My Butler

My Butler
Preference Villa Utama



Sore harinya setelah mengantar Raka ke Villa 0199, Kasih berpapasan dengan Teo yang menyetir buggy dengan membawa rombongan tamu Cina. Teo meminta Kasih menaiki bangku kosong disebelahnya.


“Gimana tripnya? Berdiri ya kamu di bus? Capek?” tanya Teo sambil menyetir buggy.


“Eh, kok tahu? Pegel-pegel aja, biasa lah... Itu Raka ga pa pa ditinggal sendiri?”


“Gak apa. Bentar lagi madam sama Caca datang. Biz ni gue antar ke HR office buat sign (tandatangan) kontrak sama ambil name tag ya.”


“Eh, kok tahu lagi? Pak Galang yang nyuruh mas Teo?”


“Gak lah… Gue gitu… Tahu semua,” jawab Teo. Kasih melirik heran melihat senyum yang mekar di bibir Teo.


Aneh… macam punya kekuatan telepati. Atau jangan-jangan sekertaris itu yang bilang ke Teo? Tadi pagi Teo senyum aneh juga sambil mengetik di HP. Di bus… sekertaris kacamata kuda juga mengetik sambil menahan senyum sampai pipinya ngeblush pas aku berdiri sejajar pak Galang… Hum… apa mereka bergosip di belakang…? batin Kasih.


Akhirnya hari pertama kerja selesai juga. Setelah diantar ke HR Office untuk urusan tag nama dan tanda tangan kontrak kerja, Teo mengantar Kasih menuju akomodasi yang bakal ditempatinya selama kerja di Luxus.


VIP butler mendapat fasilitas untuk tidur di kamar resort. Standard Room, jenis kamar hotel yang paling dasar, tapi tetap mewah. Bed nya ada dua.


“Wahh… Keren banget kamarnya... Mas Teo juga dapat kamar kaya aku? Ini kok bed nya 2? Aku tinggal sama sapa mas...? Mana ni remot tv? Senangnya aku… wifi nya bisa diajak gas poll. Dapat fasilitas tamu. Mimpi apa aku dapat best facilities kaya gini. Jadi pengen kasih tahu mama sama mas Aan…” Kasih mengecek amenities (perlengkapan) kamarnya. Mulai kamar mandi, laci-laci, almari, mini bar/ kulkas kecil dibuka Kasih semua penuh kegirangan.


“Super perfect. I love it…”


“Nikmatin semua Sih… Gue dapet same facility (fasilitas sama) kaya loe. Tapi gue jarang stay (tinggal) disini,” Secara bokep gue GM di resort sebelah... akomodasi kelas GM lah yang gue dapet, batin Teo sambil melihat Kasih yang kegirangan mondar-mandir ngecek kamar barunya.


“Tapi kalau ada loe tiap hari… Gue mau request pak Joe buat kamar sebelah… hihihiii… Sebenernya loe tinggal sama kak Anin, berhubung dia cuti hamil, jadi balik Jakarta. Bisa 6 bulan atau lebih mungkin... VIP butler kan kesayangan madam Lily, suka-suka deh kita bertiga. Eh, nih baca…” Teo menyodorkan map tebal ke Kasih.


“Apa nih…?" tanya Kasih sambil mengambil map tebal dari tangan Teo.


“Harus diingat luar kepala mulai besok. Eitz… Mulai malam ini.”


“Preference Owner Luxus (Hal-hal yang disukai pemiliki Luxus)?” Kasih membulatkan matanya dan mulai membaca map tebal itu. “Buset… Siapa yang mengetik setebal ini? Kamu ya mas Teo?” membelalakan mata ke Teo.


“Pak Hitler…”


"Hahahaaa!" Mereka mulai tertawa.


Teo mulai mentraining Kasih. Menceritakan hal-hal yang disukai dan tidak disukai madam Lily, Raka, Caca dan Galang. Owner terkuat Luxus atau suami madam Lily telah meninggal 5 tahun yang lalu disaat usia beliau 65 tahun. Tepatnya setelah Raka dilahirkan.


Beliau mengalami depresi setelah perceraian anaknya Galang. Istri Galang seorang pecandu berat. Untunglah Raka terlahir sehat, tapi memiliki sifat temperamen. Kalau madam Lily memang terlihat masih muda. Karena usia madam Lily dan suaminya terpaut jarak 15 tahun.


“Ow begitu ya mas… untungnya cuma temperamen doang.”


“Ya… begitulah,” Teo mulai meminum kopi buatan Kasih saat duduk di kursi balkon kamar. Dari area kejauhan, Teo melihat buggy warna hitam melintas.


Ting… Ting… (Pesan Whatsapp)


Hitler


(DILARANG BERKUNJUNG KAMAR STAFF LAIN)


“Mulai dah dia… caps lock nya beh…” Teo memakai kaca mata hitamnya untuk melihat buggy hitam agar lebih jelas karena silau sunset sore hari.


Teo


(Sorry pak lagi training preference owner villa utama.)


Hitler


(DON’T DISTURB BUTLER BARU PREFERENCE MADAM. TRAINING BISA DI LUAR KAMAR)


(Jangan ganggu butler baru favorit madam. Pelatihan bisa diluar kamar)


 


Teo


(Ini diluar kamar pak. Balkon.)


Hitler


“Ish… semau dia dah,” Teo mulai berdiri dari kursi balkon.


“Loh, mau kemana mas? Kan belom selesai ceritanya.”


“Iya nih… ck! Buggy hitam minta dicuci. Biasanya juga staff housekeeping... Ntah lah si bapak. Aneh… Hmm. Itu map jangan lupa dihafal sampai selesai malam ni juga ya... Tuntaskan...” kata Teo sambil melihat buggy hitam dari balkon lantai 2 itu.


“Siap mas bos… Aku bakar malam ini… Terus ku minum biar sampai mandarah daging. Masuk ke hati ginjal dan berakhir ke usus besar, hihii.”


“Wizz hahaa mantap, good idea. Okelah, cabut dulu,” Teo mengusap kepala Kasih dengan lembut.


Galang Point Of View


Hari ini cukup melelahkan. Tapi melihat para investor yang mau berinvestasi dengan nominal dana besar untuk membangun restoran under water membuatku senang. Ini akan menjadi pencapaian terbaik setelah meninggalnya papi.


Papi sempat berpesan untuk selalu menyayangi dan menjaga Raka agar tidak terjerumus seperti mamanya Amelia. Tanpa papi suruh, aku pasti menjaga anakku Raka. Saat ini Raka sangat menyukai dunia bawah laut sampai memiliki perlengkapan diving banyak di kamar. Poster gurita sebesar lemari sampai masuk ke kamarku. Hehee…


Anakku Raka... Hari ini bisa tidur pulas dalam gendongan perempuan itu... Kuat sekali dia menggendong Raka memakai sepatu berhak 3 centi…


Loh? Bukanya itu Teo sama perempuan yang hobi tarik ulur tangan? Kenapa dia gak pakai seragam? Dimana seragam press body nya? Ini malah pakai celana pendek baju tak berlengan…? Sedang apa mereka? ck!


“Sam, stop buggy nya.”


“Ada apa pak?”


“Tunggu aja. Mau ngecek whatsapp.”


“Ini kacamata hitamnya pak biar gak sakit kena sinar sunset sama screen handphone.”


“Hm…” Apa-apaan ini? Dia berani membalas whatsapp ku gini? Sial! Apa itu? Apa mereka pacaran? Kenapa harus pakai usap-usap kepala? Ini sudah gak sopan mengundang cowok ke kamar. Siapa dia? Baru juga kemarin gabung perusahaanku. Seenaknya aja dia...! (Mengepalkan tangan)


“Sam… bisa minta data anak tanpa nama itu?”


“Siapa pak?”


“Kalau aku tahu namanya gak akan menyuruh kamu.”


“Heheee… Ow yang tadi bediri di bus?” kenapa lagi dia mengingatkan ku pemandangan di bus, ck!


“Saya akan cek ke bu Tyas. Segera malam ini saya kirim ke email bapak.”


“Ok, Jalankan buggy.”


Kenapa jadi bad mood gini dia? Harus segera update whatsapp group nih. Bisa berabe kalau gue kena sembur sendiri, batin Sam.


*****


Duh aduh... Butler kesayangan madam Lily atau kesayangan pak Galang sih sebenernya si Kasih ituuu... Hahaa


Bersambung...


Like Like Like


Favorite Favorite Favorite


Hadiah Bunga Kopi


Vote Vote Vote


*****



Buggy hitam pak Galang yang udah mulus minta Teo cuci...hmmm


Padahal Masih kinclong hloh readers...