My Butler

My Butler
Bermain Di Kolam



Kasih menuju ke villa menggunakan buggy dengan kecepatan sedang. Mengenakan seragam di hari libur.


Ini padahal belum jam satu. Udah nyuruh ke villa lagi. Hmmm alamat gagal libur. Untung seragam gak disetor ke laundry semua. Kasih membatin sambil tersenyum kepada tamu-tamu yang berjalan di area resort.


Sesampainya di villa 0199 Kasih memarkirkan buggynya dekat buggy Galang.


Udah hobbynya minum kopi item… buggynya item… Boxer nya juga item, Hihiii. Batin Kasih sambil membayangkan kejadian handuk dilempar ke kepalanya.


Kasih mulai berjalan menuju teras lantai 2. Disana dia melihat Galang sedang sibuk dengan tabletnya.


“Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?” Kasih memasang senyum dengan lebar.


“Dimana perban kakimu?” tanya Galang sambil melirik kaki Kasih.


“Oh ini pak..., saya ganti pakai plaster. Lukanya gak begitu parah,” jawab Kasih singkat.


“Kenapa pakai seragam?” Galang kembali sibuk memandang tablet.


“Mmm, mungkin bapak mau membatalkan hari libur saya lagi…” berkata ragu. Tapi harus dipastikan langsung, begitu pikir Kasih.


“Ganti pakai baju biasa. Saya tidak akan membatalkan libur kamu.”


“Baik pak...” membungkuk dan bersiap pergi. Tapi Galang menyuruh Kasih sebelum beranjak pergi.


“Buatkan ice cinnamon ginger tea take away, sebelum balik ke room.”


“Baik pak.”


“15 menit lagi Raka dan Caca sampai LFT. Kamu ikut saya jemput mereka.”


"Sama saya, pak?" tanya Kasih sedikit bingung. Karena merasa hari ini adalah hari liburnya.


“Ya iya kamu… mau siapa lagi…” nada sudah naik 1 oktaf dengan menatap Kasih. Kasih hanya bisa tersenyum.


Kasih beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan minuman baru kesukaan bosnya. Setelah itu kembali ke kamar untuk mengganti bajunya dengan tshirt dan celana katun.


Gak batalin libur tapi nyuruh pergi ke LFT. Ya sudahlah emang dia bosnya. Suka-Suka dia... Batin Kasih yang kemudian beranjak pergi menuju LFT dengan buggy.


Seperti hari yang lalu saat keberangkatan keluarga Luxus, Karpet panjang model Persia sudah siap ditebarkan untuk menyambut Caca dan Raka. Jajaran direktur sudah dari tadi, berdiri sambil memantau kapal ferry yang ditumpangi Caca dan Raka.


“Kak, mas Teo kok gak keliatan?” tanya Kasih kepada Jun yang berdiri disampingnya.


“Dia sibuk, dek. Kemarin dia berangkat ke Singapore, gantiin pak Galang meeting. Bukannya kamu libur ya? Kok datang kesini?” Jun memperhatikan baju yang dipakai Kasih.


“Tuh si bapak yang suruh,” Kasih melirik ke arah Galang yang berdiri bersama Kris dan Joe.


“Ini mah gak libur dek… Nanti kakak suruh bang joe ganti duty roster. Biar gaji mu nambah… Hihii...” kata Jun membuat Kasih ikut tertawa.


Galang yang memakai kacamata hitam, memperhatikan Kasih dari kejauhan yang terlihat ceria. Tersenyum simpul sambil memegang ice cinnamon ginger tea yang dibuat Kasih.


Ngobrol apa mereka sampai cekikikan, batin Galang.


Kapal ferry mulai mendarat. Caca dan Raka mulai berjalan keluar dari kapal. Mereka disambut oleh jajaran direktur. “Selamat datang kembali miss Caca… Raka…” Caca hanya berlalu berjalan menuju Galang.


Galang segera mendekat ke Caca, mengambil Raka dari gendongan adiknya itu.


“Raka… sini sama papa” Galang mengelus punggung Raka. “Kamu kenapa? Capek?” Tanya Galang kepada Caca.


“Iya capek mas. Raka super aktif disana. Gak mau pulang. Dia senang banget belajar renang. Kolam disana dalam-dalam. Mas kan tahu sendiri aku gak bisa” Kata Caca sambil berjalan keluar LFT menuju buggy.


“Papa… Raka boleh belajar renang lagi…?” Tanya Raka.


“Papa sibuk, nanti sore ya”


“GAK MAU! MAU SEKARANG AJA” Raka mulai mengguncang bahu Galang. “HUAAA! PAPA SIBUK TERUS” Semua orang melihat Raka. Mereka sudah biasa dengan sikap anak yang suka teriak-teriak itu. Kasih yang sedari tadi berjalan disamping Caca, segera mengelus Raka.


“Raka… mau berenang sama tante…” kata Kasih.


“Mau… mau belajar lumba-lumba lompat… kupu terbang” Jawab Raka sambil mengadahkan tangan ingin digendong Kasih.


Pintar kali anak ini... Masih ingat janjiku dulu mau ajari dia berenang. Batin Kasih.


Kasih mengambil Raka dari gendongan Galang.


“Oke deh… kita renang sekarang sama tante…” Kasih mengelus punggung Raka. Berharap anak itu tidak menangis dan berteriak lagi.


“Ca, kamu istirahat saja. Biar Raka sama dia” kata Galang.


Galang mulai menyetir buggy hitamnya bersama Kasih dan Raka. Caca menaiki buggy lain bersama Kris. Galang sudah paham dengan kondisi Caca. Rasa traumanya suka kambuh, kalau sudah berhubungan dengan kolam renang yang dalam.


Kasih sesekali memperhatikan raut muka Caca. Sampai segini kah rasa trauma itu? Kasian banget miss Caca. Pasti dia sangat mencintai mantannya itu. Untung aja ada pak Kris yang terlihat sayang sama dia, batin Kasih sambil memperhatikan Caca bersender di bahu Kris.


Caca dan Kris menuju villa 0198 sedangkan Galang kembali ke villanya 0199. Raka seperti tidak mengenal Lelah setelah dari Jogja. Anak itu segera berlari ke kamar. Mengganti bajunya  dengan baju renang, mengambil kacamata renang dan papan seluncur. Kasih dibuat keheranan kenapa anak itu tidak merasa Lelah.


“Raka emang sudah makan?” Tanya Kasih sambil membantu Raka memakai baju renang.


Ni anak kaya copy paste dari bapaknya. Hobby merintah sesuka hati, batin Kasih sambil tersenyum memperhatikan Raka.


“Iya… tante balik ke kamar tante ya buat ambil baju renang…”


“LAMA! NANTI TANTE BOONG GAK BALIK SINI” suara sudah naik 7 oktaf menggelegar di villa. Galang yang mendengar suara Raka langsung menghampiri anaknya di kamar.


“Ada apa ini?” Tanya Galang menatap mata Kasih.


“Em… Ini pak… Saya mau balik buat ambil baju renang saya,” Kasih menjawab terbata, kaget karena Galang datang mengecek.


“Pakai baju tante Aca aja…! Sini, Raka ambilin.” Raka mulai berlari untuk mengambil swimming suit Caca di lemarinya.


Caca memang sengaja menyimpan beberapa swimming suit di kamar Raka. Mengingat kalau keponakannya itu suka sekali bermain di kolam renang.


“Nih, tan...” kata Raka sambil menyodorkan baju itu. Kasih menerima baju yang diberi Raka dan merentangkannya.


Apa ini? Mini banget…? Batin Kasih. Mengerenyitkan dahi, memandangi swimming suit yang diberi Raka.


Galang yang melihat ekspresi muka Kasih tersenyum simpul.


“Raka, papa ikut join kamu berenang,” Galang mengelus kepala Raka. Kasih hanya bisa melongo melihat Galang.


“Pak Galang gak sibuk?” tanya Kasih.


“Saya harus mengecek gimana kamu mengajari Raka berenang. Saya takut Raka tenggelam.” Raka yang mendengar perkataan papanya bertambah senang.


“YEeeee HOreee! Papa ikut jugaaa. Yuk Tante! Ganti baju sana. Raka tunggu di kolam.” Raka segera melambaikan tangan ke Kasih dan menarik tangan Galang keluar kamar.


Akhirnya sore itu Raka bisa mewujudkan keinginannya lagi. Apalagi ada papanya yang mau menemani. Senangnya bertambah berkali lipat.


Galang dan Raka sudah berada di kolam renang. Galang memasang baju pelampung ke anaknya. Mereka mulai bermain lempar bola air.


“Hahaa Makanya papa fokus liat bola... Kena ke muka tuh,” kata Raka tertawa penuh kemenangan. Yah, Galang memang sedang tidak fokus karena memperhatikan Kasih datang berjalan memakai baju renang.


Duh… ini sudah gak benar. Kenapa juga pak Galang disini? Bukanya tadi dia bilang sibuk…? Ish… sial! Batin Kasih karena malu memakai mini swimming suit. Kasih segera masuk kedalam air kolam agar badannya tidak terekspose.


“Tante Kasih… Sini…” Raka melempar bola ke arah Kasih. “Lempar bolanya tante…” kata Raka sambil mendayungkan tangan.


“Tangkap bolanya Raka…” Kasih mulai tersenyum melihat Raka yang kesusahan mengambil bola.


“Awas ya tante… jangan lempar keras-keras ke Raka!”


“Iya iya…” kata Kasih sambil melirik ke arah Galang.


“Tante… itu dada kenapa merah-merah?” Raka memperhatikan dada kasih yang banyak bercak merah. Kasih meraba dadanya.


“Tante kemarin berendam di laut… Mungkin kelamaan… jadi merah-merah gini.”


“Kok bisa sih tan…? Raka enggak pernah kaya gitu…” Raka masih bingung sambil memegang dada Kasih.


“Iya… Kan air laut itu mengandung garam, dek. Jadi kalau kelamaan berendam bisa merah-merah gini…” jawab Kasih asal. Bingung menjelaskan bagaimana lagi. Karena sebenarnya dia tidak memiliki alergi dengan air laut.


Kasih dan Raka melanjutkan bermain lempar bola. Galang hanya memperhatikan Kasih dan anaknya, duduk santai di tepi kolam.


 


Galang Point Of View


Padahal hari ini ada rapat penting. Mengurus pembelian yacht agar bisa masuk ke mangrove. Apa dia tahu ya kalau aku suruh driver itu sengaja banting setir? Menyebalkan kalau sampai tahu. Pemakaian yacht di mangrove harus segera terlaksana. Aku tidak mau pakai speedboat lagi. Banyak nyamuk terbang diarea itu. Jangan sampai kejadian menampar pipi terulang lagi. "Huft…"


Jadi dia juga tidak sadar kejadian semalam…? Raka mana bisa dibohongin… Berendam di laut bisa bikin bercak merah di dada. Hahaaa. Banyak sekali tanda merahnya. Hmmm aku saja tidak ingat berapa kali aku melakukan. Ini seperti candu. Bibirnya itu... Sejak kejadian me*lum4t di sofa… aku seperti ingin melakukan lagi dan lagi… Huft… Lihat… lihat… enak sekali jadi Raka bisa memegang dadanya. Tangannya memang nakal.


 


*****


Hayo... siapa yang mau berenang dengan pak Galang dan Kasih…


Jangan lupa pakai pelampung kaya Raka ya…


Biar aman tidak tenggelam


Bersambung…


*****


Speed Boat yang dipakai saat kejadian Mengkambing Hitamkan Nyamuk🤭



Yacht Yang Mau dibeli Pak Galang untuk perjalanan Mangrove