My Butler

My Butler
Jurus Kuda Terbang



Sore itu para tamu di RP 07 menikmati sunset di deck paling atas. Ada yang masih berjemur, ada juga yang tertidur pulas karena cahaya matahari yang bersahabat.


Sudah sejak kemarin Kasih merasa mual. Kondisi badan semakin lemas. Tidak ada semangat untuk bekerja. Akhirnya Kasih menceritakan apa yang dia rasa kepada Lia dan Sekar.


“Gawat nih kalau kamu betulan hamil. Gak bisa lnjut trip lagi kamu. Kasian bayimu,” kata Lia menanggapi cerita Kasih.


“Duh… aku gak ngerti harus gimana ni, mbak. Gak ada pengalaman beginian,” sahut Sekar.


“Em… kayanya ada tamu kita yang jadi dokter. Yang mukanya cakep rambut agak gondrong itu…” kata Lia sambil melirik Sekar. “Sana kamu panggilin dia, Kar... Seenggaknya harus di cek. Perut dia ini isi atau enggak. Sini gak ada test pack. Kalau dokter pasti bisa ngecek!” Lia semakin panik melihat Kasih terus-terusan mual.


“Iyo iyo mbak… aku cari orang itu,” kata Sekar yang kemudian meninggalkan Kasih dan Lia.


Selama menunggu kedatangan Sekar dan dokter itu, Kasih duduk di tepi lorong deck. Lia terus mengelus punggung Kasih. Memberi minyak kayu putih agar Kasih lebih relax.


“Mbak Liaaa…! Dokternya bilang Kasih suruh naik ke kamarnya,” kata Sekar datang dengan tergopoh-gopoh.


Lia dan Sekar segera mengantarkan Kasih ke kamar dokter. Dokter itu meminta Kasih untuk berbaring di bednya. Lia dan Sekar berdiri di samping Kasih. Memperhatikan dokter mengecek tubuh Kasih.


“Sudah sejak kapan mual-mualnya mbak?” tanya dokter itu sambil meraba perut Kasih.


“Baru akhir-akhir ini sih dok. Tapi rasa mual yang paling hebat sejak kemarin,” jawab Kasih.


“Mensturasi terakhir kapan?” tanya dokter masih meraba perut Kasih.


“Em… seminggu yang lalu kayanya. Seminggu lebih dikit,” jawab Kasih membuat dokter itu tersenyum.


“Ini kayanya memang…”


JDUARRR! (Pintu kamar dokter itu terbuka dengan keras)


Galang yang melihat Kasih diraba perutnya merasa tidak terima. Galang berjalan dengan garangnya meraih kerah dokter tadi dan melemparkan tubuh dokter yang memerikasa Kasih ke lantai.


“Kasih… Hks hks…” Galang mulai memeluk Kasih yang masih terbaring di bed. Air matanya mengalir memeluk Kasih. Menghirup aroma leher istrinya.


“IiiHH! Mas Galang ni kenapaAA?!” Kasih mendorong Galang sekuat tenaga sampai Galang tergeletak di tengah bed. Kasih segera menjauh dan berdiri di pojok ruangan.


“Dia suami gilanya si Kasih, mbak!” Sekar menunjuk Galang yang masih berusaha bangun dari bed.


Tapi sebelum Galang beranjak dari bed, jurus kuda terbang yang mendarat di badan Galang segera mengunci Galang. Sekar segera melancarkan aksinya. Menghantam muka Galang. Lia ikut andil naik ke bed dan memukul pipi Galang bergantian.


Kasih tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Melihat suami yang sudah membuatnya menangis… Suami yang sering membentaknya… Suami yang bermain kasar… Suami yang sudah berselingkuh… Membuat Kasih membiarkan Lia dan Sekar memukul Galang.


“Hiks… Hiks… Hajar dia Kar…! Hajar dia mbak…! HajarRR!” Berteriak dengan berderai air mata.


Emosinya yang meluap itu membuatnya merasa mual lagi. “Hukk… Hweekk…” Kasih segera menutup mulutnya dan berjalan ke toilet karyawan. Sepanjang berjalan menuju toilet. Rasa mualnya semakin menjadi.


Mau apa kamu datang kemari, mas? Apa kamu gak sabar buat bercerai dari aku?  Apa kamu emang gak pernah mencintaiku? Apa salahku? Kenapa kamu membuat hidupku berantakan?! Batin Kasih di dalam toilet.


Tenaganya benar-benar terkuras habis sekarang. Rasa mualnya tak kunjung reda. Kedatangan Galang membuat Kasih semakin down karena memikirkan Galang akan memberikan surat cerai. Kasih menangis sejadinya di dalam toilet. Menyesali kenapa memiliki rasa cinta untuk Galang.


Cukup lama Kasih mengurung dirinya di dalam toilet.


Tok… Tok… Tok…


Kasih mulai keluar dari toilet. Dihadapannya ada Sekar, Lia dan laki-laki yang menjadi driver di mangrove. Kasih melihat laki-laki itu menggandeng tangan Lia. Mereka tampak tersenyum kepada Kasih. Membuatnya bingung.


Lia mulai maju mendekati Kasih. Meraih tangan Kasih.


“Kasih… Suamimu kesini buat baikan sama kamu,” kata Lia.


“Darimana mbak Lia tahu?”


“Suamiku yang bilang,” Lia melirik ke Roy, orang yang dikenal Kasih sebagai driver mangrove.


“Suamimu datang buat jemput kamu,” kata Lia mulai membimbing Kasih agar mengikutinya.


Kasih dan Lia berjalan bersampingan. Lia menjelaskan cerita yang dia dapat dari suaminya, Roy. Sekar yang berjalan di belakang bersama Roy mulai tidak tenang.


“Mas Roy, gimana ni aku sama mbak Lia... Kita udah hajar orangnya sampai babak belur. Mati aku kalau dituntut ke polisi juga…” Sekar menggaruk-garuk kepalanya tidak tenang.


“Tanang aja. Pak Galang nggak kaya gitu orangnya. Lagian kalian di posisi membela kawan… Ora sah kuatir… selow wae,” kata Roy kepada Sekar. (Tidak usah kuatir… selow aja)


Kasih diajak Lia untuk kembali ke kamar dokter yang memeriksanya tadi. Disana ada Galang yang diperiksa oleh dokter. Banyak luka lebam di muka Galang akibat serangan mendadak dari Sekar dan Lia. Ditambah kondisi tubuh Galang yang sudah lelah karena terombang-ambing di dalam kapal saat mengejar RP 07.


Kasih yang sudah berada di depan kamar dokter tadi, melihat Galang sedang diobati, melangkahkan kakinya mundur lagi. Masih tidak sanggup untuk bertemu dengan Galang.


“Dok, sorry untuk yang tadi,” kata Galang kepada dokter yang tengah mengobati luka-luka di wajah Galang.


“Ya, pak. Untung saya tidak kena tonjok…” Dokter mulai tersenyum mengingat kejadian baku hantam di kamarnya. “Pak Galang jadi mau pakai kamar saya?”


“Iya dok. Ini kartu nama saya. Dokter bisa hubungi saya kapanpun,” kata Galang sambil memberikan kartu namanya. Seperti melakukan transaksi untuk memakai kamar dokter itu


“Saya yang harus berterimakasih, pak,” dokter itu mengambil kartu nama Galang. “Abang saya pasti senang kalau dapat diskon buat acara nikahannya nanti,” kata dokter itu sambil beranjak berdiri.


Kasih yang mengintip dokter akan keluar kamar segera menjauh dari kamar itu. Tetap masih belum siap untuk menemui Galang. Meskipun Lia sudah menjelaskan kedatangan Galang untuk rujuk dengannya.


Kasih masih belum percaya dengan apa yang dia dengar dari Lia. Kasih berjalan kembali ke kamarnya, kamar untuk para kru kapal. Masih berusaha mencerna setiap informasi yang diceritakan Lia. Perasaannya masih kacau. Berusaha untuk tidur agar tenang tapi tidak bisa.


Emosimu yang meluap-luap ini membuat aku takut, mas. Gimana kalau penyakit gak waras mu itu kambuh lagi? Menghinaku semau mu! IShh… Menyebalkan! Kenapa sih aku jadi sensitive mau mewek terus gini! Harusnya aku ikut Sekar sama mbak Lia buat nambahi luka lebam mu itu... Tapi kenapa hatiku gak tega… Tapi mulutku mengatakan untuk balas dendam… Hasil pemeriksaan dokter juga belum sempat aku dengar tadi. Apa aku hamil…? Batin kasih sambil mengelus perutnya. (Nambahi: menambahkan)


 


****


Kasiannya pak Galang


Keren juga jurus si Sekar


Bersambung…


*****