
Kasih mengantar Raka masuk ke kamar. Rasanya malas sekali harus kembali keluar untuk menyaksikan mereka berdansa. Tapi mau tidak mau harus keluar agar cepat kelar dinner aneh malam itu.
Tiba-tiba saat Kasih kembali ke area kolam tempat Galang dan Amelia sedang berdansa, Amelia menjerit kepanasan.
“HUAAA PANASS… GATAL BADAN KU…” Amelia menggaruk bagian lehernya dan mengipaskan tanganya berulang kali. Galang dibuat kebingungan dengan keanehan yang terjadi. Kasih segera mendekati Galang dan Amelia. Merasa kaget dan keheranan melihat perempuan yang menurutnya menyebalkan itu sedang meraung kesakitan.
Hmm… Drama apa lagi ini, Batin kasih sambil berjalan cepat kearah Amelia dan Galang.
“Kamu kenapa…?” Galang panik sampai mematung melihat Amelia mengusap-usap kasar leher dan dadanya.
“Kenapa nyonya… Kenpa dia pak…?” timpal Kasih yang baru saja datang.
“Panas sekali badanku mas… Gatal… Hiks… Panas…” Ucap Amelia sambil menarik lengan dress yang dia pakai.
Galang melihat ada bercak merah yang digaruk-garuk Amelia.
“Kamu alergi ya…? Kamu keracunan makanan… Kamu ada makan dengan black pepper?” Galang memandangi lengan mantan istrinya itu. Dia tahu kalau mantan istrinya itu memiliki alergi terhadap black pepper (lada).
Kasih dibuat kebingungan dan panik juga. Merasa tidak begitu paham dengan alergi makanan yang dimiliki Amelia.
“Nyonya kenapa ini pak… Kita bawa ke dokter saja” timpal Kasih sambil berputar putar mengecek bagian badan Amelia yang lain.
“HUAAA INI GATAL… Pasti kamu mau meracuni ku dengan red wine itu kan?! Kamu campur pakai black pepper ya...? Tadi rasanya pedas sekali! Aku tahu kamu tidak suka denganku! Jadi ini cara mu mau membunuhku…?! Jangan dekat dekat kau dengan Raka!”
DUARR!
Ini seperti di disambar petir mendengar tuduhan Amelia. Galang mulai meraba arah pembicaraan Amelia. Dia menatap Kasih penuh amarah. Dua bola mata sudah hampir copot melirik ke Kasih.
“BENAR ITU KASIH?!” Suara Galang sudah sampai kemana-mana sampai membuat Kris mengintip kejadian itu dari teras villa lantai 2 milik Caca.
Galang sekali lagi mengguncang badan Kasih dan memelintir lengan Kasih dengan keras.
“Au… Saya… saya gak tau pak. Saya gak tahu tentang red wine itu…” Berkata terbata. Otak rasanya mulai membeku tidak bisa berfikir dengan jernih.
Galang segera mengecek minuman yang ada di jar decanter itu. Dia merasakan dan meminumnya. Dan…
PYARRRR!
Galang melempar jar decanter berisi anggur itu ke lantai. Menatap mata Kasih dengan tajam. Tidak menyangka kalau Kasih bisa berbuat senekat itu. Ini sangat berbahaya. Apalagi membiarkan Kasih berada di sekeliling Raka, begitu pikir Galang.
“Ayo masuk… Aku akan telpon dokter” Ajak Galang sambil memapah Amelia masuk ke villa.
Pikiran Kasih semakin kalut. Dia hanya bisa mengekor mengikuti Amelia dan Galang dari belakang. Saat Amelia dan Galang masuk ke kamar tamu, langkah kaki Kasih terhenti mendengar ucapan Amelia.
“Mas… tolong buka bajuku… Kamu bisa bantu beri bedak gatal…”
“Hm”
Kasih tidak berani melanjutkan untuk masuk ke kamar Amelia. Dia berdiri sebentar di luar ruangan itu. Air mata yang sudah dia tahan sejak Galang membentaknya mulai mengalir. Meremas tangannya sendiri dan berlari keluar dari villa itu.
Dia memandangi pecahan kaca yang di lempar Galang tadi. Ingin sekali rasanya memastikan sendiri apa benar red wine itu mengandung black pepper seperti yang Galang ucap waktu mencicipi. Isi gelas red wine milik Amelia pun sudah habis. Dia mencoba mencium gelas yang dipakai Amelia. Tapi dia tidak tahu menahu tentang red wine. Tangis Kasih semakin menjadi. Air mata tumpah dengan deras.
Kasih duduk berjongkok dan meraba air red wine yang sudah bercampur dengan serpihan kaca di lantai. Dia meraba dan menciumi bau itu. Dia teringat dengan kata-kata Jun waktu siang. Kalau minuman itu diminta untuk dicampur dengan black pepper.
Kasih yang bingung kenapa bisa Amelia meminum minuman yang jelas jelas dia tahu mengandung black pepper tapi malah diminumnya. Apa pun rencana Amelia itu, Kasih merasa kesal dengan dirinya. Seharusnya dia bisa mencegah Amelia untuk tidak melakukan hal bodoh. Andai dia tahu kalau Amelia memiliki alergi terhadap lada, dia pasti akan menjauhkan minuman itu, begitu pikir Kasih. Ini adalah kesalahan terfatal yang pernah dia lakukan. Apalagi berhubungan dengan keselamatan seseorang.
Tiba-tiba Kris muncul, dia ikut berjongkok dan meraih bahu Kasih. Meraih tangan Kasih agar tidak merabai serpihan kaca jar decanter.
“Kasih, sudah jangan nangis. Duduk dulu mari…” Ajak Kris. Setelah duduk Kris mengambil sapu tangannya dan mengusap pipi Kasih yang basah karena air mata.
“Pak, maaf ya pak… Saya gak ada maksud mencelakai nyonya Amelia” kata Kasih sambil menahan isak tangisnya.
“Iya… jangan kuatir… nanti saya cek” Kris berusaha menenangkan Kasih. Dia melihat ada luka di kaki Kasih. Luka ditempat yang sama waktu kejadian cangkir kopi dipecahkan Galang.
“Saya antar kamu ke klinik yuk. Kaki mu berdarah, takut infeksi”
“Nanti saya minta karyawan lain membersihkan. Jangan kuatir…”
Mereka beranjak munuju klinik. Ada seorang dokter perempuan yang berjaga disana. Dokter itu sangat telaten membersihkan luka Kasih dan kemudian membalut nya memakai kapas.
“Terimakasih dok…” kata kasih yang kemudian berdiri untuk beranjak pergi dari klinik.
“Sama-sama. Kalau butuh obat atau kapas nanti datang saja kemari”
“Iya dok. Permisi ya…”
Diperjalanan saat Kris mengendari buggy mengantar ke kamar Kasih. Kasih bertanya, “Pak… boleh tidak saya pindah kerja jadi butler biasa saja?” Kris terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. Tidak mungkin kan menyuruh Kasih bertanya ke Galang. Mengingat kemarahan Galang sampai memecahkan jar decanter dan melukai kaki Kasih.
“Mungkin bisa. Tapi saya tidak memiliki wewenang untuk menyetujui rencana kamu… Coba kamu tanya dengan madam Lily... Mungkin dia akan kasih ijin untuk jadi butler biasa. Mengingat madam lah yang merekrut kamu” ucap Kris sembari tersenyum. Ini seperti berita yang baik untuk Kasih. Dia sudah lelah sekali menghadapi Galang. Ditambah dengan Amelia.
Mengasuh Raka adalah hal yang menyenangkan, aku pasti kangen dengan anak itu… batin Kasih.
“Kasih, sudah sampai. Kamu istirahat ya. Saya mau cek villa pak Galang” ucap Kris setelah selesai mengatar Kasih.
“Terimakasih pak… Tolong sampaikan maaf saya untuk nyonya Amelia” Kasih segera turun dari buggy.
Malam itu setelah sampai kamar, Kasih memberanikan diri untuk menelpon madam Lily. Berulang kali dia memikirkan bahasa yang tepat dan alasan yang kuat agar madam Lily menyetujui keinginannya.
Tut… Tut… Tut…
(Kasih menelpon madam Lily)
“Hallo…” jawab madam Lily.
“Hallo madam… Ini saya Kasih. Madam apa kabar?” sapa Kasih sambil berfikir untuk merangkai kata.
“O… kamu. Saya baik. Gimana kondisi resort? Kamu dengan Galang bagaimana?” jelas saja Kasih bingung menjawab pertanyaan madam Lily.
Pertanyaan aneh apa ini? Kenapa malah menanyai ku dengan pak Galang… Dia aja mungkin malam ini lagi… entahlah dengan perempuan itu. Batin Kasih sambil mengingat permintaan Amelia agar Galang membuka bajunya. Sangat menyebalkan kalau mengingatnya. Ditambah jawaban Galang ‘Hm’, seakan mengiyakan permintaan Amelia.
“Kondisi resort baik, madam. Raka dan Caca juga baik-baik disini. Em… madam, apa boleh saya minta ijin untuk jadi butler biasa?” Madam Lily terdiam sesaat. Memikirkan kenapa dan apa yang membuat Kasih ingin jadi butler biasa.
“Apa ini karena mantan istri Galang? Dia membuat ulah ya?” Kasih makin syok dengan ucapan madam Lily.
“Em… Maaf madam. Sebetulnya saya yang salah. Saya tidak sengaja membuat alergi nyonya Amelia kambuh” Ucapan Kasih ini seperti angin segar untuk Madam Lily.
“Oh… Cuma itu toh… Saya akan bilang ke Tyas HRD. Besok pagi kamu bisa pindah bagian mana aja sesuka mu. Yang penting kalau saya datang, kamu harus ada di villa saya” Ini merupakan jawaban di luar ekspektasi Kasih. Tapi karena Kasih tidak mau kehilangan kesempatan ini, dia menyetujui ide madam Lily.
“Terimakasih madam. Terimakasih banyak…” Kasih sangat senang. Bisa kembali tersenyum lagi.
“Ya udah… Ingat, jangan mau kalah sama Amelia ya… Saya tidur dulu…” ucap madam Lily sebelum menutup telponnya.
Kalimat terakhir dirasa sangat aneh oleh Kasih. Lagi-lagi dia tidak mau ambil pusing dan menerka-nerka maksud madam Lily, takut sakit hati lagi. Kasih mulai tertidur dengan nyenyak.
*****
Ganasnya madam Lily…
Jangan sampai kalah
Jangan sampai lepas Pak Galangnya, Kasih…
Bersambung
*****