
Acara peluncuran kembang api berlangsung cukup lama. Hampir 1 jam Kasih dan Galang menikmati pertunjukan itu. Sebenarnya Galang tidak begitu fokus dengan pertunjukan itu. Dia hanya fokus memastikan Kasih tidak marah lagi padanya. Berusaha meredam hasratnya sampai hari yang diinginkan Kasih tiba.
Setelah mendapat pesan dari sekertaris Sam kalau stok kembang api di pulau Bintan hampir habis, Galang terpaksa mengajak Kasih pulang.
“Kasih…” Galang mengeratkan pelukannya dari belakang. Melingkar memenuhi perut Kasih.
“Ya mas?” Kasih melirik tangan Galang yang sedikit menopang pada bagian bawah bukit kembarnya. Berharap itu bukanlah kesengajaan atau modus.
“Fireworks nya hamir habis. Kita pulang ya, kasian Raka nungguin kita” Mengajak pulang tapi masih sibuk menciumi kepala Kasih.
“Boleh, yuk!”
Mereka pun berjalan meninggalkan area gazebo Kelong menuju tempat parkir. Pada perjalanan pulang ke resort, Galang menyuruh sekretaris Sam untuk menyetir mobil Galang. Sedangkan mobil yang dibawa Sam harus ditinggal di Kelong Restaurant. Galang seakan tidak mau berjauhan meskipun hanya satu meter dari Kasih. Menempel melingkarkan tangannya di pinggang Kasih.
“Mas, tangannya jangan remas remas pinggang terus… malu tahu sama mas Sam” bisik Kasih saat di dalam mobil.
Sam hanya mencuri curi pandang lewat kaca sepion dalam mobil. Menggelengkan kepala, masih tidak percaya juga, meski pernah melihat Galang memberi nafas buatan di pantai kepada Kasih.
B**uset dah pak bos… Ngebet banget sama Kasih. Tadi cuma bisa lihat di cctv gazebo kelong. Itu aja bikin gue ngos ngosan. Sekarang dah di belakang gue aja. Huft… ngapain tu tangan pegang-pegang leher…? Hm**… Sam mengarahkan kaca agar bisa lebih jelas memperhatikan bosnya.
“Sam…” Galang memergoki perbuatan Sam.
“Ya pak?” Sam melirik lewat kaca.
“Matikan lampu belakang”
“Ya pak” terpaksa Sam harus mematikan lampu bagian belakang. Tidak bisa mengintip aktifitas bosnya lagi. Yah… enjoy dah pak Galang, batin Sam kembali fokus menyetir.
Kasih hanya bisa menghela nafas. “Huft…” Sudah paham kalau Galang ingin terus bermesraan dengannya.
“Kasih, jangan takut ya… kan ada saya meski sedikit gelap” bisik Galang ke telinga Kasih.
“Iya mas…”
Setelah 45 menit perjalanan menuju Lagoi area kawasan resort, Galang membangunkan Kasih yang sempat tertidur. Mengelus lengan Kasih agar segera bangun.
“Kasih… Kasih… Udah sampai” kata Galang. Kasih segera bangun dan membenarkan rambutnya. “Sam, kamu bisa balik”
“Ya pak Galang. Selamat malam” Sam segera turun dari mobil.
Galang berlanjut mengantarkan Kasih ke kamar dengan buggy. Suasana resort sudah cukup sepi. Tapi Kasih tetap mau memakai masker. Belum siap dengan celotehan karyawan Luxus.
“Kasih, kamu malu ya punya calon suami seperti saya?” Galang merasa risih dengan sikap Kasih menutup wajahnya.
“Gak gitu mas… Saya cuma belum siap” Kasih sibuk melirik kanan kiri sepanjang jalan menuju kamarnya.
“Maksudnya?” tanya Galang berfikir kalau Kasih malu memiliki calon suami duda.
“Mas Galang kan idola karyawan perempuan disini. Kalau saya lagi di kantin selalu ditanyai, apa kabar hot daddy kita… boxer yang dipakai hari ini warna apa… seputar itu… Bisa habis saya kalau mereka mergokin kita jalan. Ngeselin kan…” Galang hanya tersenyum mendengar jawaban Kasih. Meraih tangan Kasih dan menciuminya sepanjang perjalanan dengan buggy.
Akhirnya mereka sampai di area parkir lantai satu kamar Kasih. Galang ikut mengantar menuju kamar Kasih. Disana ada madam Lily dan Raka yang sedang berdiri di depan kamar Kasih.
“Papa…!” Raka berlari menghampiri Galang. Galang segera menggendong anaknya. “Hihii… Mau minta gendong mama Kasih” Raka mengadahkan tangannya ke Kasih.
“Yuk sini…” tangan Kasih meraih tangan Raka. Tapi Galang menjauhkan.
“Jangan dek… Mama Kasih masih gak enak badan. Capek” Raka mulai ngambek cemberut.
Madam Lily mulai mendekati Galang dan Kasih. Membawa tas belanjaan dengan tulisan khas Thailand.
“Selamat malam madam. Apa kabar?” Kasih menyapa meraih tangan madam Lily untuk berjabat tangan. Sedikit canggung, berfikir pasti Galang sudah bercerita mengenai lamaran ke maminya.
Tidak hanya jabat tangan saja yang di raih madam Lily. Dia juga memeluk Kasih. Pelukan hangat dari seorang ibu kepada calon menantunya. Menciumi pipi Kasih dengan hangat senyum kebahagiaan. Merasa beruntung memiliki calon mantu yang lebih baik dari Amelia.
“Selamat ya… jangan panggil madam lagi dong. Mami... Panggil saya mami. Ok?” Madam Lily mengelus elus tangan Kasih dalam genggamannya.
“Oia… Raka hari ini mau bobok sama kamu. Boleh ya? Kasur bed kamu kan dua… Biar Galang menemani kamu juga. Gak pa pa kan…?” Galang dan Kasih bertatap muka mendengar permintaan madam Lily. “Ya udah, mana key card kamu? Biar Galang sama Raka masuk duluan” madam Lily mengadahkan tangan meminta kartu kunci kamar Kasih.
Dengan berat hati Kasih harus memberikan kartu kucinya itu. Duh… ini kaya aku disuruh depel depelan (berdekatan) terus sama mas Galang ya. Ini udah kaya mau nikah betulan aja deh, Kasih mulai menyerahkan kartu kuncinya ke tangan madam Lily.
“Ini Lang… Raka tadi bilang mau main kuda kudaan sama kamu sama mamanya juga. Ini mami bawain baju ganti buat kamu” Madam Lily menyerahkan kunci kamar Kasih dan tas berisi baju ganti Galang.
Kuda kudaan apalagi ini hm… Kasih hanya bisa mengrenyitkan dahinya.
Galang sangat senang dengan ide cemerlang maminya ini. Tidak menyangka kalau maminya sangat pintar dalam hal seperti ini.
“Yok dek main kuda-kuda sama papa” Galang meraih kartu kunci dan tas dari maminya.
“Cium oma dulu” Galang membungkukan badannya agar Raka dengan mudah mencium omanya.
“Mwahh… Raka kuda kuda sama papa ya oma… good nite oma…!” Raka mencium madam Lily dan melambaikan tangan.
Raka dan Galang mulai masuk ke kamar Kasih. Tinggal lah Kasih bersama madam Lily yang masih berdiri di koridor depan kamar Kasih.
“Kasih, ini ada oleh-oleh dari mami” madam Lily memberikan tas kepada Kasih. “Itu dari Thailand. Daster tidur disana cantik-cantik. Bahannya bisa melar. Raka bilang kamu pernah pakai baju tidur mami tapi kegedean. Jadi mami sengaja beli daster aja yang bisa melar. Biar nyaman kamu pakai”
“Iya, mam..mi. Ini pasti pas. Gaun yang mami beli juga pas… Terimakasih banyak buat oleh-olehnya”
“Hloh? Mami cuma beli daster… Gaun apa ya?” madam Lily bingung merasa tidak memberi gaun.
Hm… Sudah pasti biang keladinya mas Galang. Pantas gaunnya sexy press body gini, batin Kasih.
“Oh, maksud saya mas Galang, mam”
“Ya udah, mami balik villa dulu ya. Selamat malam. Jangan capek main kuda-kudanya” Madam Lily mulai meninggalkan Kasih.
Ini akan menjadi malam yang panjang untuk Kasih, begitu prediksinya. Ditambah keberadan Galang di kamarnya. Kalau hanya Raka, Kasih masih bisa menangani. Tapi Ini ada Raka besar alias bapaknya.
Tangannya aja gak bisa diem di dalam mobil, grepe sana grepe sini. Katanya ngecek kalau digigit nyamuk. Itu cuma 45 menit perjalanan. Ini akan jadi sampai besok pagi. Ish… Mas Galang tahan nafsunya dulu lah! Kasih memijit pelipisnya sebelum membuka pintu kamarnya.
Bapak dan anak itu sudah sibuk mondar mandir di atas kasur. Raka sangat senang sekali menarik-narik baju Galang. Kasih mulai bersiap untuk mencuci muka dan mengganti bajunya.
“Mama! Sini cepatlah! Raka udah mau bobok ni. Ayo kuda kudaan dulu!” Raka mulai mengomel meminta Kasih ikut gabung ke kasur.
“Iya Raka… bentar ya. Masih cuci muka ni” sahut Kasih yang masih sibuk memijat mukanya.
“Ya udah dek, kuda kuda sama mama besok aja. Lagian udah malam. Besok papa temenin kamu main lagi. Atau… mau papa beliin kuda poni?” Berunding agar anaknya cepat tidur. Jelas saja mendengar kuda poni Raka sangat tertarik.
“Wauuu… Kuda betulan pa...? Buat Raka?” Muka berbinar-binar penuh ceria. Raka mulai masuk ke dalam selimut.
“Iya… Little ponny” Galang mulai membetulkan selimut Raka.
“Ah, Raka gak mau little pony. Kuda yang gede paa… biar kencang larinya”
“Iya… Biar kuat tenaganya”
Kasih hanya bisa menggelengkan kepala mendengar pembicaraan bapak dan anak dari kamar mandi.
*****
Kode Apa lagi ini pak Galang…
Bersambung…
*****