
Setelah selesai mencuci muka, Kasih berjalan menuju kasurnya. Kasih memakai salah satu daster rok panjang berwarna biru yang dibelikan madam Lily. Dilihatnya Galang sedang mengusap-usap kepala Raka agar membantu cepat tidur.
Biasanya Kasih memakai kasur dekat jendela. Kasur yang satu dibiarkan kosong. Malam itu Raka tidur di kasur yang biasa Kasih pakai.
“Mas, mas Galang pindah situ gih. Raka kan mau bobok sama saya” Kasih menyuruh Galang agar pindah Kasur.
“Kasurnya masih bisa muat bertiga. Saya mau tidur sama Raka juga” kata Galang sambil mengusap-usap kepala Raka. Anak itu sudah hampir terlelap.
Tiba-tiba Raka terbangun karena mendengar suara Galang yang berada di dekatnya.
“Paa! Pindah sana! Raka ama mama bobok!” Sambil menendang badan Galang dari bawah selimut. Pergerakan kaki Raka bisa diketahui dari goncangan selimut. Kasih hanya bisa menahan senyumnya.
Sukurin… Hihiii, Kasih mulai masuk kedalam selimut. Dengan malas Galang harus menggeser badannya pindah ke kasur sebelah.
“Kasih, lampunya saya ganti pakai lampu tidur ya. Saya gak bisa tidur kalau pakai lampu”
“Ya, boleh” mendengar jawaban Kasih, Galang segera mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.
Malam pun semakin larut. Kasih terbiasa tidur dengan pencahayan. Raka tidak ada masalah dengan lampu menyala atau mati. Tapi malam ini adalah malam terberat Galang. Dia tidak bisa tidur dengan lampu yang menyala sedikitpun. Berguling ke kanan dan ke kiri berusaha tidur. Sesekali duduk bersender di punggung kasur melihat Kasih dan Raka.
Raka dan Kasih sudah tertidur dengan lelap. Kasih sangat menikmati tidurnya dengan memeluk Raka. Raka terlihat sangat nyaman berada dalam pelukan Kasih.
Didalam tidurnya Kasih bermimpi aneh. Seperti ada yang meremass, menekan nekan, menari-nari di bawah perut. Dia melihat dirinya mendesah hebat di atas ranjang dan mencengkram sprei. Sampai akhirnya Kasih membuka mata dan masih merasakan tekanan dibawah sana. Masih mendesah merasakan permainan di bagian intimnya. "Ahh..."
Kasih mulai sadar bukan cuma tarian yang menekan-nekan dibawah perutnya. Ada pergerakan hebat dibawah selimutnya.
Masih mengumpulkan kesadaran memastikan itu bukan mimpi. Dilihatnya Raka sudah berpindah tempat tidur di kasur sebelah. Kasih mulai berusaha membuka selimutnya. Baju daster rok panjang sudah tersingkap naik sampai leher. Kasih melihat Galang sedang menikmati aktifitasnya dengan bertelanjangg dada.
“Mass… Ah…” Suara kesal dan gemas diikuti menjambak rambut Galang. Tapi Galang tidak mempedulikan itu. Dia menahan tangan Kasih masih sambil meremah dua benda sintal di bawahnya. Galang menggesekkan boxeernya berkali-kali di bagian favorite incarannya. “Mas Galang mmppp, ahh” Kasih berusaha menjauhkan bibirnya.
“Kasih… aku mau malam ini. Boleh ya… ke kamar mandi yuk. Ada Raka disini” Berbisik mendesah ke telinga dengan kecupan bertubi-tubi di leher dan bibir. Terus mengukung Kasih yang berusaha mendorongnya.
“Aku takut…” suaranya getir masih berusaha melawan tangan Galang yang mencengkramnya.
“Pelan pelan ok” Sibuk menguluum bibir Kasih.
“Sudah hampir keluar ni… Mau di dalam atau diluar? Aku lebih suka di dalam… Di dalam ya… aku kan calon suamimu” Mulai sibuk dengan gunung kembar mengkecupp-kecupp tanpa henti meninggalakan jejak.
Kasih mulai meneteskan air matanya. Memalingkan wajahnya dari Galang. Ini membuat Galang takut. Galang mulai berhenti dari aktifitas panasnya. Terasa berat harus berhenti meski sudah di ujung ingin menyembur. “Huft…”
Galang mulai membenarkan daster rok panjang milik Kasih. Sial kenapa harus menangis! Padahal sudah berhasil ku buat basah. “Ck!” Galang mendengus kesal harus mengalah lagi.
Galang mulai memeluk Kasih. Perempuan didekapnya itu menangis. Kasih menahan suara tangisnya. Takut Raka terbangun. Galang mengelus lengan Kasih dan menciumi kepala Kasih.
“Maaf ya sayang. Tidurlah” mendekap Kasih dengan erat yang membelakanginya dengan punggung. Rasanya masih ingin dilanjutkan. Galang menghirup aroma tubuh Kasih dari leher untuk memberikannya ketenangan. “Maaf… Jangan nangis lagi” bisik Galang sambil meraba pipi Kasih untuk mengapus air mata.
Mereka terdiam sesaat. Galang tahu Kasih belum tidur. Dia terus memeluk Kasih. Untuk memberikan ketenangan.
“Mas…”
“Aku mau ke toilet. Mau kencing” Galang mulai meregangkan pelukannya. Membiarkan Kasih pergi ke toilet.
Di dalam kamar mandi, Kasih masih tidak percaya dengan kejadian yang dia alami barusan. Mengecek bagian dada yang sudah habis merah semua. Kasih Mulai mengganti celananya dengan yang baru.
Ini benar benar gila, dia gak bisa sabar sebentar saja… huft… Kasih memijit kepalanya yang terasa berat. Rasa mengantuk dan syok bercampur jadi satu. Beberapa kali mengambil nafas panjang dan menghembuskan pelan pelan agar lebih tenang.
Kasih mulai membuka pintu kamar mandi. Dilihatnya Galang sudah berdiri menunggunya. Galang sudah memakai baju tidurnya. Galang meraih tangan Kasih. Menatap mata perempuan yang sudah membuatnya gila itu.
“Kasih…”
“Mas, aku mau tidur di villamu kalau kamu mau tidur disini silahkan” Kasih masih kesal dengan Galang.
Galang takut sekali dengan ancaman ini. Dia tidak bisa berjauhan sedikitpun dari Kasih. Galang mulai memeluk Kasih. Pelukan yang hangat, berusaha menenangkan perasaan Kasih. Kasih hanya diam saja. Sudah memahami kalau Galang tidak bisa jauh darinya. Galang mengelus punggung Kasih.
“Jangan pergi, kamu bisa tidur sama Raka. Aku gak akan ganggu kamu. Aku bisa tidur di bed sebelah” Galang tetap dengan pendiriannya ingin berada di kamar Kasih.
“Hm…” Kasih sudah malas untuk berdebat dengan Galang. Lari ke kamar mana pun ini adalah resort Galang. Dia tidak bisa lari dari Galang, begitu pikir Kasih.
Galang mulai menyelimuti Kasih. Mengusap kepala Kasih dan masih dengan gayanya yang sama, mencium bibir dan kening Kasih.
“Maaf ya…” Kasih tidak mempedulikan ucapan Galang itu. Dia menggeliat memeluk Raka.
“Kenapa gak dijawab? Kasih…” Berusaha meraih tangan Kasih, tapi Kasih menolak dan mengeratkan pelukan ke Raka.
“Iya mas… udah sana ke bed kamu…” nada suara masih kesal tidak mau memandang Galang.
“Iya… good nite sayang” Galang masih mencari kesempatan mengusap bibir Kasih.
Galang mulai berjalan ke bednya dan masuk kedalam selimut. Kasih mulai memejamkan matanya.
Ngeselin! Ish… Kenapa sih ini masih berdenyut denyut! Dia ni betul-betul sukses berselancar. batin Kasih sambil menutup rapat-rapat matanya.
Malam terus berlanjut. Galang masih belum bisa tidur. Mengecek Kasih yang ada di kasur sebelahnya. Takut kalau sampai Kasih pergi keluar dari kamar. Akhirnya malam itu Galang memutuskan untuk tidak tidur. Berusaha memejamkan mata juga tidak bisa terlelap. Lebih baik duduk, bisa memandangi Kasih dan Raka lebih membuatnya tenang.
Galang mulai menggeser badannya untuk berpindah mendekati Kasih. Mengusap kepala Kasih dengan pelan-pelan.
*****
Raka kenapa boboknya nyenyak kali ya…
Bersambung…
*****