
Kasih terpaksa meninggalkan area LFT. Banyak mata yang memperhatikan Kasih. Kasih berusaha menutupi wajahnya. Tidak mau menunjukan muka sembabnya. Sedih dan malu dicap sebagai ibu yang tidak bertanggungjawab di depan jajaran direktur. Tapi mau bagaimana lagi… Kondisinya saat ini memang lagi memojokan Kasih.
Berusaha tegar dan menunggu, itu yang hanya bisa dilakukan Kasih saat ini. Berharap suaminya bisa menemukan Raka dan membawanya pulang.
Kasih mulai memarkirkan buggy setelah sampai di villa suaminya. Berjalan dengan gontai tak bersemangat. Di dalam villa, Kris dan Caca sedang menunggu Kasih.
“Mbak, udah jangan sedih… Ntar pasti Rakanya ketemu. Jangan dimasukin ke hati ucapan mas Galang. Dia emang kaya gitu kalau lagi emosi,” Caca berusaha menenangkan Kasih. Kasih tidak ada tenaga untuk merespon ucapan Caca. Hanya mengangguk dan mulai duduk di sofa ruang tamu.
Caca mulai memeluk kakak iparnya itu. Setelah suasana hatinya sedikit tertata. Kasih menoleh ke arah Kris.
“Pak Kris… Mas Galang lagi ngejar Raka kemana?” tanya Kasih dengan nada pelan. Sudah tidak punya tenaga karena pikirannya kalut dengan masalah yang ada.
“Singapore… Don’t worry, everything will be fine,” jawab Kris. Mata Kasih mulai berkaca-kaca lagi. (Singapore… Jangan cemas, semuanya akan baik-baik saja)
Kasih hanya mengangguk-angguk. Kepalanya terasa sangat berat.
“Ca, aku mau ke kamar Raka ya… tadi aku liat kamarnya berantakan. Mungkin karena Amelia nyari passport Raka. Jadi diberantakin,” Kasih berusaha memasang senyuman meskin sedang tidak mood sama sekali.
“Ya udah… Caca pergi dulu. Mbak Kasih jangan sedih-sedih. Nanti Caca marahi mas Galangnya kalau dah sampai sini…” Caca mengusap lengan Kasih. Ada sedikit senyuman di bibir Kasih setelah mendengar ucapannya. “Mbak…”
“Apa?” tanya Kasih.
“Jangan nyesel ya udah jadi brand ambassador Caca,” ucapan Caca itu membuat Kasih tersenyum lagi.
“Enggak Ca… Aku senang bisa bantu kamu. Kan udah selesai juga,” kata Kasih. Meskipun menyesal, Kasih harus meredam penyesalannya itu. Toh sudah terjadi. Niatnya memang membantu Caca juga dari awal. Tapi justru menimbulkan masalah.
“Kalau gitu besok mbak Kasih mau ikut seminar launching product make up Caca ya…” pinta Caca. Kris sangat heran dengan sikap Caca. Disaat suasana seperti ini… masih sempat berfikir urusan kerja. “Maaf ya mbak, masalahnya Caca udah atur acaranya besok. Sayang kalau diundur, nanti kasian tamu undangan…” Mendengar penjelasan dari Caca itu, Kasih tidak bisa berkata tidak. Lagi pula alasan Caca memang masuk akal. Akan sangat egois bila menolak. Kontrak kerja sebagai brand ambassador juga sudah Kasih tanda tangani siang tadi di sela-sela pemotretan.
“Iya… boleh. Aku pasti hadir,” jawab Kasih.
Caca dan Kris beranjak pergi dari villa Galang setelah melihat Kasih sudah lebih tenang.
Kasih mulai berjalan menuju kamar Raka.
Kamar anak sambungnya itu sangat berantakan. Bisa dibayangkan betapa hebohnya Amelia saat mencari passport Raka. Semua baju berserakan. Mainan Raka dan peralatan renang Raka yang biasanya ditata rapi di lemari sudah keluar semua di lantai.
Kasih mulai memunguti satu persatu dan menatanya kembali ke tempatnya seperti semula. Menata bed Raka yang juga berantakan. Rasanya kangen dan sedih bercampur menjadi satu. Kasih membiarkan air matanya menetes. Sudah tidak bisa dibendung lagi. Mencium bau bantal Raka dan memeluk boneka gurita yang menemani Raka saat tidur.
Rasa lelah setelah pemotretan dan mendapat tudingan sebagai ibu yang tidak bertanggung jawab dari suami sendiri, bercampur menjadi satu membuat hatinya sesak. Akhirnya Kasih mulai tertidur di bed Raka. Bau bantal khas anak-anak itu membuatnya terlelap.
Malam harinya, ada seseorang yang mengetuk pintu di villa Kasih.
TOK TOK TOK
Kasih yang masih tertidur mulai terbangun. Bergegas berlari untuk membukakan pintu. Berharap itu adalah suaminya dan Raka. Tapi yang dilihat Kasih setelah membuka pintu bukan seperti yang diharapkannya. Dokter klinik yang dia temui di pagi hari itu sedang berdiri menatapnya saat ini.
“Selamat malam, bu Kasih,” sapa dokter itu dengan membawa kantong plastik.
“Selamat malam, dok. Ada apa ya?”
“Ini buk… inhalernya baru datang. Saya langsung datang kemari setelah menerimanya,” kata dokter itu menjelaskan. Kasih menerima inhaler yang memang dia butuhkan untuk Raka.
Rasanya semakin lemas setelah menerima inhaler yang seharusnya dia berikan untuk Raka saat ini. Anak itu belum juga pulang ke rumah sampai sekarang.
“Iya sama-sama, bu. Saya permisi dulu. Sudah malam juga,”
“Iya, dok. Hati-hati… Makasih sekali lagi.”
Dokter itu berlalu pergi. Kasih kembali lagi ke kamar Raka. Meletakan inhaler yang baru saja diterima. Kasih mengecek handphoennya. Tapi tidak ada kabar dari Galang ataupun Sam. Ingin sekali Kasih menelpon suaminya. Tapi kaliamat ‘Minggir Kamu’ dari Galang menghentikan niatnya untuk menelpon. Takut kalau sampai direject, lebih baik tidak usah menelpon sekalian. Handphone Raka juga ada di kamar, biasanya anak itu tidak bisa jauh jauh dari gadgetnya.
Mungkin memang Amelia sengaja agar Raka tidak bisa dihubungi, batin Kasih.
Sudah pukul 22.00, Kasih masih mondar-mandir di atas teras villanya. Suasananya sangat gelap. Angin malam hari ini cukup kencang. Seperti akan turun hujan. Kasih terpaksa melanjutkan masuk ke dalam kamar. Akhirnya Kasih memutuskan untuk memberanikan diri menelpon Galang.
Tut… Tut… Tut…
Panggilan pertama tidak terjawab. Kasih mencoba menelpon lagi.
Tut… Tut… Tut…
Masih tidak terhubung, ini membuat Kasih kuatir. Tidak seperti biasanya Galang bersikap seperti ini. Biasanya Galang yang lebih sering menelpon Kasih terlebih dahulu. Sampai akhirnya Kasih mencoba menelpon berkali-kali tapi masih tidak terhubung. Kasih mulai mencari kontak nomor Sam. Kasih mencoba menghubungi Sam. Tapi juga sama. Tidak ada respon.
Malam ini hujan sangat deras. Membuat Kasih takut. Ini pertama kalinya Kasih sendirian di villa Galang dalam kondisi hujan. Membuat pikirannya semakin kacau. Berharap tidak terjadi apa-apa dengan Galang dan Raka.
Kasih teringat saat Tania menyodorkan foto Amelia di water sport. Foto itu berasal dari Instagram, akun media sosial Amelia. Kasih mulai mencoba mengingat nama akun Amelia untuk membukanya. Berharap Amelia memposting foto terbarunya bersama Raka saat ini, begitu pikir Kasih. Kasih juga ingin menghubungi Amelia lewat akun media sosial itu. Ingin menanyakan kondisi Raka. Kasih takut kalau anak sambungnya itu mengalami mengi lagi.
Kasih mulai mengetik nama akun Amelia. Untunglah bukan private account, sehingga Kasih bisa mengecek. Dilihatnya postingan terbaru masih postingan foto 2 minggu yang lalu. Tidak ada foto baru. Kasih mulai mengirim pesan ke Amelia, menanyakan kondisi Raka. Sudah beberepa menit pengiriman pesan, tidak ada respon juga dari Amelia. Kasih mulai memberanikan diri untuk menelpon Amelia, tapi tidak di respon.
Semakin cemas dan uring-uringan. Akhirnya Kasih terdiam duduk di lantai dekat bed nya. Mengecek pesan yang sempat dia kirim ke Amelia. Sudah 1 jam berlalu juga tidak ada respon.
Entah mengapa Kasih mulai menscroll melihat foto-foto mantan istri suaminya itu. Awalnya penasaran mengapa Raka begitu sayang sama Amelia, setahu Kasih dari cerita Teo waktu pertama kali dapat training, Amelia dan Raka dipisahkan sejak kecil. Kasih ingin mengetahui seberapa dekat hubungan ibu dan anak itu.
Kasih mulai menscroll melihat foto-foto lama Amelia. Tidak begitu banyak foto Raka bersamanya. Hanya seputar diving dan teman-teman Amelia.
Entah mengapa tangan Kasih makin lama makin tertarik untuk mengintip foto-foto lama Amelia. Ada foto Galang juga masih disimpan disana. Hanya foto saja, tanpa tag nama Galang. Mungkin mas Galang sudah menghapus tag namanya, begitu pikir Kasih.
Foto foto Galang dan Amelia itu sangat mesra. Terlihat sangat bahagia. Ada unggahan video juga tentang prosesi lamaran dan pernikahan Galang dengan Amelia.
Prosesi lamaran Galang kepada Amelia itu cukup mewah. Terlihat berada di Gedung yang super mewah dengan banyak dekorasi bunga. Ada foto keluarga besar Galang dan Amelia. Semuanya tampak bahagia. Cincin lamarannya pun terlihat cantik. Di foto itu ada caption ‘He proposed to me’. Dengan emotikon hati. Banyak sekali foto-foto lamaran yang di posting Amelia. (Dia melamarku)
Kasih mulai membandingkan dengan dirinya… Mas Galang cuma bawa aku ke Kelong Restaurant. Itu pun diajak ke gazebo paling ujung. Gak ada foto-foto beginian. Yang ada cuma hasratnya yang menggebu-gebu penuh nafsu, Kasih mengamati setiap foto Amelia dan Galang.
Kasih kembali menscroll mengamati foto Amelia yang lain. Dilihatnya gaun pengantin Amelia sangat cantik. Amelia mengenakan 3 model gaun pengantin dari designer kondang tanah air. Kasih bisa mengetahui dari caption dan tag nama yang disematkan Amelia.
Kalau dibandingkan dengan aku… kok kelihatannya pernikahan mas Galang dan Amelia lebih direncanakan dengan matang ya? Gak tergesa-gesa kaya aku... Cincin tunangan dan cincin nikah aja dibedain… kalau aku… Hm… Kenapa sih aku jadi mikir kaya gini! Yang penting sekarang kan aku adalah istri sah nya mas Galang... Aku gak boleh mikir negatif. Kasih menyemangati dirinya.
*****
Bagi jempol like dan favorite hatinya ya…
Bersambung…
*****