My Butler

My Butler
Bukan Drama Queen



Sepanjang perjalanan menaiki kapal ferry sampai Bandara Hang Nadim Batam, Kasih menutup mukanya dengan masker dan memakai kacamata. Tidak mau ada orang yang sampai mengenalinya.


Beritanya memang baru beredar di instragram, tapi muka suaminya itu sangat terkenal di wilayah Kepulauan Riau yang diantaranya meliputi Batam dan Bintan. Pasti banyak masyarakat yang membicarakan tentang Galang dan Amelia.


Di bandara, Kasih sempat mendengar segerombolan ibu-ibu di tempat pembelian tiket membahas tentang hastag CLBK Galang dan Amelia. Banyak dari mereka yang menyetujui kalau Galang dan Amelia lebih baik balikan karena pertimbangan ada anak kecil, daripada dengan istrinya yang sekarang bekas butler penggoda.


Mereka juga mengatakan kalau Amelia lebih cocok bersanding dengan Galang. Secara Amelia memiliki nama besar di dunia diving dan model majalah Vouge Asia.


Iya… ibu-ibu ini memang benar. Aku hanya seorang butler. Seorang butler level rendah yang menaruh hati ke pemilik hotel. Telinga Kasih semakin panas mendengar setiap perkataan orang yang tidak tahu duduk persoalan rumah tangganya.


Kasih mulai menyingkir dari keramaian orang. Tidak mau larut dalam cemooh orang-orang. Menunggu jadwal penerbangan pesawat yang dia beli untuk pergi ke Jogja. Kasih juga mematikan handphonenya, tidak mau diganggu dengan banyaknya panggilan yang masuk. Yang pasti bukan dari Galang. Kasih tidak mau membayangkan apa yang dilakukan suaminya itu dengan Amelia. Sudah sangat pasrah dengan apa yang akan terjadi kedepannya.


Kasih mulai menaiki pesawat. Tetap tenang dan diam. Hanya menganguk dan menggeleng bila ditanya pramugari atau penumpang yang duduk di dekatnya. Tidak kuat untuk berkata sepatah katapun. Sangat malu bila ada yang mengetahui dirinya sedang banjir air mata di balik kacamata dan masker.


_____


 


Akhirnya setelah kurang lebih 2 jam penerbangan, Kasih sampai di Jogja. Mulai bingung mau melangkahkan kaki kemana lagi. Kasih teringat dengan ucapan mamanya. Andai bila ada permasalahan dalam rumah tangga, mamanya itu berpesan agar Kasih menyelesaikanya tidak dengan cara kabur-kaburan. Tapi yang dihadapi Kasih saat ini adalah adanya orang ketiga. Seperti sudah tidak dianggap Galang lagi.


Aku gak mau ada kata ‘Minggir Kamu’ kedua kalinya. Aku tahu diri kok mas, kalau aku ini cuma pemuas nafsumu aja. Sekarang kamu sudah bahagia. Jadi apa salahnya aku pergi darimu. Aku juga ga berharap kamu mencariku. Sudah cukup aku dikatakan butler penggoda. Aku juga gak mau sampai keluargaku terluka dengan cibiran orang-orang. Batin Kasih sambil menunggu gojek gocar.


Hari ini Kasih tidak memutuskan untuk pulang ke rumah. Kasih memutuskan untuk pergi menemui teman lamanya di daerah Malioboro. Teman yang sangat akrab dengan Kasih sewaktu kuliah.


“Hai Sekar!”


“Hloh? Cepet banget kamu sampai sini,” kata Sekar yang kaget saat melayani pembeli kue.


Kasih mulai memasuki toko kue Sekar. Temanya itu memiliki usaha bernama ‘Sekar Bakery & Cake’. Lebih tepatnya usaha orangtuanya Sekar sejak Sekar masih kecil.


“Wah… gede betul toko kue mu sekarang,” celetuk Kasih mulai membuka kacamatanya. Sekar mulai mengajak Kasih duduk di bangku yang kosong.


“Toko Kue emak aku ni. Bukan asli punyaku, hehee. Kamu apa kabar Sih?” tanya Sekar.


“Baik,” jawab Kasih singkat. Sekar memandangi mata Kasih dalam dalam. Matanya agak bengkak. Sudah pasti habis menangis, pikir Sekar.


“Suami macam apa sih yang kamu nikahi?” tanya Sekar langsung ke poin permasalahan.


Sekar sudah tahu mengenai berita yang beredar. Semenjak beredar postingan negatif dari tripadvisor yang disebarluaskan ke twitter dan Instagram, Sekar selalu mengikuti berita tentang Kasih. Mengikuti perkembangan tentang Luxus Resort Bintan. Karena sebenarnya Sekar juga sedang mencari pekerjaan tetap/kontrak.


“Suami… em… suami yang sudah membuatku tergila-gila pastinya,” jawab Kasih dengan senyum yang berseringai. Pura-pura tegar seperti tidak memiliki beban.


“Gila kamu… hm…” Sekar menggelengkan kepala. Tidak percaya dengan apa yang terjadi kepada Kasih. “Eh, mau minum apa? Dah maem belom?” tanya Sekar.


“Apa aja. Lagi gak selera,” jawab Kasih.


 


Sekar mulai membuatkan es teh lagi untuk Kasih. Air es teh yang dia buat sudah hampir habis.


Maaf ya Kasih… aku dah bilang ke mas Aan kalau kamu bakal datang kemari. Habis aku takut kalau ntar mas Aan tahunya belakangan aku yang bakal kena semprot mas mu itu. Secara kakaku mbak Tia sekarang pacaran sama mas Aan. Masa aku ya mau umpetin kamu di rumahku. Kan ga mungkin… Sekar memandangi Kasih yang mulai melahap kue pemberiannya.


Kasih terlihat sangat lapar. Melahap kuenya dengan cepat. Sekar mulai meletakan es teh dan kue coklat di meja Kasih. Kasih tetap sibuk memakan kuenya. Menyruput es teh sebelumnya sampai habis.


Sruuuutttt, Kasih menghabiskan tanpa sisa minumannya.


“Sih, kamu hamil ya?” tanya Sekar membuat mata Kasih terbelalak kaget.


“Maksudmu? Enggak kok!” Kasih membantah, karena merasa tidak hamil.


“Nah ini apa…?” Sekar menunjuk gelas dan piring kue yang habis. “Belom ada 3 menit nih… Dah ludes. Boros ah kamu… habis ntar kue ku semua…” Sekar berusaha menggoda Kasih untuk menghibur temannya itu. Tapi yang dihibur jadi panik.


Duh… mati aku kalau sampai hamil. Ribet nanti urusannya kalau mau pisah sama mas Galang, batin Kasih sambil mengusap perutnya.


“Enggak tahu! Ini aku Cuma laper aja. Lagian 4 hari yang lalu aku baru selesai datang bulan,” Kasih menepis tidak mau dibilang hamil. Padahal Sekar hanya menggoda awalnya. Sekar mulai menggoda Kasih lagi.


“Nah tu… 4 hari itu ada ngapain aja…? Iya iya nya ada gak? Hihiii. Berapa kali…?” Sekar terus menggoda Kasih. Yang digoda menanggapinya dengan serius.


Kasih mulai gelisah. Berfikir jangan-jangan dan jangan-jangan terus menerus kalau dirinya hamil.


“Hushh kamu tuh! Macam tahu aja,” wajah Kasih mulai bersemu merah.


“Ya tahu dong… begituan aku juga tahu… Meski aku single dan belum nikah… Pelanggan pelangganku yang lagi ngidam suka lupa diri kalau makan kue favorite mereka,” jawab Sekar mulai menggurui Kasih.


Duh… ni anak malah nakut-nakuti aku terus… Mau gimana lagi coba, udah kabur dari mas Galang masa mau balik lagi… Ntar aku dicap drama queen lagi! Kasih mulai bingung memikirkan keputusan yang sudah diambilnya.


“Kasih… Kasih…” Sekar menggoyangkan tangan Kasih yang ada di meja. “Jangan melamun… Makan lagi kuenya… Jangan sampai kamu kelaparan. Takut kalau kamu hamil betulan, ntar anakmu ileran loh… Ntar aku lagi yang kena marah sama suamimu. Heheee,”


Kasih tidak bisa meladeni ucapan Sekar. Semakin Kasih menjawab… semakin ucapan Sekar merembet kemana-mana. Seperti main catur saling terkam.


 


*****


Teman lama macam apa ini Kasih…


Bikin hati gak tenang aja…


Bersambung…


*****