lembut.
Hum… harumnya rambut mu ini… Harus lebih sabar. Jangan sampai membuatnya marah lagi. Batin Galang sambil membelai rambut Kasih.
****
Cus segera nikahi Kasih nya…
Bersambung…
*****