
Sore harinya setelah menyelesaikan trip di mangrove, Kasih melanjutkan rencananya untuk bermain ke pantai. Kasih memilih untuk memakai tshirt dan celana renang ¾. Kasih merapikan rambutnya dan mengikat ekor kuda. Akhirnya Kasih siap menuju lokasi water sport dengan semangat 45.
“Banana boat… I’m coming...” kata Kasih sebelum beranjak keluar kamar.
______
Jarak kamar Kasih dan lokasi water sport bisa dibilang jauh kalau berjalan kaki. Tapi kali ini Kasih memakai buggy untuk menuju area water sport.
Suasananya cukup ramai karena banyak tamu yang bermain di pantai. Jun dan Tania yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan Kasih, menikmati kelapa muda terlebih dahulu.
“Hai kak… Sorry buat kalian menunggu. Tadi tamunya agak lama muter di mangrove,” kata Kasih yang baru saja datang di area water sport.
“Gak apa dek… Cus kita mulai main,” timpal Jun setelah meminum air kelapa. Kalau Tania saat ini masih sibuk dengan handphonenya.
Mereka bertiga memilih bermain banana boat. Setelah beberapa putaran mereka lanjut bermain jet ski, parasailing dan berendam di pantai.
"Wah senangnya bisa kaya gini tiap hari. Berendam air hangat sambil ngobrol-ngobrol manja..." kata Jun dengan mengusap tangannya dengan air pantai.
Setelah puas berendam, mereka keluar dari air dan berjalan ke tepi pantai. Mereka duduk di beach chair, sambil menikmati sunset sampai baju mengering terkena angin laut.
“Eh… kakak mau ke toilet dulu ya. Jangan pergi, kita liat sunset dulu,” kata Jun yang kemudian pergi meninggalkan Tania dan Kasih.
Tania mulai melirik ke Kasih.
Tania Point Of View
Perempuan ini memuakan sekali. Sok kecantikan. Senyam-senyum sambil merem hadap sunset. Emang sunset suka liat muka dia? Udah seharian ngekor pak Galang ke mangrove, makan di kelong… Ini perempuan lama-lama ngelunjak. Hmmm ada ide nih…
“Kamu suka berenang ya, Sih?”
“Em… bisa dibilang gitu, kenapa kak?”
“Cuma teringat aja sama mamanya Raka Amelia, sepupu aku itu. Dia juga suka berenang, snorkling, diving gitu” ... Lihat… dia mulai menoleh mendengar nama Amelia. Udah kepancing dia…
“Amelia mantan istri pak Galang?”
“He em mantan istrinya. Makanya Raka pengen banget bisa berenang tapi belum bisa. Tahu sendirikan isi kamar Raka kaya apa. Mama papanya yang belikan itu semua, biar dia semangat latihan renang”
“Iya kak aku udah lihat. Raka bilang mau pinjamin kalau kita berenang.”
Baru berapa hari Raka kenal ini perempuan…? Anak itu ngobrol sama aku aja gak mau. Ish… kesel deh!
“Udah tahu belum muka mama Raka kaya apa?”… Ayo dong jawab… kenapa bengong aja… Hmmm. “Nih… (Tania menyodorkan handphonenya ke Kasih)”
“Ini mamanya dia…?”
“Iya... Cantik kan… Selera pak Galang memang yang high class gitu. Namanya juga CEO Luxus. Harus you know… sexy… kulit excotic… high standard gitu” Kena deh lo… Hahaa. Senangnya liat muka perempuan ini jadi kusut gitu… Ok… mari kita lanjutkan...
“Biasanya kalau ada party keluarga, dia datang…” Senangnya liat muka betenya ini. Hahaaa. Jadi rupanya lo berharap buat deketin pak Galang ya… Tidak semudah itu. Masih ada gue!
“Bisa jadi dia datang bulan depan buat merayakan Christmas sama new year disini. Kayanya dia makin cantik deh, liat postingan terakhir Instagram. Amelia sama pak Galang suka tarik ulur perasaan gitu. Aku sih berharap yang terbaik aja. Kalau kamu gimana?”
“Hah? Em… terserah mereka mau balikan atau enggak. Tapi kayanya saya pernah lihat dia. Kaya gak asing gitu."
"Ya iya lah…! Muka dia sering mondar-mandir di majalah Vouge Asia. Apalagi kalau ada festival diving. Pasti Amelia selalu kena serbu reporter. Udah ah sini handphone aku. Mau balik villa dulu.”
Hahaa Tidur nyenyak malam ini, membayangkan muka dia. Kelihatan cemburu banget. Yes!
Author Point Of View
Tania mulai meninggalkan Kasih. Sedangkan Jun masih belum kembali dari toilet.
Tiba-tiba ada seseorang berjalan mendekati Kasih.
“Hai! Apa kabar? Sedang apa?” kata orang itu dengan senyuman.
“Hai pak Kris! Kabar baik. Ini saya habis main fasilitas water sport,” jawab Kasih sambil beranjak dari tempat duduknya. Mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Kris.
“No worries. Ayo duduk lagi,” Kris mulai duduk disebelah Kasih.
“Terimakasih pak. Bapak sering ke area water sport sini juga?” tanya Kasih. Mereka mulai duduk berhadapan.
“Tidak juga. Villa saya dipindahkan hari ini, ada tamu yang mau stay di sana. Kamu sendiri?”
“Saya baru selesai main dengan kak Jun dan Tania,” jawab Kasih.
Belum lama mereka ngobrol, suara handphone Kasih berbunyi. Kasih dan Kris mengamati layar handphone yang terletak meja tengah.
Tilulit Tilulit Tilulit…
“Pak saya angkat telpon dulu ya,” kata Kasih dengan meraih handphonenya.
“Siapa ‘Mr. Double Espresso’…?” Kris tersenyum penasaran.
“Hihii, pak Galang...”
“Saya pikir orang spesial. Julukannya boleh juga…” kata Kris sembari tersenyum.
Kasih mulai menerima panggilan telpon Galang, sambil menatap muka Kris. Merasa malu menyimpan nama Galang dengan julukan anehnya.
“Good evening pak Galang…... Baik, pak.” Pembicaraan itu tidak lebih dari 3 detik. Kasih segera menutup telpon.
“Pak Kris, saya permisi. Pak Galang memanggil saya,” Kasih bergegas beranjak dari tempat duduk.
“Alright, see you Kasih!" kata Kris dengan melambaikan tangannya.
_____
Kasih segera mengendari buggy. Menuju villa Galang dan melupakan Jun yang masih ada di toilet.
Suasana hari itu sedikit remang-remang, karena cahaya sunset sudah hilang. Ditambah lokasi villa Galang yang jauh dari area tamu, membuat Kasih sedikit takut mengingat suara Galang seperti sedang marah.
Kasih dibuat terkaget-kaget melihat Galang yang sedang berenang di kolam villanya. Memperhatikan tangan Galang yang sedang mendayung menuju tepi kolam. Keluar dari air kolam berjalan mengambil handuk. Ini kedua kalinya dia melihat roti sobek kacang almond dengan boxer warna hitam yang basah.
Ya Tuhan… ujian apa lagi ini…? batin Kasih yang sudah terpaku berdiri memperhatikan bosnya. "Huft…" Kasih memperhatikan Galang dari ujung rambut sampai kaki.
Galang berjalan medekati Kasih.
Dan... BRUK!
Galang melempar handuk yang dia pakai di kepala Kasih. Sudah bisa dirasakan suasana hati bosnya itu sedang tidak baik.
“Kuras kolam.”
“Apa pak? Kuras kolam?”
Mulai gila lagi dia?! Ini udah mau malem loh. Dia pikir ini kolam ikan yang kecil apa? Gerutu Kasih dalam batinnya.
“Saya akan info ke housekeeping buat membersihkan, pak,” kata Kasih mulai memencet tombol untuk menelpon.
SsetT... Galang mengambil handphone Kasih.
“Saya mau kamu kuras kolam. Bukan housekeeping!”
DUARRR…! Kolam itu berukuran 5 x 12 meter. Air kolam sudah terasa mentertawakan Kasih. Kepala mulai berdenyut. Muka sudah pucat.
“Tapi pak…?”
“GAK ADA TAPI-TAPIAN! KURAS!”
Galang beranjak masuk ke dalam villa membawa handphone Kasih. Terpaksa dengan berat hati Kasih mengosongkan air kolam untuk menguras.
“Kenapa sih mood dia berubah drastis? Tadi pagi sampai siang ok ok aja! Ish… Dia pikir aku robot? Ini udah melanggar kode etik. Sial sial… Awas aja nanti minta espresso. Aku tambah garam,” Kasih berkata sendiri penuh emosi.
Menguras kolam renang tidaklah mudah. Ditambah hari ini Kasih menjalani aktivitas padat dari pagi. Tenaga sudah habis. Mau tidak mau dia harus memompa air kolam sampai kosong. Menuangkan cairan pembersih, menyikat setiap sudut. Memastikan agar tidak ada kotoran yang bisa membuat bosnya marah.
Setelah 3 jam akhirnya Kasih mulai mengisi air kolam dengan yang baru.
Awas aja sampai berkomentar tidak bersih! batin Kasih sambil melirik Galang yang tengah duduk di teras atas.
“Huft… Akhirnya selesai juga...” Kasih mengeringkan badannya yang basah dengan handuk.
Galang Point Of View
Berani sekali dia membohongiku. Dia minta ijin bermain banana boat bersama Jun dan Tania. Waktu aku cek di lokasi malah berduan dengan Kris. Apa maunya perempuan itu? Sengaja aku buat Teo makin sibuk. Sore ini bisa-bisanya dengan Kris.
“NAIK KE ATAS!” kata Galang dari teras atas villa.
*****
Haduh pak Galang…
Cobaan apa lagi buat kasih harus NAIK KE ATAS?
Hm… Boleh author aja yang naik ke atas?
Kasihan Kasih sudah capek nguras kolam
Bersambung
*****