
Emosi Galang sudah tidak bisa dibendung lagi. 2 kata ‘Kagum’ dan ‘Baik’ membuatnya murka. Galang menyeret Kasih ke kamar tamu di villanya. Kamar yang paling dibenci oleh Kasih. Kamar yang membuat hati Kasih sempat terluka membayangkan adegan Galang membuka baju Amelia.
“Aaaa… Aku ga mau ke kamar itu mas! LePaS! Lepasin tangankuU!” Kasih meronta-ronta menolak masuk kamar tamu.
Galang semakin kesal mendapat penolakan masuk kamar dari istrinya itu. Kasih memukul tangan dan lengan Galang sekuat tenaga. Ini membuat Galang semakin murka. Berfikir kalau Kasih tidak mau melayaninya sebagai seorang istri. Berfikir kalau Kasih memiliki perasaan untuk Kris. Seperti mengalami dejavu lagi saat Amelia berselingkuh dengan Edo. Kisah cinta mantan istrinya itu seperti terngiang di otaknya. Berfikir kalau Kasih ada perasaan untuk Kris, laki-laki yang dekat dengan adiknya.
Kasih terus memukul Galang dengan menangis sejadinya.
“Huaaa…! Mas Galang aku ga mau! Aku ga mau… masuk kamar ini…!” Kasih terus melakukan perlawanan menarik tangannya mundur. Tidak mau menginjakan kakinya di kamar tamu itu. “LePasin mass… huaaa hikzz hikzz” Terus berusaha melawan.
Tapi apalah daya kekuatan perempuan bila dibandingkan dengan laki-laki. Terlebih emosinya sedang mendidih. Galang mengangkat tubuh Kasih masuk ke kamar terdekat. Tidak mau membuang tenaganya menyeret Kasih ke lantai 2.
JDUARRR!
Galang melempar pintu dengan kuat. Kasih semakin takut dengan sikap Galang yang kasar.
“Ampun Mas… Ampun… Hiksss” Kasih menangis tersedu-sedu. Perasaannya takut kalau Galang akan menyakitinya. Keringat sudah bercucuran dengan air mata.
Galang mulai melempar tubuh istrinya ke kasur. Menarik bajunya dan asal melempar ke lantai. Tangisan Kasih semakin mengeras. “Ampun mas… hikss… ampun…” Kasih meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. Merasa sangat malu bertelanjang tanpa sehelai benang. Masih belum terbiasa meskipun tahu suaminya pernah menikmati tubuhnya sebelumnya.
Kasih semakin takut saat melihat suaminya membuka celana. Melempar jas tuxedo dan kemeja secara asal. Kasih tahu hal ini akan terjadi. Tapi Kasih tidak mengharapkan terjadi saat emosi Galang sedang meledak-ledak.
“Ampun mas… hikss… aku ga akan kagum lagi sama pak Kris. Ga akan lagi… Ampun mas…” mencoba menjauh dari Galang yang sudah mulai naik ke bed.
Telinga Galang seolah tuli tidak mau mendengar ucapan istrinya. Tidak menerima penjelasan apapun dari Kasih. Galang menarik kaki Kasih menyeret mendekatinya. Memaksa tengkurap dan menaikan pinggang istrinya untuk menyatukan barang yang sudah lama menegang. HAP! Sekali hentakan memaksa masuk.
“AUU………!” Seluruh otot Kasih terasa runtuh. Tidak ada kekuatan lagi. Tetapi Galang memaksa dengan posisi semula. Aliran darah seperti terhenti dirasakan Kasih. Mencengkram erat seprei sampai badannya menggigil menahan sakit. “HUAAA Hikzzz Hikzzz mas…”
Kasih hanya bisa memejamkan matanya. Menahan rasa sakit yang belum pernah dirasakan. Menerima perlakukan suaminya yang sedang terbakar cemburu.
Ritme yang dilakukan Galang sangat kasar. Kasih hanya bisa menangis menahan sakit. Tenaga untuk menjerit sudah habis. Kasih mulai memejamkan mata mengikuti permainan suaminya. Sesekali mendesah “Ah… Ahh… Au…” sambil mengeratkan cengkraman tangan ke sprei.
Sial! Ternyata dia masih perawan. Pasti sakit tanpa pemanasan, batin Galang sambil mengusap cipratan darah yang keluar. Galang tidak mau menghentikan permainannya. Berfikir… Toh Kasih sudah menjadi istrinya, jadi bebas melakukan apapun. Kasih hanya miliku… hanya milikku… dia Istriku… Semakin memperkuat ritme hentakan permainan.
Galang meremas semua yang bisa dia remas. Menciumi dan menggigit tanpa ampun. Memainkan benda sintal yang tergoncang menggantung. Meremas menikmati goncangan yang dia buat. Memainkan jarinya membuat Kasih semakin mengerang.
Kasih mencoba merangkak menghindar tapi kedua gunung kembarnya diremas Galang. Semakin pasrah, harus mau menikmati permainan suaminya.
Mas… apa ini yang namanya menyukai…? Apa ini yang namanya cinta…? Aku hanya merasakan nafsu. Nafsu mu yang membabi buta. Apa kau sadar kalau badanku sudah menggigil. Apa kau tahu kalau rasanya ini sangat menyakitkan…? Mengerutkan dan memejamkan mata menahan rasa sakit. Berusaha tetap di posisi yang sama sesuai keinginan suaminya.
“Hikss…” Kasih berusaha menahan tangisnya. Berusaha mengumpulkan energi untuk mengikuti keinginan Galang.
Setelah satu jam Galang menghajar istrinya tanpa ampun. Akhirnya dia ambruk di atas badan Kasih. Kasih sudah lemas tidak mau memberontak atau menangis. Galang mulai memeluk istrinya yang sudah tidak berdaya itu. Mencium kening Kasih dan menghirup aroma rambut Kasih. Menghirup dalam dalam dan menghembuskan…”Huft…”
“Apa kamu masih menyukainya?” tanya Galang.
“Enggak” jawab Kasih sambil menggeleng dalam dada bidang suaminya. Galang mempererat pelukannya.
“Kamu hanya boleh mengagumi suamimu”
“Kamu suka posisi barusan?”
Pertanyaan gila macam apa ini? Jelas kamu tahu aku kesakitan mas… Tapi kamu seolah ga peduli, batin Kasih seolah ingin menjawab seperti itu. Tapi takut kalau Galang akan marah dan melakukannya lagi.
“Iya mas… aku suka. Tapi jangan kasar-kasar ya lain kali” Air mata Kasih mulai berlinang lagi. Menyembunyikan mukanya di dada bidang Galang. Galang tidak tahu ada air mata yang sudah banjir di dadanya. Keringatnya masih bercucuran setelah pergulatan hebat.
“Kamu mau lagi?” tanya Galang.
Pertanyaan ini membuat Kasih kesal. Baru sebentar beristirahat, Galang sudah meminta lagi.
Hiihh! Ini sebenarnya malam pertama atau serangan pearl harbour sih?! Udah sakit berdarah darah tahu! Bisa ga sih besok lagi! Mendongakan kepala dan menatap nanar wajah suami yang tangannya sibuk bergerilya.
Kasih ingin bilang tidak, tapi tangan Galang meremas benda padat dibawah sana agar mendekati barang yang mulai mengeras lagi.
“Mau ya… Kita pindah bed atas yang lebih besar” Kata Galang yang kemudian mendaratkan ciuman di bibir Kasih. Mencium dengan lembut bibir istrinya. Menggigit kecil untuk memberi akses menjelajahi setiap sudut mulut Kasih. Kasih hanya pasarah karena kali ini Galang lebih halus melakukannya. Mereka saling bertukaran saliva.
Galang sudah tidak tahan lagi untuk melakukannya. Mulai menggeser posisi Kasih. Menindihi badan istrinya dan memasukkannya lagi. “Ahh…” Kasih mengerang pelan mencengkram sprei. “Ahh…"
“Kamu suka?” Tanya Galang menikmati desahan istrinya. Kasih hanya menutup matanya dan mengangguk. Galang sangat puas melihat ekspresi istrinya.
Ritme permainannya lebih halus tidak sekasar posisi pertama. Tapi hentakannya semakin lama semakin cepat membuat Kasih kesakitan, menggelengkan kepala kekanan dan kekiri. Memejamkan mata dan mencengkram sprei lebih kuat.
“AHH… Mas! Mas…! Sakit…!” Kasih tidak bisa menahan rasa sakitnya
“Sebentar lagi… Ah… Ah…” Menghentakan lebih cepat.
“Ini sampai ke ulu hati tahu! SAAKIIITTT! SAAKIIITT MAS…!” Kasih mulai berani berteriak. Galang mulai menjambak pelan rambut istrinya.
“Bentar lagi… Sayang” Semakin menaikan ritme permainan.
Ah sudah lah mas… Bor sesukamu. Bor semaumu. Habisi istrimu ini, Kasih hanya bisa pasrah menghadapi suaminya. Seperti sudah kelaparan bertahun-tahun.
Malam pertama yang panjang untuk Kasih masih berlajut di lantai dua kamar Galang. Galang tidak memberikan istirahat sedikitpun untuk Kasih.
****
Happy Wedding pak Galang…
Nyonya Kasih… Tetap semangat ya…
Bersambung…
*****