My Butler

My Butler
Rekaman CCTV



Malam yang indah di utara perairan Lombok masih terus berlanjut. Galang mengajak Kasih untuk kembali ke kamar. Angin malam semakin dingin, tidak baik untuk kondisi tubuh istrinya, begitu pikir Galang.


Kasih mulai merasakan tatapan suaminya yang semakin nakal setelah sampai di kamar. Galang mulai mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu kamar. Menggeser tubuhnya mendekati Kasih yang masih duduk bersender di dinding bed.


“Kasih… Maafin saya ya,” kata Galang sambil mencium kepala istrinya.


Kasih mulai menggeser badannya lebih dekat dengan suaminya. Meraih tangan Galang dan menaruhnya ke perutnya. Kasih menggerakkan tangan Galang seperti gerakan mengusap sambil bersender di bahu suaminya.


“Kamu suka diusap-usap gini?” tanya Galang sambil mencium kepala Kasih.


“He em,” jawab Kasih.


Beberapa saat mereka terdiam, Galang berusaha membuat istrinya nyaman.


“Mas, mas Galang waktu bantu mbak Amelia ngasih bedak gatal dulu ngapain aja? Mas Galang ngapain aja di kamar tamu villa?” tanya Kasih. Kasih masih tidak terima membayangkan adegan suaminya melakukan hubungan intiim karena masalah alergi lada Amelia.


Galang berfikir sesaat. Mencerna pertanyaan istrinya itu. Diraihnya pinggang Kasih dan menggesernya  agar duduk di depannya. Galang mulai mencium tengkuk Kasih. “Kaya gini aku lakuin sama dia,” kata Galang sambil menahan tawanya.


Kasih mulai kesal mendengar jawab suaminya. Hantaman siku belakang ke perut suaminya, diluncurkan Kasih. BUK!


“Aku bercanda sayang…” kata Galang sambil meraih tubuh istrinya yang tidak mau bersender di dadanya.


“Gak lucu!” Mode cemberut dari Kasih mulai keluar, tapi Galang tetap merangkul tubuh istrinya itu agar terus bersender di dadanya.


Jadi sejak hari itu dia sudah mulai cemburu…? Hihiii… Pantas waktu malam pertama gak mau diajak ke kamar tamu, batin Galang sambil meraih tablet yang ada di samping.


“Itu kejadian tanggal berapa ya…?” tanya Galang sambil memilah-milah rekaman cctv di tabletnya. Kasih memandangi layar tablet yang ada di depannya itu. Suaminya terus menscroll mencari sesuatu.


Akhirnya rekaman video yang dicari Galang mulai ditemukan. Galang membuka video rekaman cctv saat dirinya bersama Amelia di kamar tamu.


“Lihat ini, sayang. Aku gak ngapa-ngapain. Gak seperti yang kamu pikirin…” kata Galang. Kasih memperhatikan isi video itu. “Aku telpon dokter di klinik habis itu terus keluar kamar. Tapi waktu aku keluar kamu sudah bersama Kris,” kata Galang menjelaskan.


Rasanya lega bercampur malu yang dirasakan Kasih. Sudah berfikiran negatif terhadap suaminya.


“Hehee… maaf ya, mas…” kata Kasih sambil meraba meraba pipi suaminya. “Eh… tapi kok di dalam kamar ini ada cctv nya? Mas Galang pasang cctv di sudut mana aja? Boleh aku liat yang lain?”


Galang tidak bisa berkata tidak. Tidak mau membuat istrinya ngambek lagi. Akhirnya Galang memberikan kebebasan kepada Kasih untuk membuka setiap bagian rekaman cctv yang diinginkan istrinya itu.


Cubitan demi cubitan diterima oleh Galang karena ulah nakalnya diketahui oleh Kasih. Mulai dari rekaman di balkon saat memijit kaki Galang. Saat dirinya bangun tidur pertama kali di ranjang Galang. Rekaman cctv di atas lampu crystal kamar Raka juga diputar oleh Kasih. Dan yang paling parah saat Kasih terbaring tak berdaya saat sakit karena punggungnya terbentur karang dan disengat ubur-ubur.


“Mas Galang ni parah banget ah! Masa aku sakit digituin juga? Jadi mas Galang gak main jari aja waktu itu? Udah main lidah? Ish… Nafsuan banget sih!” Kasih menggerutu penuh kekesalan.


“Enggak nafsuan, sayang… Itu cinta. Lagian kamu tidur kebo amat jadi perempuan,” kata Galang tidak terima disebut nafsuan.


“Ishh!! Enak aja ngatain aku kebo!” Jurus menjambak rambut andalan Kasih keluar lagi.


Galang hanya tertawa menerima setiap tingkah laku istrinya. Ini membuatnya semakin gemas.


“Kasih… Kasih… udah lepas tangannya… Nanti rontok rambutnya,” kata Galang sambil menjauhkan tangan istrinya.


Mereka berdua tertawa sesaat mengingat memori masing-masing. Galang mulai menghujani leher istrinya dengan ciuman. Mengusap-usap perut Kasih dan mengkecup-kecup sambil menggelitik perut Kasih sampai Kasih terbaring di bed. Merasakan kegelian karenan ulah suaminya.


“Udah ah mas! Kasian dek bayinya. Capek aku,” kata Kasih sambil mengontrol nafasnya.


“Kasih… mau ya…,” kata Galang sambil meraba bagian property incarannya. “Gak dalam dalam sayang… mau memperlebar akses keluar dek bayinya juga,” Galang mulai menciumi paha Kasih. “Mumpung gak ada Raka. Sekalian honey moon kita disini,” membujuk Kasih terus menerus.


“Janji ya… Gak ada tuh serangan pearl harbour lagi,” ucapan Kasih itu membuat Galang tersenyum.


“Apa kamu bilang? Pearl harbour attack? Hahaa…”


Akhirnya setelah perjalanan yang panjang dengan penuh rintangan di lautan lepas terbayar dengan malam yang indah. Galang mampu menaklukan hati istrinya untuk melewati malam yang akan semakin menggairahkan.


Membuat tubuh istrinya polos tanpa busana dan mulai memberikan rangsangan-rangsangan dengan menciumi setiap inci tubuh Kasih.


Galang Point Of View


Rasanya aku seperti menghadapi malam pertama lagi saat ini... Kalau mengingat betapa kerasnya hantaman ombak laut… aku rasa masih tak seberapa dengan rasa sakit hatimu. Maafkan bibir ini yang sempat mendarat di perempuan itu lagi. Aku tahu itu menyakitimu. Apapun itu alasannya, tidak seharusnya aku melakukannya. Maafkan aku Kasih… aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Kepada siapun itu. Karena aku juga tidak bisa melihat kamu melakukannya dengan orang lain.


Terimakasih Kasih sudah memberikan kasih sayang untuk ku dan keluarga kecil kita. Bagiku, cinta adalah saling menyayangi… memiliki… dan menikmati bersama.


“Ah… mas…”


“I love you…”


Matanya begitu indah. Rasanya ingin ku masukan lebih dalam lagi. Tapi aku tahu itu akan menyakiti bayiku. Sebentar lagi ya sayang… biarkan papa mu ini melebarkan akses jalan keluarmu.


“Ah… mas… Mmpphh ah…”


“Gak sakit kan, sayang?”


“Huh… Huft…”


“Gak pa pa kan, Kasih?” Aku mulai mengeluarkannya dengan hati-hati.


“Mmm… Aku mau makan Karedok, Gudeg, Cakalang Fufu, Sate Lilit, Nasi Padang, Coto Makassar…” Mendengar keinginanya ini membuat ku ingin tertawa. Ada berapa calon bayi di dalam sana? 3? 4? Atau 5?


Author Point Of View


Keesokan harinya, Galang membawa Kasih pulang kembali ke Bintan. Galang meminta Roy untuk mengantarkan sampai ke daratan terdekat. Pagi itu Roy membawa kapalnya menuju pelabuhan Sumbawa. Dari sana Galang meminta private jetnya untuk menjemput.


Galang dan Kasih mulai bisa beristirahat saat berada di dalam pesawat. Terus menggenggam tangan Kasih dan mengusap-usap perut istrinya dengan lembut. Kata Kasih, rasa mualnya tidak begitu terasa saat suaminya memegang perutnya.


Setelah perjalanan yang berjam-jam, akhirnya mereka sampai di pulau Bintan. Kasih masih tertidur lelap. Terlihat malas untuk membuka mata. Bahkan Galang harus membopong istrinya itu turun dari pesawat.


Dia ini benar-benar kebo… batin Galang sambil tersenyum memandangi wajah Kasih.


 


*****


Welcome Home Kasih…


Bersambung…


*****