My Butler

My Butler
Udah Mau Bobok Ya...?



Sore hari itu Caca dan Kasih melanjutkan dengan makan cemilan. Ada banyak cemilan khas Jogja yang dibawa Caca. Mulai dari kue yangko, geplak sampai bakpia mereka nikmati. Keduanya menjadi lebih akrab.


Leganya aku bisa punya teman cerita. Sudah lama terpendam akhirnya aku bisa cerita ke orang yang bisa aku percaya. Caca membatin sambil menikmati frappuccino kesukaannya.


“Kasih…” Caca memandang Kasih yang lagi membelai rambut Raka.


“Ya miss?”


“Mulai sekarang panggil aku Caca aja. Gak pakai miss.”


“Tapi nanti saya kena marah pak Galang sama madam Lily…”


“Saya akan bilang ke mereka. Kamu udah jadi teman saya,” kata Caca sambil memberi kue bakpia ke Kasih. Kasih menerima kue itu, sebagai tanda pertemanan mereka.


Caca bahkan memberi Kasih salah satu koleksi dressnya dan baju-baju casual yang dia beli dari Jogja dan Solo. Caca seperti tidak ingin ditinggal oleh Kasih, sampai Kasih tidak diizinkan untuk balik mandi ke kamarnya.


Alhasil dia mandi di villa Caca. Caca seperti menemukan sosok kakak perempuan. Hal ini dikarenakan oleh kehidupan Caca yang selalu dimanja orang tua dan kakaknya. Sedangkan Kasih selalu diajarkan mandiri dan bekerja keras.


Suasana luar sudah semakin gelap. Raka yang baru saja terbangun ikut nimbrung mendengarkan pembicaraan tantenya.


“Ehh… Raka udah bangun…” Kasih mengelus punggung Raka yang duduk disebelahnya.


“Huaamm… Iya tan…” menguap sambil mengucek mata.


“Nanti pasti dia susah tidur malemnya. Baru bangun jam segini,” kata Caca sambil mentoel-toel pipi Raka.


“Kok kita gak jadi main piano…?” tanya Raka menoleh ke Caca dan Kasih.


“Besok ya… Udah malem ini…” jawab Kasih sambil tersenyum berharap anak itu tidak ngamuk dan menjerit.


“Iya… besok aja. Atau sebagai gantinya ajak papa mu karaokean di kamar nanti. Piano tante belum begitu bersih… masih ada debu… takut Raka bersin-bersin dan sakit,” Caca membujuk Raka agar mengubah kemauannya.


“O… gitu ya… Tapi papa gak asyik kalau karaokean. Isi lagunya sama cewek cewek. Gak lagu anak-anak kesukaan Raka.”


Mendengar ucapan Raka jelas saja membuat Caca dan Kasih tertawa. Hahaa.


“Ya udah… tante Kasih bilang malam ini Raka mau tidur sama tante Kasih kan… ajak aja tante Kasih buat karaokean lagu kesukaan Raka.”


Tiba-tiba ada suara klakson buggy


PIMM...! PIMM...!


“Itu pasti papa…” Raka beranjak dari sofa dan berlari keluar.  Kasih dan Caca mengikuti anak itu. “Papa udah selesai kerjanya…?” tanya Raka yang menghampiri Galang di buggy. “Tumben papa pulang cepat. Udah mau bobok bareng Raka sama tante Kasih ya?”


Glek!


Anak ini mulutnya kenapa gak ada filter… batin Kasih sambil menutup muka, malu melihat ekspresi Galang. Caca malah tertawa tebahak-bahak.


Semoga aja ya Raka… Tante juga suka punya kakak ipar Kasih, batin Caca sambil cekikikan.


“Omong apa kamu?” Muka Galang sudah merah padam mendengar ucapan anaknya. Salah tingkah memandang Kasih.


“Pa… yuk kita balik… Raka laper. Raka mau mie instant pakai telur,” Raka mengadahkan tangan agar Galang menggendongnya. Segera Galang mengangkat Raka dalam dekapan.


“Ya udah sana kalian balik.” Caca mendorong punggung Galang agar berjalan menuju villa.


Villa keduanya memang berdekatan, tidak jarang Galang memparkirkan buggy di villa Caca.


“Eh mas…” Caca menoleh Kasih yang masih ada di belakang.


“Apa?” tanya Galang sambil menoleh ke belakang.


“Ok, good night ya…” kata Caca melambaikan tangan.


“Good night tante Aca…” Sahut Raka sambil melambaikan tangan.


“Good night, Ca,” kata Kasih. Galang mulai melirik lagi mendengar Kasih hanya menyebutkan nama Caca saja. Caca memberi aba-aba dengan tangan agar mereka segera balik villa. Mereka pun berjalan menuju villa.


Udah dari siang aku dibikin jengkel pakai swimming suite. Badan menonjol kemana mana. Hmmm. Setiap hari kerja disini kok penuhh kejutan. Udah tadi pas main di kolam pak Galang pakai main petak umpet segala. Aku kan bukan tiang penghalang. Kena raba semua badanku sama pak Galang! Huft… Kalau gak karena Raka yang minta mana mungkin aku mau. Ini… lagi. Raka minta bobok bareng. Duh… kok perasaan gak enak ya… Jangan sampai pak Galang ikut-ikutan. Batin Kasih selagi berjalan menuju villa Galang.


Sudah makin akrab aja Caca sama Kasih. Baguslah. Caca juga udah bisa ketawa lagi. Pakai jurus apa perempuan ini bisa deketin Caca. Apa lagi Raka… udah selalu nempel kaya magnet. Ditawarin main apa aja selalu mau. Hihii. Kaya pancing. Punya ide latihan apa lagi ya anak ku ini. Makasih ya Raka… Papa menang banyak tadi siang, bisa pegang-pegang tante barumu ini. Kayanya ide latihan renang tiap hari bisa masuk daftar preference. Hihii. Batin Galang sambil senyam-senyum karena hari sudah gelap.


Galang segera membuka pintu dan menurunkan Raka dari gendongan.


Tiba-Tiba Tilulit Tilulit Tilulit (Suara handphone Raka berbunyi)


“Yeee! Mama telpon… Hihii Raka pergi ke kamar Raka dulu ya pa…” Raka segara berlari ke kamarnya.


Raka memang suka mengangkat telpon mamanya di kamar. Anak itu suka sekali memamerkan koleksi peralatan renang barunya kepada mamanya. Menyebutkan benda itu pemberian dari Tantenya… Papanya… Omanya… atau pun karyawan Luxus seperti Kris, Joe, Sam dan Teo. Raka selalu menyebutkan satu-satu. Ya, seperti memberi laporan yang detail ke mamanya. Dari situlah Amelia tahu dengan siapa aja anaknya dekat.


“Hallo maaa! Pa kabar?” tanya Raka sambil memperhatikan wajah mamanya di screen handphone.


“Hai Raka sayang… Mama kangennn sekali sama Raka. Mama sehat. Raka pa kabar? Udah makan sayang?” tanya Amelia.


“Raka sehat ma… Tante kasih lagi masakin mie telur buat Raka. Oia… Raka habis dari Jogja sama Soloooo Hihiii. Banyak belanja kacamata renang… baju pelampung baru… Raka juga dibeliin tshirt baru… ada gambar sepeda… Sepeda onthel khas Jogja… Gitu kata om Aan bilang,” Raka mulai membongkar belanjaan yang ada di koper kecilnya. Mulai memamerkan satu per satu ke mamanya.


“Apa itu sayang…? Siapa yang beliin itu?”


“Ini om Aan yang beliin ma… Om Aan beliin aku topeng hiwuk hiwuk rambut hitam ma…. Dia bilang asli Kulon Plogoo. Hihiii Buat nakut-nakutin papa maaa...” jawab Raka sambil memakainya di depan layar kaca handphone.


“Oh, Kulon Progo… Heheee. Ngeri gitu ya… Eh, malam malam gini kenapa makan mie instan? Jangan banyak-banyak ya. Siapa tadi yang masakin?”


“Tante Kasih… Hari ini kita mau bobok bareng ma… Raka suruh tante Kasih buat temeni Raka main ATV yang besaarrrr banget besok pagi. Hihii. Mama sini lahhh. Raka kangen tahu! New year sini ya ma… Kita dansa joget joget bareng di lobby hotel. Pasti seru… Sama tante Kasih, tante Aca, Oma… Papa juga Hihiii...”


“Iya sayang… Nanti mama kesana ya… Mama tutup dulu telponnya. Love you Raka. Good night Mwuah!”


“Love you mama… Good night Mwuah Mwuah!” ucap Raka sambil mencium layar di handphonenya.


Sudah sedari awal Galang memperhatikan percakapan Raka dengan mamanya di depan pintu kamar.


 


Galang Point Of View


Sudah setahun lebih Amelia tidak kemari menjenguk Raka. Pasti anak ini sangat kangen sekali sama mamanya. Kenapa perempuan itu harus memiliki gangguan bipolar... Bahkan aku masih bisa menerimanya meskipun dia seperti itu. Sampai akhirnya, setelah kejadian 1,5 tahun lalu, aku dan Caca mengetahui hubungannya dengan Edo. Aku berhenti mengejarnya. Kalau tidak karena itu mungkin aku bisa balikan lagi. Raka akan memiliki sosok ibu yang lengkap. Caca juga tidak akan terluka. Hmmm


Melihat dia senang bermain bersama Kasih... membuatku… Sudah punya pacar belum dia? Sebaiknya aku tanya dia siapa itu Aan. Biar jelas semua. Tapi… apa mau dia dengan ku? Jarak kita 10 tahun. Apa dia mau dengan statusku ini. Huft…


 


****


Umur Kasih 23… berarti pak Galang 33…


Kalau Kasih gak mau, Author mau kok gantiin posisi Kasih…


Rela banget…


Bersambung


*****