
Setelah acara permainan ATV selesai, teman-teman Raka pulang pada siang harinya. Mereka sudah terlihat sangat lelah. Raka yang juga merasa lelah tidur siang bersama Amelia di kamar.
Sedangkan Galang tengah menunggu kedatangan Kris di ruang kerja villanya.
TOK TOK TOK (Kris mengetuk pintu ruang kerja Galang)
“Masuk!”
Mendengar suara itu, Kris berjalan memasuki ruang kerja Galang. Memandang Galang yang sedang duduk di kursi kerjanya.
“Kenapa mereka mandi lumpur?” tanya Galang.
“Awal kejadiannya sebenarnya bermula dari Amelia. Dia yang lebih dahulu membuat Kasih basah kuyup. Lalu Kasih menabrak ATV Amelia sampai masuk ke kolam lumpur.”
“Mm...”
“Pak… Baru saja saya dapat info, madam tidak mau balik kalau Amelia masih disini. Maaf pak… menurut saya sebaiknya bapak menanyakan tujuan apa Amelia datang kemari. Saya juga kuatir dengan kondisi Caca. Sejak dari siang dia juga uring-uringan.”
“Mmm Ok. Gimana trip ATV kamu dengan Caca tadi? Dia senang?”
“Ya pak.”
Setelah percakapan itu, Kris mulai beranjak keluar dari ruang kerja Galang dan pergi dari villa itu. Galang yang masih di ruang kerjanya terdiam sejenak. Mengingat kejadian pagi ini.
Galang Point Of View
Kedatangan Amelia pagi ini memang diluar dugaan. Tapi kalau dipikir pikir… mengingat raut wajah Kasih saat Amelia menciumku di LFT… Apa dia cemburu ya…? Hahaa. Apa dia mulai menyukaiku? Kalau memangg iya… wajahnya sangat menggemaskan saat cemburu. Hahaa.
Menyenangkan sekali mendengar laporan Kris barusan. Dia sampai menabrak ATV Amelia. Hmmm Sejauh apa perasaannya untuk ku…
Tapi bagaimana dengan Raka… Apa dia siap memiliki mama baru? Melihat kebahagian di wajahnya saat Amelia datang… Ini membuatku takut… Apa mungkin aku bisa memilikinya…
Author Point Of View
Di tempat lain, Kasih sedang duduk bersama Caca di sofa kamar Caca. Mereka menikmati siang itu dengan makan bersama melalui pesanan room service. Selanjutnya mereka duduk di belakang villa, tempat grand piano berada.
“Iihh Kamu pintar sekali sih bisa main piano…” ucap Caca setelah Kasih memainkan 1 lagu kesukaannya.
“Loh, Caca juga bisa kan?” tanya Kasih.
“Enggak… Ini piano dibeli khusus untuk menyambut cowok itu. Tapi… ah ya sudahlah. Aku lelah untuk bersedih terus,” jawab Caca sambil makan cemilan di toples.
“Ah ia… Lupakan saja cowok gak baik itu. Eh… Caca tahu gak…” Kasih menatap muka Caca, memastikan mood Caca sedang bagus atau tidak.
“Apa…? Cerita aja. Jangan buat aku penasaran.” Caca mengambil cemilan dan mengunyah lagi.
Sepertinya kondisinya ok, batin Kasih.
“Em… kurang lebih 1,5 tahun lalu waktu saya training di Thailand… Hotel tempat saya bekerja itu kedatangan tamu VIP. Mereka memasang karpet desain Persia, mirip karpet yang dipakai untuk menyambut keberangkatan dan kedatangan Caca dan Raka kemarin... Nah, karpet itu mengingatkan saya kalau dulu saya sudah pernah bertemu Amelia, mantan pak Galang. Dia berfoto diatas karpet itu dengan cowok. Gara-gara itu saya kena marah sama manager saya disana… Hehee. Karena seharusnya saya lebihh tegas lagi waktu mereka adu mulut dengan saya. Mereka main injak karpet meskipun saya sudah melerai tidak memperbolehkan foto di atas karpet. Karena karpet itu cuma untuk menyambut tamu VIP tadi. Jadi seperti memiliki kenangan menyebalkan tersendiri dengan mereka.”
“Oo… ngeselin juga ya. Karakter Amelia memang kaya gitu. Sesuka dia. Eh… seperti apa cowok yang bersama dia disana?” tanya Caca penasaran.
“Seingat saya dia punya tato di dada.” Mendengar jawaban Kasih, Caca jadi terdiam sesaat. “Ca… Jangan sedih dong… Caca mau tahu kelanjutan ceritanya ga…?” tanya kasih sambil tersenyum. Memberi energi kalau perempuan harus selalu tegar.
“Iya… Gimana?”
“Hari selanjutnya saya melihat mereka bertengkar di lobby hotel, waktu saya jaga malam. Dengan cowok yang sama juga, Amelia dipukul sama cowok itu. Terus paginya waktu mereka check out saya lihat muka keduanya lebam. Macam adu jotos.”
Cerita Kasih membuat Caca keheranan. Caca mengeluarkan handphone dan menunjukan foto.
“Apa orang ini yang kamu lihat?” Kasih mengambil handphone Caca. Mengamati foto itu.
“Iya. Dia orangnya. Apa ini mantan Caca?” tanya Kasih.
“Hmmm Namanya Edo,” Caca mengangguk.
“Untunglah Caca gak jadi sama dia. Bisa-bisa adu jotos tiap hari...” ucapan Kasih membuat Caca sedikit tertawa. “Ya mungkin memang jalan kalian berpisah harus setragis itu. Supaya Caca cepat bisa move on…” Ucapan Kasih membuat Caca tertawa lagi. “Ca…” ucap Kasih lagi.
“Apa…?”
“Pak Kris juga bertato kok… Hihii. Jangan galau-galau terus… Tuh kaya Amelia tuh. Habis rebut cowok orang sekarang mau balik ke pak Galang…” Ucap Kasih sedikit emosi mengingat tentang kejadian di LFT pagi itu.
“Hihii. Kenapa muka jadi ketekuk gitu? Cemburu ya…? Hihii… Kalau cemburu gak pa pa juga. Nanti aku laporin ke mas Galang… Hihii,” ucapan Caca membuat muka Kasih memerah. Entah perasaan apa itu, Kasih pun bingung dengan dirinya.
“Gak lah Caca… Ah udah ah… Kenapa saya yang dipojikin gini jadinya…?” Kasih semakin merasa malu.
Tiba-tiba handphone Kasih yang ada diatas piano berbunyi.
Tilulit Tilulit Tilulit (Mr. Double Espresso)
Caca sangat penasaran dengan nama kontak panggilan itu. Kasih segera menerima panggilan.
“Good afternoon pak… Iya pak…” Kasih menutup telponnya. “Ca, saya pergi dulu ya...” Kasih mulai beranjak berdiri dari kursi depan piano.
“Mau kemana?”
“Villa pak Galang…” mendengar jawab Kasih, Caca langsung tertawa terbahak-bahak. Ini seperti lelucon untuk kakaknya. “Jangan bilang pak Galang ya… Ini rahasia…” kata Kasih sambil tersenyum melambaikan tangan untuk segera pergi ke villa sebelah.
Kasih hanya butuh waktu kurang lebih 3 menit untuk menuju villa Galang. Dari luar dia melihat Galang sedang duduk di teras atas. Dia sudah memakai baju kerja dengan setelan jas berwarna biru navy. Kasih segera berjalan menuju teras lantai dua.
“Ada yang bisa saya bantu pak?”
“Bisa buatkan saya double espresso…?” Galang menatap Kasih. Seperti ada rasa rindu yang sudah lama tidak melihat Kasih. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka berpisah dari area ATV.
Duh… si bapak tumben mintanya pakai bahasa yang halus… Batin Kasih sambil merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Huft… sebenarnya apa yang mau diucapkan pak Galang tadi pagi…? Kasih mengingat saat Galang meraih tangannya.
“Bisa pak.”
Belum sempat kasih beranjak pergi dari teras, tiba-tiba Amelia datang. Dia langsung duduk di samping Galang.
“Beri saya Cuppucino juga,” pinta Amelia tanpa memandang Kasih. Kasih hanya bisa mengiyakan permintaan Amelia.
“Baik nyonya.”
Kasih segera menuju ke dapur. Mood kembali tidak baik lagi setelah melihat Amelia. Terlintas sebuah ide jahil di kepala Kasih. Dia membuat simpel art cappuccino untuk Amelia.
Pembalasan terkena air lumpur di wajah, anggaplah sudah impas dengan menabrak ATV nya tadi. Tapi pembalasan untuk ucapannya yang merendahkan aku sampai tidak berpendidikan… akan kita mulai dari cappuccino ini. Batin Kasih.
Setelah membuat pesanan untuk Galang dan Amelia, Kasih segera menuju teras atas. Dia meletakan kopi milik Galang dan Amelia. Tanpa lama-lama Amelia memandangi cappuccino nya.
“Siapa yang buat ini?”
“Saya nyonya… Kenapa?” tanya kasih mendekat ke tempat duduk Amelia.
Galang sedikit tertarik dengan pembicaraan 2 perempuan di sampinya. Tapi dia pura-pura sibuk dengan tabletnya. Dia melirik ke cappuccino yang dibuat Kasih. Melihat gambar kecil yang aneh menyerupai hantu, membuat dia tersenyum simpul.
“Apa maksud mu buat coffee art seperti ini?” Amelia memandangi cuppuccinonya di meja.
“Saya tidak membuat coffee art. Mana ada tuh… Cuma foam (busa) susu biasa. Nyonya bilang saya tidak educated… tidak berpendidikan… mana bisa saya buat coffee art. Itu hanya busa susu ajaa…”
Ucapan Kasih membuat Galang tersontak kaget.
Apa maksud ucapannya itu? Jadi Amelia mengatainya tidak educated…? Siapa dia bisa menghina Kasih dengan ucapan itu? Batin Galang sedikit melirik ke Kasih dan Amelia yang sudah mulai memanas.
“Enjoy your coffee nyonya… Saya permisi, pak.”
Kasih segera pergi dari teras. Berjalan secepat kilat. Sedikit merasa puas bisa melaporkan perbuatan Amelia meski tidak secara langsung.
*****
Udah berapa skors ya pertandingan antara Amelia dan Kasih…
Bersambung…
*****