
Setelah 3 minggu berlalu, ibu Sarah dan Aan memutuskan untuk kembali ke Jogja. Sebenarnya mereka sangat betah tinggal di resort Galang. Semua fasilitas sangat lengkap. Kata mewah jangan ditanya lagi. Resort bintang 5 yang berada di Bintan itu sering mendapat penghargaan bergengsi di ajang nasional maupun internasional. Itu semua tidak luput dari hasil kerja keras para karyawan.
Tapi ibu Sarah tetap memutuskan untuk kembali ke Jogja dengan mengambil penerbangan pagi. Usaha spa dan coffee shop mambutuhkan mereka untuk mengatur operasional kerja. Ditambah gaji bulanan untuk karyawan harus dibagikan. Jadi keputusan untuk balik Jogja adalah pilihan yang tepat.
Kasih sangat ingin sekali kembali bekerja. Merasa kesepian tidak ada teman ngobrol setelah keluarganya kembali ke Jogja. Karena semua orang di resort memiliki kesibukannya masing masing.
Kesibukan Galang di akhir tahun semakin padat. Membuat perencanaan kegitaan promosi seluruh Luxus Resort di dalam maupun di luar negeri harus segera disusun. Galang sebagai owner dan CEO, selalu ikut terjun dalam setiap perencanaan. Selalu memastikan semua berjalan dengan lancar.
“Mas… boleh ya aku balik kerja lagi…” merengek kepada Galang saat di kantor resort.
“Kan kamu harus jaga Raka…”
“Iya… maunya gitu. Tapi mantan istri mas itu loh… Suka rebut-rebut, jemput Raka ke villa. Padahal Rakanya lagi asyik main sama aku… Kapan sih dia pergi dari sini? Aku ga suka liat dia deketin mas Galang juga,” kata Kasih sambil bermain brewok suaminya. Mengusap pipi Galang dari belakang kursi kerja.
“Tunggu aja habis new year party selesai… Nanti juga pergi sendiri,” Galang sibuk mengecek laporan dari seluruh departemen.
Ada laporan yang menarik dari salah satu departemen housekeeping. Galang membaca laporan itu berkali-kali. Laporan itu adalah laporan yang sama selama 3 minggu berturut-turut.
“Tamu macam apa yang stay (menginap) di villa 900?” kata Galang sambil menatap isi laporan housekeeping.
“Kenapa mas?” Kasih ikut mengintip isi laporan yang dibaca suaminya. “Itu kan mantan istri mas Galang yang stay disana…” kata Kasih.
“Darimana kamu tahu? Nama yang booking disini Raymundus Raja. Bukan Amelia…” tanya Galang penasaran. Menarik Kasih agar duduk di panggkuannya.
“Ya kan aku tahu mas... Mama Sarah yang bagi tahu. Emang kenapa?” Kasih bertanya balik sambil terus bermain rambut di pipi suaminya.
“Udah 3 minggu villanya gak mau dibersihin,” jawab Galang sambil merapikan kertas laporan dengan menciumi lengan Kasih.
“Jorok kali jadi perempuan. Kok mas Galang mau sih dulu…” celetuk Kasih sambil mengernyitkan dahi. “Aw… AuWw!” Kasih merintih kesakitan karena Galang meremas keras benda favoritnya. “Mas… Aw!” Badan mulai tersetrum-setrum menerima remasan kasar dari suaminya.
“Makanya jangan asal ngeledek,” kata Galang mulai membuka kancing baju Kasih.
Galang mulai menikmati bagian favoritenya. Menikmati 2 bulatan kecil sambil meremas-remas penuh gairah. Membuat istrinya merintih rintih harus menikmati perlakuannya.
Siapa itu Raymundus Raja? Pacar barunya kah? Kalau punya yang baru, ngapain selalu minta balikan terus? Dasar perempuan gila. Mau berapa pria dia! batin Galang sambil terus meremas property utamanya. Mulai menyingkap rok Kasih, memasukan jari ke bagian intim istrinya.
“Ahh… mas Galang! Ini kantor loh!”
“Siapa suruh ngeledek tadi!” Galang mulai menurunk4n reslet*ng dan memasukan kejantanannya.
“Ah… Hikhh…”
“Ah…” Galang terus menghentakan sambil membuat posisi Kasih membungkuk. Tangan Kasih harus bertumpu kuat-kuat di meja kerja. Suaminya itu sangat suka memberi ritme-ritme yang mengejutkan.
Seperti itulah kebiasan siang hari Galang di tempat kerja. Selalu membawa istrinya ke kantor, memberikan exercise siang hari.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
TOK TOK TOK…
Kasih gelagapan, menghindar dari Galang. Segera membetulkan kancing bajunya. Begitupun dengan Galang, segera mundur dari sangkarnya.
“Dah dibilangin jangan di kantor… ngeyel,” Kasih menyalahkan Galang.
Untunglah mereka bisa merapikan diri sebelum pintu dibuka. Ternyata orang yang datang adalah Amelia dan Raka.
“Papa…!” Raka berlari membawa kotak mainan baru.
Amelia mulai mencium hal yang tidak benar baru saja terjadi. Melihat rambut Kasih yang masuk Sebagian kedalam baju. Galang yang berkeringat di tempat berAC. Membuat Amelia mengepalkan tangannya. Tidak suka membayangkan hal yang dianggapnya menjijikan itu.
“Wah… mainannya bagus. Dari siapa sayang...?” tanya Kasih dengan berjongkok memperhatikan Raka.
“Dari mama… tante mama,” jawab Raka dengan polos.
“Kasih… bisa ajak Raka keluar sebentar? Ada yang mau kita bicarakan,” kata Galang.
Dengan berat hati Kasih harus berdiri dan mengiyakan perintah Galang.
“Jangan macam-macam sama dia,” bisik Kasih ke telinga Galang. Kasih mendaratkan ciuman ke pipi Galang sebelum beranjak pergi.
Huh… Memuakkan! Batin Amelia, membuang pandangannya kearah lain.
Kasih mulai keluar dari ruangan Galang dengan menggandeng Raka. Tidak rela harus menutup pintu ruang kerja Galang. Kasih menunduk lemas menatap lantai. Mulai berfikir negatif.
“Ma… ma… Kenapa?” Raka menggoyangkan tangan Kasih. Kasih menatap muka Raka.
“Raka… kayanya papa manggil mama Kasih deh… Coba tempelin telinga ke pintu…” Kasih mulai mengajak Raka untuk menempelkan telinga ke pintu.
Menempelkan daun telinga dengan bergeser ke kanan dan ke kiri. Berusaha menguping pembicaraan Galang dan Amelia dari dalam.
“Ma…? Raka ga denger…” kata Raka sibuk menirukan gaya Kasih menguping.
“Coa denger lagi sayang… Papa kayanya panggil panggil kita,” Kasih berusaha menangkap suara dari dalam ruangan sambil mengusap kepala Raka.
DuUH! Apa sih yang mereka bicarakan? Kenapa harus berduaan gini. Aku kan istrinya. Aku berhak tahu! Ngeselin! Batin Kasih.
Ternyata kegiatan menguping itu diperhatikan oleh Kris dengan seorang tamu laki-laki. Mereka berdiri cukup lama memperhatikan kesibukan Kasih dan Raka yang menempelkan telinga, menggeser di sekitar pintu ruang kerja Galang.
Kasih mulai menyadari keberadaan Kris dan tamu itu. Menatap penuh malu karena perbuatannya diketahui orang lain.
“Selamat siang Bu Kasih!” Kris menyapa dengan gaya sopan seperti biasa.
“Siang pak Kris,” kata Kasih. Bersikap sebiasa mungkin, meski sudah malu ketahuan menguping suami sendiri. “Mau masuk ke ruang kerja mas Galang ya? Masuk aja… Lagi ga sibuk kok,” Kasih berharap Kris punya keperluan mencari Galang. Setidaknya Galang tidak berdua-duaan dengan Amelia.
“Saya mau cari Sam… Tapi sepertinya dia gak ada,” jawab Kris.
“Masuk aja kedalam…. Tanya mas Galang. Dia gak sibuk kok,” Kasih sedikit memaksa Kris.
Kris berfikir sejenak.
“Ah… Raja, let me introduce you to pak Galang,” kata Kris menatap orang disebelahnya itu. (Raja, mari saya kenalkan ke pak Galang)
“Sure, why not,” jawab tamu itu. (Tentu, mengapa tidak)
Kasih mulai lega mendengar perkataan itu. Yes! Akhirnya mereka mau masuk. Aku ga rela mas Galang berduaan sama Amelia, batin Kasih penuh senyum kemenangan.
“Kalau gitu saya permisi dulu pak Kris,” Kasih mulai menggandeng Raka dan berjalan meninggalkann Kris.
Sesekali Kasih menoleh kebelakang menengok Kris dan tamu itu. Tamu tadi juga memperhatikan Kasih dari kejauhan. Membuka kacamata hitamnya dan memperhatikan kasih yang sudah jauh darinya.
Gila badannya… kekar banget. Mas Galang aja yang udah athletis gitu… aku susah mengendalikan tiap malam. Mau jadi apa istrinya nanti… Hm… Mikir apa sih aku ini… Aku kan udah punya Mas Galang, batin Kasih sambil menggoyangkan gandengan tangannya bersama Raka.
****
Hayo… Nyonya Galang jangan lirik lirik yang lain
Banyak CCTV loh…
Bersambung
*****