My Butler

My Butler
Kaki Di Kepala, Kepala Di Kaki



Setelah dari ruang tempat cuci piring, Kasih pergi ke kamarnya. Mandi, merapikan kamar, mengecek whatsapp mama dan kakaknya.


“Ini apa coba… Dua duanya ditanya apa kabar… lagi apah… malah jawabannya YA Ya Ya aja si… Ish, Sesibuk apa sih mereka disana? Emang gak kangen mikirin aku yang ada disini sendiri? Huh!” Kasih merasa kesal memandangi layar handphone.


Tiba-tiba suara handphone berbunyi.


Tilulit Tilulit Tilulit


 


“Siapa nih?” Kasih mulai mengangkat telpon nomor tak dikenal itu.


“Good morning, Kasih!”


“Good morning. Kasih speaking,” kata Kasih.


“Hai saya Sam, sekertaris pak Galang.”


“Ow pak Sam. Ada apa pak?”


“Bisa antar double espresso ke kantor bapak sekarang?”


“Loh? Saya sudah minta room service mengantar, pak...”


“Pak Galang bilang beda rasa. Bisa kamu antar kopinya?”


Apah…? Kok bisa beda rasa? Aku buatnya cuma pencet mesin kopi currr dan keluar itu espresso ke cangkir. Gimana bisa beda rasa? Lagi sakit ya lidah pak Galang? Hm... Kasih menggerutu dalam pikirannya.


“Baik pak, saya antar kopinya.”


“5 menit lagi ya saya tunggu.”


“Siap, pak!”


Kata 5 menit membuatnya segera melompat dari Kasur. Berlari dan bergegas memakai celana jeans dan tshirt. Hari itu Kasih tidak memakai seragam, karena dia menyetor seragamnya ke laundry. Hari libur seragam harus dicuci meski baru saja dipakai, begitu pikirnya.


Kasih menuju mesin kopi di lounge bar, tempat kejadian espresso pertama dia buat untuk pak Galang.


“Si bapak ada-ada wae.” Kasih segera mengantar espresso menggunakan nampan.


Banyak staff keheranan melihat tingkah Kasih. Tidak memakai seragam, tetapi membawa nampan berisi secangkir kopi. Tapi ini pemandangan yang fresh untuk kaum adam. Rambut panjangnya yang tergerai… gaya jalan yang sedikit tergesa-gesa membawa nampan… Hmm... Segar dipandang.


Tiba-tiba Tania muncul menghadang di depan ruangan Galang.


“Bawa apa kamu?”


“Double espresso. Excuse me… udah mau dingin kopinya,” Kasih berlalu memasuki kantor Galang. Tidak mempedulikan Tania.


Tania berdiri kesal menatap punggung Kasih yang sudah mulai memasuki ruangan Galang.


Ish… menyebalkan. Belagu banget baru jadi butler. Kenapa meraka malah makin akrab aja sih! Harusnya pak Galang pecat dia pagi ini… Malah minta espresso... Apa foto Teo dan dia gak berguna? Atau aku laporin ke madam aja... Untung semalam aku ambil foto dia pas berdiri depan villa pak Galang. Tapi mending aku kasihnya ke madam secara langsung. Biar aku lihat gimana ekspresi madam sekalian. Hahaa Biar kena pecat sama madam. Karyawan baru godain bos tengah malam. Jangan macam-macam kamu. Ck! Batin Tania.


Kasih masuk ke kantor itu. Dia melihat Sam sedang sibuk di meja.


“Pak, ini kopinya mau ditaruh mana?”


“Hai Kasih, mari silakan masuk…” Sam beranjak dari kursinya dan berjalan membuka pintu ruangan sebelah.


Kasih segera masuk ke ruangan yang lebih besar dari ruang kerja sekertaris Sam. Ruang kerja bergaya vintage dengan koleksi barang-barang kuno yang terkesan mewah dan kokoh. Kasih melirik pada wine cellar yang penuh dengan koleksi wine (anggur). Di sudut ruangan bahkan ada mesin kopi.


Alamak, dia punya mesin kopi sendiri padahal. Memang si bapak ini aneh. Emang semua Horang kaya kaya gini ya harus dilayani… Lagi-lagi Kasih keheranan dengan sikap bosnya itu.


“Silakan espressonya pak...” Kasih meletakan espresso di meja Galang.


“Thank you. Sam… kamu masih banyak kerjaan?”


“Banyak pak. Mengecek laporan hotel dari Jerman yang kemarin tertunda. Membuat laporan perincian dana pembangunan restaurant underwater di Bintan. Dan siang ini bapak ada jadwal trip ke mangrove bersama couple VIP dari Jakarta.”


“Untuk trip itu kamu tidak usah ikut. Kamu bisa fokus untuk paper work,” Galang mulai menghirup aroma espresso dari cangkir.


“Siap pak!” Sam menganggukan kepalanya.


“Kamu ikut trip siang ini,” Galang melirik mata Kasih.


“Hloh pak? Hari ini saya libur.”


Apa lagi ni? Gak semudah itu ferguso… Jangan sampai mengobrak-abrik libur ku! Kasih mulai kesal dengan keputusan Galang.


“Mau ambil warning letter?" (Surat peringatan pelanggaran)


Kasih hanya tersenyum mendengar ucapan Galang. Mengisyaratkan untuk setuju dengan perintah Galang.


Sam dan Kasih mulai meninggalkan ruangan Galang. Sam kembali lagi ke ruang kerjanya dan Kasih menuju kamarnya.


“Hehee. Siap pak!”


“Jangan panggil saya pak. Saya dan Teo seumuran.”


“Ow, siap mas. Hihii...”


Setelah percakapan dengan Sam, Kasih segera menuju kamarnya. Sesampainya di kamar Kasih dikejutkan dengan 2 orang security dan pak Joe yang lagi menggeledah isi kamarnya.


“Selamat pagi pak. Ada pengecekan apa ya?” tanya Kasih kebingungan melihat 2 security membuka setiap laci.


“Pagi Kasih. Ini cuma rutinitas bulanan untuk mengecek semua akomodasi apakah ada staff memakai drugs (narkotika) atau tidak,” jawab Joe.


“Ow gitu ya...” Kasih terbengong-bengong memperhatikan security.


“Iya… memang agak aneh. Biasanya kami melakukan di akhir bulan. Tapi madam Lily mempercepat jadwalnya.”


“Bagus kalau gitu pak. Gak aneh kok munurut saya,” kata Kasih sembari tersenyum.


Kalau kamu tahu madam Lily hanya menyuruh saya mengecek kamar kamu sajaA… Kamu akan berfikir sama dengan saya kalau ini aneh. Tapi mana mungkin saya mengatakan alasan yang sebenarnya, batin Joe.


Setelah aktivitas penggeledahan selesai, Kasih masuk ke kamarnya. Belum ada 5 menit, tiba-tiba…


DRRTTT DRTTT DRTTT (Pesan Whatsapp)


“Eh, nomor siapa ini?” Kasih mulai membuka pesan di handphone.


+628xxxxxxxxxx


(PAKAI SERAGAM KAMU JANGAN PAKAI SERAGAM BEBAS)


“Siapa nih?” Kasih berfikir mulai membalas pesan itu.


Kasih


(Maaf dengan siapa ya?)


+628xxxxxxxxxx


(OWNER VILLA 0199)


“Hihhh si bapak lagi?” kata Kasih.


Kasih


(Baik pak, saya akan pakai seragamnya)


+628xxxxxxxxxx


(JAM 11 READY AT LOBBY)


 


“Hah... jam 11? Ini udah 10.45 loh…” sambil mengecek ulang jam tangannya.


Haduh… seragam semua masih di laundry tahu


pak… Kesel deh. Suka-suka dia aja, batin Kasih sambil keluar kamar menuju staff laundry.


Setelah melewati drama berlari kesana-kemari di ruang laundry, Kasih berdiri di lobby menunggu Galang. Memberi senyuman terbaik sambil berjabat tangan dengan pasangan tamu VIP.


“Selamat pagi pak Gery… bu Nawa. Mari silahkan…” Kasih mengarahkan pasangan yang usianya sekitar 60an itu untuk masuk ke dalam Alphard.


Galang duduk di kursi depan, pasangan suami-istri duduk di tengah dan Kasih di belakang. Selama perjalanan, Galang mengajak pasangan itu berbicara mengenai rencananya untuk membangun restaurant bawah laut.


Kasih dibuat terbengong-bengong dengan setiap kalimat Galang.


Bapak ini membuat Kaki di kepala, kepala di kaki ku. Baru semalam dia pulang dari Jerman, sekarang dia sudah terlihat fresh melayani tamu VIP. Meski aku jengkel mengingat dia menghitungku sebagai hari kerja atau hari libur… tapi kalau lihat dia lagi ngobrol sama tamu gini… kok kadar kharismanya bertambah ya… Hm… Mana dia pinter banget lagi banyak ide keren gitu. Bener gak sih… kalau kata kak Jun, dia sama mantan istri saling tarik ulur buat balikan...? Emang seharusnya mereka balikan sih kasihan Raka… Dia butuh sosok ibu buat mendidik agar tidak menjadi anak temperamen. Mikir apalah aku ini, hanya remah-remah rempeyek. Mana mungkin pak Galang melirikku, batin Kasih.


*****


Hayo pak Galang… Segera putuskan mau pilih yang mana


Balik mantan atau pilih Kasih…


Biar author aja yang jadi remah-remah rempeyek


Bersambung…


*****