My Butler

My Butler
2 Mama Bukan 2 Istri



Sore harinya di Thailand, Raka, madam Lily, Teo dan 5 karyawan Luxus yang sempat mengantar Amelia, mulai menunggu penerbangan mereka untuk balik ke Batam. Pesawatnya mengalamai delay cukup lama. Mereka harus menunggu, sehingga kedatangan pesawat ke Batam menjadi terlambat.


Kedatangan pesawat dari Thailand yang ditunggu Galang akhirnya sampai. Malam itu Teo dan 5 karyawan lainnya memilih untuk segera balik ke Bintan malam itu juga dengan kapal ferry. Madam Lily masih dengan rencananya untuk tinggal 1 malam lagi di Batam. Karena badan sudah capek menunggu waktu terjadi delay di Thailand.


Galang menjemput Raka dan maminya dengan mobil. Sepanjang perjalanan menuju hotel, Raka sudah tertidur lelap. Galang mulai mengangkat Raka dari pangkuan maminya di mobil dan berjalan menuju kamarnya.


“Lang, mami pergi ke kamar mami ya…” kata madam Lily setelah menganatar Raka ke kamar Galang. Malam itu Galang ingin tidur dengan Raka. Sudah sangat kangen dengan anaknya yang super aktif kalau tidak tidur.


“Iya mam, good night” kata Galang sambil menyelimuti Raka yang sudah tertidur.


Madam Lily mulai berjalan meninggalkan kamar Galang. Galang segera menutup pintu kamarnya dan bergegas untuk mengganti bajunya dengan baju tidur. Saat Galang mulai naik ke kasur, Raka terbangun.


“Pa…” ucap Raka sambil menggerakan bola matanya. Galang mulai menggeser badannya mendekati Raka.


“Iya, tidur lagi yuk” ajak Galang sambil  mengusap-usap pelan kepala Raka.


Raka mulai menghisap jempolnya. Terkadang kalau sangat capek, Raka suka mengulangi kebiaasan menghisap jempol. Anak itu bilang rasanya enak.


“Jangan hisap jempol lagi dek…” Galang menarik pelan jari jempol Raka. Takut bisa menjadi kebiasan sampai besar.


“Iihh papa…” mulai melawan tidak mau diganggu aksi isap jempol. “Pa…” Raka mencium pipi papanya.


“Hmm, apa?” tanya Galang memberi ciuman balik.


“Oma bilang, kalau Raka boleh panggil tante Kasih mama… Oma bilang, Raka punya dua mama… hihiii” tertawa kecil memamerkan giginya.


Galang sangat kegirangan mendengar ucapan Raka. Dilihatnya Raka juga senang dengan perintah omanya.


“Hehee. Raka senang... tante Kasih jadi mamanya Raka?” tanya Galang dengan senyum lebarnya. Mencium kening anaknya.


“Iya pa… nanti Raka bisa bilang ke teman Raka, kalau Raka punya mama dua… hihii” Galang hanya bisa memeluk anaknya itu dengan bahagia. Tidak menyangka kalau reaksi Raka mudah menerima Kasih sebagai mamanya.


2 Mama ya Raka… Bukan 2 istri… Tahu gitu papa nikahin dari awal tante Kasih mu... batin Galang sambil tersenyum menciumi pipi Raka.


“Ya udah, sekarang Raka tidur. Besok kita balik ke villa ketemu… mama Kasih…” menyebut nama Kasih dengan menyematkan sebutan mama membuat hatinya bergejolak bahagia.


Galang menghirup udara dalam dalam dan menghembuskannya. Ketakutan kalau Raka akan menolak Kasih sebagai ibu sudah lenyap. Dia sangat bahagia karena Raka bersemangat untuk memiliki Kasih sebagai mamanya.


Malam semakin larut. Galang dan Raka mulai tidur nyenyak. Kasih yang masih di villa Galang juga sudah tertidur ditemani Jun, yang tidur di sebelahnya. Galang memang meminta Jun agar menjaga Kasih sampai dia kembali dari Batam.


Keesokan harinya Galang, Raka dan madam Lily menikmati breakfast bersama dengan Kris dan Caca di restaurant.


“Tante Aca… tante pulang sama Raka?” tanya Raka sambil mengunyah sosi gorengnya. Raka sedang disuapi oleh Kris.


“Tante masih disini sayang. Masih ada kerjaan sama dokter Ino…” jawab Caca sambil mengusap pelan pipi Raka.


“Ia deh… Raka balik sama papa, oma. Raka mau ketemu tante mama… Hihii” Raka tertawa kecil sampai sosis yang dia kunyah jatuh sedikit.


Hm? Tante mama? Siapa itu tante mama? Batin Caca sambil melirik maminya dan Galang.


Keduanya hanya tersenyum menatap Raka.


Pagi itu Caca sudah terlambat untuk pergi meeting dengan dokter Ino. Mereka akan membahas masalah kerjasama tentang peluncuran produk kecantikan. Caca masih penasaran siapa itu tante mama yang disebut Raka. Tapi dia mengurungkan niatnya untuk bertanya nanti saja kalau sudah tidak sibuk.


“Mam, Caca pergi dulu ya…” Caca memberi ciuman pipi untuk mami dan kakaknya. “Tante Aca pergi dula ya sayang… Mwuah” Caca mencium kepala Raka. “Aku dulu ya mas Kris…” Caca mengusap bahu Kris.


“Iya hati-hati” kata Kris masih sibuk menyuapi Raka.


Caca mulai meninggalkan restaurant. Setelah Galang, madam Lily dan Raka selesai sarapan, Kris mengantar mereka ke pelabuhan untuk naik kapal menuju Bintan. Kris masih harus menemani Caca yang masih ada urusan di Batam.


“Take care pak, madam… See you Raka…” Ucap Kris sambil mengusap kepala Raka.


“Take care. Jaga Caca ya” ucap madam Lily sambil menepuk lengan Kris sebelum masuk kapal.


“Raka, manggil tante Kasihnya… mama aja. Gak usah pakai tante” pinta Galang dengan membisikan ke telinga Raka saat mereka sudah duduk di kursi kapal.


“Emang boleh pa?” tanya Raka sambil mendongakan kepala melihat Galang.


“Iya… mama Kasih. Ok?” pinta Galang. sambil mengajak Raka melakukan tos tangan. PUK!


“Iya pa” ucap Raka.


Kasih yang ditemani Jun masih menunggu dokter. Hari sebelumnya Dokter mengatakan akan melepas infus yang dipakai Kasih kalau keadan sudah baik.


“Lama kali ya kak bu dokternya datang…” kata Kasih sambil mengecek jam di handphonenya.


“Iya nih dek…” Jun mencoba menelpon  dokter yang memeriksa Kasih tapi tidak diangkat.


Akhirnya mereka bersantai dengan menikmati minum teh bersama. Sambil sesekali mencoba menelpon dokter yang ditunggu.


Setelah 45 menit, akhirnya Galang, Raka dan madam Lily sampai di LFT, pelabuhan resort mereka. Disana ada Dokter wanita senior yang waktu itu memeriksa Kasih. Sekertaris Sam dan jajaran direktur yang lain juga datang menyambut kedatangan Galang. Hanya Teo yang tidak ada, karena hari ini Teo mendapat libur setelah tugasnya dari Thailand selesai.


“Selamat pagi pak, madam…” mereka memberi hormat.


“Selamat pagi pak Galang” sapa dokter itu juga.


“Pagi” Galang membenarkan gendongan Raka. Anak itu tertidur lagi karena efek angin laut.


“Gimana kondisinya? Apa sudah baikan?” tanya Galang sambil memberikan Raka ke Sam.


“Semalam saya cek sudah cukup baik pak. Semoga pagi ini infusnya bisa dilepas” memberi informasi dengan detail.


“Syukurlah kalau gitu…” timpal madam Lily.


Mereka mulai menuju villa blue ocean. Madam Lily memilih ingin istirahat sebentar sambil membawa Raka ke villanya, sebelum menjenguk Kasih yang ada di villa Galang.


“Sam, kamu antar mami sama Raka” kata Galang sebelum turun dari buggynya. “Mari Dok!” Galang mengajak dokter itu menuju villanya.


Jun yang mendengar suara Galang dari dalam kamar mulai keluar villa untuk mengecek.


“Good morning pak Galang!” sapa Jun.


“Good morning” sapa Galang balik sembari tersenyum melirik kearah Jun sebentar.


Bau-baunya sangat happy pagi ini, pak Galang… batin Jun mengikuti Galang dari belakang.


Dokter itu pun mengecek kondisi Kasih. Galang mengawasi bagaimana dokter itu memeriksa Kasih. Banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan Galang tentang Kesehatan Kasih. Jun yang melihat sikap Galang yang berlebihan, semakin heran. Kasih pun ikut bingung saat Galang mengecek suhu tubuh dengan menempelkan tangannya ke dahi, pipi kanan kiri, leher dan mengusap tangan Kasih. Kasih tidak bisa menolak sikap Galang. Tidak mungkin juga bertengkar di depan Jun dan dokter, begitu pikir Kasih pasrah mendapat perhatian yang berlebihan dari bosnya itu.


Pagi ini infus kasih sudah bisa dilepas. Dokter hanya menyarankan untuk minum obat dengan teratur.


“Terimakasih dokter… Saya akan minum obatnya teratur” kata Kasih sembari tersenyum, kemudian bersalaman dengan dokter.


“Sama-sama… mari pak Galang. Saya permisi” kata dokter itu. Jun ikut beranjak pergi juga dari kamar itu untuk mengantar dokter dengan buggy. Jarak villa Galang sangat jauh dari area parkir hotel, tempat dokter memarkirkan mobilnya.


 


*****


Sudah berduaan lagi Kasih dan pak Galang di kamar


Bersambung…


*****