
Malam itu, Kasih tidur bersama Raka dan mamanya di villa. Bed nya cukup besar sehingga muat bertiga. Kasih mengusap usap kepala Raka membuat Raka mudah tertidur. Obrolan mas Aan dengannya masih teringiang. Memikirkan apakah keputusan menikah dengan Galang adalah hal yang tepat atau bukan.
“Kasih… Sih… Dek…” panggil bu Sarah saat berada di depan meja rias.
“Ya ma? Kenapa?” tanya Kasih balik.
“Kamu kok melamun… Ntar kesambet loh!” Bu Sarah mulai masuk kedalam selimut di samping Raka. “Mikirin apa kamu? Mukanya galau gitu… Harusnya happy… bahagia mau nikah. Ini malah dari tadi sore mama lihat kamu melamun terus”
“Ga pa pa kok ma…” jawab Kasih memberi senyuman.
“Kalau mau nikah itu ya biasa banyak pikiran. Yang penting perasaan mu jangan sampai goyah ke Galang. Mama lihat kayanya Galang sangat sanyanggg banget ke kamu. Nyari kamu terus hari ini… Hihii” ledek ibu Sarah mengusap tangan anaknya. “Dia juga baik sama mama dan mas Aan... Waktu fotomu jadi trending topik sama Galang, spa sama coffee shop mas mu sempat sepi seharian. Tamu langganan pada ga datang. Mama sempat kuatir bakal ga punya penghasilan lagi” Kasih sangat kaget dengan ucapan mamanya.
“Masa ma? Terus sekarang gimana? Spa ama coffee shop kita masih buka kan?” tanya Kasih penuh kuatir.
“Ya buka dek… Tapi pendapatan masih jauh dari rata-rata. Mulut tetangga pedes pedes. Ya mama ga usah bagi tahu kamu kalimat mereka. Yang pasti kalimat negatif mojokin kamu” Bu sarah mengingat saat anaknya dicap penggoda bos. “Tapi nak Teo bawahannya Galang datang, dia membuat kerjasama dengan hotel jogja yang ga ada spa agar tamunya mau datang ke spa mama. Dari situ tamunya ditawarkan ke coffee shop mas mu. Terus bagiin voucher menginap gratis di sini. Dananya pasti dari calon suami mu itu”
Kenapa sih aku harus meragukan mas Galang. Maafin aku ya mas… Aku hampir mundur dari acara pernikahan kita. Ternyata kamu baik banget ke mama sama mas Aan, batin Kasih merasa lebih lega mendengar cerita mamanya.
“Dek… nanti kalau kamu dah nikah, terus ada masalah sekecil atau sebesar apa pun itu… Jangan pernah kamu lari dari masalah. Jangan pernah kamu main kabur-kaburan. Harus diselesaikan bersama. Jangan kebo-kebo juga tidurnya… kasian suamimu kalau butuh… Hihii” ucap bu Sarah membuat pipi Kasih panas dan merah.
“Apalah mama ni…” menutup muka dengan tangan.
“Eh, penting itu… Kamu juga harus perawatan. Mama bawa bahan ratus dari Jogja dan Solo. Biar harum… makin klepek-klepek suamimu. Hihii. Besok kita ke spa. Disana ada alat kursi ratus. Tapi stok aromanya habis. Untung mama bawa…” ucap ibu Sarah menggoda Kasih yang sudah sangat malu.
“Ish… mama nih. Aku yang nikah atau mama yang nikah sih…”
“Itu penting dek… kamu harus pintar merawat diri. Biar suami mu selalu nempel. Lengket terus. Mukanya cakep gitu. Badannya athletis juga… jadi kamu harus mengimbangi…”
“iya ma…” pasrah mendengarkan ceramah mama.
“Mama dengar dari bu Lily kalau mantan istrinya minta balikan terus. Kamu jangan sampai kalah loh! Mama udah cocok banget ama bu Lily. Hobby kita melakukan perawatan di spa sama. Dia juga suka yoga kaya mama. Mama lihat Raka juga sayang sama kamu. Udah panggil mama mama ke kamu”
“He em ma…”
“Jangan he em he em wae! Besok mama kasi kamu ratus. Biar aromanya itu enak kalau…”
“Iya maaa…” Kasih memotong ucapan mamanya. Sudah sangat malu karena pasti terbayang muka Galang.
“Ya udah… besok kita pergi ke spa buat perawatan”
Ibu Sarah mulai memejamkan matanya untuk tidur.
_____
Pagi harinya, sesuai rencana ibu Sarah, Mereka melakukan perawan ke spa. Hari ini banyak tamu datang ke Luxus Resort. Karena besok merupakan wedding day Galang dan Kasih.
Galang sangat sibuk menyambut koleganya. Raka sudah ramai sendiri mondar-mandir ditemani Aan. Raka sangat nyaman dengan Aan semenjak berenang di umbul Ponggok.
Kris dan Caca juga sibuk menyambut para tamu. Semua tamu bisa menginap di Luxus secara cuma-cuma. Kamar hotel dan villa sampai penuh. Mengharuskan mengoper beberapa tamu ke resort-resort sebelah.
Madam Lily masih ikut bersantai menikmati perawatan spa bersama Kasih dan ibu Sarah.
Pagi itu, Amelia datang lebih awal dari hari undangan. Dia sudah berada di LFT saat ini. Amelia sangat syok dengan informasi bila Galang akan menikahi Kasih besok. Marah, geram, tidak terima jika Kasih menggantikan posisinya sebagai ibu Raka dan istri Galang.
Amelia pergi mencari Galang ke villa, tapi dia tidak menemukan Galang. Berusaha menghubungi lewat telpon tapi panggilannya di reject. Akhirnya Amelia memutuskan mencari Galang ke kantor resort.
Di Kantor, Galang sedang memiliki tamu penting untuk membahas salah satu proyek finishing restaurant underwater. Perencanaan untuk memesan barang-barang restaurant dari luar negeri.
BRUG! (Sam tersungkur ke lantai)
Amelia mulai masuk menampakan mukanya dihadapan Galang. Ini membuat Galang sangat geram. Terlebih Galang memiliki tamu di ruang kerjanya.
“Maaf pak, Nyonya Amelia memaksa masuk” kata Sam.
“Saya permisi pak Galang. Sepertinya anda memiliki tamu penting” kata tamu laki-laki itu. Berdiri bersiap untuk beranjak pergi.
“We’ll discuss it later again” Galang menepuk bahu tamunya. (Kita akan bahas lagi nanti)
“Sure no worries. Just call me anytime” timpal tamu itu sebelum beranjak pergi. (Tentu jangan kuatir. Telpon saya kapanpun)
Sam dan tamu itu segera keluar dari ruang kerja Galang. Tinggal lah Amelia dan Galang di ruangan itu.
“Mas…” Amelia mulai mendekati Galang. “Jangan menikahi nya…” Amelia berusaha meraih tangan Galang. “Aku mau kembali sama mu. Aku serius. Aku akan menjadi istri dan ibu yang baik. Aku mohon….” Amelia merasa sangat sedih. Dia benar-benar ingin kembali ke pelukan Galang. Amelia mulai memeluk tubuh Galang. Tapi Galang tidak memberi respon. Air mata Amelia sudah banjir sampai menetes ke baju Galang.
“Mau ku panggil Caca atau security?”
“Mas, jangan seperti ini... Aku mau kita balikann Hiksss Huaaaaa! Aku mau kamu! Aku ga rela dia sama kamu! Aku mau kamu mas… Mas Galang beri aku kesempatan! Aku menyesal pernah bersama Edoo hikss... Aku sangat membutuhkanmu. Aku mencintaimu, mas…” Amelia menangis sejadi-jadinya. Berteriak membuat keributan.
“Menyesal? Hah?” Galang berusaha menjauhkan tubuh Amelia. Tapi perempuan itu terus mempererat dekapannya.
Sampai akhirnya Caca datang ke ruang kerja Galang. Caca sangat tidak rela Amelia mengganggu kakaknya lagi. Sudah sangat geram dengan semua sikap Amelia.
Tangan kanan Caca mendarat mencengkram rambut Amelia. Amelia mulai menoleh melirik Caca.
“Don’t touch my hair” kata Amelia penuh sinis. (Jangan sentuh rambutku)
Caca dan Amelia memang tidak pernah akur semenjak kejadian diving di Karimunjawa.
“Don’t touch my brother” Tangan mencengkram semakin keras . “GET OUT! GET OUT NOW!” Teriakan Caca tidak hanya membuat Amelia kaget. Galang juga ikut kaget mendengar suara Caca. (Jangan sentuh saudara laki-lakiku) (Keluar! Keluar sekarang!)
Terpaksa Amelia melepaskan pelukannya. Menatap mata Caca dengan tajam. Amelia keluar dari ruang kerja Galang penunh emosi.
Lihat saja… aku ga kan tinggal diam, Amelia membatin dengan penuh kekesalan.
*****
Kasih… pakai ratus dulu ya…
Biar makin ah ah ah…
Bersambung
*****
Note
Wejangan: Nasihat