My Butler

My Butler
Belajar Dansa



Kasih pergi kembali ke lobby hotel. Dia mencari Jun.


“Hai kak Jun… Lagi apa?” melihat Jun sibuk menata guest comment yang berserakan di meja resepsionis. “Boleh aku bantu…”


“Iya… Boleh aja dek…” jawab Jun santai sambil menata kertas-kertas. “Habis dari mana?”


“Habis dari villa pak Galang… Kenapa kak?” tanya Kasih balik.


“O… Gak pa pa. Cuma mau bagi tahu kalau kakak dapat pesan dari Amelia… Dia mau minta kamu buat siapin acara candle light dinner di dekat kolam renang mereka malam ini. Dia bilang mau mengadakan pesta dansa bertiga” jawab Jun dengan santai.


Kasih terdiam sejenak. Kenapa harus pakai acara makan malam dengan lilin di tepi kolam…? Apakah mereka akan rujuk…? 2 pertanyaan itu bermunculan terus di kepala Kasih.


Fokus mata Jun masih merapikan tumpukan kertas yang berserakan. Dia tidak memandang raut muka Kasih yang berubah pucat.


“Tau gak dek, Amelia siang ini agak aneh. Dia minta disediakan red wine cabernet sauvignon yang namanya panjang banget… sampai kakak tulis di kertas… hehee. Terus dia mau anggurnya dicampur dengan black pepper (lada halus). Katanya itu kesukaan pak Galang waktu dulu bersamanya… Setahu kakak, pak Galang itu gak suka minuman yang dicampur campur gitu. Paling mentok minuman yang dia suka kalau dicampur campur gitu ya cuma mojito… Atau mereka mau bernostalgia ya dek… hehee” Kasih yang mendengar ucapan Jun semakin sempoyongan hampir pingsan.


Ya sudahlah… Toh itu untuk kebaikannya Raka, batin Kasih.


Dia mulai lemas memikirkan untuk menyiapkan candle light dinner Galang dan Amelia.


Kenapa rasanya seperti ada yang hilang… Apa betul mereka akan bernostalgia? Apa betul mereka akan balikan? Kasih sampai sedikit terhuyung memikirkan candle light dinner, dimana dia sendiri yang harus melayani Galang dan Amelia.


“Kasih…? Kamu kenapa dek…?” Jun memegang lengan Kasih. “Udah makan?” Jun semakin kuatir.


Setelah beberapa detik, Kasih mencoba untuk bangkit berdiri lagi. Mengumpulkan kesadaran agar tidak berlanjut pingsan.


“Iya aku gak pa pa. Cuma sedikit pusing aja” ucap kasih sembari tersenyum kecil.


“Maaf ya… Butler yang lain pada sibuk. Kalau ada yang gak sibuk, pasti kakak suruh menggantikan tugas kamu. Lagian Amelia berpesan ke kakak agar kamu yang menyiapkan semuanya. Atau kamu mau pergi ke kamar dulu? Pasti acara dinner itu sampai malam” Jun menawarkan option agar Kasih bisa beristirahat dahulu.


“Boleh kak?”


“Ia boleh dong. Gih sana balik kamar dulu”


“Thank you kak”


Belum sempat beranjak dari area resepsionis lobby, ada panggilan masuk ke handphone Kasih.


Tilulit Tilulit Tilulit


(Mr. Double Espresso Calling…)


“Good afternoon pak” Sapa Kasih


“Bisa ke ruang kerja di resort?”


“Bisa pak” Kasih menutup telpon. Berfikir tugas gila apa lagi yang akan diberikan Galang. Bukankah sekarang Ada Amelia… Begitu pikirnya.


“Siapa dek?” tanya Jun yang masih ada disampingnya.


“Pak Galang kak, minta aku datang ke office dia di belakang sana”


“Oh… Ya udah gih sana. Biar bisa dapat istirahat setelah itu. Jangan lupa ya bawa minuman anggur pesanan Amelia untuk dinner mereka nanti… Nih Kakak tulis nama anggur yang dia pesan. Nanti kamu tinggal ambil aja di longe bar dekat kolam renang sana.” ucap Jun sambil mengelus lengan Kasih dan memberikan kertas bertuliskan ‘De Bortoli Yarra Valley Estate Grown Cabernet Sauvignon’.


Kasih hanya melihat sebentar tulisan itu dan memasukan ke saku. Dia segera beranjak menuju ruang kantor Galang yang tidak jauh dari resepsionis.


Kasih memasuki ruangan pertama, dilihatnya Kris sedang sibuk membaca kertas laporan.


“Selamat siang pak Kris”


“Hai Kasih. Ada apa ya kemari? Sam lagi saya suruh ke bagian accounting sekarang...” ucap Kris dengan senyuman khas yang selalu ramah kepada semua karyawannya.


“Pak Galang memanggil saya…”


“O… ya masuk aja kalau gitu” timpal Kris lagi.


“Mari pak… Saya masuk dulu” Kasih segera masuk ke ruangan Galang. Kris memperhatikan gerak-gerik Kasih sampai masuk ke dalam ruangan Galang


 


Galang Point Of View


“Pak Galang, ada yang bisa saya bantu?” Aku sebenarnya sedang gak butuh apa apa. Tapi rasanya aku ingin melihat dia. Apa saja yang dikatakan Amelia ke Kasih? Ku lihat saat dia memberi cappuccino untuk Amelia mereka seperti sedang perang dingin.


“Em… Kamu lagi sibuk apa?”


“Saya sedang mau menyiapkan meja untuk candle light dinner bapak dan nyonya Amelia di tepi swimming pool villa. Kak Jun bilang bapak sama nyonya Amelia mau pesta dansa malam ini”


Apa ini tidak terlalu berlebihan buat dia menyiapkan makan malam ku nanti dengan Amelia? Bagaimana sih perasannya dia untuk ku sebenarnya? Pesta dansa macam apa lagi yang di rencanakan Amelia? Dia bilang hanya makan malam biasa bersama Raka. Hmmm. Menyebalkan!


“Apa kamu bisa dansa juga?”


“Emm Saya? Saya gak bisa pak”


“Kamu jadi butler harus serba bisa. Nyalakan sound system sebelah sana… Saya akan ajari kamu”


 


Author Point of View


Kasih mulai menyalakan sound system yang ada di ruangan Galang. Setelah itu Galang mulai memutar lagu untuk berdansa. Galang merasa sedikit gugup sendiri. Ini akan jadi pertama kalinya dia berdekatan dengan kondisi Kasih secara sadar. Meskipun hanya berdansa.


Diraihnya pinggang Kasih mendekat dalam dekapannya. Melingkarkan tangan kasih ke tengkuknya dan meletakan tanggannya di pinggul Kasih. Galang menatap mata perempuan di depannya itu. Mereka mulai bergerak ke kanan dan ke kiri


Apa yang sebenarnya anda rencanakan pak? Perasaan gila macam apa ini? Semoga anda tidak merasakan detak jantung saya yang sudah mau melompat ini, batin Kasih.


Harum sekali aroma tubuhnya. Berapa kali dia mandi setelah kena air lumpur pagi ini? Hihii. Hmm… Entahlah. Tapi yang ku rasakan ini sangat harum… Rasanya ingin sekali aku menggigit lehernya. Aku masih penasaran… siapa yang mendesign baju seragam ini. Dia selalu terlihat cantik dan anggun dengan seragam press body ini. Dua benda ini terasa sangat besar kalau lagi posisi berdiri seperti ini. Bisa ku rasakan semuanya menempel di dadaku… Hmmm Sial. Kenapa sih pinggangnya terus mundur mundur…? Harusnya kan ke kanan dan kekiri… batin Galang.


Galang terus terusan menarik pinggang kasih agar mendekatinya.


Hloh hlohh… Kenapa sih, si bapak ini... Itu di bawah sana kok ada yang mengganjal ya... Keras banget bisa kurasa menempel di depanku. Ini aku kaya mau di caplokk. Batin Kasih berusaha untuk memundurkan pinggangnya menjauh dari Galang.


“Pak…”


“Hmmm”


“Bisa ajari posisi yang lain?” Galang menatap mata Kasih.


“Maksudnya posisi apa?”


“Posisi dansa yang lain pak… Nantikan bapak dansa sama nyonya Amelia… Nanti saya biar sama Raka. Saya taruh Raka di kursi… Kan gak mungkin saya dansa sama Raka kaya kita ini...” kata Kasih membuat Galang meregangkan pelukannya.


Huft… Dia pasti merasakannya. Pintar sekali dia menolaku dengan halus. Hmmm batin Galang.


“Lima menit lagi… Habis itu saya ajari kamu ganti posisi”


Glek!


Hmmm Ya sudah lah pak… Untung ada pembatas kain, batin Kasih.


Mereka melanjutkan dansanya…


 


*****


Preference pak Galang yang baru…


Belajar dansa dengan Kasih


Bersambung…


*****